
Aduh sebenrnya ini karya dikit banget yang baca. tapi kalian tetap bertahan hiks hiks. makasih kalian semua, sayang kalian banyak banyak!
Ando terkekeh mendengarnya. “secepat itu yah dia membuang kita. apa kita sangat tidak penting baginya ? apa kita hanya dianggap babu yah?” Ando berkata sangat miris dan lirih. Suaranya seperti tertahan tenggorokan.
Diki mengangguk.”Bahkan aku yang sudah bertahun tahun menjadi babunya dicampakkan tanpa banyak kata. “ Diki merasa kesal, marah sedih. Tapi lebih banyak ke kecewa. Tak menyangkah Letta sejahat ini kepadanya. Tiger? Ia menggeleng tak paham. Padahal mereka yang ingin jauh-jauh dari Letta sekarang masih menyalahkan Letta. Jadi sekarang harusnya kudu otoke??
Letta melangkah memasuki hotel kembali, hari sudah malam, dan tadi ia meninggalkan Carmon dengan Baron. Saat memasuki kamar ia mendapatkannya keadaan Carmon lebih memperihatinkan, ia sudah di infus dengan suhu ruangan yang sangat dingin, tubuhnya dikipas menggunakan kipas entah dari mana oleh Baron dan Virgo. Keduanya sontak menoleh kepada Letta yang berada diarah pintu.” Letta bagaimana?”Tanya Baron.
Letta melirik Virgo dalam. Virgo diam tergagap menatap tatapan letta. Letta masuk dan mendekati Carmon yang tak berbusana sama sekali, berdehem kepada Baron dan Virgo yang memaling muka. Letta yang melihat mereka yang merasa malu.
Letta menatap keduanya, melirik Carmon yang memejamkan mata, keadanya sangat kacau, tubuh penuh keringat dingin menatap Letta pucat. Carmon bisa melihat wajah letta yang sedari tadi ia cari. Carmon tidak berkata apa apa, tapi keadaanya sangat jauh dari katakana baik. Letta mengeluarkan jarum suntik dari tas miliknya, lalu cairan merah dalam sana, menatap Carmon yang meliriknya dengan bergumam. Jangan macam macam, mungkin itu yang ia katakan,
“Nona apa yang kau lakukan?” Tanya Virgo kepada Letta yang hendak menyuntik Carmon.
Letta menatap Virgo dua detik lalu kembali mendekati Carmon.” Ini hanya obat penenang, jika tidak Carmon tidak akan bisa lebih jauh menahan rasa sakit ini. “ Jawab Letta.
Baron dan Vorgo menatap letta dengan tandatanya." memang boleh?" Tanya Baron polos. Letta berdehem saja.
” Terus mengapa tidak sedari tadi kau suntik bodoh..!” Maki Carmon pelan menatap Letta menyuntik di bagian bius tangannya. Letta menatap Carmon dengan tatapan memutar bola mata malas.
Letta tidak mungkinkan sengaja melakukan itu agar Carmon merasakan sakit?
Hahaha iya Letta sengaja melakukannya, letta tidak akan menyianyiakan kesempatan untuk menyakiti keturunan Samuel. Dengan senang ia ucapkan terimakasih kepada pembuat racun atau pemberi racun. Lagipula jujur dokter yang ia panggil adalah orangnya, dan ini efek bukan dari racun., melainkan efek dari biotik yang ia rancang untuk melumpuhkan lawan dan yang ia suntikkan ini adalah penawarnya. Jila tidak Carmon akan mati. Sudah letta bikang jika keturunan Samuel tidak akan bisa hidup tenang dan mati dengan mudah..!!!
Lalu kemarin dokter bilang itu hanya efek dari proses pengeluaran racun atau darah yang sudah terinfeksi racun?
__ADS_1
Itu memang benar, tapi efeknya tidak semenyakitkan yang dirasakan Carmon, dan itu hanya muntah darah sebentar selebihnya tidak.
“Menurutmu kenapa?”Tanya Letta pelan kepada Carmon. Carmon lemas menatap Letta dalam dan dendam. Letta menghela nafas.”aku keluar harus mencari obat untukmu. Kau pikir aku kemana selama ini? aku tidak tega melihatmu sengsara Carmon.” Ujar letta pelan. Alasan.! itu hanya alasan bulshit milik Letta, itu agar Carmon luluh dan tidak mencurigainya
Carmon mendengarnya terdiam. Mengerjab mengepalkan tangan, rasanya tubuhnya sudah tak bertulang saking lelahnya menahan sakit. Menatap mata letta mencari kebohongan, tapi mata letta sangat dingin dan tak bisa ditebak. Carmon juga tidak bisa berfikir jernih hanya diam memejamkan mata.
Jika yang dikatakan Letta benar, itu artinya Letta sangat memperhatikan dirinya kan? dan ia berhutang Budi pada Letta...
Tepatnya ia sudah banyak juga Budi dengan Letta.
“Kalian kembalilah kekamar kalian, biar aku menjaga tuan kalian..!!!” ujar Letta kepada Virgo dan Baron. Keduanya mengangguk lemah. Menjaga Carmon yang terus memami, mengatakan ricauan tak jelas sedari tadi sangat menguras tenaga mereka. Mereka mengangguk pelan memilih pergi seusai berpamitan kepaa Carmon yang tidak dijawab.
Letta melonggarkan kancing baju atas miliknya, mematap Carmon yang sudah jauh lebih tenang, memejamkan matanya sejenak merasa hawa panas sudah berangsur menjadi kebuh dingin. Letta mematihkan AC dan mulai ke kamar mandi. Carmon melirik letta lemah, lalu memejamkan lagi matanya. ia sangat lelah dan lemas.
Letta keluar dari kamar mandi seusai dua puluh menit di dalam, ia bergegas memesan makanan dan menatap Carmon yang memjamkan mata. Letta menggeleng pelan, tidak nyaman melihat pemandangan yang ob normal ini, melirik kearah pintu yang diketuk. Letta mendekat arah pintu dan mengambil pesanannya. Letta kembali duduk di dekat Carmon.,
Letta paham, segera membantu Carmon duduk, membantu Carmon dengan menyuapinya. Carmon menerima bantuan Letta, memakan suapan dari letta. Dengan telaten letta menyuapinya dan mengusap bibirnya. Carmon bisa merasakan hangat dari letta yang begini. Hatinya menghangat merasa jika amarahnya sedari tadi tidak berdasar. Ia selalu menyalahkan Letta tapi letta selalu membantunya.
Makanannya habis tanpa di sadari, letta memberikan Carmon obat yang telah di sediakan. Letta juga memberikan Carmon minum air putih banyak banyak. Letta membantu carmon kembali tidur, menutupi tubuh Carmon telaten. Letta terseyum tipis.”Tidurlah, aku akan menjagamu malam ini.”Ujar letta pelan.
Carmon diam merada tubuhnya semakin membaik, mengangguk pelan memejamkan mata, rasa sakit perut berganti kosong dan terisi dengan cepat. Carmon mengantuk mungkin akibat suntikan atau obat diberi Letta. Ia berdehem dan tertidur pulas.
Letta melihatnya tersenyum sinis, memnatap kearah lain. Ia duduk dan kembali keatas kasur miliknya, ia memilih menyangga kepalanya dan menatap langit langit kamar. Ia menghela nafas melirik Carmon. Ingat ia harus kuat untuk membalas semua yang mereka lewatkan, terutama kematian orang tuanya. Ia harus melakukan rencananya dengan sempurna. Hmm letta harus lebih cepat membuat Carmon jatuh cinta.
Di sisi lain ragiel menatap datar nbawahannya yang tidak membawa kabar baik.” Dan mereka hilang bak ditelan bumi? Itu artinya mereka tertangkap?”Tanya ragiel tenang. Ia mengambil whine yang ada diatas meja, menyesapnya pelan merasakan panit dan manis dipadu menjadi atau menjadi candu bagi penikmatnya . Termasuk Ragiel.
__ADS_1
Penjaga mengangguk ragu.” Benar tuan. Mereka hilang bak ditelan bumi seusai tugas tuan untuk mencelakai kembaran nona muda, sepertinya dia memiliki penjaga bayangan sekarang jadi tidak bisa dilukai.” Ujar penjaga pelan dna juga tak enak. Takut tuannya akan mengamuk.
Ragiel mengangguk paham, menyesap rasa pahit ditenggorokannya. “dia dan kakaknya selalu dijaga ketat oleh penjaga bayangan sedari dulu, mangkanya sangat sulit bagiku untuk membunuh mereka sedari dulu tanpa sepengetahuan letta. Mereka menjadi hama besar bagi ku.”Bisiknya kesal.
“Lagi pula selagi nona muda masih setida kepada tuan mereka bukanlah hal yang menjadi ancaman. Tuan sudah memegang jantung nona, sudah pastilah hidupnya dikendalikan tuan, lantas apa yang tuan takutkan lagi?”Tanyanya heran kepada sang tuannya. Tuannya terlalu serakah, itu yang tak ia sukai.
Ragiel menatap tangan kananya tak senang “Fier... kau yakin ada manusia yang merasa cukup temtang kekhawatiran? Aku memegang jantungnya tapi hidupnya milik dirinya. Jika aku menggenggam dan membuuh kedua kakaknya maka sudah tak ada alasan untuk ia bebas diluar sana. Dia harus berfikir dua kali untuk bebas dariku.”
“tapi dengan keilangan kedua kakaknya dia akan kehilangan kehidupannya. Aku yakin nona akan menyusul keduanya dan kepuasan yang anda gadang gadangkan menjadi penyesalan yang nyata tuan. Lebih baik ambil jalur aman, beri ruang untik kakak nona muda bahagia dan nona merasa nyaman dengan tuan. Aku yakin dia tak akan lari dari hidup tuan.” Jawab penjaganya tenang.
Ragiel mendengus.” Kau tidak akan mengerti. Percuma bicara dengan manusia sok suci..!” ragiel kembali meneguk whine miliknya tak menghiraukan tangan Kananya menatap Ragiel benci. Iya dia tidak menyukai tuannya yang serakah ini. bisa bisanya ia mengikat dan menghancurkan wanita dicintainya.
Zaxi menatap adiknya nanar. Adiknya hampir dibunuh semalam saat ia sedang dinas dikantornya, Ia sedang lembur untuk pekerjaan yang tertunda karena adiknya kemarin masuk rumah sakit, ia tidak terlalu melihat pekerjaan saat itu. tapi ia kembali kaget saat adiknya hampir dibunuh.
Mata adilknya terbuka pelan. zaxi dengan pelan mendekatia diknya dan mengusap pipi Areta.” Are?? Kamu nggak apa? “Tanyanya.
Areta terlihat mengerjab menatap kakaknya terdiam. Merasa pusing dikepalanya, ia berdehem mengingat apa yang terjadi. Saat tidak ingat apapun ia meminta kakaknya mengambil air minum karena tenggorokan sangat kering.” Aiir..!!:
Zaxi dengan segera mengambil air putih diatas meja yang di siapkan. Areta meneguknya pelan menatap sang kakak. matanya sangat berat dan kepala yang sangat sakit. Ingat dirinya mengapa bisa disini ia mengerjab lagi menatap kakaknya bergetra.”Kak.. ada ada.. ada yang ingin membunuhku.”Bisiknya bergetar pada zaxi. Menarik pelan baju zaxi bvagian lengan karena rasa takut menjadi jadi.
Zaxi memeluk sang adik hangat dan menyenangkan, mengusap pelan bahu adiknya bergetar. Areta menangis dipelkukan sang kakak, zaxi mengusap pelan punggungnya.” Kamu baik baik saja sekarang. jangan sedih. Jangan pikirkan lagi hal mengeringkan itu. kakak sudah membakar semua jasat mereka dan membuang abunya dilaut. Kamu tenang saja.” Bisik zaxi pada adiknya.
Areta menghela nafas merasa tubuhnya memanas, mengeliat tak nyaman. Merasa areta berbeda zaxi menjadi kelimpungan. Saat beginii areta apsti akan ingin melakukan sesautu hal menjijikan. Areta menatap kakaknya sayu.”kak... kakak.”nafasnya sperti tercepat tubuhnya panas,
Zaxi paham, ia mulai melakukan kegiatan gila antara adik dan kakak, hal yang harusnya dilarang. Tapi harus bagaimana lagi? Zaxi tidak ingin orang lain melakukan ini pada adiknya. Dia brengs3k. Dan ia zadar
__ADS_1
Pagi ini Carmon bangun dalam keadaan jauh lebih baik, matanya mengerjab pelan menatap pelapon, terasa sangat lemas tubuhnya. suhu ruangan sangat dingin semakin membuat ia mengeratkan selimut. Ha? Ia mengerjab pelan mengingat selimut, ia menatap tubuhnya yang ternyata sudah menggunakan baju. Baju?? Carmon ingat semalam ia membuka baju miliknya karena kepanasan. Carmon membeku sejenak merasa kalut.