
Yudha dan Zahra tinggal dirumah Tian. Ia menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah agar Zahra tidak capek naik turun tangga.
Semuanya atas kemauan Alya. Ia ingin membantu menjaga kesehatan Zahra. Dulu ketika ia hamil Zahra yang membantunya.
"Kak Alya... aku tinggal dirumahku saja. Aku disini membuat kak Alya repot saja"ucap Zahra ketika mereka berada ditaman belakang sambil menemani Alexa dan Axel bermain.
"Kakak nggak merasa kamu repotkan. Masak bukan kakak, cuci pakaian kamu juga bukan, Kak Alya paling cuma bantu membuatkan jus atau cemilan. Kamu lah yang dulu banyak membantu Kak Alya ketika hamil"
"Itu sudah menjadi kewajiban aku Kak. Aku perawat Kak Alya"
"Walau pun bagi kamu apa yang kamu lakukan saat Kak Alya hamil merupakan kewajiban, tapi Kak Alya merasa sangat terbantu karena ada kamu yang menemani... "
"Kak Alya.. aku merasa sangat beruntung dikelilingi orang orang baik seperti Kak Alya, Kak Tian, mama, Kak Bumi dan terutama Yudha suamiku. Aku tak tahu kebaikan apa yang aku atau ibu aku lakukan sampai aku diberi kebahagiaan seperti saat ini.. semuanya begitu baik padaku.. "
"Itu semua sudah menjadi takdirmu, semua pasti karena kamu juga orang yang baik.. "
"Sayang... sudah makan"ucap Yudha sambil mengecup pipi Zahra.
"Mas.. jangan cium cium aku tak suka"ucap Zahra cemberut
"Memangnya kenapa... biasanya kamu senang aku cium"
"Pokoknya aku nggak suka mas cium cium aku"
"Jangan kejam begitu sayang.... aku sudah nggak boleh berhubungan badan masa cuma ciuman juga tak diizinkan.. "
"Habis mas.. cium cium nya sampai pipi aku peyot jadinya"
"Habis aku gemas banget sayang.. lihat pipi kamu tambah chubby gitu"
"Aku tambah gemuk ya mas.. "
"Hhhmmmm........."
"Berarti tambah jelek ya.. pasti nanti mas cari yang lain"ucap Zahra sedih
Alya yang mendengar nya hanya tersenyum, ia juga pernah merasakan apa yang Zahra rasakan. Mood yang berubah ubah. Terkadang senang, sedih, dan marah.
"Siapa bilang tambah jelek kamu tambah lucu kok.. "ucap Yudha dan duduk samping Zahra sambil mencubit pipi chubby nya
"Berarti aku sudah seperti badut.. lucu gitu"
"Siapa bilang kamu kayak badut sayang.. "
"Itu tadi mas Yudha bilang aku lucu... "
"Tambah lucu bukan berarti kayak badut sayang... "
"Mas bohong lagi kan"
"Mengapa mas harus bohong.. kamu memang tambah lucu, gemesin mas.Rasanya pengin makan kamu,sayang tak boleh"
"Mas... ngomong apa sih.. Kak Alya dengar tuh"
"Nggak apa.. orang Alya aja tiap malam di makan Tian"
__ADS_1
"Kamu sama Kak Tian ngomongnya mesum aja"ucap Alya
"Namanya juga lelaki.. Al"
"Mas.. aku ingin nasi Padang.. banyakin sambalnya"
"Nanti kamu bisa sakit perut... "
"Nggak.. aku ingin banget.. kamu mau nanti anak kamu ileran"
"Baiklah aku beliin.. tapi jangan banyak sambal ya.. "
"Aku mau nya yang banyak sambal, lauknya rendang sapi dan gulai babat ya mas.. "
"Babat sapi itu jeroan kan...
"Iya.. memang nya kenapa mas... "
"Kamu yakin ingin babat sapi lauknya"
"Iya mas....aku pengin banget... "ucap Zahra memelas.
"Beliin aja Yud.. itu maunya baby kamu... nanti nggak dituruti ileran loh"
"Itu mitos saja Al"
"Walau mitos tak ada salahnya menuruti maunya istri yang lagi hamil. Itu bagian dari perhatian suami terhadap istrinya dan juga dengan menuruti maunya istri berarti kamu sudah menyenangkan hati istri, itu baik buat perkembangan bayi jika ibunya selalu bahagia"
"Oke deh... kamu tunggu ya.. aku belikan"
Setelah Tian menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja tadi, ia keluar menemui anak dan istrinya.
"Selamat pagi sayang... "ucap Tian dan ******* bibir Alya pelan
"Kak Tian.. ada Zahra"
"Nggak apalah.. Yudhalebih sering lagi menciumi istrinya depan umum"ucap Tian membuat rona merah di pipi Zahra
"Alexa... Axel.. sayangnya daddy... I love you "
"Love you daddy... "ucap mereka masih sedikit cadel.
Tian menghampiri putra putrinya ikut bergabung duduk diatas karpet.
"Mana Yudha.. kok nggak kelihatan "
"Beli nasi Padang... "
"Kamu ngidam nasi Padang Zahra"
"Iya Kak... pengin saja rasanya makan nasi Padang, rasanya sudah sampai tenggorokan sekarang nih"
"Apa Yudha tahu rumah makan Padang yang ternama.. "
"Tahu lah Kak. Masa itu saja nggak tahu"
__ADS_1
"Kak Tian tahu nggak Zahra ngidam lauknya apa.. "
"Rendang ya.."
"Salah... tapi gulai babat sapi "
"Apa... babat. Apa Yudha nggak bilang apa apa ,keberatan nggak ia membelinya"
"Nggak tuh.. "
"Wah... berarti sudah hilang rasa nggak sukanya pada babat. Dulu jangankan menyentuh, melihat saja ia biasanya nggak mau.. pasti ia akan mual dan muntah... "
Mengapa bisa begitu kak"tanya Alya. Zahra hanya diam mendengar suami istri itu bercerita.
"Yudha pernah melihat sewaktu orang membersihkan babat itu dulu, sejak saat itu iya tak mau makan lauk babat lagi. Jika melihatnya aja sekarang, perutnya akan mual dan muntah "
"Bagaimana ini Kak... nanti ia muntah pula.. "ucap Zahra cemas
"Sudahlah Zahra... tidak akan terjadi apa apa.. kau jangan takut"
"Itu semua bukti cinta Yudha padamu, walau ia yang biasanya jijik mu melakukannya untuk bukti cinta nya padamu dan calon bayi kalian"ucap Alya
"Kak Tian.. Kak Alya... aku pamit ke kamar dulu"
"ya.. silakan "
Sepeninggal Zahra, Tian duduk samping Alya dan membawa Alya ke dalam pelukannya.
"Aku sangat mencintai kamu, aku juga akan melakukan apapun itu untuk dapat membuktikan jika aku mencintai kamu"bisiknya sambil mengecup pipi Alya
Melihat daddy dan mommy nya pelukan Alexa dan Axel berlari dan naik kepangkuan mereka.
"Kalian bertiga harta daddy yang paling berharga"ucap Tian mengecup satu persatu putra putrinya.
"Mommy lapar... "ucap Axel. Dan ia menciumi seluruh wajah Alya.
"Ia mommy ambilkan makannya ya.. setelah makan mandi ya.. anak bujang mommy bau asam"ucap Alya sambil menciumi leher Axel membuat ia tertawa karena geli.
Alexa lebih dekat dengan Tian, sedangkan Axel lebih manja dengan Alya.
"Kak.. bagaimana jika Alexa dan Axel kita masukan sekolah lagi.. "
"Nggak usah sayang.. nanti kakak merasa kesepian jika anak anak sekolah.. biar nanti usia empat tahun aja sekolahnya "
"Terserah Kak Tian saja.. kalau memang menurut Kak Tian lebih baik begitu, aku menurut aja"
"Kapan sih kamu membantah kata Kak Tian.. terlalu menurut banget"ucap Tian sambil mengusap kepala Alya. Membuat Axel marah dan menepis tangan Tian yang ada dikepala Alya.
"Jangan... nanti mommy sakit"ucapnya marah
"Duh.. anak daddy sayang banget dengan mommy.. daddy cemburu nih"goda Tian ingin mencium pipi Alya tapi cepat ditolak Axel wajah Tian menjauh.
Axel memang tak membolehkan Tian menyentuh Alya. Baginya mommy nya hanya miliknya seorang.
***************************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini