Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 116. Kesedihan Tian


__ADS_3

Setelah selesai tranfusi darah buat Alya, Bumi dan dokter lainnya keluar dari ruang ICU.


Tian langsung menghampiri Bumi begitu ia keluar dari ruangan..


"Bagaimana Alya... "


"Saat ini Alya sudah melewati masa kritisnya.. kamu bisa melihatnya sebentar.. gantian dengan mama. Tak boleh lebih dari satu orang yang masuk."


Tian langsung mengganti pakaian nya dengan baju steril..


Ia duduk disamping tempat tidur Alya sambil memegang tangannya...


"Sayang... bangunlah... jangan membuat kak Tian cemas. Kamu tahukan... kak Tian tak akan sanggup jika harus kehilanganmu... kamu berjanji kita akan membesarkan anak anak kita bersama sampai kita menua bersama. Kamu ingin melihat sikembar kan sayang... bangunlah Alya... "ucap Tian sambil mengecup tangan istrinya dengan air mata yang berderai.


"Sayang... jika kamu sembuh kak Tian janji... kak Tian tidak akan pernah melakukan hal hal buruk lagi.. kak Tian akan meninggalkan semua kebiasaan buruk kak Tian.. kamu nggak suka kan lihat kak Tian merokok... kakak akan tinggalkan itu... kamu nggak boleh kak Tian minum alkohol.. kak Tian tak akan pernah menyentuhnya lagi.. apapun yang tidak kamu suka akan kak Tian tinggalkan... kamu harus bangun ya sayang. Kak Tian nggak bisa tidur kalau tak memeluk kamu... kamu tahu itukan... jadi sadarlah.. kakak ingin memeluk mu.. hiks... hiks.. "Tian makin terisak dengan tangisnya. Mama dan Bumi yang melihatnya dari luar turut larut dengan kesedihan Tian.


Bumi masuk kedalam... mengatakan pada Tian agar berganti dengan mama, karena setelah ini Alya harus istirahat.. tidak boleh ada gangguan lagi..


"Bum... sampai kapan Alya begini... sampai kapan ia tertidur.. "


"Tian... masa kritis Alya sudah lewat. Sekarang hanya tinggal pemulihan.. aku sengaja menidurkan Alya selama tiga hari agar ia dapat beristirahat maksimal agar proses penyembuhan nya cepat... jadi aku harap kamu jangan terlalu cemas. Alya hanya tertidur selama tiga hari.. "


"Kamu nggak bohongkan... Alya akan segera sadar setelah tiga hari... "


"Ya... kita sama sama berdoa tidak ada terjadi masalah lagi.. Tian... Satria masih diruang perawatan... aku banyak mengambil darahnya. Ia harus dirawat satu hari ini. Apa kamu tak ingin menemuinya... "


"Aku tak tahu Bum... perasaan aku saat ini saja bercampur aduk.. aku membencinya tapi juga aku berterima kasih karena bantuannya... aku belum tahu bagaimana perasaan ku saat ini... tapi aku pasti akan menemuinya... "


"Baiklah... kamu bisa tenangkan pikiranmu dulu... aku minta maaf karena membuat Alya jadi begini... "


"Aku tahu Bum.. kamu sudah berusaha semaksimalmu... aku tak menyalahkan kamu"


"Terima kasih Tian... atas pengertianmu.. sekarang giliran mama... setelah itu Alya harus istirahat.. "


Tian keluar dari ruang ICU dan meminta mama masuk..


Mama masuk dan duduk dikursi tempat Tian tadi.


"Alya..... kamu harus kuat... kamu harus sadar dan sehat... karena mama tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Tian jika kamu pergi... Jika saja mama bisa menggantikan kamu... biarlah mama yang berada diposisimu saat ini... mama rela memberikan nyawa mama untuk menggantikanmu.. Mama tak pernah melihat Tian serapuh ini. Saat ia harus kehilangan papa nya saja ia tak sesedih saat ini. "Mama mengusap air matanya.

__ADS_1


"Sayang... mama hanya ingin kamu tahu... mama benar benar menyayangimu... maafkan mama karena pernah membencimu... jangan hukum mama seperti ini sayang... jika nanti kamu sembuh kamu ingin membalas semua yang pernah mama lakukan... mama akan menerima nya dengan ikhlas... sekalipun kamu akan membenci mama... mama rela.. tapi mama mohon... buka lah matamu.. kamu sumber kebahagiaan Tian.. mama tak mau melihat Tian terpuruk lagi seperti saat ia kehilangan papanya... sekali lagi sayang... mama mohon bertahanlah.. demi Tian dan anak anakmu ..Mama sangat menantikan saat kamu membuka matamu... mama sayang kamu."mama mengecup dahi Alya sebelum keluar.


Mama mengajak Tian ke kamar rawat inap dimana si kembar berada..


"Kamu nggak ingin lihat anakmu.. "


"Ya ma... Tian mau lihat"


"Ayo kita ke kamar rawat sekarang. Untung ada Zahra.. ia sangat telaten menjaga anak anakmu... mama suka cara kerjanya.. "


Tian membuka pintu.. tampak Zahra baru saja menidurkan si kembar.


"Pak Tian... mama... si kembar baru saja saya tidurkan... habis menyusu... "


Tian mendekat ke tempat tidur si kembar... melihat wajah anak nya yang sangat polos.



"Sayang daddy... kamu harus kuat dan sabar ya.. nanti mommy pasti sadar... kalian pasti akan mendapat kasih sayang melimpah dari kami.... Kalian harus mendoakan mommy cepat sembuh biar kita bisa cepat berkumpul"ucap Tian sambil mengusap kedua pipi anak anaknya


"Tian.. lihatlah anak anakmu begitu lucunya... jadi kamu harus kuat.. karena Alya pasti dapat merasakan kesedihanmu... jangan buat Alya tambah sedih... "


"Karena itu mama yakin Alya akan segera sadar.. kasih sayangnya pada sikembar akan membuatnya kuat dan bertahan.. ia akan segera membuka matanya agar dapat melihat putra dan putrinya.. "


"Tian harap begitu ma... Ma apa Yudha sudah berangkat.. "


"Sudah dari siang tadi.. Mungkin besok pagi ia telah sampai... "


"Mama mengabari Yudha jika Alya sempat kritis.. "


"Ya.. nak"


"Mengapa mama beritahu.. nanti pasti ia kuatir dan tak tenang diperjalanan... "


"Mama nggak tahu harus cerita dengan siapa pagi tadi nak... makanya mama menelpon dan mengabari Yudha.. "


"Semoga saja perjalanannya lancar Ma... aku mau ke kamar Satria dulu ma.. "


"Ada apa dengan Satria.. apa ia sakit "

__ADS_1


"Tidak ma.. cuma Satria perlu istirahat... Satria yang mendonorkan darahnya buat Alya ma"


"Jadi Satria pendonor darah itu... "


"Ya... ma.. aku mau menemuinya sebentar. Titip anak anakku ya ma.. "


"Ya... nak. "


Tian berjalan dilorong rumah sakit dengan langkah lunglai... ia merasakan semangat hidupnya hilang. Ia masuk kekamar rawat Satria setelah mengetuk nya terlebih dahulu. Di dalam ternyata ada Bumi..


"Terima kasih banyak atas donor darahmu buat Alya... aku akan memberi apapun yang kamu mau sebagai ucapan terima kasih"ucap Tian tanpa basa basi didepan Bumi


"Aku tak pernah mengharapkan balasan... aku ikhlas dan rela menyumbangkan darahku... "


"Aku tak suka berhutang budi pada siapa pun"


"Aku tak akan pernah meminta balasannya... jadi kamu jangan takut dan jangan merasa berhutang budi... aku melakukan semua karena bagaimanapun Alya juga temanku.. jika ada teman yang lain membutuhkan aku juga rela mendonorkannya... "


"Tapi aku akan tetap membalas semua kebaikanmu... "


"Jika kamu memang bersikeras ingin membalas nya... hanya satu yang aku mau.. "


"Apa.. kamu bilang saja.. "


"Maafkan atas kesalahan yang pernah aku lakukan pada Alya... aku benar benar menyesal.. "


Tian menarik nafasnya kasar. Ia tak pernah siap memaafkan Satria... tapi bagaimanapun ia berhutang nyawa pada Satria.. jadi ia harus ikhlas memaafkan semuanya.


"Baiklah Sat... aku memaafkan semua kesalahan yang pernah kau lakukan pada Alya... tapi maaf aku masih belum bisa membiarkan kamu dekat lagi dengan Alya... "


"Tak masalah... kamu memaafkan aku juga sudah lebih dari cukup.. "


Tian menyalami Satria sebelum meninggalkan ruang rawatnya.


*******************************


Terima kasih banyak buat semua pembaca setia novel ini.


Mampir juga ya di novel ku ANTARA AKU,KEKASIHKU DAN SAHABATNYA serta novel ku.. ELEGI CINTA LANGIT DAN PELANGI

__ADS_1


__ADS_2