
Yudha langsung membawa Zahra menuju ruang operasi. Di sana Bumi dan dokter lainnya yang membantu sudah menunggu.
Sementara menunggu Zahra yang ditangani Bumi, Yudha tampak terkulai lemas duduk dilantai.
Tian juga tampak sangat gelisah, ketika tampak Alya yang berlari menuju mereka Tian sedikit merasa lega. Ia bisa berbagi cerita jika ada Alya.
"Sayang.. Alexa dan Axel dengan siapa."
"Tadi aku meminta tolong Ani menjaga si kembar"
"Baguslah...kak Tian juga sangat kuatir "
"Bagaimana Zahra kak"
"Belum tahu, tapi Kak Tian harap tidak terjadi apa apa, karena Kak Tian nggak tahu apa yang akan terjadi jika kandungan Zahra tak bisa diselamatkan"
Alya mendekat ke Yudha yang duduk bersandar didinding ruangan itu.
"Yudha.. kamu harus kuat, yakinlah tidak terjadi apa apa dengan Zahra.. kita sama sama berdoa"
"Alya.. jika terjadi sesuatu dengan Zahra, aku harus bagaimana... "
"Sekarang kita hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya dengan Tuhan"
"Alya.. aku takut.. "
Alya hendak menggenggam tangan Yudha memberi kekuatan. Ia memandang kearah Tian meminta izin. Tian menganggukan kepalanya setuju.
"Yudha... kamu tahu kan Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan kita.. kamu harus yakin dengan semua kehendak Tuhan adalah yang terbaik buat kita"ucap Alya sambil menggenggam tangan Yudha
"Semoga Tuhan mengabulkan permintaan aku... Al"
"Semoga... Aamiin"
Alya berdiri dan memeluk Tian.. setelah ia melihat Yudha sedikit tenang.
"Kamu wanita terhebat yang dikirim Tuhan buat aku dan keluargaku.. terimakasih karena kamu tidak hanya mencintaiku sebagai suami tapi juga seluruh keluargaku"ucap Tian dan mengecup pucuk kepala Alya
"Kak.. ini semua karena cinta yang melimpah kak Tian berikan padaku, dan aku hanya membalas cinta itu buat Kak Tian dan keluarga "
Bumi keluar dari ruang operasi. Tampak wajahnya yang sangat pucat.
"Bagaimana Zahra... "ucap Tian langsung begitu melihat Bumi.
Yudha langsung berdiri dari duduknya dan memegang tangan Bumi.
"Kak Bumi.. bagaimana Zahra.. tidak terjadi apa apa dengan Zahra kan Kak.. kandungan Zahra bisa diselamatkan Kak.. "
"Yudha.. tanya itu satu satu. Yang mana Kak Bumi harus menjawabnya... "ucap Bumi sambil mengusap kepala Yudha. Ia melihat kerapuhan di wajah Yudha.
Bumi yang telah lama mengenal Yudha dari ia masih sangat kecil, tahu betul jika Yudha anaknya sangat manja.
Mama yang baru datang langsung menuju kearah mereka yang berkumpul.
"Bagaimana Zahra.. apa yang terjadi"
"Ini ma... gara gara Yudha nih.. "ucap Bumi
__ADS_1
"Kak.. jawab dulu pertanyaan aku, bagaimana Zahra... "
"Alhamdulillah.. kandungannya bisa diselamatkan kali ini. Tapi jangan sampai terulang kali ia jatuh, itu akan berakibat fatal jika terjadi sekali lagi... "
"Kak Bumi nggak bohongkan.. Kak Bumi serius"
"Iya.. "
Yudha langsung memeluk Bumi erat. Alya juga memeluk Tian merasa senang.
"Kak Bumi terima kasih.. "ucap Yudha dengan air mata yang berurai
"Terima kasih pada Tuhan, jangan pada Kak Bumi"
"Tapi ini juga karena usaha Kak Bumi.. "
"Kamu baru sadar kakak kamu ini dokter yang hebat"canda Bumi
"Iya.. sekarang aku mengakuinya"
"Semua ini karena doa dan juga karena Zahra yang kuat"
"Mama...kandungan Zahra selamat ma"ucap Yudha memeluk mamanya
"Makanya kamu jangan jahil aja dengan kaki Bumi kamu.. jika sudah begini, baru tahu keuntungan punya kakak yang kerja jadi dokter kandungan, jika tidak ada kakak kamu bagaimana"
"Mama.. kok belain Kak Bumi bukan menghibur aku"
"Tapi ingat Zahra harus bedrest dari semuanya samapai kandungan empat bulan termasuk dari kerjakan kamu. Ia tidak boleh melayani kamu sampai kehamilan empat bulan "
"Oke Kak.. aku akan berusaha menahannya demi calon bayi kami"
"Iya Kak... "
"Bagaimana kalau selama bedrest tinggal dirumah mama saja"
"Biar di rumah Alya aja ma.. biar Alya bisa bantu jaga Zahra.. kalau dirumah mama kasihan nanti mama "ujar Alya
"Betul yang dikatakan Alya ma.. biar Zahra dirumah kami saja.. "
"Baiklah.. nanti mama akan lebih sering menginap dirumah kamu"
"Kak Bumi.. sekarang bagaimana Zahranya"
"Tadi Kak Bumi memberi suntikan bius biar Zahra bisa istirahat.. sebentar lagi mungkin sadar. Kak Bumi mau pindahkan ke ruang perawatan dulu ya.. "
"Ya Kak.. terima kasih"
"Banyak banget sih terima kasihnya.. biasanya kayak tom and Jerry.. "ujar Tian
"Kak Tian... jangan cari cari masalah ya.. "
"Lu yang cari masalah, masih jorok saja. Masa habis mandi buang pakaian dalam sembarangan.. "
"Aku tadi mau cepat Kak, mau buat kejutan buat Zahra, mau buatkan sarapan"
"Dan akhirnya Lu yang terkejut... "
__ADS_1
"Kak Tian.. aku ini lagi sedih dan kuatir, bukannya dihibur malah disalahkan"
"Lu memang pantas disalahkan"
"Mama... "
"Lihat Lu.. sudah punya istri aja masih manja. Kolokan banget "
"Biarin.. namanya bungsu ya.. ma"ucap Yudha sambil memeluk mamanya
"Semua anak mama,walau sudah besar dan dewasa bahkan nanti sudah tua bagi seorang mama, anak tetaplah anak.. pasti tetap dimanjakan dan disayangi.. "
"Mama... i love you"ucap Yudha mengecup pipi mama.
"Dasar Lu..bilang saja Lu takut disalahkan mama.. Lu takut nanti dimarahi mama, makanya manja manja sama mama.. biar nanti Zahra marah ada yang bela"
Bumi keluar diikuti perawat yang mendorong tempat tidur yang ada Zahra diatasnya.
Yudha langsung mendekat dan membantu mendorongnya.
"Sayang.. syukurlah tidak terjadi sesuatu dengan kandungan kamu. Mas tak akan bisa memaafkan diri mas jika terjadi sesuatu dengan calon bayi kita"
"Kamu tahu jika kejadian ini dibuat novel atau sinetron cocoknya apa judulnya..."
"Memang apa Tian"tanya Bumi
"Tragedi celana dalam yang berserakan di kamar mandi"
Semua tersenyum mendengar ucapan Tian. Mama langsung menjitak kepala Tian.
"Kamu.. mulutnya sembarangan saja.. "
"Kan betul ma.. itu semua gara gara celana dalam Yudha"
"Sudah ah.. jangan diungkit lagi"ujar Yudha
"Malu Lu.. masih punya rasa malu juga.. "
"Kak Tian awas ya.. nanti jika Zahra sadar kk Tian masih mengungkit itu"
"Memang nya kenapa.. itu benarkan"
"Kak Tian... "teriak Yudha
"Suaramu.. ..ini rumah sakit bukan pasar... dimana wibawa aku sebagai manajer.. masa keluarga aku yang buat keributan"ujar Bumi dengan suara yang juga sedikit keras
"Apa Kak Bumi lupa jika saham terbesar milik kakakku.. "
"Kamu mulai lagi ya.. tadi aja menangis minta tolong denganku, belum Zahra sadar sudah mulai mau ajak berdebat"ucap Bumi
"Lu juga keterlaluan ... yang miliki saham nya gue bukan Lu"ujar Tian dengan suara yang tak kalah kerasnya
"Sudah... kalian semua sama saja... berisik.. "
Semua diminta mama masuk keruang rawat VVIP tempat Zahra akan istirahat agar suara mereka tidak mengganggu pasien yang lainnya.
***************************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini. Mampir juga ya ke novel terbaru aku yang berjudul SAHABATKU MADUKU (air mata Melati)