
Tian masuk ke ruang ICU dimana Alya dirawat dengan langkah lesu. Sejak Alya tak sadarkan diri, matanya pun sulit untuk dipejamkan. Ia selalu teringat pelukan hangat istrinya.
Tian menggenggam tangan Alya sambil mengecupnya...
"Sayang... bangunlah... sudah cukup tidurnya. Kak Tian juga sudah kangen tidur denganmu. Kamu tahu Alya si kembar pasti juga sudah merindukan pelukanmu... jangan terlalu terlena dengan tidurmu sayang... aku selalu menunggu saat kamu membuka mata... hiks... hiks.. "Tian tak dapat menahan air matanya.
Bumi yang masuk ingin memeriksa keadaan Alya sangat sedih melihat temannya begitu terpuruk..
"Tian... kamu yang sabar. Alya pasti akan sadar. Sebentar lagi ia pasti akan bangun. Alat alat vital ditubuhnya menandakan normal semuanya. Tidak ada masalah. "
"Kamu bilang Alya akan sadar dalam tiga hari. Ini sudah tiga hari berlalu.. tapi mengapa Alya belum sadarkan diri"
"Aku yakin dalam beberapa jam kedepan Alya sadar, kamu bisa lihat dimonitor.. semuanya normal. Kamu yang sabar saja.. "
"Apakah kesabaranku akan berbuah baik.. "
"Kamu harus yakin... Alya pasti kuat menghadapi semuanya"
Tian merasakan tangan yang digenggamnya bergerak.
"Bum... Alya... Alya.. bergerak.. "ucap Tian terbata.
Bumi langsung memeriksa Alya dan memanggil dokter spesialis penyakit dalam untuk membantu memeriksa keadaan Alya.
Dokter mengatakan Alya sudah sadar dan semua alat vital ditubuhnya sudah normal kembali.
"Sayang... bangunlah... ini kak Tian"ucap Tian sambil mengecup tangan Alya.
Alya yang sudah mulai sadar.. perlahan membuka matanya untuk menyesuaikan pandangannya. Ia menoleh kesamping dan melihat Tian yang mengecup tangannya sambil berurai air mata..
"Kak Tian.. "ucap Alya perlahan
"Sayang.... kamu sudah sadar... "Tian langsung memeluk tubuh istrinya
"Tian hati hati... bekas jahitan operasi Alya belum kering "ucap Bumi
Tian lalu melepaskan pelukannya dan mengecup dahi Alya.
"Sayang... bagaimana perasaanmu... apa yang sakit... "
Alya hanya menggeleng. Dan tiba tiba Alya memegang perutnya. Ia merasakan perutnya yang sudah datar
"Kak... bagaimana sikembar... "tanya Alya cemas
"Mereka sehat sayang... mereka sudah menunggu mommy nya sadar"
"Kak... aku mau melihat sikembar"
"Bum... apakah boleh sikembar di bawa kesini"
"Alya.. ruangan ini kurang baik bagi baby. Sebentar lagi kamu akan dipindahkan ke ruang rawat... kamu bisa berkumpul dengan sikembar... "
__ADS_1
"Kalau begitu... cepatlah urus kepindahan Alya keruang rawat... "
"Ya... aku akan meminta perawat membantu kepindahan Alya... tapi sebelum itu aku mau konsultasi dengan dokter terkait dulu.. Kamu bisa menunggu diluar sebentar. Dokter akan memeriksa Alya dulu.. "
"Baiklah... sayang... Kak Tian tunggu diluar sebentar ya.. kamu jangan takut.. kakak nggak kemana mana... "
"Ya.. kak"
Tampak dokter memasuki ruang ICU tempat Alya dirawat. Setelah beberapa saat memeriksa Alya dokter keluar dan masuk dua orang perawat. Mereka mendorong brankar Alya keluar dari ruangan.
Tian membantu mereka mendorong sambil tangannya tak lepas menggenggam tangan Alya.
Diruang rawat tampak Yudha dan Zahra yang sedang menggendong si kembar. Yudha sudah diajarkan Zahra bagaimana cara menggendong bayi.
"Ternyata nggak begitu sulit menggendong baby... mmmuuaahh... "Yudha mengecup pipi baby girl yang ada digendongannya.
"Yudha... jangan dikecup terus.. nanti pipinya bisa alergi"ujar Zahra
"Kamu pikir bibirku ada virusnya... atau kamu mau coba aku cium... biar tahu kalau bibirku ini steril"
"Ih... Yudha.. pikirannya mesum. ogah ah dicium sama kamu... "
"Ogah... ogah... sekali mencoba ntar kamu ketagihan ...baru tahu rasa"
"Idih... "ucap Zahra sambil nyengir.
Perdebatan mereka terhenti ketika melihat pintu terbuka dan tampak Alya yang ada dibrankar sedang didorong Tian dan perawat.
"Kak... apa itu tangisan sikembar... "
"Ya.. sayang.. tunggu ya kamu pasti akan melihatnya"
Perawat memperbaiki posisi letak tempat tidur Alya agar nyaman. Setelah dirasa nyaman... kedua perawat itu pamit.
"Zahra... Yudha... aku mau melihat baby twins.. "
Zahra mendekat ke tempat tidur Alya dan meletakan baby boy didada Alya..
"Sayang... kamu ganteng banget... "
"Tentu saja uncle nya kan ganteng"ucap Yudha
"Sembarangan ngomong kamu... tentu saja kegantengan baby boy turun dari daddy nya yang ganteng.. tidak ada hubungan denganmu. Ia anakku bukan anakmu.. "
"Tapi kan baby boy ponakanku... "
"Darah yang mengalir ditubuhnya darahku... apa kau lupa "
"Pak Tian... Yudha... mengapa bertengkar.. kasihan bu Alya baru sadar sudah melihat pertengkaran "ucap Zahra yang mengira dua saudara itu memang serius bertengkar
"Zahra... itu sudah biasa. Mereka memang seperti Tom and jerry... "Ucap Alya pelan
__ADS_1
"Oh.. begitu ya bu... saya nggak tahu. Saya pikir memang serius.. "
"Yudha... bawa sini baby girl.. aku mau melihatnya"
Zahra memberikan baby boy ketangan Tian dan mengambil baby girl dari tangan Yudha. Tian yang belum pernah menggendong bayi merasa canggung dan takut. Yudha yang melihat itu mengambil alih menggendong baby boy dari tangan Tian.
"Kak Tian.. sudah jadi bapak... tapi tak bisa juga menggendong bayi "
"Aku belum belajar... eh.. tapi kamu kok bisa"
"Ya jelaslah... jiwa kebapakan aku lebih besar dari kak Tian.. "
"Ciuhhh... menikah saja belum sudah merasa memiliki jiwa kebapakan... bapak dari mana. Jodoh saja belum ada... masih jomblo"
"Hei... jangan salah... lihat saja.. sebentar lagi aku pasti dapat jodoh"
"Semoga saja.. Yudha... biar baby twins punya saudara untuk teman bermain"ujar Alya
Alya mengecup pipi gembul bayinya. wajahnya tampak berseri melihat babynya.
"Sayang... sudah ya menggendong baby nya. Kamu baru sadar.. masih harus banyak istirahat"
"Ya... kak.. Zahra... ini baby nya. Kamu tidurkan saja dulu.. "
"Ya bu... "
"Sini aku bantu menidurkannya.. "ucap Yudha. Ia menggendong baby girl dan memberinya susu sementara baby boy ada ditangan Zahra.
"Kak... mama mana... "
"Mama baru pulang. Ia mau memasak buat makan malam nanti. Ia sudah bosan makan makanan restaurant.. sudah ingin makan masak rumahan"
"Pasti mama capek... harus bolak balik"
"Nggak sayang... mama pasti senang melakukannya. Apa lagi jika mama tahu kamu telah sadar... "
"Kak.. mata kak Tian bengkak dan sembab... apa kak Tian menangis terus... Berapa hari aku tak sadar kak"
"Sayang... kak Tian takut kamu terlena dan nyaman dengan tidurmu .....kamu tahu.. kak Tian tak akan bisa hidup tanpamu.. kak Tian sangat takut kamu meninggalkan kak Tian.. kamu harus janji... jangan pernah tinggalkan kak Tian... jika kamu mau pergi.. kamu harus bawa kak Tian sekalian"
"Kak... aku sayang kakak... aku tak akan meninggalkan kak Tian.. apa lagi sekarang sudah ada baby twins"
"Sayang... i love you"ucap Tian mengecup tangan Alya.
Zahra dan Yudha melihat adegan itu dengan intens tanpa berkedip. (Iri kali ya.... 😀😀)
*************************
Terima kasih tetap setia membaca novel ini.
Mampir juga kenovelku ANTARA AKU, KEKASIHKU DAN SAHABATNYA serta novelku ELEGI CINTA LANGIT DAN PELANGI
__ADS_1