Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 82...Perasaan Yudha (visual Yudha)


__ADS_3

Setelah beberapa saat berbincang dengan keluarganya, Tian berdiri meminta izin pamit dari pesta.


"Mama... tante Reni dan semuanya.. Tian pamit mau bawa Alya dulu ya.. "


"Mau kemana kamu...pesta belum berakhirkan"ucap mama Mega


"Tian mau bawa Alya ke suatu tempat... mama bisa menggantikan Tian buat menjamu para tamu kan.. "


"Memangnya kita mau kemana kak.. "


"Ke suatu tempat... yang menyenangkan dari pada disini membosankan... "ucap Tian sambil tersenyum memandang kearah Alya


"Kamu jangan macam macam ya sama Alya... jika tante tahu kamu melakukan hal yang jelek pada Alya... kamu berhadapan dengan tante... ancam tante Reni


"Waduh... hebat ya Alya.. baru beberapa jam aku lamar sudah ada pembelanya"


"Tante tahu siapa kamu... dan tante juga dapat tahu gimana Alya walau baru beberapa kali ketemu... awas kamu rusak Alya sebelum menikahinya... "tante Reni kembali mengancam membuat keluarga yang lain tertawa,karena semua tahu bagaimana kelakuan Tian dahulunya.


"Baik tante... paling mesum mesum dikit tak apakan.. Tian juga kan lelaki normal... "Tian berdiri dan membawa Alya pergi dari keluarganya...


Tian melajukan mobilnya dijalanan menuju suatu tempat...


"Mau kemana kita kak... "tanya Alya masih belum tahu tujuan Tian membawanya pergi


"Mau pergi ke tempat yang hanya ada kita berdua"


Setelah hampir dua jam perjannan, Sampailah mereka ditempat tujuan. Tian membawa Alya masuk. Ternyata Tian membawa Alya ke sebuah resort di tepi pantai yang pemandangannya sangat indah.


Tian membawa Alya masuk ke salah satu kamar yang berhadapan langsung dengan pantai...


"Indah sekali kak... pemandangan disini... "Alya berdiri di pembatas balkon kamar itu.


Tian membuka jas nya dan mengenakan ke bahu Alya...


"Seindah wajahmu.. "bisik Tian.


Tian berdiri dibelakang Alya sambil memeluk perutnya dan meletakan kepalanya di bahu Alya.


"Alya... terima kasih karena mau menerimaku kembali... aku sangat mencintaimu"lirih Tian


Alya membalikan badannya menghadap Tian dan melingkarkan kedua lengannya dibahu Tian..


"Kak... Aku juga berterima kasih atas semua yang kak Tian lakukan buatku... dan cinta yang kak Tian berikan... aku juga mencintai kak Tian"Tian mengecup dahi Alya.


Tian membawa Alya masuk ke kamar karena udara di balkon yang swmakin dingin.


"Tidurlah.. kak Tian membawamu kesini hanya ingin menghabiskan waktu malam ini berdua denganmu... "


Alya merebahkan dirinya dikasur diikuti dengan Tian. Ia tidur dengan lengan Tian sebagai bantalnya


"Alya... aku ingin kita secepatnya menikah.. "


"Kak... apa nanti jika kita menikah aku masih boleh kuliah.. "


"Kenapa... kamu mau melanjutkan kuliahmu"


"Ya.. aku sudah mendaftar di salah satu perguruan tinggi, mengambil kelas khusus buat pekerja. Kuliahnya di malam hari"


"Kalau kuliahnya malam... ntar kamu kecapean. Pagi harus kerja... malam kuliah... pulang kuliah aku kerjain lagi sampai pagi"


"Emang kakak mau ngerjain aku apa... "


"Kalau kita sudah nikah... aku mau ngerjain kamu sampai pagi buat melayaniku"ucap Tian sambil mencubit hidung Alya


"Kak Tian pikirannya mesum aja... "Alya menyembunyikan wajahnya di dada Tian.


"Sekarang tidurlah... aku hanya ingin tidur sambil memelukmu... "


"Aku belum mau tidur... belum ngantuk"


"Kamu tahu... kalau lama kamu tidur... kak Tian takut ada yang bangun. Jadi cepatlah tidur... "


"Siapa yang bangun kak... "


"Adek kecil kakak... "ucap Tian sambil nyengir

__ADS_1


"Kak Tiaannn.... "Alya segera memejamkan matanya. Tertidur di dalam pelukan Tian.


Setelah Alya tidur, Tian beranjak dari kasur pindah ke sofa. Ia takut khilaf jika tidur seranjang dengan Alya..


Ketika subuh.. Alya terbangun mendengar suara ponsel Tian yang berada di atas meja samping tempat tidurnya..


"Kak Tian mana ya... ini ponselnya dari tadi berdering. "


Alya melihat kesekeliling kamar ...tampak Tian yang tidur di sofa..


"Kak Tian lagi tertidur.. nyenyak banget kelihatannya.. kapan kak Tian pindah ke sofa ya"gumam Alya


Ponsel Tian kembali berdering... Alya melihat nama penelpon... Tertera nama yudha. Alya akhirnya mengangkat ponsel Tian


"Lama banget sih kak ngangkatnya... molor melulu"


"Maaf yud... ini aku... Alya. Kak Tiannya ketiduran.. "


"Kamu bersama kak Tian"


"Ya... "


"Dimana... berdua saja... . "


"Yudha... ini tak seperti yang kamu bayangkan"ucap Alya sedikit gugup


"Memang aku membayangkan apa... kamu tahu"


"Nggak... maksudku.. kami memang pergi berdua... tapi kak Tian tidur di sofa kok"


"Kenapa kamu harus menjelaskannya.. apapun yang akan kamu lakukan berdua dengan kak Tian itu terserah kalian..


kalian sudah sama sama dewasa. Gimana acaranya... lancar. Mulai hari ini aku harus memanggilmu kakak ipar dong"


"Yudha kamu tahu kak Tian akan melamarku ya.. dan aku belum menikah dengan kak Tian... mengapa panggilnya kakak ipar... panggil nama saja"


"Ya aku tahu.. kak Tian yang memberitahukan padaku.. kalian akan menikah jugakan nantinya.. ... "


"Yudha... maafkan aku"


"Maaf buat apa... kamu tak ada salah.. "


"Sudahlah... aku tahu kamu dan Tian sudah saling mencintai dari kalian menikah dulu.. tapi egolah yang membuat kalian malu mengakuinya... aku senang kamu yang menjadi pendamping kak Tian... kamu bisa mengimbangi sikap kerasnya kak Tian.. "


"Terima kasih Yud... aku mendoakan kamu mendapat wanita yang baik seperti dirimu yang baik... "


"Aku sebenarnya masih mencintaimu Alya... tapi aku sadar cinta kak Tian lebih besar padamu... aku merelakan kak Tian buatmu... karena aku yakin kau akan bahagia bersama kak Tian... "


"Yudha... maafkan aku dan kak Tian jika kami membuatmu kecewa... "


"Jangan sungkan gitu... aku sudah rela melepaskanmu... sekarang aku hanya tinggal menata hatiku untuk dapat melupakanmu... "


"Yudha... aku harap kita akan melupakan semuanya... karena cerita itu hanyalah masa lalu... aku yakin kamu pasti bisa melupakanku dan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku... "


"Semoga saja aku bisa melupakanmu secepatnya.. agar aku dapat kembali ke Jakarta lagi"


"Yudha... jangan bilang kalau kamu sengaja ke luar negeri buat menghindari ku"


"Ya... aku memang menghindarimu. Sejak ku tahu kak Tian makin dekat denganmu... aku melarikan diri ke sini... aku tak mau hatiku kembali menginginkanmu... aku harus benar benar bisa melepaskanmu. Karena aku sudah merelakanmu buat kak Tian sejak kak Tian menyusulmu ke Singapura. "


"Yudha... maafkan aku"Alya tak bisa menahan air matanya lagi..


"Jangan menangis... nanti kak Tian bangun.. bisa salah paham jadinya... mulai hari ini aku sudah bertekad akan melupakanmu... terima kasih karena pernah singgah di hatiku... "Yudha menutup sambungan ponselnya.



Tian yang sejak tadi telah bangun, mendengar semua pembicaraan Alya. Ia kembali berpura pura tidur.


Alya meletakan ponsel Tian kembali. Ia mendekati sofa dimana Tian tidur. Dan berlutut di samping Tian tidur sambil memegang wajah Tian..


"Kak Tian... aku mencintai mu... aku tahu aku telah melukai hati Yudha dengan lebih memilih bersamamu... semoga pilihanku bersamamu adalah pilihan yang tepat... "Alya memandangi wajah Tian yang tampak tenang


"Kamu tidur terlihat lebih tampan... "ucap Alya sambil mengelus wajah Tian.


Tian menangkap tangan Alya ...

__ADS_1


"Sudah puas memandangi wajah kak Tian... baru sadar kalau kakak tampan... "Tian membuka matanya sambil tersenyum


"Sejak kapan kak Tian bangun... "


"Sejak kamu bilang kak Tian tampan... "ujar Tian berbohong


"Bohong... Alya tadi cuma bohong kok"ucap Alya malu dengan pipi yang memerah. Alya berdiri, ingin pergi dari Tian... tapi pergelangan tangannya ditarik Tian membuat Alya terjatuh diatas tubuh Tian..


"Diam... jangan meronta. Biarkan kak Tian memelukmu sebentar... "


Alya kembali meronta mencoba bangun dari dekapan Tian. Ia merasa kurang nyaman berada diatas tubuh Tian


"Kak Tian lepasin... Alya mau mandi"


"Kak Tian bilang diam... jangan banyak bergerak.. karena kamu bisa membangunkan adek kecil kakak"bisik Tian


"Kak Tian... mesum banget"


Tian bangun dari tidurnya dan memangku Alya di pahanya...


"Kak Tian bantu mandiin ya... "ucap Tian sambil memeluk Alya erat. Ia mencoba meredakan gairahnya.. karena Tian merasa sedikit pusing menahan hasratnya untuk memcumbui Alya.


"Nggak... emang aku anak kecil yang harus dimandiin... "Alya mencoba melepaskan pelukan Tian..


"Alya... kita nikah besok aja ya.. "ucap Tian tak mau melepaskan pelukannya.


"Kak Tian.. nikah bukan buat main main... harus ada persiapan yang matang ..."


"Tapi kak Tian sudah nggak tahan.. kak Tian takut kalau lama lama jadi khilaf... "Tian menciumi tengkuk Alya


"Kak Tian.. geli ah.. "


Tian tak menghiraukan ucapan Alya... ia mulai menjilati.. menghisap dan menggigit kecil leher Alya... ia tidak bisa menahan hasratnya lagi... Alya yang mulai menyadarinya secepatnya bangkit dari pangkuan Tian..


"Alya mau mandi... "ucap Alya begitu terlepas dari pelukan Tian. Ia langsung masuk kekamar mandi dan menguncinya.


Tian menarik nafasnya dengan kasar...


"Alya.... aku menginginkan kamu dan tubuhmu..."lirihnya pelan sambil menarik rambutnya frustrasi.


Alya yang baru menyadari kalau ia tak membawa pakaian.. tak jadi mandi. Ia hanya membersihkan dirinya seadanya... menyikat gigi dan mencuci wajahnya..


Setelah selesai Alya keluar dari kamar mandi perlahan. Ia tak melihat Tian di kamar. Alya mencoba mencari keberadaan Tian yang ternyata di balkon sambil merokok...



"Kak... kapan kita kembali... "


"Sebentar lagi ya... sinilah duduk dekat kak Tian"


"Kak Tian merokok... aku nggak suka bau asap rokok"


Tian mematikan rokoknya...


"Kak Tian hanya sesekali merokok... tadi hanya karena kak Tian ingin menghilangkan sesuatu keinginan... "ucap Tian sambil nyengir


"Kak Tian nggak boleh sering merokok... tak baik untuk kesehatan "


"Kalau kamu tak mau kak Tian merokok... kamu harus cepat nikah dengan kak Tian... "


"Ya... Aku mau menikah dengan kak Tian... tapi bukan harus besok juga kan kak... "


"Bagaimana jika bulan depan... "Tian mendekat kearah Alya berdiri dan memeluknya


Alya menganggukan kepalanya setuju..


"Tapi aku nggak mau mengundang banyak orang... yang sederhana saja"


"Alya... aku ini seorang pengusaha... bagaimana mungkin tak mengundang banyak orang... ..mengapa kamu tak mau pesta besar.. kamu takut ada hati yang terluka melihat kebahagiaan kita... "


"Bukan kak... Alya rasa hanya buang buang uang saja mengadakan pesta besar"


"Nanti kita pikirkan lagi... sekarang kak Tian mandi dulu... lama lama disini buat kepala kak Tian pusing.. "


Tian masuk ke kamar mandi dan mandi sambil meredakan hasratnya.. Setelah sarapan mereka meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


**************************


Terima kasih tetap setia membaca dan menunggu novel ini..


__ADS_2