Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 36 Season Dua


__ADS_3

Alya menghubungi Tian begitu ia pulang dari kafe bertemu Ani.


"Apa sayang... "


"Kak Tian sudah selesai meeting nya"


"Sudah.. ini juga sedang menuju arah pulang.. mengapa.. kangen ya"


"Kak... ada yang ingin aku bicarakan. Kak Tian langsung pulangkan"


"Iya sayang... kan tadi kak Tian sudah bilang lagi menuju jalan pulang.. "


"Iya.. aku tunggu di kamar "


"Mau ngapain di kamar.. pengin ya"


"jangan berpikiran mesum aja kak"


"Tunggu ya aku dikamar"


"Hati hati kak... "


"Yang menyetir bukan kakak.. apa kamu mau kak Tian sampaikan dengan supir pesan mu"


"Terserah kak Tian ajalah... "


Tian tertawa mendengar suara Alya yang ngambek. Ia masih senang membuat Alya merajuk. Walau usia perkawinan mereka sudah memasuki Dua puluh Empat tahun.. dan saat ini usia Tian sudah lebih dari setengah abad tapi kemesraan tidak pernah luntur dari sikapnya.


Sampai dirumahnya Tian langsung menuju kamar. Ia melihat Alya yang sedang duduk di sofa sambil menonton. Tian langsung mengecup pipi istri yang sangat dicintainya.


"Ada apa sayang.. mengapa wajahnya kelihatan murung "ucap Tian duduk disamping Alya dan membawa kepala istrinya itu bersandar dibahunya.


"Kak.. nanti Axel mau bawa teman wanitanya makan malam di rumah "


"Lalu... "


"Aku... ah.. Aku nggak tahu mau mulai dari mana ngomongnya kak"

__ADS_1


"Mengapa kamu kelihatan bingung begini"


"Kak.. kakak jangan marahi Axel atau bertengkar dengan Axel ya,jika aku mengatakan kekuatiran aku ini mengenai kekasihnya Axel"


"Memang teman wanitanya Axel itu sudah pasti pacarnya"


"Ya.. Axel mengatakan tadi malam"


"Lalu apa yang menjadi kekuatiranmu.Bukankah Axel sudah dewasa. Sudah sepantasnya ia memiliki pacar "


"Kak.. aku mengenal ibu dari wanita itu. Aku.."


"Kenapa.. dengan ibu dari wanita itu"


"Kak Tian.. sudahlah. Mungkin aja aku ini terlalu menyayangi Axel, sehingga belum rela melepaskannya.. makanya aku jadi sangat paranoid begini"


"Sudahlah sayang.. Axel bukan anak kecil lagi, ia pasti nanti bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang tulus atau hanya modus "


"Semoga ya kak.. "


"Kamu tahu.. kak Tian jadi sangat cemburu nih. Kamu tampaknya sangat mencintai Axel, tidak menyisakan cintamu buat Kak Tian "


"Sekarang kakak minta kamu jangan terlalu mengkuatirkan Axel. Jika memang wanita itu bukanlah yang terbaik buat Axel, biar itu nanti akan jadi pembelajaran bagi diri Axel kedepannya"


"Kak.. aku senang kamu bisa memahami dan menerima keputusan Axel tanpa berdebat atau bertengkar"


Tian mengelus rambut istrinya. Ia tak mau Alya banyak pikiran. Sebenarnya Tian sudah menyelidiki semua tentang wanita itu sejak Alexa mengatakan jika Axel memiliki pacar.


"Sayang.. aku tak mau kamu banyak pikiran. Aku tahu semua tentang keluarga wanita itu. Aku sudah mengatasi semuanya. Aku akan membuat Axel sendiri yang meninggalkan wanita itu nantinya. Tanpa aku harus memaksa Axel berpisah. Aku akan membuka mata Axel, melihat kebenaran siapa wanita yang dicintainya. Walau aku tahu, itu nanti akan membuat Axel terluka dan sakit hati, tapi itu lebih baik dari pada ia harus hidup dengan wanita itu. "


Tian lalu mengusap punggung Alya sampai ia tertidur di bahu Tian. Tian mengecup bibir istrinya.


"Kamu tetap cantik dengan usia kamu saat ini. Kamu tetap yang menjadi nomor satu di hatiku. Aku tahu tentang semua kekuatiranmu.. makanya aku sudah atasi sebelum kamu bertindak "


Tian menggendong tubuh Alya dan meletakkannya diatas kasur dan Tian ikut tidur sambil memeluk istrinya.


Sore hari ketika bangun, Alya mendapati Tian yang memeluk dirinya seperti guling. Ia memindahkan tangan dan kaki Tian dari tubuhnya.

__ADS_1


Alya mandi dan setelah itu ia pergi ke dapur untuk melihat persiapan bibi memasak. Alya meminta bibi memasak lebih banyak karena ada tamu yang akan makan malam.


Setelah semua Alya pastikan sesuai dengan permintaannya, ia lalu ke kamar. Ia melihat Tian yang lagi menghubungi seseorang di balkon kamar.


"Aku nggak mau tahu.. pastikan semua sesuai dengan rencana aku. Aku tak ingin satu orang pun tahu jika ini semua atas perintahku.. bereskan semua secepatnya.."


Setelah itu Tian mematikan sambungan ponselnya. Ia membalikkan badannya dan melihat Alya yang berdiri di pintu menuju balkon.


"Sayang.. mengapa memandangi kak Tian seperti itu... "


"Kak Tian lagi bicara dengan siapa.. "


"Mengapa.. tumben kamu pengin tahu "ucap Tian mendekat ke Alya dan memeluk pinggang istrinya. Ia membawa Alya menuju balkon dan duduk sambil melihat matahari yang akan tenggelam.


"Tak terasa ya sayang.. perkawinan kita tahun depan masuk perkawinan perak.. aku merasa baru kemarin aku menikahimu"gumam Tian


"Apa kak Tian pernah merasa bosan dengan sikapku"


"Semua yang ada padamu dan apa yang kamu lakukan tidak pernah membuat kak Tian bosan. Malahan setiap hari rasa cinta kakak pada kamu makin bertambah.. Kak Tian cuma merasa belum puas bermain dengan anak anak. Mereka cepat sekali dewasanya. Baru kemarin rasanya Axel dan Alexa yang selalu menangis berebut mainan atau makanan. Tapi saat ini mereka sudah terasa makin jauh dari kita. Jangankan merengek dengan kita untuk meminta sesuatu, menemani kita makan malam aja mereka sudah sulit. Mereka sibuk dengan kegiatan masing masing"


"Aku juga merasa anak anak makin jauh kak. Bagaimana jika mereka telah menikah.. apakah mereka main jauh dari kita. Apakah mereka akan sibuk dengan keluarga mereka aja. Untuk itu aku ingin mereka mendapatkan pasangan hidup yang juga menyayangi kita dan menganggap kita orang tuanya sendiri. Agar ia tidak menjauhi anak anak dari kita.Karena seberapapun dewasanya anak anak, bagi orang tua mereka tetaplah anak anaknya, yang terus disayangi dan dicintai orang tuanya."


"Kamu masih mikirin Axel"


"Bukan kak... "


"Kamu tak pernah mengkuatirkan cece Alexa. Ia juga sepertinya lagi menyukai seseorang "


"Aku tahu saat ini cece lagi menyukai Rendi ponakan Andi. Aku tahu siapa keluarga Andi, jadi aku tidak begitu mengkuatirkannya."


"Apakah itu berarti kamu tahu tentang keluarga pacarnya Axel.Apakah keluarganya kurang baik. Kamu mengenal ibunya pacar Axelkan"


"Kak Tian.. aku hanya pernah mengenal ibunya saja. Dan aku rasa ibu nya cukup baik"bohong Alya


Tian tersenyum. Ia tahu Alya berbohong karena ia telah menyelidiki semuanya dan tentang ibu nya Cindy yang pernah berselisih dengan Alya, Tian juga tahu.


*********************

__ADS_1


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini.


__ADS_2