Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 18 Season Dua


__ADS_3

Yudha mengendarai mobilnya menuju sebuah kafe yang menjual asinan sayur. Ia langsung ke kafe itu setelah mencari tahu jika disana ada menu asinan sayur.


Sampai diparkiran Yudha membukakan sabuk pengaman Zahra.


"Sayang... ayo kita turun"


"Ngapain kita kesini mas... "


"Katanya mau makan asinan sayur dan buah"


"Ya.. pengin... "ucap Zahra manja


"Ayo...kalau begitu.. "


"Loh kok di kafe ini... "


"Ini kafe menyediakan menu yang kamu inginkan"


"Tapi aku nggak mau disini... "


"Maunya dimana sayang.. memang kamu tahu restoran mana yang menyediakan asinan selain kafe ini"


"aku maunya kita langsung ke Bogor... "


"Whats..... "tanya Yudha dengan muka kaget


"Mas.. mengapa ekspresi begitu. Mas marah ya..mas nggak mau ya.. "ucap Zahra dengan wajah sudah mulai meneteskan air mata.


"Sayang... jangan menangis... mas tadi cuma kaget aja"ucap Yudha gelagapan karena melihat air mata Zahra.


"Kita pulang saja mas... "ucap Zahra masih terisak


"Katanya kamu pengin asinan sayur dan buah"


"Kapan kapan saja aku mencari dengan kak Alya"


"Mas.. temani ya. Kita sekarang ke Bogor.. "


"Aku mau pulang sekarang"


"Nggak jadi cari asinan nya... "


"Aku kan sudah bilang mas.. kapan kapan aku cari dengan kak Alya"


"Tapi mas serius loh.. mas mau kok sekarang kita ke Bogor mencarinya"


"aku yang nggak mau mas.. aku capek. Aku mau tidur "


"Oke.. sekarang kita pulang saja dulu. Nanti setelah capeknya hilang.. kita ke Bogor ya"


Yudha mengendarai mobilnya menuju ke rumah Tian. Sampai dirumah Zahra turun dari mobil dengan tergesa.


Alya yang melihatnya menjadi heran,karena tampak air mata Zahra yang masih menetes. Ia langsung masuk ke kamarnya.


"Kenapa Zahra menangis "gumam Alya, tapi didengar Tian.

__ADS_1


"Apa ada yang tak beres dengan kandungannya ....karena tadi Yudha bilang mau kontrol"ujar Tian


"semoga saja nggak terjadi apa apa dengan kandungannya kak"


Yudha masuk dengan tergesa juga, setelah memarkirkan mobilnya.


"Yudha.. ada apa dengan Zahra.. mengapa ia menangis. Kandungannya baik baik ajakan"tanya Alya kuatir


"Itu... itu... itu tadi... "


"Itu... itu... apa.. ngomong yang jelas.. "ucap Tian emosi melihat Yudha tak juga menjawab


"Itu kak.. tadi Zahra mau asinan sayur langsung beli di Bogor tapi aku mengajaknya di kafe dekat sini saja.. jadi ia ngambek"


"Lu... ke Bogor aja apa sih salahnya. Istri lagi ngidam,kok nggak dituruti "gerutu Tian


"Bukannya aku nggak mau kak... aku sudah mengajakmu.. tapi Zahra keburu merajuk"


"Yudha... wanita yang lagi hamil memang lebih sensitif.. jadi kamu harus mengerti"ujar Alya


"Aku aja waktu Alya hamil kalau ngidamnya aneh aneh, atau marah marah.. selalu Ngurut dada aja"


"Kak Tian.. jadi kak Tian sebenarnya keberatan juga ya.. waktu mengabulkan ngidam aku"


"Bukan keberatan sayang... jangan pula kamu ngambek.. "ucap Tian dan mengecup pipi Alya


"Biar aku saja Yud... yang merayu Zahra, siapa tahu ia masih marah denganmu"


"Ya... Al.. tolong bujuk ya"


"Oke... jangan kuatir. Zahra pasti nggak ngambekan lagi"


"Zahra.. kak Alya boleh masuk"


"Masuklah kak... "


Alya langsung menuju Zahra yang terbaring di tempat tidur.


"Ada apa... kok menangis "


"Kak Alya.. aku ingin asinan sayur dan buah yang di Bogor... tapi Yudha marah.. nggak mau ngabulkan"


"Oh.. jadi itu sebabnya kamu menangis. Tapi aku rasa Yudha bukan marah deh.. mungkin kaget aja. Kalau kamu pengin banget kita pergi sekarang ya.. mumpung masih sore"


"Betul kak... kakak mau temani aku"


"Ya.. kak Alya tahu warung yang ngejual asinan yang enak di Bogor"


"Aku mau kak... belum makan aja aku sudah ngences nih"


"Sekarang kak Alya.. ganti pakaian Alexa dan Axel dulu ya. Kita satu mobil aja perginya. Pakai mobil yang gede aja.. sekalian bawa si kembar jalan jalan "


"Aku juga mau mandi dulu kak... gerah.. "


"Ya.. kak Alya juga siap siap dulu ya"

__ADS_1


Zahra dengan semangat langsung menuju kamar mandi. Zahra jika pagi hari akan malas mandi, tapi siang dan sore baru ia antusias mandi. Bisa lama jika mandi.


"Kak Tian.. kita ke Bogor ya cari asinan sekarang, aku mau mandiin si kembar dulu. Zahra juga lagi mandi... "


"Ya sayang... apapun yang kamu mau, Kak Tian siap walau kamu tidak ngidam. Ngga seperti nih bocah, istri ngidam aja tak mau nuruti maunya"


"Kak Tian.. aku bukan nggak mau ya. Aku tadi refleks karena kaget bertanya.. Zahra kira aku marah"


"Kamu tanya dengan suara gede dan mata melotot kali"


"Sudah.. sekarang siap siap... nanti keburu malam. Sekalian jalan jalan... "ujar Alya


Alya naik kelantai atas menuju kamar si kembar. Ia memandikan mereka setelah terlebih dahulu harus mengikuti drama mereka yang rebutan minta dimandikan terlebih dahulu.


Setelah semua anak anaknya siap, Alya pun mengganti pakaiannya.. setelah itu membawa anak anak turun.


Tian dan Yudha sudah menunggu di ruang keluarga. Zahra masih di kamar. Ia malu keluar.


Alya memanggil Zahra, merekapun menuju mobil yang telah Tian siapkan.


"Daddy mau kemana... "tanya Alexa


"Kita mau cari asinan buat aunty"


"Asinan itu apa mommy"tanya Axel


"Asinan itu... ada sayur atau buah yang telah dibumbui dengan cabe dan asam juga gula"


"Enak mom... "tanya Alexa


"Menurut mommy enak sih... tapi nggak tahu kalau menurut kamu.. "


"Aunty suka ya... "tanya Axel dan memeluk Zahra sambil menciumi pipinya


"Suka sayang... "ucap Zahra membalas mencium pipi Axel


Mereka sampai di Bogor dan menuju satu warung yang tidak terlalu mewah. Tapi pengunjungnya ramai.


Tian dan Yudha langsung memesan asinan sayur dan buah beberapa porsi.


Zahra dengan antusias memakannya. Sampai ia menghabiskan dua mangkuk.


"Lu lihat tuh.. istri lu keliatannya memang pengin banget asinan.. sampai habis beberapa mangkuk"


"Iya kak.. aku aja kaget melihatnya"bisik Yudha, ia takut Zahra mendengarnya dan kembali ngambek.


Setelah dari warung itu, mereka pergi ke pasar malam yang dilewati. Zahra antusias sekali, karena di pasar malam itu banyak terdapat jajanan kampung seperti waktu kecil sering ia beli.


Alexa dan Axel juga antusias. Segala permainan anak anak mereka naiki. Tian dan Yudha hanya mengekor kemana istri istri mereka melangkah.


*****************************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini.


Mampir juga di novel terbaruku SAHABATKU MADUKU (air mata Melati)

__ADS_1


Diambil dari kisah nyata seseorang. Melati tidak pernah mengira jika sahabat yang telah dianggap seperti saudaranya tega mengkhianati dirinya bersama suaminya.


Melati mencoba bertahan, karena ia tidak memiliki saudara. Ia anak yatim piatu. Apakah selamanya Melati dapat bertahan dan bersabar. Atau akhirnya memilih berpisah..


__ADS_2