
Siang harinya Yudha dan Zahra kembali ke Jakarta. Tapi sebelum pulang kerumah, Yudha membawa Zahra bermain di pantai.
Zahra yang tak pernah pergi liburan sangat senang dibawa ke pantai. Ia berlari ketepi pantai dengan bertelanjang kaki.
Yudha melihatnya dari kejauhan.
"Zahra... kamu memang gadis yang polos.. dibawa kepantai saja hati mu sudah sangat senang... aku beruntung memiliki dirimu... tak akan pernah aku melepaskan kamu lagi. Aku berjanji akan membahagiakan kamu... "
Yudha menyusul Zahra yang sedang bermain pasir.
"Kamu seperti anak kecil saja Zahra.. main pasir"ledek Yudha begitu berada dekat Zahra.
"Biarin.... asyik main pasir nih"
Yudha ikutan duduk di pasir pantai seperti yang dilakukan Zahra..
"Bajumu pasti kotor nanti... "
"Nggak apa.. bisa dicuci... "ucap Zahra masih dengan bermain pasir.
Yudha berdiri dan pindah duduk dibelakang tubuh Zahra dan memeluknya,membawa Zahra bersandar didadanya.
"Besok kita pergi dengan mama membeli apa apa yang diperlukan buat lamaran"
"Nggak usah bawa apa apa Yud.... "
"Nggak mungkin aku datang hanya membawa diri... karena diriku dan hatiku buatmu, kalau untuk melamarmu sama bunda aku harus membawa sesuatu "
Zahra melempar kerikil dan kerang yang ditemuinya dipasir ketengah pantai.
Yudha memperhatikan tingkah Zahra yang seperti anak kecil dengan meletakan kepalanya dibahu Zahra sambil sesekali mengecup pipi Zahra.
"Yudha sudah... mencium terus sih... malu tuh dilihat orang"
"Biarin saja... paling mereka iri lihat kita"
Zahra berdiri dan berlari menjauh dari Yudha.
"Awas ya kalau dapat... tak akan aku lepaskan, kamu akan kucium sampai kamu minta ampun"ujar Yudha sambil mengejar.
Tiba tiba Zahra berhenti, ia menginjak sesuatu, yang ternyata pecahan dari kulit kerang. Membuat kakinya berdarah. Yudha yang melihat itu langsung berlari kencang kearah Zahra..
"Kakimu kenapa.... banyak banget darahnya"Yudha menggendong Zahra membawanya masuk ke mobil.
"Mang Ujang ambilkan kotak obat.. "ucap Yudha.
"Ini den.... "Ucap Mang ujang memberikan kotak obat ketangan Yudha
"Biar aku saja Yud"
__ADS_1
"Jangan ngeyel... lihat darahnya makin banyak... "
Yudha membersihkan kaki Zahra dan memberinya obat. Setelah itu membalut dengan kain kasa.
"Kita pulang saja ya... kapan kapan aku bawa kamu ke pantai yang jauh lebih indah dari ini"
"Terserah kamu saja.. "
"Mang Ujang.. kita pulang saja lagi"
"Baiklah den... "
###################
Pagi harinya setelah semua sarapan, Yudha mengajak Tian dan Alya bertukar pendapat.
Zahra sedang menidurkan sikembar dikamarnya.
"Kak Tian aku nggak ngerti apa biasanya sih yang dibawakan buat lamaran... "tanya Yudha
"Aku melamar Alya langsung ke dirinya saja.. nggak ke keluarga.. karena Alya nggak memiliki keluarga.. "
"Menurut yang kamu tahu apa yang dibawa Alya.. "Tanya Yudha dengan Alya
"Setahu aku sih bawa saja keperluan Zahra, seperti tas, sepatu dan juga pakaian. Makanan juga biasanya dibawa untuk lamaran"
"Boleh lah... Yudha.. kamu seperti dengan orang lain saja.. "
"Tolong pesankan katering sekalian jasa EO buat dipanti.. aku nggak mau nanti bunda Zahra jadi repot untuk persiapan lamaran. "
"Kalau itu Kak Tian juga bisa mengurusnya, nanti biar aku yang bantu pilih pilih dekorasinya"
Semua hari ini sibuk mempersiapkan semua keperluan buat pertunangan Yudha.
Mama, Yudha dan Zahra pergi berbelanja buat dibawa lamaran. Sedangkan Tian dan Alya pergi ketempat EO meminta bantuan jasanya buat di panti. Semua biaya dan persiapan Yudha yang menanggungnya. Bunda hanya duduk menunggu kedatangan keluarga Yudha.
Hari lamaran pun tiba.. keluarga besar Tian dan Yudha datang melamar Zahra ke panti.
Yang menjadi juru bicara lamaran Tian.
"Bunda saya mewakili orang tua saya datang ke sini buat melamar Zahra untuk dijadikan pendamping hidup buat Yudha. Apakah bunda bersedia memberikan Zahra untuk dijadikan istri adik saya"
"Bunda mengucapkan banyak terima kasih buat kamu dan keluarga. Karena telah membunuh mau menerima Zahra untuk menjadi bagian dari keluarga kalian. Bunda pada dasarnya memberikan izin.. tapi bunda juga harus mendengar pendapat Zahra, apakah ia bersedia menerima lamaran Yudha"
"Bagaimana Zahra.. apakah kamu bersedia jadi pendamping hidup Yudha"tanya Tian
"Ya pak... saya siap dan bersedia"
"Kalau kamu sudah menerima Yudha.. berarti panggilannya jangan bapak lagi, karena aku bukan bapaknya Yudha"canda Tian
__ADS_1
Semua yang hadir tertawa mendengarnya.
"Iya pak... eh Kak.. "
"Sekarang saatnya pemasangan cincin buat tanda pengikat Zahra... diminta Zahra dan Yudha maju kedepan"ucap protokol acara.
Yudha memasangkan cincin dijari manis Zahra.. sebagai tanda lamaran. Tanggal pernikahan ditetapkan dua minggu mendatang. Mulai hari ini Zahra kembali tinggal dipanti sampai hari pernikahan.
Yudha dan keluarga besar kembali kerumah. Mereka akan memulai persiapan untuk acara pesta pernikahan Yudha dan Zahra yang akan diadakan dihotel milik Tian.
Zahra tidak mencari pengganti Zahra buat membantu menjaga anaknya. Karena Tian tak menginginkannya. Tian membantu Alya setiap hari dalam mengasuh si kembar.
Zahra sementara sampai hari pernikahan tinggal bersama bunda dipanti. Ia sangat merindukan si kembar. Ia ingin tetap mengasuhnya, tapi Alya melarangnya. Biar Zahra bisa mempersiapkan diri menjelang hari pernikahannya...
Pagi ini Zahra menghubungi Alya menanyakan kabar si kembar...
"Selamat pagi Kak Alya.. apa kabar sikembar "
"Alhamdulillah sehat.. kamu bagaimana, jangan terlalu stres ya menunggu hari pernikahan"canda Alya
"Kak Alya bisa saja.. aku kangen banget sama si kembar. Boleh nggak aku kesana kak"
"Kangen si kembar apa uncle si kembar "
"Dua duanya Kak.. "
"Yee... sudah bisa jujur sekarang.. tapi kamu harus tahan rindunya buat uncle si kembar. Ini kan masa pingitan"
"Aku lebih rindu si kembar kak"
"Tenang nanti setelah kamu nikah.. kamu bisa lagi ketemu si kembar. Malahan nanti aku suruh si kembar ganggu malam pertama mu.. ha.. ha.. "
"Kak Alya bisa aja... mana bisa si kembar ganggu.. kan masih kecil"
"Bisa dong... Kak Alya tidurkan si kembar di kamar pengantin"
"Nggak apa Kak.. paling si kembar tidur kok. Kan mereka anak yang baik.. nggak rewel"
"Zahra...maaf. Aku harus tutup dulu ya.. si kembar menangis. Dengarkan tangisnya"
"Ya Kak... salam buat sikembar"
Sambungan ponselpun terputus. Alya masuk kekamar. Dilihatnya Tian sedang menggendong Alexa... sedangkan Axel masih ditempat tidur menangis. Alya menggendong Axel dan membawanya ke sofa. Lalu menyusuinya.
*************************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Novel ini akan segera berakhir.
Cerita tentang kehidupan pernikahan Yudha akan diceritakan di season dua.
__ADS_1