
Setelah sekian menit membuka matanya, Tian kembali memejamkannya. Pengaruh obat masih membuat matanya mengantuk.
Alya terbangun ketika pagi menjelang. Ia melihat Yudha yang tertidur di sofa
"Yudha.. kamu bilang akan menjaga kak Tian, nyatanya kamu juga ikutan tertidur"gerutu Alya.
Ia mendekat ke tempat tidur Tian dan duduk ditepi ranjang,ia kembali memegang tangan Tian...
"Kak... sadarlah. Mengapa kak Tian belum juga membuka mata... apa kak Tian masih marah"lirih Alya
"Alya... kamu sudah bangun rupanya. Apa kak Tian sudah sadar "
"Belum Yud... dokter bilang kak Tian akan sadar setelah tiga belas jam paska operasi, seharusnya subuh kak Tian sudah sadar... "
"Tunggu sebentar lagi,visite dokter ,kita bisa bertanya dengan dokternya"
"Ya.... Yudha... aku mau keluar sebentar. Kamu jangan tinggalin kak Tian ya.. jangan tidur, nanti kamu nggak tahu kak Tian sadar"
"Kamu mau kemana... "
"Aku mau ke supermarket... pengen beli mangga... dari kemaren aku pengen makan mangga"
"Kamu dari kemarin belum makan kata mama, seharusnya kamu isi perutmu dengan makanan dulu"
"Aku lagi nggak ada selera makan... ingat ya jangan tinggalin kak Tian. Aku mau pergi"
"Hati hati... jangan jauh jauh. Supermarket samping rumah sakit aja"
"Hhmmm.... "
Alya pergi meninggalkan rumah sakit menuju supermarket. Ia ingin membeli buah buahan yang banyak. Karena ia hanya ingin makan buah saja.
Sementara di lorong rumah sakit tampak seorang wanita berjalan kearah ruang rawat Tian.
Tian yang sudah sadar, membuka matanya. Ia melihat Yudha yang duduk disampingnya. Tian melihat kesekeliling mencari keberadaan Alya.
"Kak Tian kamu sudah sadar, syukurlah "
"Dimana Alya.. Mengapa kamu yang disini, kamu bilang tak akan kembali lagi ke kota ini"
"Alya pergi ke supermarket, Jangan mengajak berdebat kak, kamu baru sadar, aku kesini juga karena kamu sakit"
"Karena aku sakit, apa karena ada yang kamu rindukan"Tian jadi ingat ketika ia baru sadar subuh tadi, Yudha yang memandangi Alya dengan intens.
"Maksud kak Tian apa"
Tian akan menjawab perkataan Yudha tapi suara pintu yang dibuka menghentikan perdebatan mereka. Tampak seorang wanita menuju kearah mereka..
"Selamat Pagi Tian... Yudha..."
"Kak Sandra... dari mana tahu kak Tian sakit"tanya Yudha
"Kamu lupa ya... rumah sakit ini juga ada saham orang tua kak Sandra"
"Tian... apakabar... "
"Seperti yang kau lihat"
"Sudah lumayan lama tak bertemu, kangen juga"
"Tapi aku nggak kangen"jawab Tian ketus
__ADS_1
"Jangan bicara terlalu jujur begitu Tian... "
"Mengapa aku harus bohong, memang aku tak pernah merindukanmu"
"Kak Sandra,aku tinggal sebentar ya"Yudha keluar,ia ingin mencari Alya. Ia tak mau Alya melihat kedatangan Sandra.
Baru saja beberapa langkah dari kamar, Alya sudah tampak
"Yudha... mengapa kamu tinggalin kak Tian... aku sudah bilangkan jagain kak Tian"Alya berjalan cepat menuju kamar Tian. Tangannya ditahan Yudha.
"Nanti saja Alya... sebentar, temani aku ke kantin"
"Jangan macam macam Yudha, aku harus jagain kak Tian"Alya menepis tangan Yudha dan bergegas masuk ke kamar rawat inap Tian tanpa dapat Yudha cegah. Yudha menunggu diluar ruangan, ia tak mau melihat pertengkaran.
Alya sangat kaget melihat Sandra yang berdiri disamping ranjang Tian,ia menepis rasa cemburunya dan mendekati Tian
"Kak Tian... kakak sudah sadar"ucap Alya sambil memegang pipi Tian.
"Sudah... Alya bisa tinggalin kami sebentar"ucap Tian yang membuat Alya sangat terkejut. Ia ingin memeluk suaminya yang baru sadar ,tapi Tian mengusirnya.
Alya keluar dengan muka sedih... Sandra tersenyum melihat Alya yang diusir Tian.
"Sandra...dengarkan omonganku dan ingat selalu yang akan aku katakan...."
"Memangnya kamu mau mengatakan apa"potong Sandra
"Aku harap kamu jangan pernah menampakan wajahmu dihadapanku lagi, anggap kita tak pernah mengenal. Aku tak mau istriku nanti jadi salah paham. Aku sudah punya istri, jadi aku tak mau ada hubungan apapun dengan mantan mantanku. Aku tadi meminta Alya keluar, karena aku tak mau ia mendengar aku berkata kasar pada wanita. Karena Alya wanita yang lembut, ia tak akan mau aku menyakiti hati wanita manapun. Jadi jangan pernah kamu tampakan wajahmu dihadapanku untuk masa yang akan datang.."
Yudha melihat Alya yang tertunduk dengan menahan air mata.
"Mengapa kamu diluar... kak Tian sudah sadarkan... apa kamu marah karena melihat kak Sandra, ia datang sendiri, nggak ada yang meminta. Mama juga nggak ada memberitahu, aku baru saja menghubungi mama menanyakan itu. Mari kita masuk"
"Kak Tian memintaku keluar, ia mau bicara dengan Sandra"ujar Alya
"Apa apaan sih kak.. mengapa kak Tian menyuruh Alya menunggu di luar, hanya karena ingin bicara dengan kak Sandra. Memangnya kak Tian mau bicara apa dengan kak Sandra yang tak boleh Alya dengar sampai sampai memintanya keluar, otak kak Tian nggak rusak kan karena kecelakaan kemarin"
"Aku rasa aku masih normal dan tak akan terjadi apa apa denganku, kamu jangan kuatir. Sandra......aku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan, Kamu tahu pintu keluarkan"
"Kamu dalam keadaan sakit saja menyebalkan,padahal aku datang baik baik ingin menjengukmu"gumam Sandra
"Kamu mau keluar sendirikan.. aku tak mau lagi berbuat kasar"
"Baiklah aku akan keluar.. .. "Sandra keluar dengan jengkel.
Alya yang berdiri dibelakang Yudha,hanya diam saja.. ia masih takut Tian akan mengusirnya lagi,karena masih marah.
"Sayang...kamu mengapa berdiri saja.. kamu nggak mau memeluk kakak... kamu nggak rindu karena sehari kemarin tak ada dipelukan kakak"
Alya tak dapat lagi menbendung air matanya, tapi segera di hapus air matanya, karena ia sudah janji tak akan cengeng. Ia langsung meemeluk Tian
"Kak... maafin Alya"
"Sudah... kamu tak salah,"
"Aku sangat takut melihat kakak kecelakaan.Kak Tian kecelakaan karena memikirkan aku, kak Tian marah karena Aku diamin kemarin kan"
"Kak Tian kecelakaan bukan karena kesalahan siapa siapa, itu karena kecerobohan kakak sendiri."Alya duduk disamping ranjang sambil mencium tangan Tian
"Tapi aku tetap harus minta maaf"
"Kak Tian maafin kamu tapi kamu harus dihukum nanti ketika kakak keluar. Sayang... kamu kelihatan kurusan, pucat.. padahal baru satu hari kak Tian nggak sadar,bagaimana kalau satu bulan"
__ADS_1
"Bagaimana ia tak pucat, dari kemarin nggak ada makan dan hanya menangis "
"Sayang... ternyata kamu sangat kuatir ya sama kak Tian, kamu takut ya kak Tian meninggal ,kamu sebentar lagi harus makan,kalau kamu nggak makan, kak Tian benar benar marah nanti"
"Kak Tian.. nggak boleh ngomong ngomong meninggal ,aku tak suka"
"Baiklah... .. Sayang.... kakak mau vitamin, badan kakak lemes banget nih"
"Nanti aku minta sama dokter ya kak"
"Kak Tian nggak mau vitamin dari dokter tapi dari kamu"
"Dari aku... aku nggak ada bawa vitamin kak... "
"Vitamin ini....kakak mau kamu menciumnya"Tian menunjuk bibirnya
"Kak Tian... malu ah.. ada yudha"
"Buat apa malu... kamu kan istri kakak"
"Kelihatannya otak kak Tian memang bermasalah, baru saja sadar sudah pengen gituan... mau pamer denganku, biar aku cemburu"
"Siapa yang mau buat kamu cemburu, memangnya kamu cemburu kalau kakak iparmu mencium kakak kamu"
"Aku lagi malas berdebat, memang benar apa yang dikatakan kak Sandra, sakit aja kak Tian ngeselin. Tahu begini aku nggak pulang, orang kalau baru sadar tuh biasanya nggak banyak omong.. aku harus minta dokter meng CT scan kepala kak Tian lagi,siapa tahu ada yang salah dioperasi kakak kemarin"
Suara pintu yang terbuka membuat Tian enggan menjawab Yudha
"Tian kamu sudah sadar...mama sangat kuatir melihatmu kemarin"ujar mama Mega dan langsung memeluk Tian
"Mama... aku tak akan meninggal secepat ini . aku belum puas jadi suaminya Alya.. lagi pula aku belum memberi mama keturunan"
"Syukurlah kamu tak apa apa, mama takut terjadi sesuatu dengan kamu"
"Mama ...tak akan terjadi apa apa denganku, karena aku belum mau menjadikan Alya janda "
"Kak Tian... ngomongnya yang serius mengapa...Dari kemarin mama sangat mengkuatirkan kakak.. "
"Apa kamu tidak mengkuatirkan kakak"
"Mama... Yudha rasa memang ada yang salah dalam operasi kemarin, karena dari tadi kak Tian bicaranya ngawur"
"Kamu juga... jangan bicara ngawur, mana ada yang salah pada operasi kemarin."jawab mama Mega serius.
Alya hanya diam, karena merasa kan kembali kepalanya pusing dan perut yang mual. Ia tak mau Tian kuatir melihatnya muntah. Alya mencoba menahan rasa ingin muntahnya. Tapi tak bisa, ia berlari menuju kamar mandi dan muntah. Tian dapat mendengar semua itu.
"Apa yang terjadi dengan Alya ma... mengapa ia muntah muntah begitu. Ma tolong lihatin Alya, aku takut ia kenapa kenapa"
"Baiklah... mama lihat dulu Alya nya"mama melangkah masuk ke kamar mandi...
Bonus Visual wanita wanita yang pernah ada hubungan dengan Tian.
Terima kasih buat semua yang tetap setia membaca novel ini.
__ADS_1
Mampir juga ya ke novel terbaruku
ANTARA AKU, KEKASIHKU DAN SAHABATNYA