Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 122. Sang Nenek


__ADS_3

Siang itu, Aisyah sendiri di taman. Ari sudah mengatakan pada Aisyah bahwa dia tidak bisa menemuinya karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Aisyah pun memakluminya. Gadis itu menikmati makan siangnya sendiri.


"Tumben sendirian, mana pria itu?" David tiba-tiba datang, lalu dengan seenaknya mengambil tempe goreng di dalam kotak makan Aisyah.


Aisyah mengikuti tangan yang telah mengambil makanannya. Gadis itu terbengong-bengong ketika melihat David dengan seenaknya memasukkan makanan itu ke dalam mulut. Sungguh pria yang tak tahu malu menurut Aisyah.


Aisyah pun menjauhkan makanannya dari David. Dia tidak ingin David merebut makanan itu darinya karena pria itu akan mengambil makanan Aisyah sampai habis. Aisyah tidak menginginkan itu, bisa-bisa nantinya dia akan lapar karena kalah cepat mengambil makanan dengan David.


"Kok, dijauhin?" David mengernyitkan dahinya.


"Nanti makananku kamu habisin lagi," keluh Aisyah. " Oh ya, Kenapa kamu tanya-tanya tentang Ari?" tanya Aisyah heran.


"Tidak apa, cuma tumben saja. Kalau begini terus 'kan aku tidak susah-susah mengusirnya," ucap David enteng setelah menelan makanan di mulutnya.


Aisyah hanya memutar bola mata. Gadis itu begitu malas jika bersama David, tetapi dia tidak membenci pria itu. Jadi dia masih mau berbicara dengannya.


"Kamu masih diganggu sama wanita itu?" tanya David membuat topik pembicaraan.


"Ya, begitulah. padahal bukan aku yang membuat mereka tidak bersatu. Ari-lah yang tidak menyukainya. Kenapa aku yang menjadi sasarannya?" Aisyah tidak mengerti akan sikap Denok.


"Salah kamu juga tidak mau menjadi kekasihku. kalau kamu mau jadi kekasihku, aku bisa mengatasi dia." David melirik ke arah makanan Aisyah.


Aisyah melihat Apa yang dilakukan David, dia segera menutupi kotak makannya dengan tangan. David pun menatap Aisyah kecewa karena dia tidak diizinkan mengambil makanan itu.


"Aku juga bisa menyelesaikannya sendiri tanpa harus kamu ikut campur," ketus Aisyah.


"Benarkah? Tapi, kenapa sampai sekarang kamu masih saja diganggunya?" David melirik ke arah Aisyah.


Aisyah malas menanggapi David yang membahas masalahnya dengan Denok. Dia tahu, David pasti akan terus memojokkannya agar mau jadi kekasih pria itu. Jadi, Aisyah memilih untuk mengalihkan topik.


"Hm ..." dehem Aisyah, lalu menjeda ucapannya. "Oh ya, kemarin siang kamu makan di kedai ayam goreng lantai teratas pusat perbelanjaan, 'kan?" tanyanya.


David terkejut sekaligus heran atas pertanyaan Aisyah.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya David.

__ADS_1


"Aku melihatmu," jawab Aisyah, lalu memasukkan makananan ke mulutnya.


"Kamu di sana? Dengan siapa? Kenapa tidak menghampiriku?" tanya David penasaran.


"Aku mengantar Ari membeli sesuatu di sana. Untuk apa juga aku menghampirimu? Nanti kamu malah mengganggu acaraku," jelas Aisyah.


"Kenapa kamu mau kalau diajak pergi sama dia? Sedangkan kalau aku ajak, kamu tidak mau," tanya David dengan tatapan tajam.


"Kenapa menatapku seperti itu? Biasa saja kali," ujar Aisyah tidak suka. David pun segera mengalihkan pandangannya ke depan.


"Kan sudah aku katakan waktu itu. Kalau tidak sama dia, mau dengan siapa lagi. Kalau kamu, itu tidak mungkin."


"Oh ya, kemarin kamu dengan seseorang, 'kan?" Lagi-lagi Aisyah mengalihkan percakapan mereka.


Aisyah penasaran dengan wanita yang bersama pria itu karena wanita itu tua dan memakai kursi roda. Sedangkan, seperti yang diketahui bahwa David biasanya dikelilingi wanita cantik.


"Oh, itu nenekku. Dia ingin jalan-jalan, jadi aku ajak deh" jawab David santai tanpa rasa malu sedikit pun.


"Kenapa kamu yang ajak jalan-jalan dia? Kamu kan orang kaya, pasti ada orang untuk merawat nenek." Aisyah sangat heran.


"Memang ada. Namun, apakah tidak boleh seorang cucu mengajak neneknya jalan-jalan?" tanya David.


"Nenek adalah orang yang sangat berarti bagiku. Dia yang selalu mengajak aku bermain sejak kecil. Dia merawatku, memperhatikanku melebihi orang tuaku."


"Orang tuaku sibuk dengan dunia mereka. Hanya urusan kerja yang mereka pikirkan. Tak pernah memikirkanku sama sekali. Bahkan mengambil raportku saat sekolah pun tak pernah." David menundukan kepalanya.


David sangat sedih mengingat masa kecilnya. Banyak anak yang datang bersama ayah atau pun ibu untuk mengambil raport. Sedangkan David, neneknyalah yang selalu mengambilkan.


Namun, setelah neneknya sakit saat David masih kelas 2 SMA, kasih sayang sang nenek pun berkurang. Nenek juga tidak bisa mengambilkan raport lagi, dan David menyewa orang untuk mengambil raport atas usul orang tuanya. Peran orang tua tidak ada dikehidupan pria itu. Sejak itu pula David merasa kesepian. Akhirnya dia mencari pelampiasan di luar rumah.


Aisyah mendengarkan cerita David dengan seksama. Gadis itu menghentikan makan siangnya demi mendengarkan David. Dia hanya diam tanpa menyela.


"Yang mereka tahu adalah nilai prestasiku harus tinggi. Kalau tidak, aku pasti akan kena hukuman. Bahkan saat-saat sekolah, aku sering mendapat hukuman oleh orang tuaku. Aku harus belajar dan di rumah. Tidak boleh pergi bermain," jelas David.


"Tapi, kelihatannya sekarang kamu tidak seperti itu. Bahkan sekarang kamu bisa keluar hingga larut malam. Benar, 'kan?" tanya Aisyah melihat kenyataan saat ini.

__ADS_1


"Kan sekarang aku sudah dewasa, bisa memilih apa yang aku lakukan. Yang terpenting adalah prestasiku bagus," jawab David dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Apa orang tuamu tidak marah dengan apa yang kamu lakukan?" Aisyah menyatukan alisnya.


"Orang tuaku tidak tahu, mereka sibuk. Kalau pun mereka tahu, aku tak peduli. Yang aku pedulikan sekarang adalah membuat nenekku bahagia."


"Dialah satu-satunya penyemangatku. Walaupun dalam keadaan sakit, dia tak henti-hentinya memperhatikanku. Walaupun aku sering berbohong padanya." David tertawa pelan.


"Ish, kenapa juga kamu berbohong pada nenekmu?" Aisyah menggelengkan kepala.


"Ya, mau bagaimana lagi. Nenek melarangku pulang malam, tetapi itu tak mungkin bagiku. Aku bisa stres terlalu lama di rumah. Nenek tak bisa di ajak ngobrol lagi seperti dulu, lalu dengan siapa aku ngobrol. Bosan kan kalau tak ada teman ngobrol," jawab David panjang lebar.


"Kamu bisa menelepon pacarmu, 'kan? Itu saja bisa menghabiskan waktu lama, secara pacar kamu kan banyak," usul Aisyah.


"Enakan ketemu langsung, bisa sentuh-sentuh dia." David tertawa terbahak-bahak.


Aisyah bergidik ngeri membayangkan apa yang dilakukan David dengan pacarnya. Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari pria itu. David pun semakin terbahak-bahak karena melihat reaksi Aisyah.


"Habis cerita yang membuatku iba, eh, sekarang malah seperti itu," gerutu Aisyah.


"Salah kamu sendiri karena telah memancingku." David memegang perutnya yang sakit karena banyak tertawa.


Aisyah hanya melirik ke arah David. Dia tak mau menanggapi ucapan David karena jengkel. Aisyah pun melanjutkan makannya. Keheningan terjadi di antara mereka.


"Oh ya, terima kasih karena telah mendengarkan ceritaku," ucap David memecah keheningan.


"Iya, sama-sama," timpal Aisyah singkat.


"Hanya kamulah yang mau mendengarkan cerita hidupku. Kebanyakan wanita yang berada di dekatku hanya tertarik dengan statusku, tetapi kamu tidak. Aku sangat menyukai itu." David menatap lurus ke depan.


"Eh!" Aisyah tersentak kaget. Namun, tak dapat dipungkiri, memang Aisyah melihat kenyataannya seperti itu. Wanita yang berada di sekitar David hanya menginginkan uangnya saja.


"Sekali lagi terima kasih,"ucap David tulus.


"Sama-sama." Aisyah menatap David dengan senyum manis.

__ADS_1


Jantung David berdegup kencang ketika melihat begitu manis senyuman Aisyah. Hingga beberapa detik dia terpaku yang akhirnya membalas senyuman itu.


Bersambung.


__ADS_2