
Setelah sekian lama, bekerja terasa semakin berat, pekerjaan yang semakin banyak, terasa sangat lelah.Yang Renata lihat sekarang Bob hanyalah Bos yang sombong , arogan , dan sering kencan. Dia mengencani wanitanya tidak pernah lebih dari satu bulan . Wanita yang ia kencani, adalah wanita yang cantik dan juga kompeten . Mungkin kami sudah lupa kalau sebelumnya kami telah menikah. Ibu masih tinggal dirumah Bob , aku membayar sewa pada nya .Sesekali akupun masih berpura-pura menjadi istrinya, tentu dihadapan orangtua kami. Bob menolak menerima kunci rumah, Al memberikannya kembali padaku ,namun aku merasa tidak nyaman tinggal dirumah itu lagi . Aku meningalkannya dan kembali ke kamar kos ku yang lama .
Kali ini Bob dekat dengan Miss Bella , dia tadinya seorang klien ,ceo dari perusahaan accessories ternama . Namun kini Bob mengencaninya.
"Permisi" Renata masuk kedalam ruangan Bob, setelah menerima panggilan darinya.
"Ambil ini, belikan bunga dan gaun yang indah untuk Bella, aku akan pergi dengannya" Bob memberikan sebuah kartu debitnya.
"Baik" Renata dengan lapang menerima perintahnya, dengan kesekian kalinya ,Renata pun berhenti pada sebuah toko yang ternama. Membeli apa yang ia butuhkan. Lalu setelah itu ia menuju kantornya Bella, mengirim barangnya langsung secara pribadi.
Bella sangat senang , dan langsung menelpon Bob dihadapannya , Renatapun segera pamit izin pulang .
Dikantor,
"Hari ini kamu lembur"
"Tapi aku" mencoba membantah,
"Temani aku" perintah Bob
Renata sangat kesal, "Mengapa setiap ia berkencan aku harus mengikutinya"
Renata tak dapat menolak.
Didalam mobil Bob nampak bermesraan dengan Bella, Renata enggan melihat dan mendengarnya, mengambil penyuara telinga untuk menghindarinya, Bob menyadari itu melihatnya dari spion. Renata duduk didepan bersampingan dengan supir, melihat ke arah jendela samping.
Tahu dirinya diacuhkan , Bob pun menghentikan rayuannya dengan Bella.
"Hallo" Suara panggilan dari Ibu.
"Baiklah, aku mengerti" suara Bob menjawab nya,
Bob segera minta supir untuk mengantar Bella pulang .
"Sayang ini belum terlalu larut"
"Maaf ya sayang, aku ada kepentingan lain, kita lanjutkan besok" .Bela memeluk manja.
Setiba dirumah Bella, Bob meminta Renata pindah duduk.
"Nata, kemarilah"
Renata acuh karena tidak mendengar, supir memberitahunya .
"Ya" Renata segera menoleh setelah tahu, Bob memanggilnya.
"Cepat kemari" menunjukkan pada kursinya.
"Baik" Renata hanya menurut .
"Ibu akan mampir" lanjut Bob.
Renata terkejut mendengarnya .
Setiba dirumah ,Ibu sudah duduk menunggunya.
__ADS_1
"Mengapa kalian lama sekali?" sahut Ibu
"Maaf Ibu, banyak pekerjaan dikantor" jawab Bob
"Kamu seharusnya diam dirumah, tidak perlu mengikuti suamimu" Ibu bicara pada Renata yang tersenyum menyambutnya.
"Bob" Ibu tiba-tiba memanggilnya.
"Baik bu"
"Ibu ini sudah malam ,sebaiknya Ibu" Bob menegurnya,
"Oh ya, Ibu akan menginap saja disini" Ibu menyela pembicaraan Bob.
"Ayo antar Ibu" Ibu meminta Renata mengantarnya.
Setelah didalam kamar, Ibu mengajak Renata bicara "Kalian sudah memutuskan untuk memiliki anak?"
Deg ... Renata terkejut mendengarnya lagi.
"Ibu .. mmm ... aku ,maksudku kami sedang berusaha, biar tuhan yang tentukan waktunya"
Ibu tersenyum lega mendengarnya. Tanpa mereka sadari Bob tak sengaja menguping pembicaraan mereka .
Renata masuk kedalam kamar, Bob melihat kearahnya . Renata canggung, memberi salam membungkukkan badan , hendak tidur disofa.
"Sandiwara yang bagus , kenapa tidak jadi aktris saja" Bob menyerengeh ,mengejek.
"Apa maksudmu" Renata kerap kali melawan jika dirinya sudah cukup kesal, hingga sering terjadi cekcok kecil diantara mereka .
Renata pun geram dengan sikap Bob .
"Baik aku memang pembohong , pandai bersandiwara, namun tidakkah kamu sadar, jika kamu juga sedang membohongi Ibu"
"Namun aku tidak mengatakan aku mampu, dan sedang berusaha " bantah Bob.
"Kalau begitu katakan saja pada Ibumu, jika kita sudah tidak menikah,atau biar aku saja yang mengatakannya"
Bob beranjak dari ranjangnya, "Jangan pernah sesekali kamu berpikir untuk mengatakannya"
"Kenapa?"
"Ini urusanku"
Renata cukup kesal dan membaringkan dirinya disofa, mencoba untuk tidur . Bob pun sangat kesal padanya, naik ke ranjangnya ,pergi untuk tidur.
Setelah sekian lama ternyata Renata tidak tertidur, dia memejamkan mata nya namun ia larut dalam pikirannya, dia tidak dapat tidur dengan nyaman memikirkan perkataan Ibu .Renata menyesali semuanya .
"Ibu aku rindu Ibu" Tiba -tiba Renata teringat pada Ibunya.
Pagi hari, Ibu sudah terlihat rapi , senyum yang bersinar ,Ibu pamit akan pulang .
"Sampai jumpa lagi Ibu" Renata memeluknya,
Ibu melambaikan tangannya , masuk kedam mobil .
__ADS_1
Renata menghitung waktu dikalender meja kerjanya, usia pernikahannya dengan Bob sudah memasuki 3/4 tahun ,jika dihitung dengan perpisahannya yang sudah jalan tiga bulan.
Bob melihat dari kaca jendelanya, Renata nampak meraba-raba kalendernya .
Bob menyuruh Al memanggil Renata ,untuk masuk keruangannya .
Al pun memberitahukannya pada Renata , Renata terdiam berfikir "Mengapa Bob tidak bicara padanya langsung" . Renata pun bergegas menemui Bob.
Bob sedang melihat kearahnya , saat Renata masuk melewati pintunya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Bereskan mejaku"
"Baik" Renata merapikan mejanya . Bob berjalan duduk disofa memperhatikannya .
"Buatkan aku kopi"
"Baik" , setelah selesai Renata segera membuatkannya kopi.
"Jangan pergi sebelum aku suruh"
"Baik" Renata menurutinya, dia terus berdiri disampingnya.
Selama ini Bob tinggal di hotel, entah apa yang jadi alasannya hingga dia memilih tinggal disana. Renata sesekali menatap dan memikirkannya.
Bob hanya duduk melamun . dengan sesekali minum kopinya.
"Dia sangat tampan, wanita mana yang tak tergila-gila padanya, namun dia juga pria yang brengsek, memanfaatkan ketampannnya untuk mempermainkan banyak wanita" Renata menyeringai dalam hatinya.
Renata hanya menyimpulkan dengan apa yang dia lihat, namun yang ada di benak Bob berbeda , dia merasa telah gila, karena diacuhkan oleh seorang wanita bernama Renata, dia ingin menunjukkan jika dia dapat beralih hati pada wanita lain , namun perasaan itu tetap tak berubah .Ini bagaikan mimpi buruk baginya .
Tidak semua pria tampan brengsek, berkencan dengan banyak wanita bukan berarti sedang bermain-main dengannya, Bob pria yang dingin namun sopan, terkadang terlihat gila didepan wanita, pesona-pesonanya cukup membuat para wanita menggila.
Bob memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada sofa .
Renata cukup pegal berdiri disampingnya, menatap pada Bob yang tertidur disofa . Renata melihat Bob berkeringat, Renata sungguh tak tahan lagi, dia ingin sekali duduk, kakinya cukup pegal .
"Tuan" mencoba membangunkannya , namun terasa tubuh Bob begitu panas .
Renata terkejut segera memastikannya , meraba dahi,memegang pergelangan tangannya yang sama terasa hangat.
Renata segera keluar , mengabari Al .
Bob pun dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan .
Para suster, terkesima dengan ketampanan Bob, mereka terlihat berbisik-bisik ,dan menyeringai manis memperhatikannya, cukup membuat Renata sedikit kesal, ia pun menegurnya, para suster itu pun pergi setelah mengurusnya .Renata menunggu Bob diruangan inapnya . Sedangkan Al mengurus administrasinya.
"Kata Dokter, kamu terlalu lelah, kemarin aku lihat kamu baik-baik saja saat bersama Bella" Renata menyeringai pada Bob yang tidur.
"Aku juga lelah" Renata pun tertidur disofanya .
Tak terasa sudah berlalu satu jam, nampak Al sedang menyuapi Bob.
"Tuan" Renata terkejut melihat Bob yang sudah terbangun . Al menyimpan makanannya, memberi isyarat pada Nata, Renata mengerti menghampiri Bob , dan bergantian menyuapinya.
__ADS_1
Bob nampak kesal melihatnya.