
"Sayang mengapa hidupmu sampai seperti ini??" isak Ibu . Ibupun terbatuk ,
"Ibu, ibu sakit ?"
"Tidak, ibu baik-baik saja"
"Ibu maafkan aku" Renata menangis dipelukan Ibu.
"Semua berawal dari pernikahan kontrak ,jika tidak karena itu, mungkin hidup yang kujalani tidak akan begini" sedikit menyesal dalam hati.
*********
"Uek ..." Dila tengah hamil muda.
"Bob saatnya aku katakan jika aku sedang mengandung anakmu" Dila menyerengeh licik.
Kreet, Dila terkejut , berlari untuk melihat arah suara itu.
"Kamu" ayah si janin datang.
"Mau apa kamu kemari?" Dila menghampirinya.
"Tentu saja aku merindukanmu" Tangannya berusaha membelai , namun Dila menangkisnya .
Pria itu marah, dia bukanlah pria yang lembut ataupun romantis , mencekik Dila dengan satu tangannya .
"Uhuuuuk" Dila kesakitan , tak dapat bernafas.
"Aaah" Pria itu melepas cekikannya.
"Rupa secantik ini, mana mungkin aku tega menyakitinya "
Pria itu membawa Dila ke kamar, untuk mengajaknya berhubungan intim lagi .
Ditengah malam, saat mereka terdiam dan masih terjaga .
"Uuh" Dila mengeluh, kepalanya terasa pusing, ia berlari ke kamar mandi .
"Uek" terdengar beberapa kali dalam kamar mandi .
Pria itu menghampirinya , dan bertanya
"Kamu hamil?"
Dila ketakutan, wajahnya begitu pucat.
"Tidak" ,tiba-tiba Dila jatuh pingsan.
Beberapa saat Dila pingsan , ia terbangun masih melihat pria itu disampingnya .
"Kamu belum pergi?" tanya Dila
"Kamu hamil??"
"Tidak, aku hanya sedang tidak enak badan"
Pria itu menyerengeh, "Baiklah aku akan pergi, tapi ingat aku akan kembali" pria itu berbisik dan mengecup bibirnya .
Dila berpikir untuk pindah secepatnya dari rumah itu.
Karena ia tak butuh lagi pria itu .
Dila mengunjungi Ibu Bob.
"Ibu lama tidak bertemu".
Wajah asing dan tak asing bagi Ibu, Ibu menatapnya heran.
"Ini aku, Dila"
"Dia begitu berbeda" gumam Ibu dalam hati.
Dila berjalan menghampiri Ibu.
"Ya , terakhir kita bertemu di acara pernikahanmu"Ibu tampak dingin .
"Bagaimana kabar Ibu?" Dila bertanya sembari meraba perutnya sendiri, menunjukkan .
Ibu terkejut melihatnya, "Kamu hamil?"
Dila tersenyum senang mengangguk , karena Ibu berhasil menebaknya. Ibu menatapnya sangat aneh, bagaimana Ibu bisa berpikir tidak aneh, melihat Dila yang merubah rupa, agar terlihat cantik seperti Nata . Ibu merasa jijik dengan tingkahnya.
Bob datang menjemput setelah Ibu memberi kabar.
Bob menyerengeh sinis,
__ADS_1
"Ayo kita pulang" Bob menarik lengannya dan berjalan menuntunnya hingga masuk kedalam mobil .
Mereka duduk ,terdiam sejenak didalam mobil , "Aku hamil" ucap Dila tiba-tiba.
Bob terkejut mendengarnya, "Hamil??"
Dila mengangguk, "Ini anakmu"
Bob tidak percaya, "Kamu menjebakku untuk ini?"
, meremehkan.
"Apa maksud perkataanmu" Dila marah
"Akui saja , kamu mencoba menjebakku dengan rupa mu ini"
Dila sangat kesal , namun tak dapat berkata, ia masih memikirkan untuk membalas ucapannya Bob.
"Untuk apa kamu merubah rupamu seperti ini?" ,kini Bob mulai kesal .
"Kamu ingin menambahku semakin gila" teriaknya lebih kesal.
"Hh, benar kamu gila karena wajah ini kan!?" Dila menyerengeh, teriak karena kesal juga.
"Kamu pikir akupun tidak gila, karena wajah ini?! ,betapa kamu mencintainya !, menyukainya! , hingga kamu tidak ingin melihat yang lain selain wajah ini"
"Perempuan gila" Bob memakinya.
"Benar, akupun jadi gila,karena kamu begitu mencintainya"
"Aku antar kamu pulang" ucap Bob.
"Tidak, sebelum kamu menjawab dan mengakui anak ini"
"Anakku??"
"Ya"
"Hhhhah" Bob membuang nafas,
"Baiklah jika tes Dna lolos ,aku akan mengakuinya"
"Apa?? sial bagaimana ini" gumam Dila dalam hati .
"Temani aku" Dila merajuk, seteh sampai rumah.
Bob hanya diam, tapi dia tidak bisa acuh dengan rupa itu.
Bob menatapnya dan kasihan , wajah yang begitu lembut dan cantik ,terbayang Renata yang dicintainya .
"Turunlah" Bob mengantarnya masuk kedalam rumah, dan menemaninya .
"Ini rumah kita, malam ini tidurlah bersamaku" pinta Dila .
"Aku tidak bisa" Bob menolaknya .
"Tidurlah, jika ada apa-apa telpon aku" Bob hendak pergi meninggalkannya, Dila menangkap lengannya.
"Kamu tega, meninggalkan istrimu yang sedang hamil sendirian"
Bob menghempaskan lengannya , tak perduli, dan pergi.
Dila sangat kecewa juga marah . Tanpa ia sadari pria siayah anak itu ada disana bersembunyi mendengarnya .
"Wah... pertunjukan yang sangat bagus" keluar bertepuk tangan.
"Kamu" Dila terperangah,
"Kamu hamil???"
"Tidak itu tidak benar , aku sedang membohonginya"
"Hahahahaha , sungguh licik" pria itu berjalan memutarinya .
"Jadi kamu memanfaatkanku agar kamu bisa hamil?"
Dila kesal mendengar ocehan pria itu, berniat menikamnya , mencari sesuatu dengan matanya.
"Kalau begitu aku harus meminta bayaran yang banyak padamu" pria itu terkekeh lagi .
Dila mengambil vas bunga dan memukul kepalanya.
"Prakkk" vas nya pecah, namun pria itu baik-baik saja.
"Kamu" pria itu menangkap lengannya dengan keras.
__ADS_1
"Aaaa" Dila kesakitan .
"Beraninya! , kamu ingin membunuhku??"
"Tidak" Dila bergerak mundur, setelah terjatuh ,pria itu menghempaskannya.
"Wajah cantik ini bukan milikmu, dan aku hanya tergoda karena rupa ini, tapi tubuhmu tidak buruk , aku sangat puas".
"Baiklah aku akan memaafkanmu, dan aku tidak akan membocorkan pada suamimu jika itu adalah anakku, tapi semua itu tidak gratis"
"Apa yang kamu inginkan?"
"Tentu saja uang , juga kepuasan, biarkan aku puas bermain-main denganmu"
Dila mengangguk dan saat itu juga mereka berhubungan intim lagi.
*******
"Wajah ini ternyata hanya membawa malapetaka"
teriak Dila kesal,
"Mengapa mereka menyukai rupa ini? ,bajingan semuanya bajingan"
Dila terisak menangis.
*******
Selain itu, Alex yang merenung sendiri, setelah beberapa saat menenangkan diri ,keluar dari ruang kerjanya .
"Ya seharusnya aku jangan berpikir banyak , tidak ada halangan apapun bagiku"
Alex pergi menemui Nata yang tidur pulas dikamar.
Alex mengusap kening lalu membelainya . Kemudian berbaring disamping Nata .
Nata tampak mengernyitkan dahi , wajahnya meringis .
"Nat, ada apa dengan dia!?" gumamnya .
"Nat, bangunlah" mengusiknya .
Renata tersadar, menatapnya, jantungnya berdebar begitu cepat . Alex dengan kaku memeluknya .
"Kamu bermimpi buruk?"
"Aku tidak apa-apa" Nata melepaskan pelukannya.
"Ini sudah pagi?"
"Belum masih dini hari, tidurlah biar aku memelukmu"
"Tidak, tidak usah"
"Kenapa?"
"Aku sudah tidak mengantuk, aku akan buat sarapan" , Renata segera beranjak dari ranjang , namun Alex menangkap lengannya .
"Jangan tinggalkan aku, kumohon"
Terenyuh hati Renata, tapi sekeras apapun Nata tetap tidak bisa mencintainya .
Renata tertunduk "Seharusnya sudah kewajibanku sebagai istri melayaninya" gumam Nata dalam hati, dan terbersit sebuah ide.
"Aku pikir mengapa aku bisa menikah denganmu?!, sedangkan aku sama sekali belum mengantongi status janda ataupun memiliki akta cerai dari pernikahanku sebelumnya!?"
"Eh, omongkosong apa lagi ini?" Alex menariknya hingga Nata terjatuh ke pangkuannya.
"Katakan mengapa kamu bicara seperti itu?, kamu membuatku gemas " meraba bibir Nata dengan jemarinya .
"Ah , iya dan aku sekarang malah hamil lagi anak darinya, apakah kamu tidak merasa jijik ataupun keberatan" beranjak
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Alex
"Minta surat resmi cerai dulu dari Bob, baru aku akan mengakui pernikahan ini"
Alex mengernyit, "Apakah ini alasan untuk menghindar dari ku?"
"Kamu tidak ingin menyerahkan dirimu padaku?"
"Ugh, kata-kata itu" gumam Nata dalam hati, merinding mendengarnya.
"Ya" dengan santai menjawabnya .
"Jadi kamu masih ingin bermain-main denganku?! , baiklah! akan ku dapatkan" Alex berbisik menggoda Nata mendekat dan semakin mendekatinya .
__ADS_1