Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 163. Jangan Berubah


__ADS_3

"Berhenti!"


Wanita itu segera menghentikan aksinya. Tangannya kini telah berada di perut David. Tingggal beberapa inci lagi sampai pada tujuan.


"Kenapa? Milikmu sudah berdiri tegak. Dia butuh dipuaskan." Sang wanita melanjutkan pergerakannya. Dia sudah tidak sabar menyentuh benda tegak di balik celana.


"Berhenti! Atau kita sudahi saja!" hardik David.


"Untuk apa kita melakukan ini kalau tidak diteruskan? Aku sudah tidak tahan," rengek wanita itu.


"Aku bisa menuntaskan milikmu tanpa harus kamu menyentuh milikku!"


Wanita itu mengernyitkan dahi. Dia tidak paham dengan apa yang dimaksud David.


"Naik ke atas meja!" titah David.


Wanita itu pun menururti permintaan David. Dia turun dari pangkuan sang pria, lalu duduk di atas meja. Dirinya tepat di depan David, menghadap pria itu.


"Buka kakimu!"


Tiba-tiba suara benturan keras terdengar dari arah pintu sebelum wanita itu membuka kaki. Tubrukan antara pintu dan dinding berhasil mengalihkan perhatian keduanya. David segera mengintip dari balik tubuh wanita tadi untuk mengetahui siapa pelakunya. David menatap santai orang yang melakukan hal itu.


"Apakah kamu tidak punya sopan santun? Masuk keruangan orang tanpa ketuk pintu," tegur David.


David tidak ingin mencari masalah dengan orang tersebut. Dia tidak ingin orang tuanya marah karena telah membuat orang itu menangis. Ya, dia adalah Clara, wanita yang sudah dianggap adik sendiri olehnya.

__ADS_1


"Apa yang Kak David lakukan?" tanya Clara. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Bukan urusanmu! Sana pergi!" David mengibaskan tangan ke arah Clara tanpa menatapa wanita itu. Matanya kembali manatap wanita di hadapannya.


"Ayo, lanjutkan!" titah David.


Wanita itu melanjutkan apa yang sebelumnya tertunda. Dia membuka kaki di hadapan David meskipun Clara masih berada di sana. Dirinya tidak peduli lagi dengan sekitar karena rasa gatal sudah merasuki inti tubuhnya. Dia ingin segera mendapatkan belaian di tempat itu.


David mulai menyibakkan dress sematakaki dengan belahan tinggi ke samping. Dengan perlahan di mengusap lembut paha mulus sang wanita. Semakin lama semakin naik menuju inti tubuh wanita tersebut.


Clara yang tidak pergi setelah di usir, matanya terlihat meradang. Dia tidak kuat dengan apa yang dilihatnya. Emosinya memuncak.


"Kak David, apaan ini! Kenapa Kakak berubah jadi begini?" Clara berjalan menuju ke arah dua sejoli itu. Kekecewaan terlihat di mata wanita itu.


"Waktu aku berkunjung ke kota B saat itu, sepertinya Kakak sudah berubah. Aku tidak pernah melihat bermain wanita lagi. Tapi, kenapa sekarang seperti ini lagi?" Clara menggelengkan kepala, tidak mengerti dengan pikiran David.


David mengibaskan tangan, meminta wanita di hadapannya untuk pergi. Dia merasa situasi sudah tidak memungkinkan.


Mengerti dengan apa yang diminta David, wanita itu turun dari meja. Dia berjalan perlahan ketika melewati Clara. Dia tahu, jika sedikit saja menyentuh, maka Clara akan menghabisinya.


"Aku hanya ingin kesenangan," ucap David datar.


"Tapi, tidak seperti itu. Tidak juga bermain dengan sembarang orang sepeti dia!"


Tidak tahu apa yang dirasakan oleh Clara. Dirinya hanya tidak rela jika David bermesraan dengan orang lain. Dia tidak suka, hatinya sangat sesak.

__ADS_1


Sesungguhnya, Clara juga sudah menganggap David sebagai kakak sejak dulu. Saat mereka kecil, sang pria selalu menjaga dan melindunginya. Sampai saat ini wanita itu menginginkan agar pria itu tetap selalu seperti dulu.


Dengan adanya wanita lain, Clara merasakan bahwa semua itu pasti akan berubah. David tidak lagi memperhatikannya. Dia tidak mau seperti itu.


"Lalu, maksud kamu aku harus bermain dengan wanita seperti apa?"


David memicingkan mata ke arah Clara. Seringai pun nampak di wajahnya. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Semua itu membuat Clara bergidik ngeri.


"Eh! Bukan begitu. Maksudku, Kakak jangan bermain wanita. Itu saja," kilah Clara.


Clara mengangkat kaki untuk mundur ke belangang ketika David mulai melangkah maju menghampirinya. Wajah yang diperlihatkan pria itu membuat dirinya takut. Langkah wanita itu terhenti ketika tak ada ruang lagi baginya. Dia tak bisa bergerak di sudut ruangan.


"Bukan itu yang aku dengar tadi. Kamu tidak ingin aku bermain dengan wanita seperti tadi. Jadi, kamu ...." David sengaja tidak menyelsaikan ucapapannya. Dia segera membelai wajah Clara dengan punggung tangannya.


"Kak David, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Clara. Suaranya sedikit bergetar karena ketakutan.


"Aku ingin melanjutkan kesenanganku yang kamu gagalkan!"


David semakin menghimpit tubuh Clara. Dia membuat wanita itu semakin tidak bisa bergerak. Matanya memindai seluruh bagian tubuh sang wanita yang dapat dijangkau. Kini, dia menghentikan pemindaian tepat di celah dua puncak dada.


"Maksud Kakak?" Clara membulatkan mata. Dirinya sungguh tidak percaya dengan apa yang diucapkan David.


"Sudahlah! Mari kita nikmati!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2