
Hari masih gelap, tetapi kamar Aisyah sudah dihiasi aroma masakan yang menggugah selera. Siapapun yang menciumnya, pasti akan tergoda untyk memakannya. Kini Aisyah tengah memasak makanan pesanan orang.
Ya, mulai beberapa Minggu yang lalu, Aisyah mencoba-coba menjajakan hasil masakannya kepada teman-teman kampus. Aisyah menunjukkan sebuah foto yang dikemas dalam kotak.
Walaupun hari pertama belum ada yang ingin memesan, tetapi Aisyah tidak putus asa begitu saja. Hari berikutnya gadis itu mencoba lagi, dia senang karena ada dau orang teman yang mau. Hari berikutnya pun semakin bertambah. Menu setiap harinya pasti berbeda.
"Semangat, Aisyah! Kita kemas dulu pesanan hari ini." Aisyah memberi semangat pada dirinya sendiri.
Hari ini Aisyah membungkus sepuluh pesanan nasi kotak. Cukup mudah bagi Aisyah untuk membawa kotak-kotak itu naik bus. Aisyah mengemasnya dalam 5 kotak per ikatan. Satu ikatan di tangan kanan dan satu ikatan lagi di tangan kirinya.
Pagi-pagi sekali, Aisyah sudah menunggu para pembeli di depan pintu gerbang kampus. para pemesan pun akhirnya datang satu persatu mengambil pesanan mereka. Aisyah tak mematok harga mahal, dia memberi harga ekonomis untuk mahasiswa.
"Ton! Ton! Bukankah itu Aisyah?" Ari menunjuk pada seseorang yang tengah berdiri di depan gerbang.
Memang Aisyah masih berada di sana sekarang. Pasalnya, masih ada dua pesanan lagi yang belum diambil. Biasanya, di jam itu pesanan Aisyah sudah berada di tangan pembeli. Untuk itu, sebelum ini Ari belum pernah melihat Aisyah berdiri di sana.
Anton menoleh sesaat untuk memastikan karena dia sedang mengemudikan motor. "Eh, iya benar. Kenapa dia berdiri di sana?"
"Mana aku tahu? Aku 'kan juga baru lihat dia di sana. Ah, sudahlah. Ngapain juga kita urusi dia." Ari mencoba tak peduli.
Motor mereka terus melaju, hingga Aisyah pun tak terlihat lagi. Namun, dalam hati Ari masih bertanya-tanya. Untuk apa Aisyah berdiri di sana? Dia juga merasa bahwa Aisyah sedang menunggu seseorang.
"Terima kasih, ya, Kak. Aku tunggu pesanannya lagi." Aisyah sedikit membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Aku pasti pesan lagi. Masakan kamu enak banget." Pembeli itu tersenyum manis kepada Aisyah, kemudian berlalu meninggalkan gadis itu.
Aisyah dengan senyum mengembang menghitung hasil jualan hari ini seraya berjalan masuk ke dalam kampus. Dia sungguh puas dengan hasil jualan hari ini. Walaupun sedikit, tetapi hati Aisyah tetap senang.
...****************...
"Semoga hari ini Ari tak menghindariku. Kalau dia masih saja menghindariku, aku akan menyerah untuk menemuinya."
Aisyah berjalan cepat menuju gedung Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Dia berharap Ari belum meninggalkan gedung fakultasnya. Gadis itu ingin menjelaskan sesuatu kepada Ari.
Setelah empat menit berjalan, Aisyah sampai di depan gedung yang dituju. Dia menunggu di dekat tangga. Matanya terus mengamati sekeliling, berharap dapat menemukan Ari.
"Ari!" teriak Aisyah bersamaan dengan wanita yang berlari ke arah Ari.
Aisyah pun berhenti sesaat karena menyadari hal itu. Dia kembali melangkah mendekati Ari karena tekat untuk menjelaskan yang sesungguhnya. Gadis itu tak peduli dengan orang yang memanggil Ari juga.
"Ada apa, Nok?" tanya Ari.
"Ayo, kita ke parkiran bareng," jawab Denok seraya tersenyum manis.
"Baiklah, ayo." Ari membalikkan tubuhnya, lalu melangkahkan kaki.
"Ari, tunggu!" teriak Aisyah.
__ADS_1
Ari menghentikan langkahnya, tetapi dia tak menoleh ke arah Aisyah sedikit pun. "Ada apa?"
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Aisyah melangkah mendekati Ari.
"Ngomong aja," ucap Ari singkat.
"Tapi, aku ingin berdua saja. Aku akan menjelaskan sesuatu padamu." Aisyah menatap Ari lekat.
Ari membalikkan tubuhnya. Dia menatap tajam Aisyah di depannya. Hatinya dipenuhi dengan amarah. Pria itu teringat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu.
"Apalagi yang ingin kamu jelaskan? Bukankah saat itu sudah jelas semuanya?" tanya Ari tak mengerti.
"Kamu dengarkan dulu penjelasanku." Mata Aisyah mulai berembun.
"Tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Semuanya sudah cukup jelas. Aisyah yang sekarang, bukanlah Aisyah yang dulu aku kenal. Aisyah yang dulu adalah gadis yang selalu menepati janjinya."
"Namun, yang sekarang aku lihat, hal itu tidak ada lagi pada dirinya. Bahkan, janji yang baru saja dia ucapkan sudah dia ingkari. Sungguh aku sangat kecewa." Wajah Ari dipenuhi dengan kekecewaan dan amarah.
"Tapi ...." Aisyah tak melanjutkan kata-katanya karena Ari telah membalikkan tubuhnya.
"Sudahlah." Ari menjeda ucapannya. "Ayo, kita pergi!"
Ari menarik langkahnya meninggalkan tempat itu, meninggalkan Aisyah yang terpaku akan sikapnya. Denok pun segera mengalungkan tangannya ke lengan Ari, dan tak ada penolakan dari sang pria. Sedangkan Anton, berjalan di samping pria itu.
__ADS_1
Aisyah masih berdiri di sana dengan kekecewaan. Sungguh tak disangka bahwa Ari akan benar-benar membencinya. Gadis itu tak tahu harus berbuat apa lagi. Dia cukup lelah untuk berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Ari.
Bersambung.