Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 25 Season Dua


__ADS_3

Beberpa bulan kemudian....


Zahra tampak sedikit meringis memegang perutnya ketika sarapan. Tapi ia menahannya, tak ingin membuat suaminya kuatir.


Ia sebagai perawat tahu jika ia sedang mengalami kontraksi. Tapi ia tak ingin terburu buru mengatakan pada keluarganya. Ia ingin menunggu sampai kontrkasinya sudah tak bisa ditahankan baru ia mengatakannya.


"Mas mau kemana... "tanya Zahra melihat Yudha berpakaian rapi.


"Aku ada rapat yang penting... jadi aku harus ke kantor sebentar buat rapat saja. Kamu nggak keberatan "ucap Yudha dan memeluk pinggang istrinya. Tangan Yudha tak dapat melingkari pinggang Zahra lagi karena perut Zahra yang sudah sangat membesar.


"Sampai jam berapa mas rapatnya.. "ucap Zahra sambil meringis.


"Mungkin sampai menjelang makan siang.. kamu kenapa sayang"ucap Yudha melihat Zahra yang meringis


"Sedikit sakit... "


"Sakit apa... "ucap Yudha kuatir


"Mungkin hari ini aku lahirkan mas... "


"Apaa... bukankah perkiraan masih satu minggu lagi"


"Tapi aku sudah merasakan kontraksi dari tadi"


"Apa itu kontraksi sayang"


"Tanda seseorang akan melahirkan dengan terbukanya jalan rahim tempat bayi akan dilahirkan"


"Sakit ya... Apanya yang sakit.. "Yudha menuntun Zahra duduk di sofa


"Punggung, pinggang dan pinggul... kram diperut"


"Kalau begitu kita langsung kerumah sakit. Aku tak mau terjadi sesuatu dengan bayiku.. kamu tunggu disini aku siapkan tas yang akan dibawa. Aku panggil Alya dulu ya.. "


Yudha tampak panik. Ia tak tahu kemana harus mencari Alya setelah ia tak dapat menemukan Alya di dapur.


Yudha mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan menghubungi Alya.


"Alya.. kamu dimana"


"Aku di taman belakang dengan anak anak dan Kak Tian.. ada apa Yud"


"Zahra... Zahra... Alya"


"Zahra kenapa... "


"Ia akan melahirkan... tolong aku, apa yang harus aku bawa kerumah sakit dan bilang kak Tian bisa tolong siapkan mobil"


"Baiklah... kamu ambil tas isi pakaian Zahra dan bayinya buat di rumah sakit nanti. Tas yang telah disiapkan Zahra itu.. aku akan segera masuk.. kamu jangan panik dulu ya.. "

__ADS_1


"Oke... Alya.. cepat ya"


"ya.... "


Setelah sambungan ponselnya ditutup, Alya langsung mendekati Tian yang sedang bermain dengan anak anaknya.


"Kak Tian.. tolong cepat siapkan mobil, Zahra akan melahirkan"


"Aapaaa.... "


"Zahra mau melahirkan kak... jangan sampai telat seperti aku dulu. Aku mau titip anak anak dengan bibi dulu"


"Baiklah sayang... nanti kamu kekamar ambil dompet kakak.. kakak menunggu di luar langsung "


"Ya.. kak"


"Sayang.. sudah mainnya.. mommy mau ke rumah sakit, aunty akan melahirkan"


"Melahirkan itu apa mommy"tanya Alexa yang cerewet


"Melahirkan itu adalah, keluarnya adik bayi dari perut aunty"


"Alexa mau ikut. Alexa mau lihat adik bayi"


"Nggak boleh sayang... anak sebesar Alexa tak boleh masuk kerumah sakit. Nanti adiknya malu kalau Alexa lihat. Jika sudah lahir, baru mommy jemput Alexa dan Axel buat lihat adik ya.. "


"Ya.. mommy"ucap Axel yang sangat patuh


"Alexa mau adik kecil... "


"Ya.. mau mommy"


"Kalau begitu, tunggu saja dirumah oke.. jika Alexa mau ikut juga.. adiknya nggak mau ketemu dengan Alexa"


"Baiklah mommy.. "ucap Alexa dengan cemberut


"Begitu kan bagus.. anak pintar harus menurut perkataan daddy dan mommy"


Alya segera menemui bibi dan mengatakan semuanya. Sebelum menuju mobil, ia naik kelantai atas menuju kamarnya mengambil dompet Tian.


Setelah itu Alya menuju ruang keluarga dimana Zahra masih menunggu dengan memegang pinggangnya.


"Zahra... mari kak Alya bantu.. "ucap Alya memegang tangan Zahra dan membantunya berjalan menuju mobil.


Setelah Zahra masuk kedalam mobil, Alya masuk kembali mencari Yudha.


"Yudha.. cepat.. kamu lagi ngapain."


Yudha keluar dengan membawa satu tas yang telah disiapkan Zahra.

__ADS_1


"Aku tadi lagi menghubungi klien, meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam meeting kali ini. Untung kliennya mengerti dan mau diwakili dengan asisten aku saja"


"Syukurlah.. sekarang cepat kita berangkat. Aku takut keburu pecah ketuban nya Zahra"


"Mari Alya.. Aku sangat takut dan cemas,Al.. "


"Kamu jangan terlalu cemas, yakinkan semua akan baik baik saja. Jika kamu tampak cemas, Zahra pasti juga ikutan cemas."


Alya dan Yudha berjalan sedikit berlari menuju mobil yang didalamnya sudah duduk Zahra dan Tian di kemudi.


Sebenarnya Alya belum sepenuhnya mengizinkan Tian membawa mobil jika tak ada Yudha mendampingi didepan.


Alya takut kejadian kecelakaan yang pernah menimpa Tian terulang kembali.


Sepanjang perjalanan Yudha tampak sangat gelisah, ia terus memandangi kebelakang tempat Alya dan Zahra duduk.


"Sayang.. bagaimana. Apa nya yang terasa sakit "tanya Yudha


Zahra hanya meringis, karena pinggang dan perutnya terasa makin sakit dan keram.


"Sayang... sakit banget ya.. bagian mana yang sakit.. "tanya Yudha lagi


"Yudha.. orang yang akan melahirkan itu, seluruh badannya akan terasa sakit. Jadi ia pasti tak akan bisa menjawab bagian mana yang terasa sakit"


"Apa kamu juga begitu ketika akan melahirkan Si kembar "


"Tentu saja.. tulang punggung terasa akan remuk rasanya. Dan makin dekat dengan persalinan semua badan makin terasa sakit. Tapi itu akan terobati dengan suara tangisan bayi"


"Sayang... jika kamu sudah tidak tahan sakitnya katakan saja. Lebih baik caesar aja ya"


"Jika bisa normal mengapa harus caesar... aku ingin mencoba lahiran normal dulu"ucap Zahra pelan sambil manahan sakitnya.


Alya yang berada disamping Zahra mengelus perut dan pinggul Alya untuk memberikan sedikit kenyamanan padanya.


Zahra memejamkan matanya untuk meredakan rasa sakit yang dirasakannya.


"Kak Tian.. apa yang kak Tian rasakan ketika Alya akan melahirkan"


"Kamu jangan tanyakan itu. Aku takut membayangkan hari itu. Karena saat Alya melahirkan, aku juga merasakan sakit dan cemas, karena aku takut terjadi sesuatu dengannya. Kamu tahukan Alya ada sedikit masalah ketika melahirkan dan sempat dalam keadaan koma, mana darah Alya termasuk langka. Beruntung anak anakku memiliki golongan darah yang sama denganku dan itu tidak langka. "


Ketika mereka sampai dipelataran rumah sakit, Yudha langsung menggendong Zahra menuju ruang persalinan. Ia memang sudah menghubungi Bumi terlebih dahulu.


Bumi yang lagi sibuk dengan persiapan pernikahannya, meluangkan waktunya buat membantu persalinan Zahra. Pernikahan Bumi akan dilaksanakan dua bulan kedepan.


Ini memang hasil kesepatan mereka. Karena Yudha dan Tian yang meminta pernikahan Bumi diadakan setelah Zahra melahirkan. Mereka tak mau nanti setelah menikah Bumi langsung buka madu, dan meninggalkan Zahra dengan dokter kandungan Lain.


Beruntung keluarga Ani dan Bumi menyetujuinya. Zahra sudah berada di ruang persalinan dan Bumi dibantu perawat juga telah berada di dalam.


************************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2