Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 10 Season Dua


__ADS_3

Yudha pulang dengan membawa nasi padang permintaan Zahra. Ia memebelinya dua bungkus, yang satu dengan lauk rendang saja.


"Sayang... itu nasi Padang nya sudah aku belikan"ucap Yudha membangunkan Zahra yang tertidur karena menunggu Yudha


"Sayang... bangun, nanti keburu dingin nggak enak lagi.. "ucap Yudha sambil mengecup pipi Zahra


"Mas... sudah pulang"


"Sudah.. itu nasi nya udah mas beliin"


"Ada lauk gulai babat sapi nya mas... "


"Ada.. buat kamu akan mas cari sampai dapat"


"Terima kasih mas... "


"Jangan bilang terima kasih.. kayak sama orang lain saja. Itu semua untuk kamu dan calon bayi ini.. "ujar Yudha sambil memegang perut Zahra yang masih rata


"Ayo mas.. aku sudah lapar"


Zahra dengan cepat turun dari ranjang, ia tak sabar ingin menyantap pesanannya.


"Sayang... pelan pelan.. nggak usah terburu buru begitu.. kamu harus ingat... sekarang di dalam rahim kamu sedang tumbuh calon bayi kita"


"He.. eh.. aku lupa. Habis lapar mas.. "ucap Zahra dengan mimik lucu


"Kamu tuh gemesin aku aja... "ucap Yudha sambil mencubit pelan pipi Zahra


Zahra membuka bungkusan nasi Padangnya. Ia memakan nya dengan lahap. Lauk yang diminta Zahra daging sapi rendang dan gulai babat sapi.


"Enak banget ya... "ucap Yudha.


Tian keluar dari kamar dengan Alya setelah menidurkan si kembar.


"Kak Tian.. ini ada nasi Padang lauknya rendang sapi.. kesukaan Kak Tian, makanlah ..nanti keburu dingin "


"Tumben Lu ingat beliin gue tanpa gue pesan"


"Kak Tian.. aku ini adik yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung loh"


"Baik hati...rajin menabung...pelit iya.. "


"Mana ada aku pelit.. semua yang Zahra inginkan aku beliin loh"


"Keinginan Zahra ajakan... kalau keinginan yang lain apa pernah Lu beliin"


"Keinginan siapa.. kalau keinginan Kak Tian.. ngapain aku beli, Kak Tian kan uangnya lebih banyak dari aku"


"Itulah gue bilang... Lu pelit.. makanya tabungan Lu banyak"

__ADS_1


"Sudah ah.. makan aja sambil bertengkar.."ucap Alya.


"Mas.. coba deh babat ini... enak banget"ujar Zahra menyodorkan sendoknya ke mulut Yudha


"Kamu saja deh sayang makannya... nanti kamu nggak kenyang"tolak Yudha


"Aku sudah kenyang sayang. kamu habisan nasi ini ya.. "


"Tapi aku sudah makan sayang.. "


"Kapan kamu makan.. kamu aja waktu kami makan siang pergi beli nasi Padang ini"


"Betul sayang mas sudah kenyang... "tolak Yudha. Ia tidak menyukai babat karena pernah melihat langsung orang membersihkan itu, membuat ia geli


"Kamu nggak mau karena ini sendok bekas aku ya.. "


"Bukan sayang... oke aku makan nih.. "ucap Yudha, ia menyuap nasi itu dengan rendang sapi.


Tian dan Alya yang sudah tahu jika Yudha tidak menyukai babat tersenyum melihat ke arah Yudha.


Yudha yang tahu sedang ditertawakan mendelikan matanya.


"Napa... Lu marah sama gue... Zahra.. Yudha kok nggak mau menyentuh babatnya"goda Tian


"Mas.. nggak suka babat.. kenapa"


"Mengapa tak di makan, kok cuma rendang sapi nya aja yang di makan"


Tian menyuapi Alya nasi Padang yang dimakannya.


"Kak Tian walau sudah punya anak masih romantis dan sayang dengan kak Alya.. "lirih Zahra


"Kamu mau aku suapin juga... "tanya Yudha, dan menyuapi Zahra


"Zahra... Yudha mau kamu suapi juga tuh. Dengan Lauk babatnya.. "


"Ya.. mas. Sini aku suapin mas juga.. "


Yudha yang tak mau menolak karena takut Zahra sedih akhirnya memakan babat itu. Tapi baru saja ia mengunyah kembali ia teringat semuanya, ia menjadi mual. Dan langsung berlari ke kamar mandi.


Setelah memuntahkannya di kamar mandi, ia kembali lagi duduk. Tian yang melihat wajah Yudha pucat karena habis muntah tak bisa menahan tawanya.


"Bagaimana... enakan babatnya....hha... ha.. "


"Mengapa Kak Tian tertawa... "


"Zahra... Yudha tuh nggak suka babat sapi sebenarnya, tapi ia takut menolak, takut kamunya kecewa dan marah.. "Ujar Alya


"Benar mas.. "

__ADS_1


Yudha hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mengapa mas tak jujur saja... jika tahu gitu, aku tak akan memaksanya tadi"


"Aku nggak mau nanti kamu sedih kalau aku tak memakannya... "


"Maafkan aku mas... "


"Tak apa sayang.. apapun yang membuat kamu senang walau aku tak menyukainya akan tetap aku lakukan"


"Dasar bucin.... "ucap Tian dan kembali menyuapi Alya


"Enak banget ya mas... beli di mana kamu Yudha.. kata Kak Tian kamu nggak akan tahu rumah makan Padang yang enak masakannya"


"Sembarangan Kak Tian.. aku yang lebih tahu dari Kak Tian... Kalau Kak Tian lebih tahu masakan eropa.. karena sering membawa klien makan.... "


"Aku juga tahu kok rumah makan Padang yang enak ya... apa yang aku tak tahu"


Setelah menyantap makanan mereka kembali ke kamar mereka masing masing.


"Kak Tian.. tampaknya Yudha sangat menyayangi Zahra dan calon bayinya . Aku harap kehamilan Zahra tidak ada masalah sampai kelahiran nanti"ucap Alya sambil tidur di dada Tian


"Aku juga berharap begitu.. aku takut nanti Yudha yang sangat mengharapkan keturunan Kecewa jika terjadi sesuatu pada kandungan Zahra "


"Itulah sebabnya aku meminta Zahra tinggal disini, biar bisa mengawasi Zahra sekalian.. "


"Sayang... kamu memang istri yang baik. Kamu selalu saja perhatian dengan orang orang sekitar kamu. Perhatian kamu bukan hanya buat aku dan anak anakmu saja.. tapi juga buat orang orang yang ada disekeliling kamu, termasuk Bumi. Aku tahu saat ini kamu sedang berusaha membodohkan Ani dan Bumi"


"Ani wanita baik dan juga Bumi lelaki yang baik, jika mereka berjodoh itu sangat menyenangkan. Aku masih akan bisa tetap dekat dengan Ani.. "


"Bumi itu orangnya penyayang, dan perhatian, jika Ani memang berjodoh dengan Bumi, ia termasuk wanita beruntung."


"Semoga saja mereka berjodoh ya Kak.. aku cuma mengenalkan selanjutnya itu terserah mereka dan semunya juga tergantung takdir mereka, apakah mereka memang berjodoh atau bukan itu rahasia Tuhan.. "


"Kita buat adik buat si kembar ya sayang... "rayu Tian dan mulai mengecup leher Alya


"Kak Tian.. ini masih siang.. "


"Memang ada larangan ya jika buat anak itu harus malam hari.. "


"Memang nggak ada larangan Kak... tapi ini masih siang, nanti jika tiba tiba Alexa dan Axel pengin masuk bagaimana"


"Diamkan saja dulu... paling nanti bibi kira kira tidur"ucap Tian dan mulai membuka baju Alya.


Setelah semua pakaian Alya telah dilecutinya, Tian mulai penyatuan tubuh mereka. Habis mencapai pelepasan, Tian membawa Alya tidur dipelukannya tanpa mengenakan pakaian mereka.


**************************


Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini.

__ADS_1


__ADS_2