
Semua sedang asyik dengan santapan mereka, ketika terdengar suara ketukan pintu.
"Masuklah.... "jawab Alya
Tampak Ani masuk dengan Alexa Dan Axel yang berpegangan di tangan kanan dan kiri Ani.
"Ani rupanya.. sini sayang mommy.. "ujar Alya
"Ani makan sekalian, masih banyak nih makanannya "ucap Tian
"Terima kasih kak, aku tadi sudah makan dirumah kak Tian, bibi sudah masak"
"Makan sedikit saja.. untuk menemani ayang beb, makan.. "ujar Bumi
"Ayang beb apa... bebek.. "teriak Yudha dari tempat duduknya yang berada disamping Zahra sambil menyuapinya
"Kamu ya.. sudah duduk terpisah saja.. masih aja rese"ucap Bumi kesal
"Tapi aku benar masih kenyang ,Bumi"
"Kalau begitu duduk dekat aku saja, biar makan aku tambah lahap ditemani gadis secantik kamu"
"Gombalnya receh banget.. "ujar Yudha lagi
"Lama lama gue bius juga Lu biar tertidur, biar nggak bawel"
"Yudha... sudah. Kamu suapin aja Zahra jangan banyak bacot"ucap mama.
"Mama kok jadi belain Kak Bumi sih"
"Habis mulut Lu tuh terlalu banyak bacot, dan berisik, orang mau makan jadi hilang selera mendengar suara cempreng lu"ucap Tian
"Cuih... Marimar.. ternyata aku sekarang mulai dikucilkan"ucap Yudha menirukan dialog cerita telenovela
"Maaf furguso...kami tak mau dengar bacotmu dulu"ucap Bumi
Ani melihat dan mendengar semua itu jadi tertawa. Ia tak mengira Bumi dan Yudha bisa segila itu.
"Tawanya renyah banget beb.. enak kali dengarnya"ucap Bumi
"Kak Ani jangan tergoda dengan rayuan kak Bumi, semua pasiennya yang cantik dan muda juga dirayu"
"Lu ya.. jangan asal bicara. Mana doyan gue istri orang. Bisa turun pamor gue, masa dokter terganteng di rumah sakit ini merayu dan mengganggu istri orang"
Ani hanya tersenyum menanggapi Canaan Yudha. Axel yang sangat dekat dengan Zahra berlari kearah tempat tidur Zahra dan menangis.
"Mengapa menangis ganteng.. "tanya Zahra
"Aunty... tangan aunty kenapa.. sakit ya"
__ADS_1
"Ini biar aunty cepat sembuh sayang.. "
"Daddy... siapa yang suntik tangan Aunty "
"Itu om Bumi.. jahatkan om Bumi"bisik Yudha ditelinga Axel
Axel langsung berlari kearah Bumi dan memukulnya...
"Loh kok om di pukul, salah om apa ganteng "
"Om jahat.. "
"Jahat sama siapa.. "
"Sama aunty.. om suntik tangan aunty"
"Itu biar aunty nya Axel cepat sembuh"
"Mommy... apa suntik itu buat cepat sembuh"
"Iya sayang.. om Bumi bukan jahat, ia malahan menolong aunty biar cepat sembuh. Axel nggak mau lihat aunty sakit terus kan"ujar Zahra
"Aunty sakit apa mommy"
"Sakit karena uncle Yudha... "ujar Bumi
"Iya daddy... "tanya Axel mendekat duduk diantara Tian dan Alya
"Uncle jahat... "teriak Axel. Ia memang sangat dekat dengan Alya dan Zahra. Axel akan marah jika merasa ada yang menyakiti Alya dan Zahra
"Siapa bilang uncle jahat.. uncle nggak sengaja sayang. Ia buktinya uncle suapi aunty makan"
"Axel Dan Alexa anak yang manis dan nggak rewel ya... "ujar Ani
"Kamu mau memiliki anak seperti mereka "
"Mau dong Bumi.. siapa sih yang nggak kepengen memiliki anak secantik dan seganteng mereka "
"Kalau gitu kamu menikahlah denganku... biar kita bisa buat anak yang banyak dan lucu lucu"
"Hei bro... kalau melamar wanita itu bermodal, jangan dirumah sakit juga kali"
"Aku kan cuma melamar secara spontan, jika diterima aku akan mengadakan acara lamaran yang sesuai dengan keinginan Ani"
"Kamu bisa aja Bumi, kita baru kenal. Belum tahu kepribadian masing masing"
"Ani.. mama yang menjamin jika Bumi lelaki yang baik.. yang kurang baik itu dulu Tian, tapi sejak menikah dengan Alya ia telah berubah"
"Mama.. mengapa bawa bawa aku sih"
__ADS_1
"Mama cuma membandingkan antara kamu dan Bumi.. "
"Kamu dengar Ani.. Tian yang brengs*k aja bisa berubah baik setelah menikah.. "
"Nanti kamu yang berubah jadi brengs*k setelah menikah"
"Nggak mungkin Tian.. aku ini lelaki yang baik, ramah dan rajin menabung...kamu tak akan rugi menjadi istri aku Ani"
"Rayu terus.. sampai lupa ya.. jika ini kamar pasien,katanya suruh istirahat.. eh malah dokternya yang berisik"
"Lu.. diam aja... anak kecil nggak boleh ikut campur"
"Kak Bumi.. aku nggak suka ya kakak selalu bilang aku anak kecil.. aku sudah dua puluh lima tahun, kak Bumi yang ketuaan sudah Tiga puluh satu belum juga nikah"
"Mulut Lu minta di lem ya.. biar diam"
"Kak Ani lihat sendiri, kak Bumi orangnya kejam"
"Yudha.. kamu jangan sembarangan ya bicara, nanti Ani kira benar pula... "ucap mama
"Ani.. Bumi memang lelaki baik, tapi bukan berarti aku ingin kamu menerimanya ya. Semua tergantung kamu, kamu yang bisa menilai seseorang itu cocok apa nggak menjadi pendamping hidupmu"ucap Alya
"Bumi... aku bukan nya menolak atau menerima. Aku harus memikirkan semua ini dengan serius dan matang, karena aku tak ingin gagal dalam pernikahan, aku ingin memiliki suami sekali aja seumur hidupku"
"Nggak apa Ani... aku juga tidak meminta kamu menerima aku saat ini, aku hanya ingin minta izin buat mengenal kamu lebih dekat lagi.. "
"Ya.. Bumi. Kita harus saling mengenal lebih dekat lagi agar kita tahu kepribadian masing masing dan jika kita telah merasa cocok barulah bisa melangkah ketahap yang lebih serius. Umurku juga tidak muda lagi sebagai wanita.. aku juga tak ingin pacaran,jika memang seseorang ingin dekat dan mengenal aku, maka aku harap orang itu serius buat ke jenjang pernikahan "
"Mama yang akan memarahi Bumi jika nanti kalian memang telah cocok dan Bumi melakukan hal yang salah. Kamu bisa mengadu sama mama"
"Terima kasih ma karena mendukung aku.. "
"Kamukan anak mama juga.. "
"Aku pamit sebentar ya Ani.. tunggu disini. Aku yang akan mengantar kamu pulang nanti"
Sebelum meninggalkan ruangan itu Bumi menyempatkan memeriksa keadaan Zahra.
"Jika kamu ingin ke kamar kecil sebaiknya ditemani Yudha, jangan pergi sendiri"
"Baik kak... terima kasih"ujar Zahra
"Kamu Yud.. harus lebih hati hati dan jaga Zahra, sampai usia kandungannya empat bulan, masih rentan dengan keguguran "
"Ya kak... "
Setelah Bumi pergi, Alya, Tian dan mama memberi dukungan buatnya agar Ani mempertimbangkan Bumi sebagai calon suaminya.
*************************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini