Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 155. Keputusan


__ADS_3

Dua minggu kemudian di kota S, Riski terlihat sibuk sekali. Pria itu sedang mengemasi pakaiaan. Rencananya, dia akan tinggal di kota B untuk beberapa saat.


"Riski, kenapa sih kamu ke sana? Kamu di sini saja." Laela duduk di samping Riski. Dirinya tahu jika Riski akan menemui Aisyah, untuk itu dia tidak rela.


"Bunda, perusahaan di kota B sedang ada masalah, biar aku ke sana," kekeh Riski.


"Biarkan ayahmu yang ke sana. Kamu bisa tetap di sini. Kalau kamu ke sana, bagaimana nanti pertemuanmu dengan anak Om Herman? Bunda sudah sepakat dengan Om Herman agar kalian bertemu."


"Bunda tidak bertanya padaku setuju atau tidak, kenapa Bunda mengambil keputusan sendiri?" Riski menghentikan kegiatannya, lalu menatap Laela.


"Riski! Kenapa setelah mengenal Aisyah, kamu jadi pemberontak seperti ini?" Laela sudah tidak bisa menahan emosinya. Sang anak sudah terlalu banyak berubah menurutnya.


"Bunda, bukannya aku memberontak. Aku sudah dewasa, bolehkan aku memilih jalanku sendiri?"


"Bunda! Biarkan dia pergi! Lagi pula, di sana dia mengurus perusahaan," ujar Doni. Tiba-tiba dia sudah berdiri di ambang pintu.


Kedua orang yang berada di dalam kamar menengok ke arah Doni. Pria itu melipat tangan di depan dada. Dia terlihat sangat berwibawa.


"Ayah dan anak sama saja. Kalian sudah di pelet sama Aisyah!" Laela berdiri, lalu menghentakkan kaki. Wanita itu pergi meninggalkan kamar Riski. Dia kalah karena sudah dikeroyok oleh dua orang pria. Pundak wanita itu menyenggol lengan sang suami ketika melewati pintu.


"Apa sudah selesai?"


"Belum, Yah. Sebentar lagi." Riski melanjutkan aktivitasnya.


Tak memerlukan waktu yang lama bagi Riski menyelesaikan mengemas barang. Kini dia sudah memasuki mobil setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Wajah penuh semangat terpancar pada diri Riski.


Melewati jalan tol yang begitu panjang, akhirnya Riski sampai di kota B. Dia masih harus memacu mobilnya menuju ke sebuah apartemen keluarganya di kota tersebut. Sudah hampir tengah malam ketika dia sampai di apartemen.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar untuk besok." Riski merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Dia sudah membayangkan wajah sang pujaan hati. Dirinya sudah tidak tahan untuk bertemu.


...****************...


"Aisyah, kita makan ke kantin, yuk!" ajak Dinda.


"Maaf, Din. Aku mau makan di taman saja. Mau nyelesaiin buat kerangka, besok harus setor, nih. Lagi pula aku juga bawa bekal."


"Wah, semangat baget nulisnya. Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Dinda.


Sejak keluar dari pekerjaannya, Aisyah menyibukkan diri dengan menulis novel online. Selain menyalurkan hobinya, dia juga mengincar pendapatan dari sana. Wanita itu tidak ingin bergantung pada David.


Aisyah ingin membuat kisah cinta antara CEO dan wanita biasa. CEO baik hati yang sedang mengejar cinta sang wanita. Sang pria rela melakukan apa saja demi merebut hati wanita idamannya. Pria itu juga romantis, tidak pernah melakukan hal kasar sedikit pun.


Tidak seperti hidupnya sekarang, Aisyah merasa David terlalu egois. Selalu memaksakan kehendak sendiri. Sangat berbandiang terbalik. Novel yang dia buat merupakan mimpinya, mungkin juga mimpi kebanyakan wanita.


Karena baru beberapa bulan Aisyah menulis, tentu saja uang hasil menulis belum seperti yang diharapkannya. Untuk itu, dia kemarin sempat berencana untuk bekerja.


"Belum selesai juga, mana sudah hampir dimulai kelas selanjutnya lagi. Aku terusin setelah pulang saja."


Aisyah meninggalkan taman menuju kelas selanjutnya. Dalam kelas, gadis itu tidak bisa fokus. Dia masih memikirkan kerangka yang belum juga selesai. Hingga jam selesai, gadis tersebut masih tinggal di sana.


"Kamu tidak mau pulang?" tanya Dinda. Gadis itu sudah berdiri di hadapan Aisyah.


"Oh, iya. Ayo!" Aisyah merapikan buku-bukunya.


Mereka berjalan keluar area kampus bersama. Tidak lupa, canda tawa mengiringi sepanjang perjalanan. Akan tetapi, saat tiba di ujung gerbang, Aisyah melihat sosok yang sangat dia kenal. Seketika gadis itu menghentikan tawa.

__ADS_1


Untuk apa dia ke sini? Mau ngajak aku balik lagi? batin Aisyah. Gadis itu menundukkan kepala agar orang itu tidak melihatnya. Semoga dengan hijab ini, dia tidak mengenaliku.


"Kenapa kamu diam?" tanya Dinda. Dia heran dengan perubahan sikap Aisyah yang seketika.


"Tidak apa," ucap Aisyah dengan suara lirih.


Dinda mengerti bahwa ada sesuatu pada Aisyah. Jadi, dia memilih diam untuk mengikuti sahabatnya. Ya, kini mereka sudah menjadi sahabat sejak pergi nonton bersama.


Untung dia tidak mengenaliku, batin Aisyah lega. Nafas panjang pun, dia hembuskan ketika sudah sampai di halte.


Melihat ekspresi Aisyah yang sudah tidak setegang tadi, Dinda segera bertanya, "Kamu kenapa, sih?"


"Tidak ada apa-apa. Aku cuma ngehindari seseorang," jelas Aisyah.


Dinda segera mencari keberadaan orang tersebut. Matanya menyusuri gerbang kampus.


"Oh, orang yang pakai jas hitam itu?" Dinda menunjuk pada seseorang yang berdiri di kanan gerbang kampus.


Aisyah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Dinda. Dia tidak mau berkata terlalu banyak tentang orang itu.


"Dia ganteng juga, tidak kalah sama Kak David." Dinda masih memperhatikan orang itu.


"Ayo, bisnya sudah datang." Aisyah menarik tangan Dinda, membuat sang sahabat mengalihkan pandangannya.


"Aku main ke rumahmu, ya?" tanya Aisyah ketika memasuki bus.


"Oke," sahut Dinda. "Sekarang kamu lebih bebas setelah keluar kerja dan beralih menjadi penulis novel online. Aku suka."

__ADS_1


"Banyakkah cuannya?" Dinda masih saja ngerocos ketika roda bus mulai bergulir.


Bersambung.


__ADS_2