Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 77. Pertengkaran Tian dan Satria


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kejadian, Satria tak pernah tampak mendatangi kantor agensi Alya. Biasanya setiap hari Satria pasti menyempatkan diri mampir.


Alya yang disibukan dengan pekerjaannya sehingga tak sempat memikirkan itu.


"Tony..... kita minggu ini apa ada pemotretan di luar. "


"Bukankah minggu ini jadwal pemotretanmu di perusahaan nya Tian"


"Selain itu.. apa ada pemotretan di luar yang lain... "


"Sepertinya nggak ada... ngomong ngomong kamu bertengkar ya dengan Satria"


"Nggak... memangnya kenapa.. "


"Sudah seminggu aku nggak ngelihat tuh anak ke sini. Biasanya tiap hari mampir, apa ia sakit ya.. "


"Ton... coba kamu hubungi Satria... siapa tahu ia memang sakit"


"Mengapa bukan kamu yang menghubunginya.... apa kalian benar benar sedang bertengkar.. "


"Apa yang akan kami pertengkarkan Ton... emang kami anak anak... "


"Coba kuhubungi ya.... "


"Hai... bung. Dimana... sudah seminggu tak mampir.. sibuk ya... "Tony membesarkan speaker ponselnya agar Alya dapat mendengar pembicaraan mereka


"Lagi sibuk aja... "


"Nggak kangen nih sama yang disini"


"Pasti kangen... apa kabar Alya. Apa Tian sering mampir ke sana"


"Nggak juga... cuma beberapa kali, itu pun karena kami ada proyek"


"Proyek apa... "


"Alya di minta untuk jadi model produk pakaian jadi perusahaan Tian... "


"Kapan pemotretannya... di mana"


"Tiga hari lagi... di studio ini aja"


"Oh... boleh aku melihatnya.. "


"Tentu aja.. kenapa sekarang kamu harus minta izin dulu mau datang... biasanya sudah dilarangpun tetap juga mampir... oh ya apa kabar Sari"


"Baik... ia dan mama lagi di Bandung ke tempat opa dan oma... "


"Salam ya... dari calon suaminya.. ha... ha.. "


"Aku tak mau punya adik ipar kamu.. "


"Apa yang kurang dari diriku... ganteng... setia dan baik hati.. tidak sombong... "


"Sudah ah... aku banyak kerjaan. Salam buat Alya... "


"Kenapa nggak hubungi langsung aja kalau kangen... kamu sedang perang dingin ya sama Alya"


"Nggak... aku tutup.... tuts... tuts... "Satria langsung mematikan ponselnya


"Kamu dengar sendirikan... Satria lagi sibuk. Tapi aku makin curiga kalian sedang perang dingin... mengapa saling nggak mau bertanya langsung... "


"Sudah ah.. Alya masih ada kerjaan... "Alya masuk keruang kerjanya. Ia tak mau Tony bertanya lagi.


Sementara itu di kantornya Satria lagi berpikir sendiri mengenai masalah adiknya Sari


"Sari... kak Satria ingin sekali bertanya denganmu masalah Tian dan Alya. Tapi kak Satria takut jika itu memang benar, apa yang harus kakak lakukan pada Alya. Kakak sangat mencintai Alya. Kak Satria nggak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi Alya. Kak Satria malu atas apa yang pernah kamu lakukan dek... apa kakak harus memaksamu meminta maaf pada Alya dan Tian. Tapi kak Satria yakin kamu tak mau melakukannya. Tapi untuk melupakan dan melepasakan Alya,kak Satria juga tidak bisa. Ketika kamu kembali dari Bandung... kak Satria ingin penjelasanmu... Sari"


Malam itu Sari mengikuti Satria ke tempat kafe ia janjian bertemu dengan Tian . Ia melihat dan mendengar semua yang Tian dan Satria ucapkan. Pagi harinya sebelum Satria meminta penjelasan Sari, ia telah berangkat ke Bandung menyusul mamanya yang telah lebih dahulu berada di sana.


"Sari... besok kita kembali ke Jakarta ya. Kasihan Satria sendirian"ucap mamanya

__ADS_1


"Tapi ma.. Sari masih betah disini"


"Tumben kamu bilang betah di rumah opa. Biasanya di bawa kesini paling lama dua hari cuma nginapnya"


"Jakarta membuat Sari selalu mengingat Tian ma. Sari nggak mau larut dalam kesedihan terus... biarlah Sari disini sebentar lagi....sampai Sari bisa melupakannya "


"Sari... mengapa kamu masih mengingat Tian. Kejadian itu sudah lama berlalu. Ia tak pantas buatmu. Kamu bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Tian. Kamu harus bisa membuka hatimu. Banyak lelaki yang mendekatimu... tapi kamu saja yang tak mau move on dari Tian"


"Sari tak bisa melihat ia bahagia dengan wanita manapun.. apa lagi jika ia harus kembali dengan Alya. Sari tak akan rela. "


"Apa Tian akan kembali dengan Alya. Bukankah Alya lagi dekat dengan kakakmu Satria... "


"Sari tahu ma...Sari tahu jaln keluarnya... kak Satria harus menikahi Alya... agar Tian tidak dapat memiliki Alya kembali. Mereka tak boleh bahagia.. "Sari tersenyum licik memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memisahkan Alya dan Tian


"Apa kamu tega membiarkan Satria bersama wanita seperti Alya... "


"Bukankah kak Satria menyukai Alya... biarkan kak Satria menikahinya... tapi setelah ia hamil... kak Satria harus meninggalkannya... itu pembalasan yang cukup buat Alya"


"Sari... mama nggak setuju.. Kamu sama saja mempermainkan pernikahan, lagi pula apa Satria setuju, ia sangat mencintai Alya... "


"Kak Satria harus setuju jika ia tak mau melihat Sari mati... "


"Maksudmu apa... "


"Sari akan mengancam kak satria.. jika ia tak melakukan apa yang Sari mau... Sari akan bunuh diri. Kak Satria sangat menyayangi Sari, ia pasti akan menuruti apa maunya Sari"ucap Sari lagi sambil tersenyum licik


"Sari... mama nggak yakin Satria mau. Sudahlah sayang... lupakan Tian. Mari kita kembali ke Jakarta. Dan kamu harus memulai hidup baru dengan move on dari Tian"


Sari tidak menjawab perkataan mamanya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar Tian dan Alya tidak bisa bersatu.


######################


Sementara itu di Jakarta Alya... Tian dan Tony lagi makan siang bareng. Mereka membahas pemotretan yang akan mereka lakukan lusa.


"Apa pak Tian yakin akan menjadi model lelakinya berpasangan dengan Alya"


"Ya.. aku yakin. Kamu jangan panggil aku pak.. cukup nama saja. Bukan kah kita seusia. "


"Tapi pak Tian kan klien kami... "


"Alya... kamu nggak keberatan kak Tian jadi pasanganmu kan... "ucap Tian dengan Alya.


"Mengapa Alya keberatan... siapapun yang menjadi pasangan Alya di pemotretan tak masalah kok.. "


Ketika mereka sedang asyik berbincang tampak Satria memasuki kafe. Tony yang melihat Satria langsung memanggilnya


"Satria... Sat... sini... gabung sama kami"teriak Tony


Satria dengan langkah pelan mendekati meja mereka...


"Apa nggak mengganggu kalau aku ikut gabung.. "


"Nggak... siapa juga yang merasa terganggu. Bukankah kamu juga mengenal Alya dan Tian"


"Selamat Siang Satria... apa kabar. "ucap Alya sedikit kaku.


"Kabarku baik... seminggu nggak ketemu kamu tambah cantik saja... "


"Terima kasih pujiannya... "


"Sari apa sudah kembali dari Bandung.. "tanya Tony


"Masih di Bandung.. "


"Jadi Sari ada di Bandung... apa kamu belum memastikan semuanya dengan Sari"


"Aku tak perlu memastikan semuanya...aku bisa menilai sendiri, mana yang benar dan mana yang salah"


"Apa yang sedang kalian bicarakan... apa Tian juga mengenal Sari"Tony bertanya dengan heran.


"Tentu saja kenal... kamu masih ingat Sari pernah bertunangan... dan tunangannya membatalkannya... yang membuat Sari harus meninggalkan negara ini... "

__ADS_1


"Ya... aku masih ingat... "


"Tunangan Sari itu Tian... "Satria mengucapkannya dengan penuh penekanan


"Apaa... jadi Tian tunangan Sari dulu... "Tanya Tony kaget


"Maaf aku sudah selesai makan... aku lagi tak ingin berdebat"ucap Tian sambil berdiri


"Kenapa... kamu takut... orang tahu kebejatanmu... yang seenaknya membatalkan pertunangan setelah merasa bosan... Sari dan Sandra sudah jadi korban... siapa berikutnya korbanmu.. oh iya Alya juga termasuk korbanmu bukan... kau menceraikannya setelah bosan... "


"Apa maksudnya ini... "Tony makin tak mengerti pembicaraan mereka


"Maumu apa sebenarnya... "Tian mencengkeram kerah baju Satria dengan tangannya yang siap siap ingin meninju wajah Satria.


"Sudah kak... jangan bertengkar"Alya menahan tangan Tian yang akan melayangkan tinjunya.


"Satria... maaf. Sepertinya kita harus bicara berdua jika ada waktu. Kamu tak bisa menyalahkan kak Tian terus.... Kamu juga harus mendengar semuanya dari aku dan Sari... biar kamu tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kamu bisa mempertemukan kami dengan Sari... biar semuanya jelas... "


"Semua nya sudah jelas Alya. Kamu pasti tahu Alya... semua yang terjadi karena salah Tian,.. ia yang tak bisa setia hanya dengan satu wanita... sudah jelas ada tunangan... masih saja menikah dengan wanita lain...Apa salah jika Sari marah dan melakukan satu tindakan bodoh... menurutku wajar Sari membalas perbuatan Tian.. "


"Dasar bajing*n kau pikir wajar Sari melakukan itu... ia telah melukai Alya dan calon bayiku... kau bilang itu pantas... ..."akhirnya Tian melayangkan tinjunya ke wajah Satria yang menyebabkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Satria yang tak terima ditinju akhirnya berdiri. Ia ingin membalas meninju Tian tapi Alya menghalangi dengan memeluk Tian dan akhirnya punggung Alya yang mendapati tinjuan dari Satria


"Alya... apa yang kamu lakukan. "Tian memeluk Alya yang meringis karena menahan sakit di punggungnya.


"Sudah kak... ayo kita pergi. Alya mohon.. jangan bertengkar di sini... "Alya menahan kedua tangan Tian dengan memeluknya erat.


"Dengar Satria... urusan kita belum selesai.. "Tian memeluk pundak Alya membawanya pergi meninggalkan Satria dan Tony yang masih kaget dengan apa yang terjadi.


Satria meninju meja dengan keras. Menyebabkan hidangan di meja berantakan.


"Ada apa ini Sat...apa sebenarnya yang terjadi... "


Satria tidak menjawab pertanyaan Tony, ia langsung pergi meninggalkan Tony sendiri dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.


Di dalam mobilnya, Tian meminta Alya melihatkan punggungnya yang sakit.


"Sini kakak lihat punggungmu... "Tian menaikan blouse bagian belakang yang dipakai Alya. Tampak punggung Alya yang membiru.


"Kenapa kamu menghalanginya... lihat punggungmu... pasti sakitkan... "Tian memijit pelan punggung Alya. "Kita ke rumah sakit dulu ya"


"Nggak usah kak... biar nanti Alya kompres saja... "Alya menurunkan kembali blouse nya.


"Kita kembali ke kantor Alya saja kak... "


"Kita ke rumah kak Tian aja. Dokter nanti akan memeriksamu dirumah saja.. di rumah kak Tian ada bibi yang bisa bantu mengobati kamu.... "


"Nggak usah kak... nanti juga hilang sakitnya. Cuma memar dikit aja kan... "


"Kamu bisa pilih... kerumah sakit atau ke rumah kak Tian... "


"Ke rumah sakit aja... "


"Kenapa... kamu takut ke rumah kak Tian.. "


"Bukan kak... Alya sudah terlalu sering merepotkan kakak dan bibi. Alya jadi tak enak sama bibi... "elak Alya.


"Terserah kamu saja... yang jelas punggungmu harus diobati. Dari rumah sakit kita pulang ke rumah kak Tian. Kamu nggak usah kerja lagi hari ini"


"Kaakkk... itu sama saja Alya harus ke rumah kak Tian juga"ucap Alya sambil manyun


"Nggak ada bantahan.... atau kamu mau kak Tian bawa ke hotel "goda Tian


"Kak Tiannn.... "


"Kamu mau duaan aja ya... makanya nggak mau dirumah kak Tian. Nanti kita bisa berduaan di kamar. Bibi tak akan mengganggu... "Tian makin menggoda Alya ,melihat Alya yang pipinya kemerahan.


Tian mengendarai mobil menuju rumahnya. Ia ingin mengobati Alya dirumah saja dengan memanggil dokter keluarganya.


*********************

__ADS_1


Terima kasih buat semuanya...


Buat dukungannya dan juga untuk yang tetap setia membaca novel ini.


__ADS_2