Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 140.


__ADS_3

"Silahkan masuk, Tuan Putri." David membuka pintu mobil sport berwarna biru langit.


Seorang wanita berpenampilan anggun memasuki mobil David. Dengan wajah datar, dia duduk di sebelah kursi sopir. Tidak sedikit pun wanita itu menoleh atau pun mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membukakan pintu.


David segera berlari ke arah kursi pengemudi setelah memastikan Tuan Putrinya duduk dengan benar. Pria itu tersenyum tulus manatap sang wanita pujaan hati.


"Sebelum pulang, kita makan dulu, ya?" tanya David. Pria itu memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


Wanita di sebelahnya, hanya menganggukkan kepala. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Meskipun begitu, senyum masih terukir di wajah David.


David segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir kampus. Dengan wajah yang selalu terlihat bahagia, pria itu melontarkan beberapa pertanyaan kepada sang wanita. Namun, wanita itu hanya menjawabnya dengan singkat, bahkan tak jarang juga tak acuh.


Apakah semua ini keputusan yang tepat? Kenapa setelah satu bulan aku menajalaninya, aku merasa semua ini salah? Semoga saja aku tidak jatuh lebih dalam, batin Aisyah.


Ya, Aisyah yang kini bersama David. Dia hanya menatap aspal jalanan melalui jendela di sampingnya. Pikirannya melayang jauh entah ke mana. Wanita itu sungguh menyesali apa yang telah dia putuskan.


Tempat ini, batin Aisyah terkagum.


Baru pertama kali dia pergi ke sebuat tempat makan yang sangat megah. Lampu klasik terlihat di setiap sudut tempat. Ornamen-ornamen jaman Belanda juga tampak di berbagai tempat di sana. Tak lupa, berbagai lukisan wanita juga pria belanda jaman dulu tersemat di dinding. Sungguh suasana klasik yang sangat terlihat romantis.


Tetap biasa saja Aisyah. Jangan kamu perliahatkan wajah kagummu, nanti dia GR, ucap Aisyah pada dirinya sendiri.


"Kamu suka?" tanya David.

__ADS_1


David tak bosan-bosan memandang Aisyah yang kini semakin kelihatan cantik. Baju bermerk yang dibelikannya, sangat terlihat cantik di tubuh mungil Aisyah. Dres biru langit semata kaki dengan bentuk leher V dan lengan sesikut nampak angguk tatkala dipadukan dengan hells berwarna putih.


"Hm." Hanya deheman yang Aisyah keluarkan walaupun sebenarnya dia sangat menyukai tempat itu.


"Ayo, kita masuk!"


David menggandeng lengan Aisyah dan diikuti wanita itu di sampingnya. Mereka berjalan menuju sebuah tempat yang telah di pesan oleh pria itu. Aisyah pun semakin takjub karena tempat itu telah dirancang dengan penuh bunga.


Pria ini sungguh sangat bisa memanjakan wanita.


Aisyah tersenyum tipis, tetapi sesegera mungkin dia menghapus senyum itu. Dia tak ingin terlarut oleh manjaan pria itu.


Akhirnya kamu bisa tersenyum juga, walaupun masih kamu sembunyikan dariku. Suatu saat nanti, kamu akan tersenyum lepas bersamaku, batin David seraya tersenyum di dalam hati.


Aisyah mulai menyantap makanan di hadapannya. Saat gigitan pertama, wanita itu menghentikan semua pergerakannya. Dia terkejut akan rasa yang masuk ke dalam mulut. Sungguh nikmat yang belum pernah dia rasakan.


"Kenapa? Apa makanannya tidak enak?"


"Ti-tidak, kok. Makanannya enak sekali."


Aisyah segera melanjutkan makannya. Pandangannya tak berani manatap David. Dia tahu pasti pria itu selalu memperhatikannya.


Ih, kenapa aku jadi begitu. Ayo dong Aisyah, bersikap sewajarnya saja, gerutu Aisyah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jangan malu-malu. Kamu boleh, kok, lihatin aku. Jangan takut jatuh hati sama aku. Tenang saja, tidak akan ditangkap polisi juga." David menaik turunkan alis.


"Ih, apaan sih. Aku tak akan jatuh hati sama kamu!"


"Tak apa. Yang terpenting sekarang kamu sudah jadi pacarku. Tugasku hanya membuatmu jatuh hati padaku," ucap David sungguh-sungguh.


Tahan Aisyah, jangan kamu tergoda oleh tatapannya. Tujuanmu hanyalah untuk mendapat beasiswa. Setelah kamu lulus, kamu bisa bebas darinya, batin Aisyah yang hanya melirik ke arah David.


David semakin gemas karena melihat Aisyah yang sedikit manyun sambil menikmati makanan. Pria itu seketika berdiri, lalu menuju ke arah sang pujaan hati. Dia berhenti tepat di samping wanita itu.


"Uhuk!"


Aisyah tersedak karena melihat David yang telah berdiri disampingnya. Dia tak tahu apa yang pria itu ingin lakukan. Wanita itu hanya menundukan kepala dan masih terbatuk-batuk.


"Ini, cepat minum." David menyodorkan segelas air putih kepada Aisyah.


"Makanya, kalau makan itu jangan cepat-cepat. Atau jangan-jangan kamu gugup karena aku deketin, ya?"


David tak mendengar Aisyah menanggapi ucapannya. Yang dia lihat hanyalah mulut wanita itu sedang komat-kamit dan manyun. Seketika itu pula pria itu menarik dagu Aisyah agar menghadap ke arahnya.


Jantung Aisyah berdegup kencang kerika melihat mata David yang menatapnya tajam, namun lembut. Wanita itu segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Akan tetapi, dari sudut matanya, dia masih bisa melihat pria itu yang semakin mendekatkan wajah.


"A-apa yang ingin kamu lakukan?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2