
Pagi pagi Alya sudah didapur, menyibukan diri untuk menyiapkan sarapan buat Tian.. suami tercintanya.
Alya ingin membuat nasi goreng seafood. Tian sangat menyukai masakannya itu.
Ketika Alya sedang sibuk dengan kuali dan spatulanya,tiba tiba ada tangan yang memeluk pinggangnya posesif.
Rambut Alya yang di cepol membuat tengkuk dan lehernya terekspos, membuat Tian leluasa mengecupnya.
"Kak Tian... geli ah.. "
Tian tak menghiraukan protesnya Alya, ia tetap mengecup tengkuk istrinya.
"Kak... aku lagi masak nih, nanti gosong.. sana duduk... "Alya mencoba melepaskan pelukan Tian, tapi tak bisa karena Tian yang makin mempererat pelukannya.
"Kak Tian... jauh ah... bentar lagi selesai nih"
"Nggak mau.. kakak mau nya peluk kamu"
"Hhmmmmm.... boleh aku ikutan sarapan"Yudha yang baru datang mengagetkan Alya dan Tian.
"Boleh Yud... tunggu ya.. bentar lagi matang.. kak Tian sana.. temani Yudha. Biar Alya cepat selesai kan masakannya"
Tian melepaskan pelukannya dan duduk dekat meja makan menemani Yudha.
"Tumben pagi pagi dah nongol dirumah kakak"
"Pengin ganggu pengantin baru"
"Kalau sesekali ganggu sih tak apa apa. Tapi kalau keseringan, kamu terima saja bogem mentah dari kakak"
"Alya... kamu keberatan nggak kalau aku setiap hari numpang sarapan "teriak Yudha
"Nggak lah... mengapa keberatan... aku kan memang nyiapin sarapan juga buat kak Tian"Alya menyajikan makanan yang dimasaknya.
Alya menyiapkan piring dan susu hangat buat Tian dan Yudha. Buat Alya sendiri segelas teh hangat.
"Enak banget nasi gorengnya Alya... rasanya masih sama ketika pertama kali aku mencoba nya. "ujar Yudha, membuat Tian memandangi nya dengan mata membesar.
Alya hanya tersenyum menanggapinya.
"Kamu nggak makan sayang... badan sudah kurus begini masih saja malas makan... nih makan... "Tian menyuapi Alya..
"Sudah ah kak... aku kenyang. Tadi sudah makan roti"Alya menolak ketika Tian menyuapinya kembali.
Yudha memandangi Alya secara intens... Tian yang menangkap pandangan Yudha kearah leher Alya yang terbuka langsung menarik rambut Alya, agar melepaskan rambutnya yang dicepol.
__ADS_1
"Kak Tian mengapa dilepasin rambutku"
"Kamu nggak cantik kalau rambutnya digituin"bohong Tian. Padahal ia melihat Alya tambah seksi dan cantik dengan rambut di cepol, makanya ia melepaskan, karena tak ingin keseksian Alya dilihat Yudha.
Tian cepat menyelesaikan sarapannya. Dan meminta Alya agar membereskan piring sisa makannya dan mencucinya. Agar Alya menjauh dari mereka.
"Sayang, kamu cuci piringnya langsung ya... "pinta Tian
"Ya.. kak"Alya yang memang selalu menuruti perkataan Tian tidak mengerti tujuan Tian memintanya mencuci piring .
Setelah Alya berlalu... Yudha berkata
"Kak... aku sebenarnya kesini ada perlu sama kak Tian. Ada yang ingin aku katakan"
"Selesaikanlah sarapanmu, nanti kita bicara di taman."
Yudha menyelesaikan sarapannya yang tersisa dipiring.
"Sayang... kakak ke taman bersama Yudha ya. Ada yang perlu Yudha katakan. Selesai cuci piring kamu ke kamar saja.. "
"Ya kak... "
Tian dan Yudha melangkah menuju taman dan duduk di kursi yang tersedia.
"Mengapa kamu harus menetap disana. Apa usaha mu sudah sangat berkembang di sana"
"Masih dalam tahap perkembangan. Makanya aku putuskan menetap disana agar aku fokus. Lagipula.. aku harus mengambil keputusan ini untuk dapat menata hatiku.
Jika aku terus disini dan menyaksikan kamu dan Alya, aku tak bisa janji kalau aku tak ada rasa cemburu. Aku takut rasa cemburu ku yang berlebihan dapat merusak hubunganmu dengan Alya.. "
Yudha menarik nafasnya. Berhenti sejenak. Tian hanya diam, tak ingin mengucapkan kata kata apapun, cuma tangannya saling mengepal menahan sesuatu perasaan.
"Jujur... sampai saat ini aku masih mencintai Alya.. aku sudah merelakan Alya denganmu, aku tak ingin jadi pecundang. Cuma aku pinta jangan pernah kakak menyakiti nya apalagi mencampakan Alya seperti dulu lagi, karena jika itu terjadi aku akan merebut Alya, tak akan pernah aku memberi kak Tian kesempatan buat merebut Alya kembali. "
"Aku tak mungkin menyakitinya.. aku sangat mencintainya. Tak mungkin aku mencampakannya karena mendapati hatinya, sangat sulit bagiku.. . "
"Aku harap kak Tian memegang janji kakak. Karena bukan aku saja yang akan merebut Alya, masih ada seorang Satria, yang juga sangat mencintai Alya. "
Mendengar nama Satria, Tian mengeratkan kepalan tangannya.
"Walau aku sangat mencintai Alya... kak Tian jangan takut aku tak mungkin merebut Alya, jika ia bahagia bersama kakak. Karena melihat Alya bahagia merupakan kegembiraan bagiku. Aku selalu mendoakan kak Tian dan Alya bahagia.. tidak ada yang mengganggu hubungan kalian... "
"Terima kasih atas doa mu. Aku juga mendoakan kamu cepat dapat pengganti Alya, aku tak pernah bermaksud menyakiti hatimu dengan merebut orang yang kamu cintai. Tapi aku juga tak bisa melepaskan Alya buatmu karena aku sangat mencintainya. Kami saling mencintai."
__ADS_1
"Aku tahu... makanya aku lepaskan Alya buat kak Tian. Aku sadar sudah tak ada aku dihati Alya.. dia juga mencintai kak Tian. Kak Tian beruntung mendapati cinta Alya, untuk itu aku mohon jaga rasa cinta kak Tian, buatlah rasa cinta itu selalu tumbuh, jangan sampai berkurang... "
"Aku tak akan menjanjikan apa apa denganmu tapi aku akan memberikan buktinya... kamu akan melihat pancaran kebahagiaan dari mata Alya. "
"Baiklah... aku titipkan cintaku pada kak Tian,jaga dan bahagiakan Alya. Aku tak bisa pamit dengan Alya... karena aku memang tak sanggup. Aku pamit dulu.. "Yudha berdiri dari duduknya
"Selamat jalan... semoga kamu sukses dan segera mendapatkan kebahagiaan mu juga"
"Terima kasih kak.. "Yudha meninggalkan Tian dan pergi dari rumahnya dengan langkah pelan.
Setelah beberapa saat Yudha pergi, ia kembali masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya.
Tian melihat Alya duduk disofa yang terdapat di dalam kamar sambil memainkan ponselnya.
"Sayang... lagi ngapain"Tian melingkarkan tangannya di bahu Alya dan membawa kepala Alya bersandar dilengannya.
"Lagi main game.... dari pada bengong.. Yudha mana kak... "
"Sudah pulang. Ia pamit akan kembali ke Jerman besok"
"Mengapa Yudha cepat kembali ke Jerman, apa ada masalah dengan perusahaan nya yang disana"
"Tidak... ia akan menetap disana, sampai perusahaan nya berkembang "
"Oh... "hanya ucapan itu yang lolos dari mulut Alya
"Mengapa... kamu kok keliatan murung gitu"
"Kak... jangan salah paham.. Aku tak ada perasaan apa apa lagi terhadap Yudha, cuma aku merasa kasihan aja kalau ia harus jauh dari keluarga. Mengapa harus menetap di sana, ia bisa kan bolak balik Jakarta Jerman"
"Itu sudah menjadi keputusannya... kita harus menghargainya. Kita doakan saja usahanya berhasil dan ia mendapatkan kebahagiaan disana.. "
"Aamiin... semoga. Yudha orang baik... pasti Tuhan melindunginya... "
"Kita besok berangkat ke pulau macan seberang laut itu aja ya.. ... jadi sekarang kamu bisa siapin keperluan buat tiga hari di sana.. "Tian mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya kak... "Alya segera berdiri menuju lemari dan memilih pakaian yang akan di bawa besok.
"Alya... Yudha benar, aku beruntung mendapati cintamu... belum pernah aku melihatmu membantah perkataanku, kamu sangat patuh dan menuruti semua mauku..."Bathin Tian melihat Alya yang langsung menyiapkan keperluan mereka.
************************
Terima kasih untuk tetap setia menunggu dan membaca novel ku ini.
__ADS_1
Mampir juga ya dinovel terbaruku ANTARA AKU, KEKASIHKU DAN SAHABATNYA ,bantu like dan koment karena novelku itu akan ikut kontest... sekali lagi terima kasih.