Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 124. Ancaman


__ADS_3

Siang itu, Aisyah sudah berjanji bertemu dengan Ari di taman kampus. Dia ingin meminta Ari untuk menolongnya. Aisyah sudah tak tahu lagi harus ke mana untuk mencari bantuan.


Sambil menunggu, Aisyah memakan makan siangnya. Dia fokus pada kotak nasi di pangkuan. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya. Aisyah menoleh senang.


"Ari ...." Aisyah menghentikan ucapannya karena pria yang di sampingnya bukan yang dia tunggu.


Kalau ada dia, Ari pasti tak mau ke sini, batin Aisyah.


 


"Untuk apa kamu ke sini?" kesal Aisyah.


"Untuk menemuimulah. Siapa lagi?"


"Sudah! Pergi saja sana! Mengganggu acaraku saja," usir Aisyah tanpa melihat ke arah David.


 


"Tidak mau! Kalau kamu mau menunggu pria itu, aku akan tetap di sini," kekeh David seraya melipat tangan di depan dada.


"Kenapa? Aku mau bertemu dengan Ari, itu juga tidak ada hubungannya denganmu."


"Kukatakan padamu untuk yang pertama dan terakhir kalinya bahwa aku tidak suka melihatmu bersamanya! Jadi, jangan sekali-kali kamu dekat-dekat dengannya!" geram David menatap Aisyah tajam.


 


"Apa hakmu melarangku bersama Ari? Kamu bukan siapa-siapaku juga!" Aisyah menghindari mata David.


 


"Aku pacarmu. Jadi kamu harus menurutiku!" ucap David tegas.


 


Aisyah tercengang akan ucapan David. Bagaimana pria itu bisa mengklaim Aisyah sebagai pacarnya? Walaupun David menawarkan diri untuk jadi kekasihnya, tetapi tak sekalipun Aisyah menerima.


 


Namun jantung Aisyah berdegup sedikit lebih kencang. Dia tak tahu setelah David mengatakan hal itu, jantungnya merespons demikian. Aisyah pun menjadi bingung dengan keadaannya.


 

__ADS_1


"Se-seenaknya saja kalau ngomong! Kalau aku pacar kamu, mau kamu ke manakan pacar kamu yang lain?" Aisyah masih tak berani menatap David.


 


"Ya, tidak di ke mana-manakan. Tapi, kamu akan jadi yang nomor satu," ujar David penuh keyakinan.


 


"Aku tidak butuh nomor satu. Aku hanya butuh satu-satunya!" ucap Aisyah.


 


"Baiklah kalau itu keinginanmu. Akan kupastikan bahwa kamulah satu-satunya. Aku akan memutuskan hubungan dengan semua pacarku," ujar David sungguh-sungguh.


 


"Eh!" Aisyah segera menutup mulut dengan kedua tangannya.


 


Ya Allah, apa yang aku katakan tadi? Aku salah bicara, batin Aisyah. Gadis itu menurunkan kembali tangannya.


 


 


"Tak apa. Kamu tidak usah khawatir. Sekarang aku akan mengirim pesan pada semua pacarku dan mengatakan bahwa aku telah memutuskannya." David mengambil ponsel yang ada di sakunya, lalu mengirim pesan ke semua kekasihnya.


 


Beberapa menit kemudian ponsel David mulai berdering. Akan tetapi, David segera menolak panggilan itu, kemudian memblokir nomornya. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering, dia melakukan hal yang sama. Begitu pula dengan panggilan-panggilan berikutnya hingga ponsel David tidak berdering lagi.


 


"Ka-kamu benar-benar melakukannya?" tanya Aisyah tidak percaya.


 


"Iya," jawab David tegas. "Jadi, kamu juga harus menjauhi para pria itu," titahnya dengan wajah serius.


 

__ADS_1


Entah sejak kapan memiliki Aisyah adalah obsesi David. Kini dia bukan lagi hanya coba-coba agar Aisyah tertarik padanya, tetapi memiliki gadis itu seutuhnya. Dia begitu marah dan benci ketika Aisyah dekat dengan pria lain.


 


David sudah merasa nyaman ketika berada di dekat Aisyah. Pria itu merasakan apa yang dia butuh kan selama ini ada pada Aisyah. Lemah lembut, perhatian, dan pendengar yang baik. Semua itu bisa David rasakan saat menceritakan tentang kehidupannya kepada Aisyah saat itu.


 


"Eh! Kok kamu jadi seperti itu? Bukan itu maksudku yang sebenarnya. Aku tidak menyetujui untuk jadi kekasihmu." Aisyah bingung karena tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.


 


"Karena kamu telah mengatakan hanya ingin menjadi satu-satunya. Aku pun mengabulkan itu. Itu aku anggap sebagai jawaban darimu," ucap David masih menatap Aisyah dengan serius.


 


"Tapi, itu 'kan pengandaian saja. Bukan maksudku yang sebenarnya. Jangan seenaknya mengambil kesimpulan seperti itu dong!" geram Aisyah.


 


"Sama saja menurutku. Intinya di sini, kamu sudah jadi pacarku. Tapi, jika kamu masih saja menolak, aku bisa melakukan sesuatu untukmu," ancam David sembari tersenyum miring.


 


Aisyah terdiam, tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan David. Gadis itu pun jadi bergidik ngeri karena terlintas hal-hal aneh di pikirannya. Bulu kuduknya seketika berdiri.


 


"Jangan macam-macam ya, sama aku." Aisyah menjauhkan diri dari David seraya mendekap tubuhnya sendiri.


 


"Siapa juga yang mau mempe*kosamu?" David tertawa kencang.


"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Aku akan menjagamu dengan sangat baik. Mulai hari ini, akan kupastikan bahwa wanita yang selalu merundungmu tak akan berani lagi denganmu," lanjutnya serius.


Aisyah senang ketika mendengar bahwa Denok tak akan mengganggunya lagi. Akan tetapi, di sisi lain, dia tak terima jika David mengeklaim dirinya adalah pacar pria itu. Sungguh semua ini membuatnya pusing.


Aisyah segera menutup tempat makannya. Dimasukkan ke dalam tas miliknya. Aisyah berdiri, lalu melangkah seraya berkata, "Bodo amat!"


David hanya menyaksikan kepergian Aisyah. Senyum seringai menghiasi wajah pria itu. Namu, kini dirinya lega karena telah mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Aisyah, tunggu saja waktunya.


Bersambung.


__ADS_2