Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 139. Jadian


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Aisyah semakin memikirkan tawaran David karena dagangannya kian hari kian sepi. Apalagi ini sudah hampir liburan semeter, jadi setelah itu dia harus membayar uang semeter berikutnya. Dia merasa tak mampu jika harus mengumpulkan uang yang lumayan banyak baginya hanya dalam waktu satu bulan lagi.


Aisyah hanya memainkan makanan di pangkuan, tak mampu untuk mengunyahnya. Sungguh semua itu menjadi beban bagi gadis itu. ATM pemberian Riski juga tak mungkin lagi walaupun setiap bulan pria itu mengirim uang. Gadis itu tak ingin memberi harapan dengan menggunakan uang pemberian sang mantan suami.


“Ya Allah, berikanlah jalan untukku. Aku ingin mewujudkan cita-citaku untuk merubah kehidupan keluargaku,” pinta Aisyah di sela lamunannya.


Tanpa terasa Aisyah menjatuhkan butiran bening dari sela-sela matanya. Dirinya teringat lagi ucapan mantan mertua dan istri sang mantan suami. Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi, bahkan hingga orang tuanya yang mendapatkan penghinaan itu. Sungguh gadis itu tak rela.


“Hai, Ais,” sapa suara berat dengan lembut.


Aisyah segera menghapus air mata dengan tangan. Gadis itu sungguh terkejut melihat sesosok pria berdiri di hadapannya karena sudah sejak lama dia tak pernah bertemu dengannya. Sungguh senang perasaannya tak terlukiskan dan yang lebih membahagiakan adalah seorang wanita merangkul lengan pria itu dengan mesra.


“Ari! Denok?” tanya Aisyah tak menyangka.


Denok hanya menganggukkan kepala. Walaupun, hanya begitu saja, Aisyah sudah memahami maksud wanita itu. Dia menaruh kotak makan di bangku, lalu berdiri untuk memeluk Denok.


“Aku ikut senang,” ucap Aisyah mempererat pelukannya. Dia tahu bahwa Denok pasti akan berhasil.


“Terima kasih, Aisyah. Semua ini berkat kamu,” kata Denok saat pelukan mereka terlepas.


“Maafkan aku, Aisyah. Aku terlalu egois.” Ari menundukkan kepala. Pria itu merasa malu mengingat kelakuannya saat itu.


“Tak apa, aku juga minta maaf. Sebagai sahabat, aku juga merasa bersalah. Gara-gara aku, kamu jadi kena pukul oleh pria itu.” Aisyah tersenyum manis. Gadis itu duduk di tempat tadi, lalu mengambil kotak makan siangnya.


Denok ikut duduk di sebelah Aisyah, lalu Ari di sebelah kekasihnya.


“Oh ya, Aisyah. Kenapa kamu sedih?” tanya Denok. Dia menyadari bahwa Aisyah sedang menangis saat dirinya datang tadi.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, kok.” Aisyah teringat lagi akan masalahnya. Namun, dia mencoba untuk tersenyum.


“Ceritakan saja. Kami ini, ‘kan, sahabatmu? Jika kami mampu, kami akan membantumu.” Denok meyakinkan Aisyah.


Aisyah akhirnya menceritakan semua masalahnya kepada mereka. Gadis itu sudah percaya kepada sahabat barunya. Dia ingin bercerita agar bisa mengurangi sedikit beban pikirannya.


“Sekali lagi maafkan aku, Aisyah. Semua ini gara-gara aku sehingga beasiswamu di cabut oleh pria itu. Kamu juga jualan gara-gara itu juga, ‘kan?” Ari merasa bersalah setelah mendengar cerita Aisyah.


“Iya, tapi kamu jangan minta maaf lagi. Kamu tidak bersalah dalam hal ini. Ini semua gara-gara dia, kenapa juga dia suka sama aku. Gadis biasa seperti ini,” sungut Aisyah saat mengingat kelakuan David.


“Kami bisa membantumu, tapi mungkin tidak bisa sepenuhnya. Kalau uang kita digabungin juga tidak akan menutup SPP semester depan,” jelas Denok seraya berfikir.


“Lagipula, semester depan tinggal sebulan lagi. Kalau aku cicil per bulan juga tidak mungkin. Gajiku hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.” Aisyah semakin pusing.


“Bagaimana dengan hasil jualanmu?” tanya Denok.


Mereka terdiam sejenak, masih memikirkan jalan keluar untuk masalah Aisyah.


“Sambil mikir, ayo kita makan dulu!” ajak Aisyah. Gadis itu menyodorkan kotak nasi ke arah Denok.


Denok tersenyum senang atas tawaran Aisyah. Dia mengambil sesendok nasi beserta lauknya. Kali ini Aisyah membawa lauk ayam bumbu bali.


“Terima kasih, Aisyah.” Denok menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Dengan beberapa kali kunyahan, dia menelan makanan itu.


“Enak banget masakanmu. Kenapa masih sepi juga. Seharusnya bisa laris masakan seenak ini.” Denok merasa heran.


“Memang enak masakan Aisyah. Aku juga heran kenapa bisa begitu.” Ari pun sangat heran.

__ADS_1


“Mungkin sistem marketing-ku yang kurang bagus. Kalau di depan kos, itu wajar karena di jalan besar sudah ada warung nasi. Kalau untuk di sini, kenalanku kurang banyak mungkin,” jelas Aisyah.


“Mungkin juga,” sahut Ari.


Mereka kembali senyap. Mereka berada dalam pemikiran masing-masing.


“Apa aku harus menerimanya saja, ya?” tanya Aisyah memecah keheningan. Wajahnya terlihat putus asa.


“Terima apa?” tanya Denok tak mengerti.


“Tawaran David tentang beasiswa,” jawab Denok.


“Dia mau memberimu beasiswa lagi? Lalu, kenapa waktu itu dia cabut?” tanya Ari tak mengerti.


“’Kan alasannya yang kemarin dicabut sudah aku jelaskan tadi?” Aisyah menguncir bibirnya.


“Eh, iya juga. Aku lupa.” Ari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Kalau dia menawarkannya lagi, pasti dia ada niat terselubung.”


Aisyah hanya menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Ari. “ Dia memintaku untuk jadi kekasihnya.”


“Apa?” pekik Ari dan Denok bersamaan.


Mereka tahu persis bagaimana sifat David. Kalau Aisyah mau jadi pacar pria itu, pasti dirinya akan dipermainkan oleh pria itu.


Namun, senyum tiba-tiba nampak di wajah Ari. Pria itu memiliki sebuah ide. Namun, ide itu sedikit berlawanan dengan sifat Aisyah, jadi ada kemungkinan Aisyah menolaknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2