Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 17 Season Dua


__ADS_3

Yudha memperhatikan layar monitor tanpa kedip. Ia melihat ada bentuk anak kecil walau belum sempurna benar dan jelas benar.


"Kak... apa itu anakku"tanya Yudha antusias


"Ya.. ini bayi kamu dan Zahra.. "


Zahra melihat ke layar yang ada didepannya. Ia dapat melihat pergerakan anaknya.


"Kamu lihat, gerakan anak kalian cukup aktif,ini menandakan janin tumbuh dengan sehat. "


Tanpa disadari air mata Yudha dan Zahra menetes. Ia tak pernah berharap akan dapat melihat perkembangan bayi dirahimnya.


"Dengar detak jantungnya sangat keras,ia tumbuh sehat di dalam rahim Zahra"


Yudha dan Zahra tidak bisa berkata apa apa, mereka sangat terharu melihat anak mereka yang berkembang di rahim Zahra dengan sehat.


Setelah puas melihat perkembangan dan kesehatan bayi,Bumi mengarahkan layar monitor ke kelamin calon bayi mereka.


"Kamu lihat ini.. Yud... "


"Ya.. kak"


"Sepertinya jenis kelamin bayi kalian laki laki.."


"Apa kak.. anak kami laki laki"tanya Yudha


"Iya.. kamu lihat ini, kelamin anakmu"


"Sayang... kita akan memiliki seorang putra "ucap Yudha sambil mengusap tangan Zahra.


"Kakak rasa cukup.. kamu sudah lihatkan ..semua perkembangan bagimu. Zahra.. bisa duduk lagi"


Yudha membantu Zahra turun dari ranjang. Ia yang tak sabar langsung menggendong Zahra dan mendudukan di kursi pasien.


"Selamat ya Zahra.. kamu dan Yudha akan memiliki seorang putra "


"Kak Bumi.. aku berterima kasih banyak atas bantuan kakak selama ini, sampai aku bisa hamil. Aku dulu tak pernah membayangkan akan tumbuh janin dalam rahimku. Karena aku sudah pesimis dengan penyakit yang aku derita"


"Semua atas kehendak Tuhan.. tidak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki "


'Tapi semua atas usaha kak Bumi.. "


"Zahra.. tak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan ketika aku melihat wanita wanita seperti kamu tersenyum bahagia karena kehamilan mereka... aku orang pertama yang paling bahagia ketika pasien aku dinyatakan positif hamil"


"Kak Bumi..aku juga mengucapkan terima kasih karena selama ini kakak selalu memberi semangat dan dorongan buat kami selalu berusaha... "ujar Yudha.

__ADS_1


"Kalian tahu alasan aku kedua aku memilih menjadi dokter kandungan.. jika alasan pertama aku karena ibu kandungku yang meninggal saat aku lahir, alasan kedua aku memilih menjadi dokter kandungan adalah ketika aku melihat sendiri bagaimana ibu tiriku yang sering menangis mengharapkan kehamilan yang tak kunjung datang sampai saat ini"


"Maksud kak Bumi... ibu tiri kak Bumi tidak memiliki anak"tanya Zahra


"Tidak.. Yudha tahu itu, aku anak satu satunya dari bapakku. Setiap malam aku melihat mami menangis dipelukan papi... karena ditahun kesepuluh perkawinan mereka belum juga dikaruniai anak. Mami sampai merelakan papi untuk menikah lagi jika papi ingin keturunan. Tapi cinta papi yang kuat buat mami tidak membuat papi berpaling. Ia selalu mengatakan pada mami, jika ia menikahi mami bukan mengharapkan keturunan tapi karena ia memang mencintai mami"


"Sama seperti yang Yudha selalu katakan padaku ketika aku belum hamil kak"


"Zahra.. berarti Yudha memang mencintai kamu sepenuh hatinya... sejak saat itu tekadku makin bulat untuk menjadi seorang dokter kandungan. Aku ingin membuat wanita wanita seperti mami memiliki harapan, aku berjanji akan berusaha membuat mereka yang udah pesimis hamil memiliki harapan lagi. Karena bagiku tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.. kita berusaha dan berdoa.. Tuhanlah akhirnya penentu dari semuanya... "


"Kak Bumi hebat.. aku salut dengan tujuan mulia kak Bumi"ujar Zahra terharu


"Jadi jangan pernah menyerah.. kamu tahu Zahra, ketika kamu pendarahan akibat terjatuh kemarin.. aku rasanya lemas banget, aku takut usaha ku sia sia. Aku takut kamu keguguran. Selain karena kamu pasienku, juga karena Yudha. Kamu tahukan.. aku sudah menganggap Yudha seperti adik ku sendiri, aku melihat kecemasan dan kerapuhannya saat mengantar kamu kerumah sakit, aku tak mau melihat kesedihannya lagi. Aku yang menjadi saksi betapa ia rapuh saat papa nya meninggal dan itu aku lihat ketika ia membawa mu kemarin ke rumah sakit ini"


"Kak Bumi.. untuk saat ini apa yang menjadi pantangan bagiku "


"Tidak ada Zahra.. kamu boleh makan apapun, tapi yang bergizi. Jangan di tahan selera karena takut gemuk.. ingat ada satu nyawa menumpang hidup denganmu "


"Kak Bumi.. berarti aku sudah boleh main kuda kudaan dengan Zahra"


"Kamu sudah nggak tahan ya... "


"Ya lah Kak.. udah lima bulan aku puasa"


"Boleh saja... "


"Mas Yudha... tanya apaan sih... "


"Biar jelas sayang... "


"Terserah kamu.. mana yang enak saja. Karena saat ini kandungan Zahra sudah cukup kuat... "


"Serius kak... Oh... Zahra.. siap siap nanti malam kita main kuda kudaan"ucap Yudha


"Mas Yudha ..mesum banget sih.. malu dengan kak Bumi.. "


"Mengapa malu.. kak Bumi sudah tahu semua teorinya. Paktekin ke istrinya saja yang belum.. "


"Mas.. "ucap Zahra malu dengan wajah yang telah memerah


"Ha.. ha.. kamu tahu aja Yud"


"Itu Kak Bumi mengaku"


"Sudah ah.. jangan ngomong itu lagi.. malu lah"

__ADS_1


"Ini kakak beri resep vitamin saja ya buat Zahra. Di minum ya vitaminnya. Susu buat ibu hamil tetap diminum... jangan lupa, karena itu baik juga buat perkembangan bayi kalian"


"Ya kak... terima kasih.. kapan jadwal kontrol untuk Zahra lagi kak"


"Jika tidak ada keluhan... bulan depan aja lagi"


"Baik kak.. terima kasih banyak. Aku pamit dulu"ujar Zahra


Yudha mengecup pipi Zahra sambil berjalan di lorong rumah sakit..


"Terima kasih sayang.. karena mau berjuang dan kuat mempertahankan bayi dalam kandunganmu"


"Mas.. malu ah masa main cium saja. Banyak orang tuh"


"Biarin saja.. kamu kan istri aku.. apa salahnya aku cium"


"Tapi mas.. ini tempat umum"


"Kan cuma cium.. "


"Ih.. susah deh ngomong dengan mas nih"


"Kamu tuh kalau lagi marah tambah cakep"ucap Yudha dan kembali mengecup pipi Zahra


"Mas.. malu ah"ucap Zahra mendorong wajah Yudha menjauh


"Iya.. iya nggak mas lakukan lagi. Tapi nanti kalau di rumah awas ya.. mas langsung makan kamu nanti"


"Pikiran mas tuh jangan mesum terus"


"Mesum dengan istri tak apalah... lagi pula mas sudah puasa selama lima bulan loh"


"Mas.. kita jadi cari asinan sayur"


"Jadilah sayang...buat kamu,apa yang tak mas lakukan.. kamu minta mas terjun dikolam buaya aja,mas pasti tak mau"


"Ih... aku kira mas Yudha bilang mau"


"Mana mungkin mas mau.. mas tak mau mati konyol, mas mau menua bersamamu"


"Mas... aku mau rujak buah juga ya.. yang pedas banget"


"Boleh sayang.. tapi jangan minta mas yang habisin nantinya"


Zahra tersenyum. Ia memang pernah ngidam rujak buah dan minta Yudha membelinya yang pedas banget.. tapi Zahra cuma mencoba dua sendok, ia memaksa Yudha menghabiskannya. Akibatnya Yudha langsung menceret sehabis makan rujak itu.

__ADS_1


**************************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini.


__ADS_2