
"Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Aisyah seraya menatap Ari.
Kini kedua pasang mata bertemu membuat jantung Ari bedugub tak beraturan. Dia berharap yang dikatakan Aisyah adalah hal yang membahagiakan baginya. Ari tak sabar menanti apa yang akan diucapkan Aisyah.
"Katakanlah. Aku akan mendengarkannya," ucap Ari yang mencoba setenang mungkin.
"Ari, untuk pertanyaanmu waktu itu, aku akan menjawabnya sekarang." Aisyah menjeda ucapan, melihat tanggapan yang diberikan Ari.
Ari menganggukan kepalanya. Dia sudah bersiap menanti jawaban Aisyah dengan mata berbinar.
"Aku tak mau berbelit-belit," ucap Aisyah seraya menarik nafas dalam. "Ari, karena kita sudah berteman sangat lama. Kamu juga begitu baik padaku, jadi aku ingin kita masih seperti itu untuk saat ini."
Seketika wajah Ari lesu. Dia memahami apa yang dimaksud Aisyah. Akan tetapi, Aisyah pasti punya alasannya, seperti dulu. Ari masih mendengarkan apa yang dikatakan Aisyah tanpa menyela.
"Bukannya aku menolak kamu, tetapi aku ingin fokus pada kuliahku. Aku ingin fokus belajar supaya ilmu mudah masuk dalam otakku. Sehingga aku bisa mewujudkan cita-citaku untuk membuktikan pada masa lalu." Aisyah memperhatikan wajah Ari yang kecewa.
"Maafkan aku, Ari," ucap Aisyah menundukan kepalanya.
"Kamu tak perlu minta maaf. Kamu tidak salah, kok. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuat gundah hatimu. Maaf ya, Ais." Ari menggenggam sebelah tangan Aisyah.
Aisyah mengangkat kepalanya. Dia menatap ke arah Ari dengan senyum manisnya. Ari pun membalas senyum Aisyah.
"Kamu juga tak perlu minta maaf. Aku tidak apa-apa. Aku senang kamu tidak marah akan jawabanku." Aisyah menarik tangannya dari genggaman Ari, kemudian melanjutkan makannya.
"Aku tidak marah. Baiklah, aku akan selalu mendukung cita-citamu. Kalau kamu mengalami kesulitan, tinggal bilang saja padaku. Aku siap membantumu," ucap Ari semangat, lalu melanjutkan makannya juga.
"Terima kasih." Aisyah melirik sedikit ke arah Ari. Dia sungguh bahagia karena memiliki teman seperti Ari.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan dengan sesekali berbincang seperti tak terjadi apa-apa diantara mereka. Tak ada kecanggungan diantara mereka walaupun Aisyah telah menolak Ari.
Ari tak merasa sakit hati karena penolakan yang kedua oleh Aisyah. Ari hanya ingin yang terbaik untuk Aisyah dan akan selalu mendukung gadis itu. Harapannya, nanti setelah Aisyah bisa mewujudkan cita-citanya, dia ingin bisa bersama dengan gadis itu.
"Oh ya, Ais. Baju kamu itu kotor, kenapa?" tanya Ari yang baru menyadari ada noda di baju Aisyah.
"Oh, ini. Tadi pagi Denok telah menuangkan kecap di bajuku," jawab Aisyah.
"Denok lagi? Lalu, apa kamu membalasnya?" tanya Ari lagi.
"Tidak," jawab Aisyah singkat.
"Kenapa tidak? Wanita seperti itu harus dibalas agar dia tahu rasa dan tidak semena-mena padamu lagi." Ari mengernyit heran.
Ari sungguh merasa kasihan pada Aisyah. Dia pikir Aisyah masih seperti dulu. Gadis baik yang tidak mau membalas kejahatan orang lain dengan cara yang sama.
"Bagaimana aku mau membalas, waktu itu sudah hampir masuk. Jadi kalau aku membalasnya, bisa telat nanti kelasku," jelas Aisyah. Ari mengangguk mengerti.
"Dia begitu cemburu padaku. Apa lebih baik kamu terima saja cintanya. Mungkin dengan begitu dia tidak akan mem-bully-ku lagi," usul Aisyah.
"Kenapa kamu seperti itu? Selalu saja menyuruhku menerima cinta orang lain tanpa melihat perasaanku. Padahal aku cintanya sama kamu, loh." Ari mengerucutkan bibirnya.
"Eh! maaf. Bukannya begitu ...." Aisyah tak melanjutkan kata-katanya, lalu menundukan kepala. Gadis itu tak tahu harus berkata apa lagi.
Ari melihat Aisyah yang begitu salah tinggkah dan bingung akibat ucapannya tadi. Dia pun tersenyum senang melihat Aisyah seperti itu.
"Sudahlah, jangan dipikirkan ucapanku tadi. Aku tidak serius, kok." Ari menyenggol lengan Aisyah.
__ADS_1
Aisyah menatap ke arah Ari. Melihat Ari yang tersenyum, Aisyah pun ikut tersenyum. Perasaan tidak enak terhadap Ari tadi, perlahan hilang.
"Aku tidak mau menerima Denok karena tidak ingin kejadian yang dulu terulang lagi. Aku tidak ingin Denok semena-mena mengaturku. Menjauhkanku darimu. Aku bisa menderita jika jauh darimu," jelas Ari.
Pipi Aisyah memerah karena ucapan Ari. Gadis itu begitu tersanjung karena baru pertama kali dia merasakan bahwa ada seorang pria yang begitu membutuhkannya. Walaupun, Aisyah belum bisa menerima cintanya.
"Apaan sih kamu. Mana ada menderita gara jauh dariku?" Aisyah menyembunyikan senyumnya.
"Memang begitu adanya," jawab Ari singkat.
"Tapi, sepertinya dulu kamu tidak menderita. Nyatanya kamu tidak pernah menghubungi aku sama sekali. Padahal kamu sudah tau akun media sosialku," ujar Aisyah.
"Itu kan dulu, sebelum aku merasakan masakanmu. Tapi, sekarang beda," ucap Ari menaik turunkan alisnya.
Seketika perasan malu-malu Aisyah hilang, berganti dengan perasaan jengkel. Aisyah menatap tajam Ari.
"Jadi, kamu menderita karena tidak bisa merasakan masakannku lagi! Begitu?" tanya Aisyah dengan nada sedikit tinggi.
Ari hanya tertawa menanggapi ucapan Aisyah. Dia merasa senang bisa menggoda Aisyah lagi. Akan tetapi, dia sebenarnya jujur akan ucapannya tadi. Ari tak bisa jauh lagi dengan Aisyah.
Aisyah semakin jengkel pada Ari. Gadis itu tidak terima karena Ari hanya tertawa setelah dia meminta penjelasan. Aisyah mengambil kotak makan yang ada dipangkuan Ari.
"Loh! Kok, diambil sih. Aku belum selesai makan," ucap Ari yang masih kaget.
"Biarin." Aisyah merajuk.
Ari pun merayu Aisyah dengan berbagai cara agar mau memberikan kotak makan itu lagi. Dia baru sedikit memakan rendang itu. Ari sungguh menyesal karena menjahili Aisyah sebelum menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Setelah beberapa rayuan, akhirnya Aisyah mau memberikan kotak makan itu pada Ari. Kini Ari dengan cepat memakan makanan itu. Dia tidak ingin makan itu disita Aisyah lagi kalau nanti dia menjahili gadis itu.
Bersambung.