
Hari ini Yudha sudah janji dengan Bumi untuk cek kesehatan rahim Zahra.
Yudha melihat Zahra yang masih tertidur dengan pulasnya, pergi mandi terlebih dahulu sebelum membangunkan istri tercintanya.
Sehabis mandi Yudha masih melihat Zahra tertidur.
"Tumben tidurnya pulas banget. Biasanya Zahra yang bangun duluan. Apa tadi malam Zahra nggak bisa tidur. Apa masih terasa mual... "
Yudha naik ke ranjang dan tidur menyamping menghadap Zahra...
"Sayang... aku tak pernah mengira aku akan mencintai kamu sebesar cinta ku saat ini. Aku pikir aku tak akan pernah jatuh cinta lagi setelah cintaku dengan Alya pupus. Kamu telah membuka pintu hatiku dengan segala kesederhanaan dirimu.. aku mencintai dirimu yang apa adanya... Kamu mampu menghapus dan menghilangkan semua rasa cintaku pada Alya... aku sangat mencintaimu.. jika ditanya mengapa aku bisa jatuh cinta denganmu, aku tak akan pernah bisa menjawabnya... karena jatuh cinta tidak memerlukan logika.... "
Yudha mengecup dahi,mata ,pipi dan bibir Zahra untuk membangunkan istrinya itu.
Karena Zahra tidak bergerak juga ia langsung melum*t bibir mungil istrinya, membuat Zahra membuka matanya.
"Morning kiss... "ucap Yudha tersenyum
Zahra melihat wajah Yudha dengan cemberut karena menahan rasa mualnya. Ia langsung bangun dan berlari ke kamar mandi.
Yudha mendengar suara muntahan Zahra menjadi kuatir. Untung pintu kamar mandi nggak dikunci, jadi Yudha bisa masuk.
"Sayang... kenapa.. muntah lagi ya"ucap Zahra sambil memijat tengkuk Zahra pelan.
Setelah ia melihat Zahra sudah agak enakan. Ia membasuh mulut dan wajahnya Zahra. Lalu menggendong ketempat tidur.
"Kamu kenapa sih sayang... gara gara aku cium ya.. memang mulut aku bau ya. Perasaan tadi aku sudah sikat gigi deh.. "ucap Yudha yang berlutut dihadapan Zahra sambil memegang paha Zahra
"Mas.. maaf. Bukan karena kamu mencium kok aku muntah"
"Jadi karena apa sayang... "
"Nggak tahu.. aku juga sering mual dan muntah sudah seminggu ini.. "
"Apa kamu hamil sayang... Alya pertama hamil juga sering muntah muntah"ucap Yudha dengan penuh kegembiraan
"Aku nggak tahu... aku takut nanti hasilnya negatif lagi. Seperti tiga bulan yang lalu, ternyata cuma asam lambung aku aja yang lagi naik"
"Sayang.. kamu jangan merasa bersalah begitu. Aku sudah sering berkata... aku menikahimu bukan hanya karena mengharapkan keturunan.. tapi karena aku memang benar benar mencintaimu.. "
"Tapi mas... setiap lelaki pasti menginginkan keturunan darinya"
"Aku pengecualiannya... kamu harus percaya ada atau tanpa keturunan dari rahimku.. aku akan tetap mencintaimu dan tak akan meninggalkan kamu kecuali kamu yang pergi dan meninggalkan aku.... "
__ADS_1
"Mas... aku tak pernah bermimpi mendapatkan lelaki seperti kamu, kamu sangat baik dan sempurna.. tapi mau menerima aku yang penuh dengan kekurangan. Aku kadang kadang merasa takut semua yang aku jalani saat ini adalah hanya mimpi dan ketika aku terbangun.. kamu sudah pergi meninggalkan aku "ucap Zahra terisak
"Sayang... aku yang beruntung memiliki kamu. Kamu yang dengan kesederhanaan dan apa adanya mampu membuat aku jatuh cinta kembali, aku yang tak pernah mengira akan kembali jatuh cinta dapat kamu taklukan dengan kepolosanmu... "
"Mas... mama sangat mengharapkan keturunan darimu. Aku takut tak bisa mewujudkan keinginan mama"
"Mama hanya mengharapkan... tidak memaksa kamu memberi keturunan... karena mama juga sudah memiliki cucu. Dan juga kamu jangan sedih dan menangis lagi.. jika memang hasilnya kali ini masih negatif.. kita masih bisa mengusahakan sampai kamu menopause."
"Kamu tak akan kecewa kan nantinya... "
"Tidak akan sayang... kita periksa sekarang ini untuk kesehatan kamu... jika memang positif ya alhamdulillah banget"
Zahra menangkup pipi Yudha yang berlutut didepannya dan mengecup bibir suaminya itu.
"Sayang... terima kasih atas cintamu yang sangat besar padaku.. "
"Apa kamu bilang tadi... kamu panggil aku apa... "
"Nggak ada.. "ucap Zahra malu
"Ayo dong sayang... ulangi sekali lagi.. "rengek Yudha
"Malu ah.. "
"Sayang... "lirih Zahra
Yudha langsung mengecup bibir Zahra lembut.
"Sekarang kamu mandi ya.. aku tunggu di meja makan. Setelah sarapan kita langsung kerumah sakit.. "
"Mas... aku malas mandi.. aku ganti pakaian aja ya.. "
"Apa.... nggak mau mandi "
"Iya.. malas.. "
"Nanti bau dong sayang.. kamu nggak malu sama Kak Bumi.. Sini aku gendong ke kamar mandi.. biar aku mandiin sekalian.. "
"Nggak mau ah.... nanti kamu bukannya mandiin... tapi kamu minta itu lagi.. "ucap Zahra dengan manyun
"Kamu tahu saja.. tapi betul nih.. biar aku mandiin ya.. "ucap Yudha dengan tangannya yang mulai membuka pakaian Zahra.
"Nggak mau.. nanti kamu jadi pengin.. Mandinya jadi lama... "
__ADS_1
"Aku gendong saja ya ke kamar mandi"ucap Yudha dan langsung menggendong Zahra ke kamar mandi.
"Sekarang kamu mandi nggak pakai lama ya. Nanti masuk angin.. muntah lagi"ucap Yudha dan mengecup dahi Zahra sebelum keluar dari kamar mandi.
Sampai dipintu kamar mandi Yudha kembali membalikan badannya..
"Kamu yakin nggak mau aku mandikan"
"Nggak mas.. kamu keluarlah cepat.. aku mau mandi nih"
"Memangnya kenapa kalau aku disini melihat kamu mandi.. "
"Malu lah mas... "
"Aku juga sudah sering melihat semuanya sampai aku hafal dimana saja letak tahi lalatmu"
"Tapi tetap saja aku malu kalau mas disitu memperhatikan aku mandi"
"Kamu.. ternyata sangat pemalu.. aku tunggu di kasur saja ya... "
Yudha menunggu Zahra sambil tiduran dan bermain ponsel.
Setelah Zahra berpakaian mereka menuju meja makan berdua dengan tangan Yudha yang melingkar di pinggang Zahra.
Setiap berjalan.. baik dirumah atau dimanapun ia berada.. tangannya tak pernah lepas dari pinggang Zahra. Terkadang Zahra yang mereka risih.. misalnya lagi di panti asuhan.. ia akan tetap memeluk Zahra walau didepan bunda dan adik adik yang lainnya.
Yudha memang tampak sangat mencintai Zahra. Itu terlihat dari semua sikapnya pada Zahra.
"Sayang... makannya pelan, jangan terburu buru begitu.. Kak Bumi pasti akan tetap menunggu walau kita datang sedikit telat"
"Lapar mas.... "
"Lapar apa doyan sih.. lihat sampai habis dua mangkuk soto nya"
"Dua duanya... lapar ya.. doyan juga"
"Kamu nih.. lucunya. Besok minta buatkan lagi sama bibi ya kalau kamu suka"ujar Yudha sambil mengusap sayang kepala istrinya
Zahra menganggukkan kepala dengan tetap menyantap makanan dengan lahapnya. Yudha yang melihatnya menjadi sedikit heran, akhir akhir ini kok selera makan Zahra makin bertambah ya.. pikir Yudha.
*************************
Terima kasih buat semua readers..
__ADS_1