
David berjalan menghampiri Aisyah. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Setelah dua bulan tidak bertemu, rasa rindunya terasa menggunung. Kesibukan mengurus perusahaan, membuat pria itu tak sempat menemui Aisyah.
Kemarin saja ketika David pulang dari kota J, sudah begitu larut. Dia tidak mungkin menemui wanitanya. Lalu, setelah wisuda ini, dia juga harus pergi lagi. Tidak begitu banyak kesempatan untuk mereka bertemu. Jadi, sekarang waktu bagi pria itu untuk menyampaikan kabar kepergiannya ke luar negeri kepada Aisyah.
"Kenapa wajah Aisyah seperti itu?" tanya David pada diri sendiri. Suaranya begitu lirih seperti menggumam.
David merasa Aisyah tidak biasa-biasa saja. Seperti ada sesuatu yang salah. Namun, apa? Dirinya merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Aisyah, ayo, ikut aku!" David menarik tangan Aisyah. Wanita itu pun mengikuti ke mana dia melangkah, tanpa penolakan.
Di sebuah kursi taman, David duduk di sebelah Aisyah. Dia menatap sang gadis penuh tanya.
"Aisyah, apa kamu tidak kangen aku?" tanya David membuka percakapan.
Aisyah tak menjawab, masih saja diam menatap ke depan. Dirinya hanya berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan tujuannya.
David menghembuskan nafas panjang. Dia tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Aisyah.
"Katakan, apa salahku?" tanya David. Pria itu mengalihkan pandangan lurus ke depan.
Melihat sikap wanita yang hanya mendiamkan pria, David tahu jika Aisyah sedang merajuk. Jadi, walaupun dia merasa tidak melakukan kesalahan, dirinya tetap bertanya tengtang kesalahannya.
Aisyah masih saja diam, membuat David jengah. Dadanya pun menjadi bergemuruh. Ombak kemarahan menggulung-gulung di dada, siap menelan apa yang ada di hadapannya.
"Kalau kamu diam saja, mana aku tahu apa yang kamu inginkan!" David meninggikan nada suaranya, merasa kesal kepada wanita itu.
Aisyah menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba mengumpulkan kekuatan.
"Aku." Aisyah menjeda ucapannya, "Ingin mengembalikan kartu yang kamu beri," ucap Aisyah lirih. Dia membuka dompet untuk mengambil kartu yang dimaksud.
__ADS_1
"Apa!" pekik David. Bukannya dia tidak mendengar apa yang diucapkan Aisyah. Akan tetapi, dia tidak mengerti mengapa wanita itu mengembalikan kartu pemberiannya.
"Aku mau mengembalikan ini." Aisyah menyodorkan kartu pemberian David tanpa melihat ke arah orang yang di beri. Kepalanya menunduk, tidak ingin melihat mata si pria.
David tidak mengambil kartu itu. Nafasnya semakin memburu ketika Aisyah memberikan kartu itu.
"Kenapa?" tanya David dengan nada tinggi.
Aisyah segera menarik tangan kembali, lalu diletakkan di atas pangkuannya. Tubuhnya terasa gemetar karena suara David bagaikan auman singa di telinga.
"Sepertinya aku tidak bisa menjadi pacarmu lagi," jelas Aisyah dengan suara bergetar.
"Apa maksudmu? Katakan yang lebih jelas, Aisyah!"
David semakin murka. Dirinya tidak bisa menerima ucapan Aisyah. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun, kenapa tiba-tiba wanita itu meminta putus?
"Oh, apakah ada pria lain di sisimu sekarang?" David menarik sebelah ujung bibirnya. "Pantas saja waktu aku tanya hal itu, sifat kamu berubah. Benar begitu bukan?"
"Bu-bukan begitu," sanggah Aisyah. "Aku hanya ingin fokus belajar. Punya pria hanya menambah pikiran saja."
"Jadi, maksud kamu, aku hanya menambah beban pikiranmu?"
David sungguh tidak percaya dengan pemikiran Aisyah. Kenapa wanita itu menganggapnya beban? Bukankah selama ini dia sudah baik dan bersikap lembut. Ya, walau kadang masih memaksa kehendak.
"Bukan begitu juga." Aisyah menggeleng pelan.
Aisyah tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Haruskah dia berkata bahwa dirinya marah karena Clara dan juga tidak di minta datang saat pria itu wisuda. Tidak! Nanti yang ada malah pria itu besar kepala.
"Kalau bukan itu, apa lagi?"
__ADS_1
Aisyah masih berpikir keras cara menjelaskan yang baik. Namun, lagi-lagi David tidak sabar menunggu.
"Kamu tidak bisa mengatakannya, 'kan? Kalau begitu, kamu masih tetap menjadi pacarku!"
"Tidak bisa, Dav! Aku tidak mau melanjutkan hubungan ini! Kamu tidak bisa memaksaku seperti itu." Nada bicara Aisyah mulai meninggi. Dia sudah lelah dipaksa, sedangkan orang yang memaksanya tidak menepati janji.
"Beri alasan yang jelas biar aku bisa menerimanya!" David menatap Aisyah tajam.
"Sudah kukatakan tadi, aku hanya ingin fokus belajar. Tidak mungkin juga ada pria lain. Aku hanya ingin berhasil dalam hidupku untuk membuktikan kepara orang-orang."
Akhirnya, Aisyah dapat mencari alasan yang menurutnya masuk akal. Dia berharap David mau mengerti.
"Kalau kamu ingin berhasil, aku juga bisa mewujudkannya untukmu. Kamu jangan khawatir. Kamu mau buka bisnis apa? Katakan! Tinggal bilang padaku!"
David merasa Aisyah sangat bodoh. Bukankah wanita itu tahu jika dirinya orang kaya. Menikah saja dengannya maka apa pun keinginan Aisyah akan terpenuhi. Hal itu juga bisa ditunjukkan kepada orang-orang.
"Tapi, aku mau hasil kerja kerasku sendiri!"
David tidak bisa menahannya lagi. Kesabarannya sudah habis. Wanita di hadapannya sungguh susah di atur.
"Kamu tahu sendiri, 'kan, apa konsekuensinya?"
"Ya, aku tahu." Aisyah menganggukkan kepala.
"Selamat bekerja keras!" David menarik kartu ditangan Aisyah, lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah.
Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian dengan langkah lebar meninggalkan Aisyah. Dia sudah tidak ingin berdebat lagi, hanya akan memakan waktu saja. Sementara itu, bisnis di Prancis sudah menunggu.
Bersambung.
__ADS_1