
Baru saja Cindy masuk ke apartemennya, ponselnya berbunyi.Ia melihat nama yang menghubunginya. Ternyata Anthony, pemilik sebuah majalah di Singapura.
"*Sayang.. besok kamu sudah di sini lagikan,aku sangat merindukanmu"
"Ya.. besok aku ada pemotretan buat majalah milikmu dan juga aku ada shoting buat iklan"
"Berapa lama kamu di sini"
"Sekitar dua minggu"
"Aku suka itu, berarti kita akan lama menghabiskan waktu bersama, aku sudah rindu nih dengan tubuhmu"
"Kamu hanya rindu tubuhku, bukan diriku ya.. "
"Tentu aja semua yang ada pada dirimu membuat aku rindu... aku sudah membayangkan kamu tidur dipelukan aku saat ini... "
"Pikirannya mesum aja"
"Semua lelaki yang pernah tidur denganmu pasti akan berpikiran mesum jika ada dekatmu.. permainan ranjangmu mantap "
"Sudah dulu ya.. aku mau istirahat, aku tak mau mataku terlihat seperti mata panda karena begadang.. "
"Sampai jumpa di Singapura.. aku menunggumu di apartementku*"
Cindy lalu menutupi sambungan ponselnya. Ia lalu membersihkan wajahnya dan naik keranjang ingin tidur.
"Axel.. aku harus bisa membuatmu meniduri aku, biar kamu jadi milikku seutuhnya. Anthony memang kaya.. dan banyak memberi aku uang, tapi aku ingin menikah hanya dengan Axel, karena harta orang tuanya yang ternyata sangat melimpah itu pasti akan jatuh ketangannya suatu saat nanti. Ia calon suami masa depanku.. untuk saat ini, Anthony bisa aku manfaat kan buat ketenaranku.. ia pemilik majalah di Singapura, mudah baginya membuat aku terkenal dinegaranya"
Cindy memejamkan matanya, ia tak mau tidur larut yang akan dapat membuat wajahnya kelihatan kusam .
Pagi pagi Cindy sudah berangkat ke Singapura. Ia hanya mengirimi Axel pesan, karena ketika ia menghubungi Axel, tidak diangkat.
Bunga yang telah selesai mandi membantu Alya menyiapkan sarapan.
"Mommy masak apa.. aku boleh bantu "
"Jangan sok rajin Lu.. walau Lu berusaha ngambil hati mommy, kalau Axelnya yang tak cinta, percuma saja"ujar Alexa
"Cece.. ngomongnya nggak boleh gitu. Nanti Bunga sedih, Axel juga suka dengan Bunga, mommy yakin itu, cuma ia belum menyadarinya karena kalian selalu bersama dari kecil. "
"Betul Nga, kata mommy. Kalian tuh selalu bertemu jadi nggak ada gregetnya, Axel jadi tak menyadari cintanya, coba aja Lu sesekali menghilang, sekitar satu atau dua tahun, baru muncul lagi. Siapa tahu dengan kalian berjauhan Axel akan menyadari cintanya"
"Cece bisa aja.. kalau Bunga menghilang selama satu atau dua tahun bisa membuat kak Axel mencintai Bunga sih nggak apa apa, ini takutnya kak Axel makin jauh dan ketika Bunga hadir lagi ia telah menikah"
__ADS_1
"Sayang..kamu harus percaya dengan takdir dan jodoh. Jika memang Axel jodohnya Bunga, bagaimanapun Axel menolaknya pasti kalian akan dipertemukan kembali, tapi jika Axel memang bukan jodohnya Bunga, seberapapun usaha kamu buat mendekatinya itu tak akan ada gunanya karena pada akhirnya kalian tidak akan bersatu. Contohnya mommy dan daddy, sudah berpa kali kami berpisah dan banyak rintangan yang harus kami hadapi karena pada dasarnya mang jodoh, akhirnya Tuhan menyatukan kami"
"Semoga kamu yang jadi jodohnya Axel, karena cece lebih suka adik iparnya kamu"ujar Alexa
"Kalau Kak Axelnya yang nggak cinta mau gumana lagi"
"Bunga.. serahkan semua dengan Tuhan"ucap Mommy sambil mengusap kepala Bunga.
Mommy, aunty Zahra, Bunga dan Alexa sibuk memasak di dapur. Daddy, uncle Yudha dan Barra sudah duduk ditaman menunggu sarapan selesai.
Setelah sarapan hampir selesai, mommy Alya meminta Bunga bangunkan Axel.
"Sayang.. tolong bangunkan Kak Axel, anak itu kalau nggak dibangunkan tak akan mau bangun sampai siang"gerutu mommy.
"Assyiaapp mommy"ucap Bunga dan berlari menaiki tangga menuju kamar Axel.
"Sayang.. jangan lari lari.. nanti jatuh"teriak mommy
"Biasa Bunga.. kalau bangunkan Axel semangat banget dari dulunya. Kalau cece mah ogah.. Axel suka marah kalau tidurnya diganggu "
"Axel nggak mungkin marahin Bunga.. bukan sekali ini sajakan Bunga bangunkan Axel"ujar mommy
Bunga mengetuk pintu kamar Axel beberapa kali, karena tidak ada sahutan Bunga mencoba membuka pintunya, ternyata tidak dikunci. Axel memang tak pernah mengunci pintu kamarnya dari kecil, itulah sebabnya Bunga selalu langsung masuk membangunkan Axel.
"Kak Axel bangun... sarapan lagi. Semua sudah menunggu"
Bunga kembali mengguncang tubuh Axel, karena tidak ada reaksi ia naik ketempat tidur dan meniup wajah Axel agar bangun sambil menggelitik pinggang Axel. Axel sama dengan daddy nya, tidur tidak pernah memakai atasan.
Axel mulai bergerak dan membuka matanya, ia melihat wajah Bunga yang begitu dekat dengan wajahnya ,sambil meniup wajahnya. Axel jadi teringat kata Cindy agar menjauhi Bunga, ia mendorong tubuh Bunga hingga jatuh kelantai.
"Aduh.. sakit kak. Pelan pelan dong dorongnya"
"Ngapain kamu.. "
"Bangunkan kak Axel lah.. semua sudah selesai tinggal menunggu Kak Axel buat sarapan"
"Kamu tuh jadi cewek jangan murahan banget, harus punya harga diri. Jangan suka menempel pada lelaki yang bukan pacarmu. Tolong jaga jarak denganku. Kamu tahukan aku sudah punya pacar, aku tak mau nanti Cindy jadi salah paham"
"Kata kata Kakak keterlaluan banget.. aku juga biasa begini dari kecil, jika kak Axel menganggap sikap aku selama ini seperti cewek murahan yang tak punya harga diri aku minta maaf. Aku tak ada maksud untuk membuat kak Cindy salah paham.. "
"jika begitu.. aku harap kamu mulai hari ini bisa menjaga jarak denganku.. . "
"Baik... jika itu maunya kak Axel. Mulai detik ini aku tak akan mendekati kakak lagi. Aku akan pergi dan menghilang dari hidup kakak. Maaf jika selama ini tingkah dan kelakuan aku membuat Kak Axel nggak nyaman. Aku tak akan pernah menampakkan wajahku lagi, jadi kak Axel tak perlu takut jika kehadiran aku membuat pacar kakak jadi salah paham "ucap Bunga sambil menangis. Ia berlari meninggalkan Axel sendirian.
__ADS_1
Bunga berlari sampai ke lantai bawah. Di meja makan semua sudah berkumpul.
"Maaf semuanya, aku harus pulang. Ada tugas sekolah yang belum aku buat. Selamat pagi "ucap Bunga lalu pergi.
"Bunga.. tunggu"ujar Barra mengejar.
"Kenapa lagi Axel.. pasti ia yang telah membuat anak itu menangis "gumam Tian
"Axel keterlaluan,cece doakan ia jadi bucin nya Bunga suatu saat"
"Kak Tian.. aku jadi nggak enak dengan Bumi dan Ani, selalu saja Bunga dibuat menangis oleh Axel"lirih Alya.
"Itu tak akan lama.. Bunga sudah biasa diperlakukan Axel begitu, paling minggu depan kembali menginap lagi Bunga nya"ucap Yudha
"Semoga saja.. tapi tadi kelihatannya ia benar benar terluka"Ucap Zahra
Barra memegang pergelangan tangan Bunga. Menahannya agar tidak berlari lagi.
"Aku antar kamu pulang ya.. "
"Nggak usah Barra. Kamu sarapan aja, aku bisa pakai taksi"
"Aku tak akan biarkan kamu pulang seperti ini dengan taksi, kamu kelihatan tidak baik baik saja"
"Bar.. aku mohon. Biarkan aku sendiri. "
"Tapi Bunga... "
"Jika kamu masih mau berteman denganku, biarkan aku pulang sendiri.. "
"Kamu menangis karena kak Axel"
"Sudahlah Barra.. aku capek.. aku mau pulang. Terima kasih karena menawarkan mengantar aku pulang, tapi aku saat ini benar benar ingin sendiri"ujar Bunga dan melepaskan pegangan tangannya.
Barra akhirnya melepaskan pegangan ditangan Bunga dan melihat kepergian Bunga sampai ia mendapati taksi dan menghilang.
Bunga masih menangis ketika berada di dalam taksi. Ia tak terima Axel mengatakan ia perempuan murahan yang tak punya harga diri.
"Mungkin ini saat nya aku harus pergi dan menjauh dari kak Axel.Cece Alexa benar, aku harus menjauh dari kak Axel agar aku dapat tahu seberapa besat rasa cintaku padanya. Tak ada gunanya aku berusaha mendapati hatinya jika ia telah menutup pintu hatinya rapat rapat. Aku akan mencoba menghilangkan perasaan cintaku mulai hari ini. Jika memang aku dan kak Axel berjodoh pasti Tuhan akan mendekatkan kami kembali... "
**********************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini
__ADS_1