
Tian menunggu di luar ruang UGD dengan gelisah. Yudha yang berdiri tak jauh dari Alya juga merasa sangat cemas.
Dokter keluar dari ruangan setelah beberapa saat...
"Keluarga pasien yang mana"dokter
"Saya dok.... "jawab Tian dan Yudha serempak
"Yang mana bisa mewakilinya... ikut keruangan saya"Dokter
Tian dan Yudha berjalan di belakang dokter, mengikuti kemana langkah dokter menuju ruangannya.
"Kenapa kamu..... "Tian
"Aku juga harus tahu keadaan Alya"Yudha
"Tak perlu kamu tahu... ini semua karena salahmu kan"Tian
"Aku tak sengaja... aku tak bermaksud melukainya"Yudha
"Ya aku tahu....kamu berniat membunuhku... tapi sayang, kamu malah menyakiti wanita yang kau sebut kekasihmu"Tian
"Silahkan masuk pak.... "ucap dokter yang membuat kedua kakak beradek itu berhenti berdebat.
Mereka berdua masuk dan duduk dihadapan dokter.
"Gimana keadaan Alya dok... "tanya Yudha tak sabar.
"Pasien telah melewati masa kritis. Untung pisau yang menancap di punggungnya tidak terlalu dalam. Jadi tidak. sampai mengenai alat vital ditubuh"dokter
__ADS_1
"Sukurlah dok.... jadi sekarang gimana Alya."Yudha
"Tunggu sebentar lagi... akan kami pindahkan keruang inap"dokter
Tian memandang dengan sinis ke arah Yudha. Karena ia selalu bertanya sebelum Tian membuka suaranya
"Tapi saya ingin memberi kabar gembira.... oh ya suami pasien yang mana"Dokter
"Saya..... "kembali Tian dan Yudha menjawab serempak.
"Apa...... "dokter itu kaget karena mengira Alya memiliki dua suami
"Saya suaminya dan ini adik saya"ujar Tian
"Oh... saya... kira... "dokter itu menghentikan ucapannya
"Maksud anda.... ia lagi hamil sekarang"ujar Tian gugup
"Ya.... anda sebagai suami harus menjaganya, karena kehamilan muda sangat rentan dengan keguguran. Jangan membuat pasien stres dan bekerja keras. "dokter
"Oh... baik dok"Tian
Yudha yang mendengar Alya hamil menjadi lemas.
"Jadi sekarang Alya lagi mengandung anak kak Tian. Apa aku masih bisa merebutmu dari kak Tian. Aku sangat mencintaimu Alya, jika kau mau meninggalkan kak Tian... aku bersedia menerima kamu dan anakmu"bathin Yudha
Yudha keluar,meninggalkan ruangan dokter tanpa tenaga. Ia tak sanggup mendengar lagi penjelasan dari dokter.
Ia masuk ke ruang UGD, dan ternyata Alya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Ia bertanya di mana kamar Alya dan menghampirinya.
__ADS_1
Yudha melihat Alya belum sadarkan diri.
Ia duduk disamping ranjang dan memegang tangan Alya
"Alya.... maafkan aku. Mengapa kamu begitu nekatnya membela kak Tian sampai mengorbankan dirimu. Alya.. bangunlah. Aku sangat mencintaimu"Yudha berkata pelan sambil menangis.
Tian masuk ke ruang rawat inap itu dan melihat Yudha memegang tangan Alya sambil sesekali mengecupnya.
"Kau boleh pergi sekarang. Jangan sampai aku berbuat lebih... kau tak mau aku melaporkan ke polisi bukan... "ancam Tian
"Jadi kau ingin memenjarakan aku. Agar aku tak bisa mendekati Alya lagi"Yudha
"Kau udah dengar tadikan... Alya lagi mengandung anakku... Jadi kau jangan coba coba mendekatinya dan melukainya. Aku tak ingin anak dalam kandungan Alya celaka. "Tian
"Apa kau sekarang menjelma jadi calon suami atau ayah yang baik. Kalau kau memang menganggap Alya selama ini istrimu, mengapa kau menempati ia bukan di kamar mu tapi di kamar pelayan. Jadi sekarang mengapa kau tiba tiba perduli. Apa karena ia lagi hamil,kau hanya menginginkan anakmu bukan Alya kan"Yudha
"Jangan banyak omong... aku lagi tak ingin berdebat"Tian
"Mengapa kau perlakuan Alya hanya sebagai pelayan nafsumu aja. Aku bersedia bekerja denganmu sebagai pelunas hutangnya, lepaskan Alya. Biarkan ia kembali padaku. Aku akan memberi anakmu setelah ia lahir. Bukankah kamu hanya peduli dengan calon anakmu itu" Yudha.
"Kau mau keluar sendiri dari ruangan ini atau... mau dipaksa polisi keluar "Tian
"Baik... sekarang aku keluar. Tapi aku akan datang kembali.. menjemput Alya ku" Yudha keluar dari ruangan itu dengan kesal.
************************
Jangan lupa like... koment dan vote
Terima Kasih
__ADS_1