
Aisyah terperanjat saat menerima pelukan dari belakang yang tiba-tiba. Tangannya terus berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Beberapa pukulan dia layangkan ke arah tangan tersebut.
Aku sangat merindukanmu, Aisyah. Kamu jangan pergi dariku, batin David. Dia ingin melepaskan kerinduan yang lama terpendam.
"Lepaskan aku, David! Kamu tidak boleh memelukku!"
Suara Aisyah saat berbicara dengan menghembuskan nafas, terdengar merdu di telinga David. Pria itu pun jadi merinding dibuatnya. Berontakan wanita itu juga sesekali menyenggol lembut bagian inti bawah sang pria, membuat sesuatu di bawah sana mengeras.
Tidak ingin terus tersiksa dengan perlakuan Aisyah, David akhirnya melapaskan pelukannya. Dia segera menggenggam lengan wanita itu kembali, lalu menyeret menuju pintu.
"Kalau begitu, ayo! Aku akan buat perhitungan."
Aisyah bingung dengan apa yang dilakukan David. Kenapa pria itu menariknya keluar? Kata-kata yang diucapkan sang pria pun cukup ambigu menurutnya.
"Kenapa tidak dihitung di sini saja? 'Kan, bisa?" tanya Aisyah saat mereka mulai keluar dari pintu.
"Tidak bisa! Kamu harus ikut denganku!"
"Ais ...." Dinda tidak berani melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menatap Aisyah yang terus ditarik David.
Kini, pikiran Aisyah menjadi tak karuan. Dia berusaha meminta tolong kepada Dinda dengan bahasa isyarat menggunakan satu tangannya. Tidak seperti yang diharapkan, sang sahabat hanya diam tak berkutik.
__ADS_1
"Sekarang, masuklah!" David membukakan pintu mobil untuk Aisyah.
"Kita mau ke mana?" tanya Aisyah. Dia enggan untuk masuk ke dalam mobil.
"Katanya kamu minta aku untuk menghitung hutangmu? Sekarang, masuklah ke dalam mobil!"
"Kamu juga bisa menghitungnya di sini. Aku akan katakan untuk apa saja uangmu itu aku gunakan saat itu." Aisyah mencoba melepas genggaman tangan David di lengannya. Namun, genggaman itu semakin kencang setiap kali dia berusaha. Dia pun meringis menahan sakit.
"Hutangmu bukan hanya uang. Jadi, aku tidak bisa menghitungnya di sini. Ayo, cepatlah masuk!" David sedikit mendorong tubuh Aisyah untuk masuk ke dalam mobil.
Aisyah tertegun dengan ucapan David. Bukan uang? Apa maksud pria itu sungguh membuat dirinya bingung. Dalam kebingungan itu membuat tubuhnya dengan mudah didorong masuk ke dalam mobil.
Aisyah tersadar ketika dirinya sudah duduk di dalam, sementara David sudah menutup pintu. Dengan berlari, pria itu segera duduk di belakang kemudi. Dia melajukan mobil meninggalkan tempat itu.
Aisyah sudah tidak dapat berkutik lagi. Dia akhirnya duduk dan mencoba tenang di samping David. Matanya terfokus pada jalanan, sangat enggan menoleh ke samping.
"Ikut saja! Kamu pasti akan tahu sendiri." Seringai nampak di wajah David.
Aisyah melihatnya saat dirinya melirik sesaat ke arah pria itu. Bulu kuduknya seketika berdiri. Dia merapatkan tubuhnya ke arah pintu.
"Jangan takut! Aku tidak akan apa-apain kamu, kok."
__ADS_1
Aisyah menyadari jalan yang kini sedang mereka lewati. Ini adalah jalan menuju rumah David. Dia heran, untuk apa pria itu membawanya ke rumah. Pikiran negatif kembali milintas, tetapi dia tetap mencoba menenangkan diri.
"Papa, mama, ada di rumah?" tanya David pada satpam rumahnya.
"Tidak, Tuan. Mereka keluar beberapa jam yang lalu," jawab sang satpam.
Tanpa berkata lebih lanjut, David kembali melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah.
Mungkinkah itu berarti di rumah itu tidak ada orang? Lalu, bagaimana nanti nasibku? Batin Aisyah. Dia semakin ketakutan.
Setelah memasuki rumah, Aisyah diminta oleh David untuk menunggu di ruang tamu. Sedangkan pria itu, naik ke lantai dua rumah itu. Sang gadis merasa sedikit lega saat itu. Ternyata dia tidak di bawa ke kamar seperti apa yang di bayangkannya tadi.
Cukup lama juga Aisyah menunggu. Sedikit bosan rasanya dia hanya duduk-duduk saja di sana. Aisyah memutuskan untuk sedikit berjalan menuju foto keluarga yang tertata rapi di atas meja.
"Lucu juga dia saat kecil." Aisyah tersenyum saat menatap foto seoranga anak kecil bersama orang tuanya.
"Berarti ini orang tua David. Kelihatan seram ayanhnya. Kumisnya kayak pak raden." Aisyah menutup mulut menahan tawa.
"Ehm!"
Deheman terdengar jelas di telinga Aisyah. Dia merasa bahwa bukan David pemilik suara itu. Dengan hati-hati dia menaruh foto itu kembali, lalu perlahan dirinya membalikkan badan.
__ADS_1
Bersambung.