Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 26 Season Dua


__ADS_3

Yudha menunggu di luar ruangan persalinan. Tak begitu lama keluar Bumi.


"Bagaimana kak.. apa Zahra baik baik saja "tanya Yudha


"Ya.. baik baik saja"


"Apa memungkinkan buat Zahra lahiran normal... "ujar Alya


"Tentu.. dan sekarang sudah bukaan enam jalan rahimnya.. sebentar lagi pasti Zahra lahiran.. kamu bisa masuk buat menemani Zahra.. "


"Apa aku boleh masuk juga.. Bumi"tanya Alya


"Boleh lah.. untuk menemani Zahra dan memberi semangat "


"Kalau gue.. "tanya Tian


"Lu minta izin tuh dengan Yudha, apa boleh Lu lihat istrinya yang mau lahiran.. "


"Kak Tian... ada ada saja."ucap Alya cemberut


"Tuh Alya jadi cemburu dan marah"ujar Bumi


"Mommy kalau marah tambah cantik.. jangan sering marah nanti daddy makan baru tahu rasa.. "


"Lu...pikirannya mesum aja.. "


"Lu juga setelah kawin pasti pikirannya mesum terus"


"Gue.. tinggal dulu ya.. Lu jangan menangis ditinggal sendirian.. "


"Kepala Lu nangis....."ucap Tian kesal


"Kepala atas atau kepala bawah... Kalau kepala bawah sih biasa kalau menangis "


"Lu.. belum kawin aja pikirannya sudah mesum... "


"Ha.. ha... "tawa Bumi sebelum akhirnya masuk ruang persalinan.


Yudha duduk disamping tempat tidur Zahra. Ia mengelus perut Zahra.


"Sayang... sakit banget ya.. "


Zahra hanya bisa mengangguk.. tanpa bersuara. Alya berdiri disamping tempat tidur Zahra.


"Sayang... apa nya yang sakit.. biar mas pijitin... "


"Mas.. bisa nggak diam.. badan aku sakit semua"ucap Zahra tiba tiba dengan suara keras.


Perkataan Zahra sontak membuat Yudha kaget. Karena Zahra tak pernah berucap dengan suara besar selama ini


"Jangan marah sayang.. mas cuma tanya"


"Lu juga sih.. ada ada saja.. mana bisa sakit karena lahiran dipijit. Sakit karena melahirkan itu sama dengan dua pukuh tulang kita dipatahkan sekaligus... begitu lah rasa sakitnya.. "ucap Bumi


"Kak Bumi.. jangan membuat aku takut dan cemas"


"Yudha.. begitulah perjuangan istri melahirkan buah hati. Kak Bumi bukan menakutkan kamu. Memang begitulah rasa sakitnya jika dibandingkan. Kamu bisa bayangkan betapa sakitnya kan.. jadi jangan bawel.. beri saja Zahra semangat, sebentar lagi waktunya ia mengedan"

__ADS_1


Tanpa sadar Yudha mengeluarkan air mata membayangkan sakit yang sedang dirasakan Zahra istrinya. Ia mengelus lengan Zahra dan mengecup dahi Zahra.


"Maaf sayang.. mas tak bisa membantu untuk mengurangi rasa sakitmu. Jika rasa sakit itu bisa dipindahkan dengan mas.. pasti mas bersedia.. "


"Mas.. maafkan aku jika ada salah"ucap Zahra menangis


"Kamu nggak ada salah.. sayang. Kamu istri yang baik dan sempurna.. "ucap Yudha kembali mengecup dahi Zahra.


Mama yang baru datang langsung menuju Zahra yang terbaring.


"Mama.. Zahra minta maaf jika ada salah.. Kak Alya juga.. maafkan Zahra. "


"Kamu nggak ada salah nak.. semoga semua dapat dilancarkan Tuhan"ujar Mama


"Kamu juga nggak salah pada Kakak.. "


"Mas... sakit banget"ucap Zahra mencakar lengan Yudha.


"Tahan sebentar lagi Zahra.. jangan mengejan dulu.. tunggu bukaan lengkap"


"Hhuu... sakit mas.. "ucap Zahra kembali mencengkeram lengan Yudha kuat dengan kukunya sehingga lengan Yudha berdarah kena cakaran Zahra.


"Dokter.. ini pembukaan sudah lengkap.. kita mulai persalinan lagi"ucap bidan yang membantu persalinan Zahra


"Oke.. Zahra.. nanti kamu hitung mundur sampai sepuluh.. lalu kamu bisa mengejan, jangan terputus.. "


Bumi dan Zahra mulai menghitung mundur.


"Sayang.. kamu pasti bisa dan kuat ...ayo sayang.. "


"Sayang.. kamu yang kuat.. sebentar lagi anak kita lahir.. "ulang Yudha memberi semangat


Zahra kembali mengejan, kali ini tanpa putus dan tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi. Yudha langsung menangis mendengar suara bayinya.


"Sayang... bayi kita. Bayi kita telah lahir "ucap Yudha mengecup dahi Zahra yang berkeringat walau ruangan itu pendinginnya sudah maksimal.


Zahra tampak keletihan dan tak bisa bersuara lagi. Ia memejamkan matanya.


"Sayang.. kamu kenapa. Sayang bangun.. "ucap Yudha melihat Zahra menutup mata.


"Nggak apa Yud... kamu ikuti aja bidan yang membawa anakmu. Nanti setelah dibersihkan kamu bisa adzan kan anakmu...Zahra biar kak Bumi yang urus. "


"Tapi Zahra nggak apa apa kan Bumi"ucap Mama


"Nggak apa ma.. itu karena ia kecapekan saja.. biar Bumi yang urus. Nanti Zahra langsung Bumi pindahkan keruangan perawatan.. "


"Kalau begitu mama ikut Yudha dulu ya.. "


"Ya ma.. "


"Aku juga keluar... terima kasih.. Bum"


"Oke.. Al.. "


Tian juga mengikuti Alya menuju ruang perawatan yang akan ditempati Zahra. Mereka menunggu kedatangan bayi dan ibunya.


"Kak.. bagaimana Alexa dan Axel.. apakah kita minta supir mengantar ke sini"

__ADS_1


"Biar kak Tian aja yang menjemput sebentar lagi"


"Terima kasih kak.. "


"Mengapa harus berterimakasih, itu kan anak anak kak Tian.. "


"Terima kasih buat semuanya.. buat cinta dan semua yang kak Tian beri"ucap Alya sambil tersenyum


"Manis banget sih istriku ini"ucap Tian mencubit pipi Alya


"Kak... aku mau hamil lagi.. boleh"


"Nggak.. sudah cukup dua anak aja "


"Yang hamilkan aku kak... "


"Tapi yang cemas dan kuatirnya aku.. Aku tak mau nanti aku jadi jantungan ketika kamu melahirkan. Aku nggak mau kejadian ketika melahirkan si kembar terulang lagi, baru kemarin rasanya.. Kak Tian rasa ingin mati saja menanti kamu sadar.. "


Alya memeluk pinggang Tian dan menenggelamkan kepalanya didada Tian.


"Aku janji akan baik baik saja selama hamil dan melahirkan"rayu Alya lagi


"Kamu sudah libatkan sakitnya ketika akan melahirkan "


"Ya.. tapi aku pengin gendong bayi lagi.. biasanya istri yang tak mau hamil lagi, ini malahan suami yang melarang istri hamil"ucap Alya sambil mendongak kepalanya memandang wajah Tian


Tian lalu mengecup bibir istrinya..


"Kak Tian nggak sanggup lagi melihat kamu kesakitan sayang.. kita sudah memiliki sepasang anak yang lucu.. itu sudah lebih dari cukup. Nanti jika kamu hamil.. kak Tian harus puasa pula lagi.. "goda Tian


"Ih.. kak Tian pikirannya cuma itu aja"ucap Alya cemberut.


Melihat mulut istrinya yang cemberut, Tian langsung menggigit bibir Alya, begitu Alya membuka mulutnya, Tian langsung memasukan lidahnya bermain didalam rongga mulut Alya. Melihat, menghisap dan membelitnya. Alya akhirnya membalas juga perlakuan Tian. Mereka saling berpagutan. Lupa jika mereka berada di rumah sakit.


Yudha dan mama yang masuk dengan mendorong kereta yang berisikan bayi Zahra kaget melihat Tian dan Alya.


"Hhhmmm... "dehem mama.


Tian dan Alya kaget, mereka langsung melepaskan pagutan mereka, dan menghapus sisa sisa air dibibir mereka.


"Nggak tahu tempat banget sih.. dimana aja, dimana ada kesempatan.. mesum aja. Nggak bosan bosan nya.. "ujar Yudha


Alya hanya tertunduk malu mendengar ucapan Yudha.


"Biarin... bilang aja Lu iri.. "ujar Tian


"Iri apa nya.. gue juga bisa melakukannya"


"Kalau gitu Lu tinggal lakuin juga.. jangan banyak omong.. "


"Sudah.. bertengkar aja.. ini ada bayi. Suara kalian mengganggu "ujar mama


Tak lama setelah itu, perawat datang mendorong tempat tidur yang membawa Zahra masuk ke dalam ruangan itu.


**************************


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2