
Setelah menghubungi Bumi, Tian merasa tidak perlu kuatir lagi jika ingin melakukan hubungan dengan Alya.
Tian masuk ke kamar nya dan melihat Alya yang berbaring diatas ranjang. Tian naik ke ranjang dan tidur miring memandangi wajah istrinya yang telah tertidur.
"Sayang... baik baik saja ya diperut mommy. Jangan rewel,jangan membuat mommy terlalu kesulitan dalam mengandungmu, walau mommy tidak pernah mengeluh, tapi daddy kasihan setiap melihat wajah mommy mu yang pucat setelah muntah muntah.. Daddy dan mommy sangat mengharapkan dan menantikan kehadiranmu... "ucap Tian sambil mengelus perut Alya yang masih rata.
"Tapi... mengapa perutnya Alya masih rata ya... Apa baby twins aku sehat sehat saja. Alya juga makannya masih malas. Makan cuma sedikit sudah nggak nafsu, maunya cuma buahan saja. Besok aku harus bertanya dengan dokter somplak itu "gumam Tian dengan masih mengelus perut Alya.
Tian mengecup dahi, hidung dan kedua pipi Alya, terakhir bibirnya. Alya sedikit bergerak karena bibirnya yang dilum*t Tian. Melihat ada reaksi dari istrinya Tian makin memperdalam lum*tannya. Alya membuka matanya dan langsung cemberut.
"Kak Tian.. senang banget gangguin Alya tidur"ucapnya manyun
"Kakak tadi sudah bilang, jangan tidur dulu. Kakak lagi pengen bangettt.... please... mau ya mau ya"ucap Tian sambil merayu dengan wajah sok imutnya(ingat ya wajah sok imut bukan imut... 😀😀)
Alya yang melihat ekspresi wajah yang diperlihatkan Tian memandanginya sambil nyengir.
Tanpa menunggu jawaban Alya tangan Tian dengan cekatan sudah meloloskan semua pakaian Alya dari tubuhnya...
Tian mulai bermain kuda kudaan dengan hati hati. Ia takut akan menyakiti Alya atau calon bayinya...
Setelah penyatuan tubuh mereka dan pencapaian klimaksnya,Tian mengecup bibir istrinya...
"Terima kasih sayang.... "ucap Tian
Alya memiringkan badannya dan tidur berbantalkan lengan kokoh suaminya..
"Kak... apa masih terasa sakit bekas operasi nya "ucap Alya sambil memeluk tubuh Tian
"Semua rasa sakit itu sudah hilang sejak kakak mendapati kabar kalau dirahimmu ada buah cinta kita dan rasanya Tuhan itu terlalu baik pada kak Tian dengan memberikan bayi kembar sekaligus. Kakak merasa hidup ini sedang berpihak pada kak Tian dengan memberi istri yang baik dan cantik sepertimu dan kebahagiaan itu sebentar lagi bertambah sempurna dengan kehadiran baby twins nantinya"
"Kak Tian juga suami yang baik dan pengertian... Aku merasa menjadi wanita paling beruntung mendapatkan suami seperti kakak"
"Setiap helaan nafas.....kak Tian selalu berdoa semoga Tuhan tidak pernah mengambil kebahagiaan ini."
"Aamiin... "ucap Alya dan mengecup bibir Tian.
"Sekarang tidurlah lagi....kak Tian nggak mau kamu kecapean... "Tian memiringkan badannya dan mengusap punggung istrinya yang terbuka sambil mengecup puncak kepala istrinya memberi ketenangan agar Alya terlelap dipelukannya.
####################
Pagi harinya Tian terbangun mendengar suara Alya yang sedang muntah di kamar mandi.
Tian bangun dan membuka kamar mandi. Ia melihat bagaimana istrinya memuntahkan semua isi perutnya. Tian mengusap tengkuk istrinya. Alya masih saja muntah sampai hanya lendir yang keluar.
Alya berdiri,setelah merasa perutnya sedikit enakan.
__ADS_1
"Sudah sayang... apa setiap hari kamu muntah seperti ini"tanya Tian. Karena baru kali ini ia menyaksikan sendiri bagaimana istrinya memuntahkan semua isi perutnya.
Alya hanya menganggukkan kepalanya.
Tian menghidupkan keran air dan membersihkan mulut dan wajah istrinya.
Alya merasakan tubuhnya melayang... ternyata Tian menggendongnya dan membawa ketempat tidur, meletakan tubuh istrinya dengan pelan..
"Tidurlah lagi... lihat wajahmu begitu pucatnya"ucap Tian sambil mengelus pipi istrinya
"Tapi aku belum buatkan sarapan buat kak Tian"
"Sarapan bisa bibi yang buatkan... selama kamu hamil, biar bibi yang siapkan sarapan. Kamu nggak kakak izinkan ke dapur"
"Kak Tian bilang lebih suka masakanku"
"Bukan berarti kakak nggak suka masakan bibi, sebelum menikah dengan mu kak Tian juga makan masakan bibi, jadi kamu jangan kuatir, kak Tian pasti tetap makan."
"Kak... aku jadi ngerepotin ya... "ucap Alya dengan wajah menyesal
"Siapa yang bilang kamu merepotkan... malahan kak Tian lebih senang kamu repotkan dari pada kamu paksain dirimu buat mengerjakan semuanya"
"Kakak....."hanya itu yang bisa Alya ucapkan. Ia tak pernah membayangkan jika Tian yang dulu dikenalnya sangat arogan dan semena mena bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang suami yang sangat pengertian seperti saat ini.
Alya akhirnya tertidur kembali, setelah Alya tidur Tian mandi dan turun kelantai bawah menuju dapur. Ia meminta bibi menyiapkan sarapan. Tian membuka file file kantornya sambil minum secangkir kopi.
"Tumben mama pagi pagi sudah datang"
"Memangnya tak boleh mama mengunjungimu pagi pagi"
"Ya boleh saja... pasti Yudha yang mengajak mama kesini pagi pagiikan. Kamu berharap ada sarapan yang dibuat Alya iyakan"
"Mama yang ngajak kok... jangan asal tuduh kak Tian... futnah itu namanya... kak Tian tahu fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan"
"Memangnya si Fitnah berbuat apa... sehingga lebih kejam dari pembunuhan"
"Kak Tiann... dasar ya... sejak operasi otaknya sedikit error. Itu pepatah tahu... "
"Oh... oh.. kak Tian kira Fitnah tetangga mama... "
"Memang ada ya tetangga mama yang namanya fitnah... "
"Mana Tian tahu... tanya Yudha lah... yang nyebut nama si Fitnah kan Yudha.. "
"Kak Tiaaann... ini masih pagi, jangan buat aku gila"teriak Yudha. Membuat mama dan Tian tertawa terbahak melihat ekspresi frustrasi Yudha.
__ADS_1
"Mana Alya.... kok nggak kelihatan"
"Tadi Tian suruh tidur lagi... kasihan wajahnya pucat banget sehabis muntah muntah... ma.. apa nggak berbahaya bagi kesehatan Alya dan bayinya kalau ia selalu muntah"
"Nggak apa apa... selagi Alya masih mau makan dan minum air putih yang banyak agar tidak dehidrasi.. "
Sarapan yang dibuatkan bibi telah siap dihidangkan. Tian berdiri karena ingin membangunkan Alya buat sarapan.
Belum sempat ia berdiri, terdengar suara Alya dibelakangnya..
"Selamat pagi ma... sudah lama mama datang.. kak Tian kok manggil aku sih"
"Belum lama kami sampai, kami mau numpang sarapan dirumah kalian sesekali,bolehkan Alya"
"Bolehlah ma... jangankan sesekali.. setiap haripun nggak apa apa.. "
Tian membalikan badannya, ingin mengajak Alya duduk, tapi ia kaget melihat Alya yang masih memakai baju tidur yang memperlihatkan keganasannya semalam membuat tanda kepemilikan dileher dan dada Alya.
"Sayang... kamu nggak sadar ya... lihat baju yang kamu pakai "bisik Tian
Alya melihat ketubuhnya dan baru menyadari baju yang dipakainya..
"Maaf ma... Alya ke atas dulu... mau ganti pakaian... "ucap Alya malu..
Setelah Alya melangkah pergi, mama mencubit lengan Tian kuat...
"Apaan sih ma... main cubit saja... sakit tahu"
"Kamu ya... istri lagi hamil muda saja... masih dengan ganasnya melahapnya... lihatlah.. tubuhnya makin kurus... kasihan mama lihatnya. Tahan dulu sedikit nafsumu... "
"Ma... aku lelaki normal.. tidur seranjang dan pekukan,mana bisa aku menahannya... lagi pula aku melakukannya pelan kok tadi malam. Itu cuma gigitannya saja yang bernafsu... "
"Dasar mesum... istri lagi seperti itu saja masih juga memangsanya... "ujar Yudha dengan sinis
"Ngapain kamu yang sewot... coba saja nanti kalau kamu sudah punya istri, mungkin lebih ganas dari aku.. "
"Sudah ah... jangan berdebat terus... kalian nih kalau ketemu kayak tom dan jerry saja... "ucap mama
*********************
Terima kasih buat semua yang telah membaca novel ini.
Mampir juga di novel terbaruku
__ADS_1
ANTARA AKU, KEKASIHKU DAN SAHABATNYA