Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 29 Season Dua


__ADS_3

Bunga duduk diayunan yang ada ditaman belakang rumah. Ia menangis sendiri. Tian dan Alya sudah pergi keluar.


"Apa mungkin kak Axel akan membalas cintaku suatu saat nanti. Aku sudah berusaha menghilangkan rasa cinta ini tapi semakin aku mencoba menghilangkan perasaan cinta ku semakin besar pula rasa cinta ini hadir"


"Selamat pagi cantik.. melamunkan apa sih"ujar Barra yang baru datang dan menghampiri Bunga.


"Barra.. kamu ngagetin aja.... "


"Kamu nya aja yang melamun... "


"Dari mana mau kemana.. kok rapi banget.. "


"Dari sana mau kesini"


"Barra.. aku serius nih tanyanya... "


"Aku juga serius kok jawabnya "ucap Barra dan duduk disamping Bunga


"Kamu menangis.. "ujar Barra melihat sisa air mata dari sudut mata Bunga


"Nggak kok... cuma kelilipan aja... "


"Kemana perginya orang dirumah ini, kok sunyi banget"


"Cece Rachel sudah ke butiknya, daddy dan mommy kerumah Oma. Dan kak Axel tidur.. "


"Ngapain kamu sendirian disini bengong aja.. mending kita jalan aja yuk"


"Kemana Bar.. "


"Kemana kamu maunya... "


"Kok malah tanya aku.. kan kamu yang mau ajak jalannya "ujar Bunga


"Aku mengikuti aja kemana kamu mau pergi.."


"Bagaimana kalau kita ke mal aja..kita ke permainan aja.. "


"Oke.. ayo kita berangkat sekarang.. "


"Aku pamit dulu dengan kak Axel ya.. "

__ADS_1


"Aku tunggu di mobil ya.. "


"Oke.. "ucap Bunga menaiki tangga menuju kamar Axel


Bunga mengetuk pintu kamar Axel, ia tak mau nanti kejadian tadi terulang kembali. Tapi setelah sekian lama tak ada jawaban, Bunga membuka pintu kamar Axel.


Ia melihat Axel yang tertidur dengan hanya memakai celana pendek tanpa atasan.


Bunga mengguncang badan Axel membangunkan dirinya.


"Kak Axel aku pamit ya.. aku mau pergi dengan Barra"


"Sayang... maafkan aku"ucap Axel dengan mata yang masih tertutup


"Kak Axel mengapa memanggil aku sayang.. apa ia ngigau....tapi siapa yang ia maksud sayang itu"


Axel menarik tangan Bunga cukup keras sehingga ia terjatuh tepat berada diatas tubuh Axel. Wajah mereka begitu dekatnya. Bunga dapat merasakan deru nafas dan mencium bau badan Axel.


Jantung Bunga berdetak cepat. Axel mengecup bibir Bunga,membuat Bunga makin gugup.


"Cindy.. maafkan aku. Jangan pernah marah.. aku sangat mencintaimu..Mulai saat ini aku akan mencoba lebih mengerti dengan semua kesibukanmu. "ucap Axel memeluk erat tubuh Bunga.


Bunga mencoba melepaskan pelukan Axel dan mendorong dada Axel keras. Axel yang merasakan dorongan yang kuat ditubuhnya terbangun. Axel mulai membuka matanya dan kaget melihat Bunga berada diatas tubuhnya.


Axel langsung duduk, membuat tubuh Bunga terjatuh kesampingnya.


"Sedang apa kamu.. apa yang kamu lakukan "tanya Axel dengan wajah datar


"Aku mau pamit.. mau pergi dengan Barra.. "


"Silakan..mengapa harus pamit, kamu bileh pergi kapanpun kamu mau dan sama sipa aku tak peduli., cuma ingat lain kali jangan kamu lakukan seperti tadi lagi"


"Maksud kak Axel apa... "


"Jangan pernah naik diatas tubuhku. Aku tak suka.. "


"Siapa yang naik ke atas tubuh kak Axel"


"Itu tadi.. kamu naik ke atas tubuhku kan.. "


"Kak Axel.. aku tahu kakak nggak suka aku selama ini mendekati Kakak. Aku nggak tahu salah aku dimana. Bukankah kita dari dulu juga sering bersama seperti ini. Dan tadi bukan aku yang naik ke atas tubuh kak Axel.. tapi kak Axel lah yang menarik tanganku. Kak Axel mengira aku Cindy.. kekasih kakak,aku juga tahu diri. Maaf jika aku selalu mengganggu kak Axel"ucap Bunga terisak dan pergi meninggalkan Axel sendiri

__ADS_1


"Apa benar aku yang menarik Bunga tadi. Tadi Bunga juga mengatakan jika aku mengira ia Cindy.. dari mana Bunga tahu tentang Cindy.. apa tadi memang aku mengira ia Cindy. Apa aku tadi sudah keterlaluan.. sehingga membuat Bunga menangis. Tapi aku menjaga jarak dengan Bunga karena aku tak mau mengkhianati Cindy,aku tak mau ia salah paham"


Bunga masuk ke mobil Barra dengan masih terisak. Ia mengambil tisu dan menghapus air matanya.


"Kamu kenapa.. apa kak Axel menyakiti kamu lagi. Ia mengusir kamu lagi dari kamarnya... "


Bunga hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Barra. Ia hanya sibuk menghapus sisa air matanya.


"Kak Axel kenapa ya.. sejak setahun belakangan ini kasar banget dengan kamu. Padahal dari kecil sudah sering main bareng, tidur bareng... mengapa sekarang ia seakan menjaga jarak denganmu ya.. "


"Sudahlah Barra.. ini memang salahku. Tak pantas seorang wanita masuk ke kamar seorang pria"


"Tapi kamu sudah terbiasa dari dulu berada dikamar kak Axel, bahkan tidur bareng. Mengapa ia keberatan sekarang"


"Kak Axel bilang.. sekarang aku bukan lagi anak kecil seharusnya aku paham batasan antara wanita dan pria"


"Tapi aneh aja.. apa kak Axel ada kekasih.. sehingga ia takut kekasihnya tahu dan bisa salah paham "


"Mungkin... jadi nggak nih ke mal. Kok jadi ngobrol aja"


"Oh ya.. sekarang kamu jangan sedih. Jika kak Axel tidak mau lagi bermain bersamamu... masih ada Barra yang akan selalu siap menemani kamu kapan saja dan dimana saja.. aku juga tak kalah ganteng dengan kak Axel kan"


"Kamu memang teman terbaikku Barra"


"Bunga.. aku ingin kamu menganggap aku lebih dari sekadar teman. Aku ingin lebih dekat denganmu.. dan kamu memperhatikan aku seperti kak Axel... "


"Barra.. "ucap Bunga cukup keras


"Oh... ya ada apa"


"Mengapa jadi bengong.. ayo jalan.Nanti keburu siang. Lagi pula perutku lapar, kita makan dulu ya, aku belum sarapan, padahal ini sudah hampir makan siang"


"Oke.. tuan putri. Hamba siap melayani dan menjaga Tuan putri kapanpun dan dimanapun"


Barra melajukan kendaraan membelah jalanan menuju mal yang diinginkan Bunga.


Barra memang menyukai Bunga lebih dari sekadar teman atau sahabat. Tapi ia tak pernah berani mengutarakan karena ia tahu Bunga sangat menyukai Axel.


*********************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini.

__ADS_1


__ADS_2