Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
55


__ADS_3

Letta melik Ando.” Bagaimana kabar hubungannya dengan anak bungsu Samuel? Apakah sudah ada perkembangan?”


Bara diam melirik Letta yang serius, Ando yang sedari tadi makan dalam diam sedikit kaget Letta menanyakan tugasnya.


Ando melirik Letta cengengesan menggaruk pipi miliknya yang tak gatal.”Dia sangat sombong, susah untuk didekatkan. Aku akan lebih berusaha lagi untuk mendekatinya.” Ando sedikit takut untuk jujur tapi berbohong juga bukan hal baik di hadapan Letta. Ando masih ingin menikah dimasa depan. Letta mengangguk paham.


“Apakah Carmon sudah mencariku??” Tanya Letta lagi pada Ziko.


Ziko mengangguk.”Dia juga sempat kerumah Ragiel untuk mencarimu, tapi dia hampir dibunuh oleh Ragiel. Dia mengira kau hamil anaknya,” Ujar Ziko dengan pelan dan tenang.


Letta tersenyum miring mengambil tysu untuk mengelap bibirnya.”Baik. aku ingin mendengar kabar baik besok... kalian paham kan?” Letta menekan kata-kata ' Kalian paham kan' Itu membuat Saliva ketiga temannya mendadak kering.


Ketiganya mengangguk, termasuk Bara yang hanya ikut mengangguk semangat.”Baik Bara akan memberi kabar haik dengan kemenangan Bara. jadi Moms jangan khawatir.”


Letta terkekeh menepuk kepala Bara pelan menambah kadar senyum merekah dikedua pipi Bara yang sudah merona." Baik, Moms menunggu..."


" Jangan tepuk kepala Bara Moms, Bara sudah besar... Malu." Ujar Bara sedikit malu-malu karena perlakuan Letta seakan dirinya masih kecil. eh memang masih kecil kan?


" Moms baru tau kamu sudah besar...."


" Moms....!!!" Letta malah tertawa Melihat wajah Bara yang terlihat lucu karena marah dan kesal, Bara membuang muka menutupi diri yang sedang bahagia karena ibu angkatnya tertawa. Oke katakan Bara bangga sudah membuat Letta tertawa seperti ini.


Sedangkan ketiga teman Letta menghela nafas, sejak ada Bara suasana digin bersama Letta sedikit berkurang. Bersyukur ada Bara yang polos nan lugu tak mengerti arti pembicaraan orang-orang.


...----------------...


Letta memoleskan bibirnya menggunakan lipstick merah gelap yang ia sukai, tersenyum tipis melihat riasan wajahnya. Letta bisa merias wajah hey..!! dia masih wanita tulen , hanya saja riasan wajahnya tipis, menggunkan sunscreen, lipstick yang merah gelap adalah lipstick paling Letta sukai, eliner dan juga beberapa lainnya, supaya wajahnya tidak terlihat pucat dan orang lain masih bisa mengenali dirinya jika dirinya adalah perempuan tulen.


Letta memilih menggunakan celana Levis panjang berwarna hitam, baju hitam dengan rompi kulit dengan warna senada, rambut panjang yang di ikat tinggi seperti ekor sapi, Letta terlihat badas dengan penampilan begini. Oh jangan lupakan sepatu cat tinggi yang memiliki hils 8 centi menambah kadar ketinggian dan penampilannya, kalung mendiang ibunya, cincin mendiang ayahnya. Letta mulai mengambil tas hitam miliknya menaruh HP miliknya dan beberapa kartu.


Letta keluar dari kamar mengunci kamarnya, di depan ruang tamu ada Ziko yang memegang laptop dan Ando yang tidur. Letta menarik satu alisnya bertanya.”Ando nggak kuliah?”


Ziko melirik sejenak dan menggeleng.”Dosennya ngak masuk, “

__ADS_1


Letta mengangguk, tau jika Ziko itu kerja, Ziko itu salah satu IT terbaik di kotanya dengan nama samaran yang sangat privasi, dia memang kerja dari rumah dengan gaji satu bulan mampu membeli ginjal manusia, sedangkan Ando anak bungsu dari enam saudara anak kongllomerat tambang emas di papua, memiliki tiga kakak perempuan dan dua kakak laki-laki. Ando sendiri tidak kerja hanya kulia saja.


Letta mengambil kunci mobil yang tergantung didekat patri meja makan makan, melangkah keluar ruangan. Ziiko tak juga ambil peduli tetap pada pekerjaannya, Ando yang tak terganggu juga. Letta melangkah membawa mobil kuning miliknya. Kalian tau kenapa Letta suka warna kuning dimobilnya? Karena jika ditempat ramai Letta berfikir akan mudah mencari mobilnya, akan mudah mendapatkan mobil miliknya. Jadilah ia lebih memilih mobil dengan warna yang memudahkan pekerjaannya,.


Dua pulih menit mengendarai mobil Letta sampai di sekolah milik Bara, ada banyak orang tua urid yang datang. Letta mngambil kaca matanya datar dan keluar dari mobil, bak dewi turun dari bukmi, semua mengalihkan atensi kepada Letta. Letta tak mengindahkan itu, mengambil tasnya dan menutup mobil miliknya. Melangkah mengabaikan orang yang menatapnya


Letta mendekati panitia yang ada didekat pintu masuk bertanya.,”Dimana kelas olimpiade matematika?”


Orang yang ditanya sedikit terdiam insecure, tinggi Letta bukan maun-main, ia yang hanya 149Cm sedikit tersisihkan di samping Letta. Ia menunjukan arah jalan sopan.” Hemm ibu tinggal kekiri saja lurus sampai mentok, disana nanti ada pintu kaca, ibu buka terus naik tangga keatas ke lantai dua, di sana ibu bisa baca kelas olimpiade matematikanya dimana yah bu.” Ujarnya pelan dan sopan. Letta mengangguk melangkah meningalkan tanpa mengucapkan terimakasih.


Sosok panitia itu menghirup nafas dalam dan membuangnya.”Yaampun bauk uangnya nyengat banget., ngomong-ngomong harga kaca mata dia pasti bisa beli kontrakan gue.”Bisiknya pelan. Letta yang mendengar tersenyum tipis. Iya si kacamatanya itu harganya pulihan juta.


...----------------...


Di siisi lain sosok gadis mungil menatap penuh harap kedua orang tuanya yang sedang makan di ruang makan. Memakan pelan nasi goreng ,miliknya sembari berfikir cara untuk mengatakan hal ini pada orang tuanya. Jesika melilik Agatha dan Jastin ayahnya yang masing-masing sibuk dengan HP dan makannya. Di sana juga ada Samuel dan juga istrinya Argi yang diam saja memakan makananya penuh khidmat.


Carmon yang duduk didepan keponakannya itu cukup heran. “kamu kenapa?? Sakit perut?” Pertanyaan Cramon menghadiakan atensi semua orang dimeja makan kepada Carmon dan juga empu yang ditanya.


“kamu sakit Jes?” Tanya Sam penasaran pada Jesika.


Jesika melirik Cramon meringis. Pamannya ini benar-benar menguji kesabarannya, tapi juga harus berterimakasih, jika tidak begini ia tak akan berani angkat bivara. Jesika menghela nafas, meneguk susu miliknya sejenak untuk menetralkannya degub jantung miliknya.


Mengepalkan tangan menguatkan melirik Jastin dan Agatha. “Emm ituu... Mama dan papa jadikan li-liat Jesika lomba cerdas cermat matematika?” Tanya Jesika mencicit.


Agatha melirik Jastin dan menatap Jesika lagi.” Hari ini yah?” Tanya Jastin pelan pada sang anak. Jesika mengangguk mengiyakan pertanyaan Jastin sembari melirik ayahnya.


Jastin menatap anaknya dengan raut tak enak dipandnag.” Duh sayang papa hari ini sibuk, ada beberapa miting dengan perusahaan besar lain yang tidak bisa dicancel. Pergi bareng mama dulu yah hari ini.”Jastin mengusap kepala sang anak pelan. jesika melirik ayahnya sendu merasa kecewa. Lalu melirik Agatha penuh harap.


Agatha mendelik kepada suaminya.”Kamu bohongkan, pasti mau ketemu selingkuhan kamu itu..!” Tegasnya pada Jastin.


Jastin melotot menatap Agatha hendak memprotes. Agahta mengibas-ngibaskan tanganya.” Mama juga nggak bsa hari ini. kamu liat mama udah siap gini kan? mama ada janji buat arisan diluar kota, tinggal berangkat aja dua jam, lagi kalo ngak nanti mama ketingalan pesawat teman mama.” Ujar Agahta dengan pelan pada sang anak.


Jesika melirik Ibunya dengan wajah murung, menuduk meremas kedua tangannya nanar. Jastin melihat sang anak murung dan diam begini merasa tak enak. Melirik Agatha yang makan santai.” Ta kamu itu kan mamanya. Harusnya kamu bisa dong nemenin anak kamu, dibanding kamu sama orang-orang sosialita kamu yang tidak berguna itu, mending kamu nemenin anak kita.” Tegas Jastin pada Agatha.

__ADS_1


Agatha melirik suaminya memelas.”Dan kamu papanya tapi malah sibuk dengan selingkuhan kamu, melakukan hal yang nggak seharusnya dimana-mana, menyatuhkan kelamin kalian dimana saja yang kalian ingin kan. Hey.... kam-- “


“plas... Agatha..!!!” Teriak Jastin keras membanting piring miliuknya kuat. Agatha diam memejamkan mata merasa tubuhnya bergetar tak terkendali mendengar teriakan jastin,


Jastin mengepalkan tangan hendak memukul Atagha, tetapi suara Samuel menghentikan Jastin.” Kalian masih ingin bertengkar?” jastin mengepalkan tangan diatas udara tak jadi memukul sang istri, memejamkan mata menenangkan emosi yang meledak. Di sisi lain Jesika mengepalkan tangan mungil miliknya di dua sisi tubuhnya. menahan diri untuk tak menangis, tetapi tetap saja tubuhnya bergetar tanpa diminta. Rasa takut menjalar keseluruh tubuh miliknya.


Jastin mendneggus mengambil tas miiliknya melangkah pergi meninggalkan meja makan, Agatha pun memilih mendenggus melangkah kekamarnya dan mengambil tas miliknya, tak berselang lima menit ia sudah turun dengan tas miliknya dan pergi meninggalkan rumah itu tanpa bicara.


Jesika diam menatap nanar kedua orang tuanya, mengepalkan tangan menahan diri untuk tak menangis, tapi kedukaan hati sangat dalam, tak mampu menahan embun akan keluar, semakin ditahan maka semakin banyak embun duka keluar menyeruak, dada Jesika menjadi nyeri lantaran ancaman kenyataan yang ada.


Usia Jesika belum genap tujuh tahun, tapi baik batin maupun fisiknya sudah rusak sejak dini, entah harus menyalakan siapa, Jesika sadar jika kesalahan utama dalam hidupnya adalah terlahir didunia ini, bukan kesalahan antara kedua orang tuanya. Andai saja dia tak dilahirkan tak mungkin hidup nya semenyedih ini. Jika bisa memilih Jesika memilih tidak hadir saja didunia ini.


Isakan Jesika terdnegar lirih dengan bibir yang bungkam,, tubuhnya bergetar tak tahan. Samuel , Argi dan Cramon menatapnya sendu dan juga kasihan. Argi mendekati Jesika dan mengusap bahu anak itu pelan.”Jangan nangis,”


Tapi alih-alih berhenti menangis, tangisan Jesika malah tambah kuat dan tambah pilu. Argi menjadi gelagapan menenangkan cucunya., Samuel diam melirik Carmon dan istrinya.


Carmon menghela nafas pelan, Melirik Baron sebentar.” Bawa dia. Aku yang akan menemaninya hari ini. kebetulan aku Fre..” Ujar Carmon pelan.


Samuel memutar bola mata malas.” Free atau kau yang memfreekan diri?” Ejek Samuel yang sudah mengenal Tabiat anaknya.


Carmon itu sosok pembangkang, tak suka diatur dan tak suka dikekang, akan selalu menyenangkan diri bagaimanapun caranya.


Carmon mengangkat bahu acuh.”Yah setidaknya sampai aku belum punya anak, karena jika aku punya anak aku akan sibuk mencari uang agar anakku nanti bisa sombong.” Ujar Carmon dengan Baron yang mengangkat tubuh Jesika. Carmon melangkah meningalkan Samuel yang diam dan Argi yang melirik cucunya. Sebenarnya Jesika kurang disenangi, karena dia dikenal cengeng dan hemmmm IQ yang rendah. Susah untuk memahami pelajaran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak yah.


__ADS_2