
Tak terasa kandungan Alya sudah memasuki bulan kesembilan. Selama ini Alya merasa kerja Zahra sangat memuaskan. Ia menjadi teman dikala Tian tak dirumah.
Tapi setiap Tian pulang.. pasti Zahra langsung pamit masuk kekamarnya. Pernah Alya tanya mengapa ia bersikap begitu.
"Zahra... mengapa setiap kak Tian dirumah kamu selalu di kamar... "
"Karena jika pak Tian pulang, berarti itu waktunya ibu bersama bapak.. saya tidak boleh mengganggu.. "
"Tapi kamu juga nggak mau ikut makan bersama kami... "
"Pak Tian pasti lebih senang jika makan berdua dengan ibu saja tanpa ada yang mengganggu "
"Tapi aku pernah tanya.. nggak apa apa kok kalau kamu ikut makan bersama kami kata pak Tian. Ia senang denganmu karena bisa menemaniku dirumah, aku jadi nggak kesepian lagi.. Mama mertuaku juga senang dengan kerjamu... semoga nanti setelah aku melahirkan kamu bisa menjadi perawat anakku sampai ia besar... "
"Saya juga senang bekerja dengan ibu... pak Tian juga sangat baik... memberi gaji saya selalu saja tambah bonus... "
"Itu sudah menjadi rezekimu... "
"Saya selalu mendoakan ibu dan bapak sehat dan dimurahkan rezeki. Ibu dan bapak sama sama baik... "
"Terima kasih Zahra doanya... saya juga mendoakan kamu mendapat jodoh yang baik. Kamu sudah punya pacar Zahra.. "
"Nggak ada bu... mana ada waktu saya buat mikirin pacaran bu... "
"Aku ada adik ipar... ganteng. Ia janji akan kembali setelah aku melahirkan. Nanti aku kenalkan dengan kamu ya... "
"Ibu.. mana mungkin saya berkenalan dengan adik pak Tian. Nggak pantas bu... "
"Siapa bilang nggak pantas.. kamu tahu, adik pak Tian itu namanya Yudha... ia teman satu sekolah dengan ku dulu. Ia tak pernah malu berteman denganku... padahal aku juga berasal dari keluarga nggak mampu.... "
"Ibu... saya takut nanti pak Tian dan ibunya marah kalau tahu ibu mengenalkan adiknya.. "
"Saya kan hanya mengenalkan... mengapa pak Tian dan mama marah. Aku yakin mereka nggak marah.. lagi pula kamu kan bekerja dengan ku... jadi apa salahnya kalian saling kenal... "
Alya dan Zahra larut dalam cerita tanpa menyadari Tian sudah pulang dan berada dibelakang mereka, mendengar semua pembicaraan mereka.
"Sayang... nggak boleh membicarakan orang dibelakangnya"ucap Tian sambil memeluk pundak istrinya dari belakang dan mengecup pipi Alya
__ADS_1
"Kak Tian sudah pulang... sejak kapan kakak berdiri di sini... "
"Sejak kamu dan Zahra cerita tentang Yudha.."
"Jadi kak Tian menguping kami cerita ya.. "
Tian duduk disamping istrinya dan memeluk pinggang Alya . Zahra ingin pergi melihat Tian yang sudah pulang.
"Mau kemana kamu.... kamu kalau melihat saya seperti melihat hantu.. langsung kabur"
"Maaf pak Tian... bukan maksud saya begitu. Saya hanya pamit karena bu Alya sudah ada yang menemani... "
"Zahra... terima kasih ya karena sudah selalu menemani Alya.. "
"Saya juga berterima kasih banyak karena banyak selalu memberi saya bonus dan juga selalu memberi bantuan buat adik adik dipanti... "
"Itu tak seberapa Zahra... dibandingkan dengan senangnya istriku sejak ada kamu dirumah ini. Ia tak merasa kesepian lagi.. "
"Kalau begitu saya pamit dulu pak... "
"Ya... "
"Kak Tian narsis banget... "
"Ke kamar yuk... biar kak Tian pijat kakimu... lihat makin membengkak... "
"Nggak apa apa kak... Bumi bilang juga itu biasakan... "
"Sayang... mulai hari ini kak Tian sudah ambil cuti. Semua kerjaan sudah kak Tian serahkan dengan Andi... "
"Kapan Andi bisa memikirkan berumah tangga kak... jika kerjaan yang kakk berikan selalu menumpuk... "
"Biar saja... ia senang kok... "
"Ya... nggak mungkin ia membantah perintah kak Tian... "
"Kamu nih sayang... cocoknya kerja di biro jodoh.. tadi ngejodohin Yudha dan Zahra sekarang mikirin jodoh Andi.. "
__ADS_1
"Ih... kak Tian.. aku cuma kasihan lihat mereka hanya memikirkan kerjaan, dan mengabaikan masalah pribadinya"
"Kamu jangan pikirkan itu.. sekarang yang perlu kamu pikirkan.. sikembar nih... dalam beberapa hari lagi akan hadir ditengah kita... kak Tian nggak sabar ingin mendengar suara tangis mereka... "
"Aku juga kak.. "
"Sayang.. sebentar lagi kalian bisa bertemu daddy dan mommy... kami sangat menantikan kehadiran kalian... "ucap Langit didekat perut Alya sambil mengecupnya.
"Kak Tian.. nanti jika sikembar sudah lahir.. nggak boleh mengeluh ya kalau harus ikut begadang menjaga nya"
"Nggak akan sayang.. makanya kak Tian cuti dari kantor... jika ada kerjaan yang harus kak Tian langsung turun tangan.. kak Tian sudah minta Andi membawa ke rumah... kak Tian kerja dari rumah saja.. Ayo ke kamar.. istirahat menjelang makan malam... "
Tian membantu Alya berdiri dan menggandeng tangannya menuju kamar..
Sampai dikamar Tian membawa Alya berbaring di kasur empuk mereka.
Ia menyingkap baju Alya dan mengelus langsung perut istrinya sambil mengecupnya.
"Sayang... setelah kamu melahirkan si kembar... kamu nggak perlu hamil lagi. Cukup dua saja anak kita.. "
"Mengapa... tapi kak Tian pengin punya anak sebelas.. "
"Kasihan lihat kamu hamil... apa lagi setelah perut makin membesar begini. Kak Tian selalu melihat mu gelisah tidurnya. Pasti kamu kesulitan mencari posisi aman buat tidur... "
"Tapi aku senang dan menikamati proses kehamilan aku ini kak. Ini akan menjadi sesuatu yang akan aku rindukan kelak... "
"Kamu memang mommy yang hebat buat anak anak... "
"Kak Tian juga daddy yang hebat dan hero bagi aku serta anak anak.. "
"Jika nanti kak Tian sudah memiliki anak, kakak mau waktu kakak banyak dihabiskan buat anak anak. Kak Tian nggak mau melewati perkembangan anak anak.. makanya dari sekarang kak Tian sudah memberi Andi kepercayaan mengelola perusahaan karena suatu saat kak Tian juga akan mempercayainya buat memimpin... "
"Kak... Aku makin sayang sama kakak..."
"Kakak juga sangat menyayangimu... "ucap Tian mengecup bibir istrinya.
Tian terus mengelus perut istrinya... sampai Alya tertidur... setelah dirasakan Alya tertidur barulah Tian ikut memejamkan matanya..
__ADS_1
********************************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Jangan lupa mampir dinovelku ANTARA AKU, KEKASIHKU DAN SAHABATNYA serta novel ELEGI CINTA LANGIT DAN PELANGI