Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)

Aku Bukan Simpanan (Season Satu & Dua)
Bab 79. Pemotretan


__ADS_3

Kesibukan tampak di studio yang berada di agensi milik Alya. Hari ini jadwal pemotretan Alya dan Tian buat promosi pakaian jadi produksi perusahaan Tian.


Pagi pagi Tian sudah tampak hadir. Alya masih memilih pakaian yang akan dikenakan pada pemotretan nanti, ia dibantu bagian promosi dari perusahaan Tian.


Disudut ruangan Tian tampak lagi berbincang dengan Tony....


"Jadi ini alasan kamu memintaku berpura pura kerjasama dengan Alya, membuka agensi dengan modal yang kau berikan padaku"tanya Tony


"Maksudmu apa... "


"Aku tak pernah mengira kalian pernah menjadi suami istri. Aku kira hanya karena kamu menyukainya makanya kamu mau membantu Alya dengan membuka agensi model ini. Apa kamu bermaksud kembali menikahinya"


"Ya... aku ingin kembali menikahinya. Jika aku berkata terus terang ingin membantunya membuka agensi, Alya tak akan mau. Ia ingin membuka usaha ini dengan kerja kerasnya sendiri. Aku harap kamu tak pernah memberi tahu Alya kalau modal yang kamu tanamkan itu berasal dariku... "


"Kamu tahu Satria juga mencintai Alya.. "


"Aku tahu... tapi aku tak pernah takut bersaing dengannya. Karena aku telah mengenal Alya lebih dari siapapun... aku tahu pribadinya.. "


"Kamu percaya diri sekali. Satria juga lelaki yang harus kamu perhitungkan. Ia tampan... baik dan juga mapan. Itu juga cukup membuat banyak wanita bertekuk lutut... "


"Kamu bisa lihat sendiri nanti... siapa yang akan Alya pilih.... Oh ya aku mau nanti konsepnya sekalian buat foto prewedding"


"Siapa yang foto prewedding"tanya Alya yang baru muncul.


"Kita sayang... kita foto buat prewedding ya sekalian"ucap Tian menggoda.


"Jadi kalian sudah akan menikah... "


"Bohong... Kak Tian cuma bercanda.. jangan dengarkan ucapannya. Tony... semua sudah siap... apa kita mulai pemotretannya lagi"


"Oke... kamu silakan ganti pakaian Tian... nanti ada penata rias yang akan merias dan membantumu berpakaian... "


"Alya pamit dulu... masih belum selesai nih riasannya... "


"Jangan dirias... kamu sudah cantik dengan wajah alami seperti ini... "rayu Tian


"Gombal banget... "gumam Alya sambil berlalu menuju kamar tempat ia berpakaian.


Setelah satu jam Tian dan Alya siap buat pemotretannya.


Tian tampak sangat serasi dengan Alya. Semua mata memandang iri kepada mereka berdua.


"Kamu tampan juga Tian. Tampangmu tak kalah ganteng dengan model model di sini"puji Tony


"Tentu saja ...jika aku tak ganteng.. mana mungkin banyak wanita yang tergila gila padaku.. betulkan Alya.. "


"Hhhmmmm.... "gumam Alya


"Kamu harus mengakui kalau calon suami mu ini ganteng.. "ujar Tian sambil menowel dagu Alya.

__ADS_1


"Ih.. kak Tian dari kemaren salah minum obat ya. Kok genit banget sih... "ucap Alya sambil nyengir


"Sekarang kamu ikuti arahan dari penata gayanya... Kita mulai pemotretannya.. "


Tony dan rekan nya mengarahkan gaya yang harus yang dilakukan Tian dan Alya dalam pemotretan kali ini. Tian yang cukup cerdas cepat sekali menangkap maksud penata gaya. Walaupun ia tak seorang model tapi Tian cepat mengerti dengan maksud fotografer. Hal ini mudah Tian lakukan karena ia sering turun ke lapangan ketika ada pemotretan buat promosi produk perusahaannya.


"Gimana... senang berfoto dengan aku sebagai modelnya... kamu bisa puas aku peluk"bisik Tian ditelinga Alya


"Kak Tian aja yang kesenangan meluk meluk Alya... "bisik Alya lagi


"Kak Tian nggak senang tuh kalau hanya sekedar di peluk... kak Tian mau yang lebih. Makanya kita nikah aja ya... kak Tian udah nggak tahan... "Tian membisikan ditelinga Alya sambil menggigitnya


"Kak Tian jangan mesum.. ini distudio"Alya menyikut perut Tian dengan sikunya


"Auww... sakit. Kamu jangan gitu... kalau mau kak Tian peluk ngomong aja baik baik... "ucap Tian membuat semua orang yang ada distudio memandang ke arah mereka.


"Kalian... di studio masih sempatnya mesra mesraan... "ujar Tony


Di sudut ruangan Satria memperhatikan semua tingkah Alya dan Tian. Ia merasa cemburu melihat Tian dan Alya yang tampak sangat mesra. Satria datang karena ingin bicara dengan Alya.


"Gimana Ton... udah pemotretannya... "


"Sudah cukup... kalian istirahatlah dulu... Oh ya kamu bisa ikut aku untuk melihat hasil fotonya. Kamu mau pilih yang mana nanti buat promosi. Kita ke ruangan ku sekarang"


"Alya... bisa kita bicara... "Satria menghampiri Alya yang akan pergi mengganti pakaiannya.


Alya memandang ke arah Tian meminta persetujuannya. Tian yang mengerti maksud Alya, menganggukkan kepalanya,


"Alya... sebaiknya kita bicara di luar. Kafe depan aja.. "


Tian mendekati Alya dan berbisik ditelinganya... "Aku hanya memberimu waktu nsatu jam buat bicara... jangan lama lama kalau tak ingin aku menyusul ke kafe"


"Iya kak... Alya juga harus bicara dengan Satria. Eh... lagi pula kok kak Tian jadi ngatur Alya... "


"Tentu saja aku berhak mengaturmu... aku sudah bilangkan... kamu itu calon istriku... "


"Ih... siapa juga yang telah setuju jadi istri kak Tian... "


"Aku tak perlu persetujuanmu.. "


"Hhhmmmm.... "Satria sengaja berdehem agar Tian dan Alya berhenti berbisik dihadapannya.


"Maaf kak... jadi lama menunggu. Alya ganti pakaian dulu ya... "Alya masuk ke kamar ganti dengan tergesa.


Tian berlalu dari hadapan Satria tanpa memandang ataupun menegurnya. Ia masuk ke ruang kerja Tony.


Tony melihatkan semua hasil foto tadi. Tian memilih dengan bantuan staf bagian promosi perusahaannya. Beberapa foto akhirnya Tian pilih. Dua diantaranya Tian minta agar Tony mencetak dan memperbesarnya buat pajangan di kamarnya.


__ADS_1



Di kafe seberang kantor agensi tampak Alya dan Satria yang sedang mengobrol.


"Alya, aku mohon maaf atas apa yang aku lakukan kemaren. Aku tak melihatmu yang menghalangi Tian... apa punggungnya masih terasa sakit "


"Sudah tidak sakit.. itu bukan sepenuhnya salah kamu. Satria...Alya mohon.. mulai saat ini jangan lagi bertengkar dengan kak Tian"


"Mengapa Alya... kamu takut aku melukai Tian"


"Bukan begitu Satria.. yang akan terluka bukan hanya Kak Tian tapi kamu juga"


"Alya... aku menemuimu ingin meminta maaf atas semua yang pernah Sari lakukan padamu. Aku sebagai kakaknya tidak pernah mengira Sari akan berbuat senekat itu."


"Semuanya telah Alya lupakan... dan Alya juga berharap kamu melupakan semua yang pernah kak Tian dan Alya lakukan pada Sari"


"Untuk memaafkan Tian sangat sulit bagiku Alya. Karena semua yang Sari lakukan padamu itu semua karena Tian. Sari yang takut kehilangan Tian tanpa berpikir melakukan kesalahan yang fatal. Seandainya Tian memutuskan hubungannya dengan Sari dan tak memberi harapan palsu mungkin Sari bisa menerima pernikahan kalian dulu. Sari mengira kamulah penghalang buat ia menikah dengan Tian... Sari menganggap kamu yang menggoda Tian. Padahal kamu tak tahu apa apa. Kamu dan Sari adalah korban keserakahan Tian. Yang tak cukup berhubungan dengan satu wanita... "Satria berucap tanpa jeda dengan nafas yang terburu buru.


"Satria... Alya tak bisa memaksa kamu buat memaafkan kak Tian. Tapi apa yang telah terjadi tak akan mungkin dapat diulang dan diperbaiki. Sebaiknya kita saling memaafkan dan melupakan apa yang pernah terjadi.. kita harus memulai cerita yang baru.. setiap manusia pernah melakukan kesalahan "


"Alya... apa kamu mencintai Tian"


"Satria... apa itu perlu Alya jawab. Kamu pasti bisa tahu tanpa perlu Alya menjawabnya... "


"Apa kamu masih mau berteman denganku setelah tahu kalau aku kakaknya Sari"


"Mengapa tidak... kamu tidak salah. Lagi pula Alya juga sudah memaafkan semua kesalahan Sari... "


"Alya.. aku janji akan membawa Sari kehadapanmu... agar ia bisa meminta maaf langsung padamu... "


"Nggak perlu Sat... jika itu akan membuat Sari canggung.... "


"Hhmmmm.... sudah bicaranya... "Tian yang baru muncul langsung duduk disebelah Alya


"Kak Tian... mengapa nyusul ke sini. Apa sudah selesai milih fotonya... "


"Sudah... sekalian foto prewedding kita... kak Tian telah memilihnya... "


"Eh... maaf Satria.. kak Tian orangnya suka bercanda... "


"Mengapa kamu harus minta maaf dengan Satria... memang kita sekalian foto pre-wedding kan tadi"


"Kak Tiannn... "ucap Alya sambil membesarkan matanya memandang Tian


"Maaf Satria... waktumu sudah habis bicara dengan Alya... aku harus membawanya kembali... "Tian memegang pergelangan tangan Alya membawanya berlalu dari hadapan Satria


"Alya... apa kesempatan ku buat mendekatimu sudah tidak ada lagi... Apa kamu benar banar telah memilih Tian untuk kembali menjalin hubungan serius. Kamu tidak pernah memberi ku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat... Alya... aku benar benar mencintaimu... aku masih berharap ada sedikit harapanku untuk dapat memilikimu... "bathin Satria..


**************************

__ADS_1


Terima kasih buat yang tetap setia membaca novel ini.


Mampir juga ke novel ku CINTA TAK PERNAH SALAH


__ADS_2