Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Masa kecil


__ADS_3

“Tapi kamu tidak lupakan perjanjian kamu menjadi budakku selama satu bulan dimana kita bertaruh di club dnegan meminum Vodka, siapa yang mabuk pertama itu yang akan menjadi babu yang menang..!!” Letta kembali mengingatkan hal tersebut pada Carmon.Ini pertama kali Letta bicara panjang dengan Carmon.


Car,mon mendengarnya mengangga tak percaya.”Oh jadi yang tadi kamu bicarakan hal ini?? “


Letta memuytar bola mata malas akan pertanyaan Carmon. Carmon terkekeh menggaruk tengkuk tak gatal.”Aku pikir kamu tidak mengingat hal itu, Karena baru sekarang kamu mengingatkanya padaku.” Ujar Carmon pelan meneguk saliva terasa serat, ini cukup tidak mengenakkan. Ia tidak mau jadi banu, ia pikir selama ini Letta melupakan malam itu dikarenakan ada kesalahan lain. Ternyata tidak. Padahal ia selalu diam dan tidak mengungkit nya agar Letta tidak mengingat hal itu. Sia-sia saja usahanya selama ini untuk menutupi ingatan itu. Malah dia yang lupa jadinya.


Sepertinya Letta orang yang pedendam batin Carmon.


Letta mengerjab pelan.”Tidak, aku hanya mengambil waktu yang tepat untuk menagih, karena bagiku darah harus dibalas darah, jika bisa semua darah yang sama akan ku habisi untuk memuaskan janji yang sudah tertulis dalam masa lalu.” Tekan Letta dingin. Tangan Letta meremas pelan angin yang ada ditangannya. Letta berdecak dalam hati, dendam ini sangat dalam sampai menguasai semua dalam dirinya.


Carmon mentap Letta ngeri-ngeri sedap. “Oke lupakan, aku tidak tau jika kamu gadis em maksudku janda pedendam. Tapi bisakah nego saja? Gajimu yang dinaiki begitu???” Tanya Carmon memelas, sedikit menekan rasa takut karena mata Letta yang penuh ambisi pembunuhan sangat kentara.


Letta menggeleng pelan dan melangkah pergi meninggalkan Carmon meninju angin. Carmon berdecap pelan memukul kepalanya.,”Bodoh. Kenapa aku harus takut dengannya? Aku ini laki-laki sejati, sialan mati saja lah..!” Ia memukul pelan kepalanya sendiri. Tak senang jika dirinya dikendalikan, selama ini ia yang mengendalikan bukan orang lain. Carmon mengerjab pelan meringis.”Tapi dia sangat menakutkan, bagaimana bisa wanita mmeiliki aura semacam itu, ia terlihat ingin membunuhku setiap kali berbicara padaku. “Gumam Lagi Carmon tak senang. Menghela nafas mengusap dadanya. Sabar ini akan berlalu dan ia pastikan akan mengatur Letta bukan seperti ini. oke tunggu saja.


Letta mendekati Bara yang masih main. Letta melambaikan sekali kepada Bara, Bara pun disana terdiam mendekat kepada Letta, Jesika yang melihatpun ikut bersama Bara untuk mendekati Letta. Yah jesika juga ikut main.


Terlihat Letta mengusap keringat Bara pelan membuat Jesika terdiam iri. Letta melirik Jesika dan juga menguisap kepala Jesika. Jesika yang tadinya terdiam iri sekarang menatap Letta terenyum lebar. Bara mendengus merampas tangan Letta dari kepala Jesika menaruh dikepalanya.” Kepala Bara saja moms, jangan dia.” Ujar Bara terlihat jeoles pada Jesika. Jesika melihat Bara mendelik tak terima, tetapi meksyi begitu Jesika juga tidak berani untuk melawan.


Letta berdehem sejenak diperebutkan dua bocah, ini cukup menggelitik, lebih menggelitik disbanding melihat atraksi lelucon. Sedikit menyenangkan.

__ADS_1


Ingat hanya sedikit.


“Baik kalian sudah bermain lebih dari empat jam, dimuali dari main dikolam bola, apalagi tadi? Moms tidak tau tapi kalian harus pulang sebelum magrib. Ini sudah sore kalian harus istirahat,.” Tegas Letta. Letta juga sangat lelah hari ini menemani anak-anak bermain.


Bara terlihat tak terima. "Loh mom, sekarang baru jam tiga, nanti saja, satu jam lagi yah moms.” Wajah penuh harap milik Bara menjurus pada Letta, karena ini pertama kali Bara merasakan main sepuas ini tanpa memikirkan besok harus makan apa karena lapar.


Jesika pun memegang lengan Leta.”iya moms, Jesika baru kali ini main seperti ini, satu jam lagi saja.” Ujar Jesika memelas bak anak kucing.


Letta menggeleng tegas.” No, kalian harus pulang sekarang. Nanti kita akan ketempat membeli mainan dulu baru pulang. Jika kalian tidak mau maka kalian tidak akan moms beri mainan!” Tegas Letta tak mau dibantah


Mendengar kata mainan membuat dua bocah sangat. semangat menatap Letta, wajah murung berubah menjadi 180 derajat.


Carmon dari jauh menatap interaksi Letta pun menghela nafas.”Jika begini, nanti aku rasa dia yang menjadi ayah dari anakku dan aku jadi ibunya. Dia terlihat lebih sangar dan menakutkan dari pada aku. Itu sangat tidak adil.”Gerutunya mengingat nanti anak yang akan lahir dari Rahim Letta. Tapi setidaknya ia cukup bersyukur jika nanti anaknya akan memiliki ibu yang penyayang yah meksipun sedikit seram haha. Oke berhenti tertawa Carmon, ini bukan saatnya tertawa sekarang... yang harus dipikirkan bagaimana caranya nanti supaya Letta takut padanya bukan ia yang takut pada Letta, ia tidak mau masuk kedalam Grub bapak-bapak suami takut istri.. eh istri?


“Siapa yang melakukan hl ini padamu Are????” Tanya Zaxi keras pada Areta. Melihat penampilan Areta pulang dengan wajah penuh lebam di plaster, beberapa bagian pipi dicakar habis, rambut yang berantakan terlihat sangat menyedihkan membuat darah Zaxxi mendidih merasa terbakar panas rasa amarah.


Areta menatap kakaknya dengan memelas.” Itu istrinya Jastin kak, dia mengataiku pelakor di luar tadi, karena memprergokiku sedang berjalan-jalan bersama Jastin, semua mmandangku wanita rendahan. Dia juga menjambak rambutku, memukul dan menamparku kak. Ini sangat sakit.” Ujar Areta dengan memelas. Merasakan kepalanya maish nyut-nyutan sampai sekarang.


Jastin mengepalkan tangannya memegang dahi anaknya sendu.”Kamu sampai demam Are. Kakak akan balas perlakukanya sama kamu, kamu tenang saja. Kakak akan panggilkan dokter supaya kamu tidak sakit lagi.” Ujarnya pelan melangkah membantu Areta duduk dikasur untuk berbaring.

__ADS_1


Iya... selingkuhan Jastin itu adalah Areta.... Ia menyamar menjadi Airin wanita lain...


Areta mengangguk.”Kakak harus balas kak. Ini sangat sakit.. aku tidak mau tau dia harus merasakan lebih sakit dari pada apa yang ia lakukan padaku kak.” Areta menangis lagi merasakan kepalanya amish kebas. Zaxi menganguk mengusap kepala sang adik lembut.”Kakak panggilkan dokter dulu yah.”Ujar Zaxi meningalkan Areta. Areta mengangguk menatap sang kakak lirih.


Zaxi keluar menghubungi dokter pribadi milik keluarganya. Beberapa saat pergi ke belakang mengambil air dingin dan juga lap bersih. Kembali dengan Areta yang masih diam memejamkan mata. “Areta bangun,, biar kakak mandikan kepala kamu dulu dengan air hangat. Supaya kamu lebih rilek.” Areta membuka mata mengangguk merasa lemas memeluk lengan kakaknya. Zaxi mengangguk membawa Areta untuk ia mandikan, berselang beberapa menit Areta merasa kepalanya lebih baik dipijat dan dibantu oleh kakaknya tadi sekarang sudah tidur diatas kasur.


Bel ruimah berbunyi, zaxi membuka pintu, disana sudah ada dokter yang selalu menangani keluarga Zaxi. Zaxi memberikan jalan untuk ia kekamar milik Areta. Areta diam merasakan suhu tubuhnya panas.” Dia demam karena merasa cemas yang berlebihan, dan juga karena luka ditubuhnya membuat ia kaget, sepertinya adik anda memiliki trauma yang kambu. “ Ujar dokter prihatin pada Areta.


Zaxi diam mendengar dokter bicara mengepalkan tangannya. Dokter menghela nafas,.”Sebaiknya biarkan nona Areta istirahat dulu dan konsumsi obatnya tiga kali sehari, aku akan membuat resepnya dan kamu beli sendiri diapotik nanti Zaxi. Kamu harus menjaga adikmu, saya takut nanti malam ia akan demam tambah parah. Jika nanti malam panasnya tidak redah lebih baik kamu bawa kerumah sakit agar tidak terjadi suatu hal yang buruk, “ Ujar dokter.


Zaxi menghela nafas mengangguk.” Tapi sekarang bagaimana dok?” dokter menggeleng.”Tidak masalah, panasnya sudah lebih baik, tapi aku hanya takut karena traumanya membuat panasnya naik semakin tinggi. Kamu harus menjaganya malam ini oke, jangan sampai kamu lengah.” Zaxi mengangguk menatap Areta yang tertidur damais etlah meminum obat dan di suntik. Meremas tangannya merasa nyeri. Tak suka adiknya begini.


Dokter mengangguk.”Baik, aku pergi dulu yah. ini resep obatnya.”Dokter memberikan resep obat pada Zaxi.


Zaxi menganguk menatap dokter nanar.” Terimkasih dok, untuk uang admistrasinya sudahku transfer di rekening biasa.” Jawan Zaxi.


Dokter terlihat mengangguk.”Terimakasih. Nanti hubungi aku lagi jika ada sesuatu.” Zaxi mengangguk mengantarkan dokter keluar. Saat Dikter keluar Zaxi menghela nafas mengusap kepalanya nanar.


“ Letta, pasti dia merasakan sakit Areta juga.”bisiknya pelan. secara keduanya adalah anak kembar. Semoga saja tidak.

__ADS_1


Zaci melangkah menuju ke kamarnya, ia mengambil HP miliknya, zaxi pastikan besok Agatha tidak akan berani keluar rumahh karena malu, atau Agatha lebih baik mati bunuh diri.


__ADS_2