
Suasana pagi ini begitu riuh. Semua penghuni kos sedang di rumah saat ini. Mereka ada yang sedang olah raga pagi, ada pula yang sedang minum kopi ria bersama para tetangga. Anak-anak berlari ke sana kemari, membuat suasana semakin ramai.
Aisyah hanya mengintip sebentar dari balik pintu. Gadis itu pun menutup pintunya kembali karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia masih harus memasak, membereskan kamar, dan mengerjakan tugas kampus.
Aisyah ingin segera menyelesaikan semua pekerjaan itu sebelum Ari datang menjemput. Hari ini dia sudah mempunyai janji untuk mengantar Ari yang ingin membeli sesuatu. Rencananya Ari ingin mencari barang yang dia inginkan di sebuah pusat perbelanjaan.
"Semoga saja hari ini David tidak ke sini. Kalau dia ke sini, bisa kacau semua acaraku," gerutu Aisyah.
Memang, akhir-akhir ini David sering datang ke tempat kost Aisyah. Dia selalu datang di pagi hari untuk menjemput Aisyah pergi ke kampus. Karena pagi hari, tentunya David belum sarapan, jadi dia selalu meminta sarapan pada Aisyah.
Aisyah tidak dapat mengusir David, bahkan menolaknya pun tidak bisa. Setiap kali Dia menyuruh David pergi, pria itu pasti akan membuat kegaduhan di sana. Untuk itu, Aisyah hanya pasrah saja.
Kini Aisyah sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya. Gadis itu pun sudah mandi dan berdandan secantik mungkin untuk pergi berjalan-jalan dengan Ari. dia menunggu kedatangan Ari di dalam kamarnya.
Pintu kamar Aisyah diketuk, dia bergegas berjalan ke arah pintu. Gadis itu membuka pintu kamarnya, lalu menyambut kedatangan Ari dengan senyum lebar.
"Tunggu sebentar, aku ambil tasku dulu." Aisyah sedikit berlari untuk mengambil tasnya, lalu segera kembali. Ditutupnya pintu kamar setelah dia keluar.
"Mau cari apa sih?" tanya Aisyah saat mereka berjalan menuju motor Ari.
"Cuma mau cari kabel pengisi daya ponsel, sekalian mengajakmu jalan-jalan. Sudah lama tidak jalan-jalan," jelas Ari.
Kini mereka berdua telah menaiki motor. Ari pun melajukan motornya di jalan raya. Banyak hal yang mereka bicarakan saat berada di perjalanan.
__ADS_1
...****************...
Ari dan Aisyah telah sampai di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan. Aisyah menatap sekeliling tempat itu. Sungguh indah dan megah bangunan yang kini dia pijak.
"Ayo." Ari menarik tangan Aisyah, mengajaknya memasuki pusat perbelanjaan itu.
Senyum senantiasa Aisyah tampilkan saat mereka menyusuri pusat perbelanjaan itu. Berbagai benda nan bagus bisa Aisyah lihat di sana. Ada pula yang bentuknya aneh menurut Aisyah.
Aisyah seperti gadis kampungan saat itu karena tak henti-hentinya dia menunjukkan rasa kekaguman. Memang ini kali pertama Aisyah pergi ke pusat perbelanjaan yang begitu besar. Dulu, dia biasanya hanya pergi ke pasar bersama ibunya.
Ari tidak merasa risih akan sikap Aisyah. Dirinya merasa sangat senang karena telah membuat Aisyah bahagia. Karena hanya itu saja yang bisa Ari lakukan saat ini.
"Kamu mau itu?" tanya Ari ketika melihat Aisyah yang sedang membolak-balikkan sebuah sepatu berhak tinggi dengan tali yang begitu banyak.
"Tidak! Aku cuma heran, bagaimana cara memakai sepatu ini?" Aisyah mengernyitkan dahinya.
"Kamu meledekku ya?" tanya Aisyah tidak senang. Aisyah meletakkan sepatu itu kembali ke tempatnya.
"Maaf, bukan maksud begitu." Ari menutup mulutnya.
"He-he. Tak apa, jangan dipikirkan lagi. sekarang, Ayo kita cari apa yang kamu butuhkan," ajak Aisyah.
Aisyah dan Ari meninggalkan tempat itu, lalu menaiki eskalator untuk menuju lantai dua. Mereka menuju ke counter penjual aksesoris ponsel. Setelah menemukan counter yang dicari, mereka pun akhirnya berhenti.
__ADS_1
Ari memilih barang yang dia cari. Tidak perlu memakan waktu yang lama, akhirnya Ari menemukan yang dia cari. Kemudian, mereka meninggalkan tempat itu.
"Kita ke mushola dulu, yuk," ajak Aisyah setelah beberapa langkah berjalan.
"Ayo." Mari menyetujui ajakan Aisyah.
Ari dan Aisyah akhirnya berjalan ke mushola yang ada di pusat perbelanjaan itu. Mereka berpisah untuk pergi ke ruangan masing-masing, untuk menjalankan empat rakaat wajib di siang itu.
Setelah Ari dan Aisyah selesai menjalankan kewajiban, mereka bertemu kembali di luar mushola. Ari akhirnya mengajak Aisyah untuk makan siang. Mereka naik ke lantai teratas untuk mencari makan siang.
"Kita makan di sini saja, ya?" tawar Ari.
"Terserah kamu saja, aku mah ngikut. 'Kan kamu yang bayarin," ucap Aisyah seraya tersenyum.
"Iya, aku yang bayarin. Ayo kita masuk," ajak Ari memasuki sebuah kedai ayam goreng.
Ari dan Aisyah memilih tempat duduk yang untuk dua orang.
"Kamu tunggu di sini, ya. Aku pesan makan dulu," ucap Ari seraya berjalan meninggalkan Aisyah.
Aisyah yang sedang menunggu, melihat ke sekeliling tempat itu. Tempat makan yang nyaman menurutnya. Tempat itu begitu bersih dan rapi. Orang-orang pun makan dengan tenang, tidak berisik seperti di tempat kerjanya.
Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang pria yang sedang bersama orang tua dengan kursi roda. Aisyah memperkirakan bahwa orang tua itu adalah neneknya. Dia melihatnya dari betapa tuanya wanita itu.
__ADS_1
Aisyah semakin heran ketika orang itu melayani sang nenek. Sungguh begitu telaten dan penuh kesabaran. Senyum pun senantiasa mengembang di wajah sang pria walaupun sang nenek memasang wajah kesal. Semua itu membuatnya tidak percaya.
Bersambung.