Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Lagi


__ADS_3

“Aku tidak mau tau, kau harus menemukan identitasnya, dan habisi dia. Aku akan membayar sesuai apa yang kamu inginkan.”tegas Samuel. Peter mengangguk pelan mengusap dagunya. Menatap kearah Samuel dingin.


" Aku tidak suka diperintah. Kamu tidak seharusnya bersikap bos dihadapan ku." Tegasnya tajam pada Samuel. harga dirinya seperti diragukan.


Samuel mendengus menahan diri. " Maaf aku kelewat emosi." Gumamnya sadar diri. sadar jika dirinya disini yang membutuhkan Peter bukan Peter yang membutuhkannya.


Peter mendengus mendengarnya. " Lemah, seperti itu saja emosi."


Samuel menatap Peter garang. " Kau bilang apa? lemah mulut mu lemah." Ujar Samuel sinis. bahkan jika orang lain jadi dirinya akan menangis darah. sialan Peter, mulutnya penuh dengan bisa. Samuel ingin sekali memukul wajahnya, andai ia punya wewenang.


Peter memiliki fitur wajah yang tidak tampan, malah menyeramkan karena alisnya yang menyatu, tubuh yang besar dan kekar. Kulit gelap dan berewok yang menghiasi dagunya. Pipinya terlihat banyak lebam karena banyak hal yang ia lakukan dengan tugas. Ia penguasa dunia gelap, Kalian paham? Dia ketua dari beberapa kasus gelap, ia juga punya kekuasan sehingga kekuasan miliknya tertutup rapat tanpa kebocoran sampai saat ini.


Bovi yang diruang sebela nya sedang menaruh alat mendengar suara didinding penuh teliti. Percakapan mereka terhenti. Bovi mengernyitkan dahinya heran.


“peter..”Gumamnya pelan, Bovi tidak asing nama itu tapi ia juga lupa. Bovi terus mencoba mengingat nama yang Samuel sebutkan.


Bovi juga sadar jika sebenarnya mungkin saja itu nama samaran kan?? suara mereka berpamitan menyadarkan Bavi. Bovi menggandeng perempuan yang ia bawa untuk keluar, perempuan tersebut hanya diam mengikuti Bovi sebab ia hanya perempuan bayaran yang Samuel bawa, lebih tepatnya ia karyawan Bovi.


Saat diluar Bovi sengaja berpapasan dengan Samuel berwajah datar. Garis guratan lelah sangat menvcetak diwajahnya. Samuel terlihat tidak tidur berhari hari dan Bovi suka,.


Seusainya Bovi melihat samu k i luar, disusul seorang lelaki keluar menggandeng perempuan yang menunggu di depan ruangannya. Bovi mengerjab menyibukkan diri menatap ponselnya, sampai dimata tatapan mereka bertemu. Bovi tertegun, mata lelaki tersebut mengedipkan satu mata kepadanya.


Bovi diam memilih pergi menuju mobilnya membawa orang yang ia bawah.”cepat kau lukis wajahnya tadi..” yah perempuan itu orang milik Bovi, selain cerdas otaknya sangat pengingat, sampai sekali lihat ia bisa melukis meski tak sama persis tapi akan mirip. Bobi menatap ciri cirinya.” Peter.. aku pernah dengar namanya. Dia bukan si raja Hantu kan?”Gumamnya ngeri. Iya, nama Peter itu yang ia kenal ah ralat, lebih tepatnya ia tau sebab mereka belum pernah bercengkrama atau tahu. Bovi hanya tau dengan mendengar dari beberapa rekannya saja.


Kenapa dijuluki Raja hantu. Peter adalah nama sebagai pengusa dunia gelap, tapi semua orang tiak pernah ,melihat wujud aslinya, katanya wajah milik peter berubah ubah setiap pertemuan sampai mereka sama sekali tidak tau mana wajah asli milik peter. Kepintaran jangan ditanya sebab jika dia bodoh dia tidak mungkin di segani oleh orang lain,


Kebringasan nya jangan diragukan. Dia salah satu orang kuat. kata orang dirinya kebal, menganut ilmu hitam atau pengikut iblis. Semua menganggapnya raja hantu bukan main main belaka, sebab ada banyak misteri yang ia sembunyikan. Dibalik semua itu, orang orang tahu jika peter adalah penjahat b4j1ngan.


Iya... sebab ia selalu bertingkah menjijikan, penggila uang, wanita dan harta.


Diruang lain. Zaxi dan letta sangat canggung. Letta yang memilih tidur dan Zaxi yang duduk di kamar letta. Tak ada percakapan seusai penjelasn letta mengapa ia sampai jatuh. Zaxi menyuruh orangnya untuk mencari tau kenapa bisa rem Letta blong.


Mereka tidak tau ingin membicarakan apa sebab Letta dan Zaxi tidak sedekat itu sampai saling bercakap sua. Ini saja sudah jauh dari kata baik.


Ditambah Letta yang tidak tau berbahasa atau berbasi, lalu Zaxi dengan penuh ke gengsian miliknya.


Setelahnya mereka berdiam sampai jam 7 malam. Telepon milik Zaxi berbunyi. Zaxi melirik Letta yang membuka mata akibat terganggu. Zaxi ragu mengambil hp miliknya. Zaxi terdiam sejenak.


Areta yang menelpon. Ia mengangkatnya dan melirik letta.”Halooo Re, kenapa?”tanyanya pelan.


Terdengar suara Areta menahan lirihan.” Kak Zaxi kenapa enggak pulang? Are takut dirumah sendirian.,” ujar arreta lirih. Sangat lirih.


Zaxi melirik Letta tak enak karena Letta dari tadi menatapnya. “emmm kan ada bodyguard Re. maaf kakak nggak bisa pulang malam ini yah.”ujarnya lirih. Ia tidak memberitahu areta jika Letta kecelakaan, ia takut areta akan khawatir atau cemas.


" Kakak... aare takut...Hiks hiks..."


Areta terdengar menahan tangis diiujung sana. Zaxi keteteran.”baik kakak pulang sekarang. kamu tunggu dirumah yah.” suara Areta kembali terdengar. Yang letta tau jika Zaxi akan pulang menemani Areta.

__ADS_1


Hahaha letta mengharapkan apa si? Ditemani saat sakit?? Kan yang sakit bukan hanya dirinya saja tapi juga areta. Ia jauh lebih sakit dari letta.


Areta lebih sakit dari Letta, ingat itu


Zaxi menatap Letta tak enak, mengusap kepalanya gugup.” Kakak pulang dulu yah, maaf kakak nggak jadi jagain kamu, soalnya Areta nggak berani dirumah sendiri kalo malam malam. Dia masih trauma.” Zaxi sangat tidak enak mengatakan hal itu. zaxi sadar jika saat ini sesungguhnya Letta juga membutuhkannya. Tapi dipikirannya Areta lebih penting karena keadaan. ia tak mau jika Areta sampai kejang kejang karena trauma, tak mau jika nanti Areta kambuh dan malah akan di manfaatkan para lelaki di mansionnya. Dia lebih memperihatinkan saat ini dari Letta


iya...Dia lebih memperihatinkan saat ini dari Letta


Dia lebih butuh dari dirinya.... Batin Letta ..


Sedangkan letta mengerjabkan mata pelan, lagi lagi rasa ini masih menggerogoti hati Letta. Letta tidak tau jika hatinya masih tak nyaman merasakan ketidak adilan ini. sebagai adik letta tetap menginginkan sedikit kehangatan yang sama, atau bahkan lebih.


Apalagi yang letta punya hanyalah zaxi sekarang, dan juga Areta. Ia juga berdiri sejauh ini berteman dengan rasa sakit hanya untuk kakak kakaknya. Letta merasa terbuang oleh mereka.


“Letta.” Zaxi kembali bicara saat tak mendapatkan jawaban dari Letta. Sudut hati Zaxi sakit melihat adiknya yang berwajah datar tak mengatakan apapun.


Letta menatap zaxi mengangguk.”pulanglah. aku sudah terbiasa.” Jawaban itu tidak diminta Letta untuk keluar tapi entah kenapa keluar.


Entah mengapa Zaxi merasa jika Letta menekan kata terbiasa, Hati zaxi terenyuh mendengar jawaban letta yang menjuru pada menyindir.,”Letta.. kamu harus paham keadaan. jika..”


"Jika Areta trauma dan jauh lebih membutuhkan sosok kakak dan pelukan. Kamu itu sehat dan juga tidak seperti Areta yang sedang sakit fisikis. Jadi pahamlah.” Lanjut Letta. Letta bahkan sampai hafal apa yang akan Zaxi katakana kepadanya, Bahkan jika Areta sakit fisikis nya, fikisisku sudah hancur. Melebur sampai tidak bisa menaruh rasa percaya, sayang bahkan marah.


Zaci terhenyak dengan ucapan letta. Hatinya tersentil dari tersudut. Zaxi menahan diri agar tidak menangis. Hatinya sangat sakit.”letta. kamu tau kan keadabanya begini. Jadi maaf ini demi kebaikan kalian.,” jawab Zaxi pelan. Zaxi sakit tapi masih tetap tidak tau jika Letta juga membutuhkan nya, tau tapi Areta jauh lebih di dahulukan karena jauh lebih membutuhkan dirinya dibandingkan Letta.


Letta mengangguk pelan.” iya..” Letta tak banyak bicara. Lagipula ia sudah biasa, rasanya tetap sama, sakit, kecewa. Tapi karena hatinya sudah mati, itu semua melebur dan menenangkan diri jika dirinya memang ditakdirkan untuk hidup sendiri, mencintai diri sendiri dan melindungi diri sendiri.


Hatinya tidak mati rasa. hanya sadar dirinya tidak penting didunia ini membuat ia tidak lagi ingin berharap, bahkan jika itu kebahagiaan.


Zaxi menjadi semakin merasa bersalah kepada Letta. Letta memejamkan mata sejenak.”nanti suruh Bovi kemari lagi, sebab kakiku ha,mpir patah dna tidak bisa jalan, tanganku juga retak tak bisa digerakkan.,” letta bicara dnegan pelan. sangat pelan.


Zaxi semakin tertekan akan ucapan letta. Sadar jika keadaan letta jauh dari kata baik semakin menyentik harga dirinya sebagai kakak. ingin memeluk Letta tapi ia tak bisa melakukannya. Hati zaxi menangis melihatnya.


“letta.” Tapi letta tidak menyahut. Letta hanya memejamkan mata membiarkan zaxi merasa bersalah sendiri."Kakak akan menjaga kamu malam ini." Gumam Zaxi yakin. Rasa ini sangat mencekik batin miliknya.


Tapi.


Kembali dapat pesan Dari pembantu jika Areta kembali kumat, ia kembali menggoda para penjaga di dpan kamar membuat zaxi panik, " Letta, Are kembali berulah, maaf kakak harus pergi." dengan berat hati, rasa sakit yang ia rasakan tadi bak uap yang menguap tanpa sisa. Meninggalkan dirinya dengan kepanikan.


ia segera keluar tanpa menjaga perasaan letta. Ia sangat khawatir jika Areta akan di lecehkan atau diapapakan oleh para lelaki itu. mereka pasti hanya memanfaatkan adilknya dan terus menerus nantinya. Zaxi tidak sudi.


Letta melihat kakaknya pergi saat dirinya tak menjawab apapun, terkekeh pelan. letta menatap tangannya yang bengkak, ini jauh lebih sakit dari sebelumnya tadi, kakinya bahkan juga membengkak terasa nyilu dan sakit. Letta menada menatap langit langit kamar miliknya. Siall ia tidak suka menjadi lemah,


Letta lebih suka di sakiti bagian fisik, mau di tendang, dipukul, di cambuk sebab semua rasa itu sangat nyata, terlihat tapi tidak dengan sakit dihati, semuanya tampak semu namun menyiksa.


Jika itu sakit fisik Semuanya karena letta pasti akan membalas, jika di pukul maka ia balik pukul, jika di tendang ia akan balik tendang. Lalu bagaimana jika dirinya diskaiti lewat hati dan keadaan?


Apa yang harus ia balas?

__ADS_1


Letta tidak suka, letta tidak ingin. Ia juga butuh kakaknya. Ia butuh tapi semua tak ia dapatkan. Letta terkekeh pelan memukul dadanya. Menambah kadar rasa sakit miliknya.”Bodoh. siapa suruh kau mengharapkan sesuatu. Lihat kau terluka dan masih menyalahkan keadaan?” ia kembali terkekeh. Letta tidak ingin berurusan dengan perasaan dan dirinya bodoh karena sudah melakukan kebodohan itu.


“Malam mbak yayang.”


Letta mengalihkan tatapannya, melihat kepala yang tiba tiba keluar dari pintu, dengan wajah cengengesan menatap letta nakal. Barulah tubuhnya keluar dan menampilkan penampilan dirinya yang santai dan fress.


Letta menatapnya datar, sebenarnya letta bukan sosok datar benar benar datar, ia hanya bingung menaruh ekspresi seperti apa. Hidup dalam kekangan mengajarkan dirinya bersikap acuh tak acuh, diam dan nikmati.


Putra menggaruk tengkuknya, membuka pintu lebih lebar dan menutup pintu pelan, ia mendekat sembari membawa satu pelastik berwarna putih. Duduk di samping letta menatap letta tersenyum. “ maaf yah ayang. Tadi mama ayang Putra rewel banget, nanya ini itu pas mau kesini, jadi telat deh.” Ujarnya tanpa ditanya sekalipun. Seperti magnet lain untuk menjelaskan mengapa ia telat datang.


Letta sama sekali tidak bertanya mengapa anak ini telat kemari, yang ia Tanya mengapa anak ini kemari lagi, letta rasa hubungan keduanya tidak seakrab itu sampai sang anak mau mau saja kesini yah kan??? jika teman mungkin saja. Tapi Letta harus bertanya dari mana?


" ayang nggak marah kan?" Putra kembali bertanya karena melihat wajah Letta yang dingin. Ia pikir Letta marah.


“ Kamu ngapain disini?”pertanyaan yang Letta pilih sangat heran.


Putra menatap letta cengengesan.”Nungguin ayang lah. Tadi Putra juga bawain makanan buat ayang biar ayang nggak kelaperan, bawa buah juga, yogurt dan susu. Yayang tinggakll pilih deh.” Putra menjelaskan sembari mengeluarkan makanan siap saji yang mudah basi.”Ini itu nasi goreng. Tadi aku laper ayang, jadi beli nasi goreng deh sekalian buat ayang juga. “ ujarnya menyerocos bak rel kereta api, padahal Letta sama sekali tidak bertanya akan hal itu, bahkan menanggapi.


Putra membuka mika nasi goreng, menaruh di brangkas, “ayo ayang duduk dulu, ini nasi goreng enak banget.” Ia membantu letta duduk padahal Letta sama sekali tidak bicara.


Tapi Putra melakukan penuh kehati hatian. Letta hanya diam menatap semua gerak putra. Putra memberikan nasi goreng yang tadi ia buka, ia membuka satu mineral dna meletaknya di brangkar. "’Ini kalo ayang mau minum, biar nggak keselek deh hehe.” Ia terkekeh sembari membuka nasi goreng miliknya sendiri.


Letta berdehem, ia mengerjab, Letta senang dititik terdalam batinnya ia suka diperhatikan, ego letta sangat kuat, memikat Putra semakin dekat sama sama dengan memperdekat maut Putra, letta tidak mau hal itu. letta berdehem menatap Putra yang makan dengan lahap sembari menatapnya tersenyum.


Putra yang ditatap oleh Letta agak salah tingkah, bisa dilihat telinganya yang memerah dan nasi yang ia kunya agak srek. Tersenyum canggung. ”mamam dong ayang, nanti dingin nggak enak.” Ujarnya sambil mengunyah nasi goreng. Berusaha berbicara dengan pelan. sialnya Putra sangat sangat degdegan saat ini.


Letta menghela nafas, menatap nasi gorengnya yang lebih pucat dari milik Putra, tapi ia tetap memakan nasi goreng diberi oleh Putra, diam mengunyah secara berlahan. Emang enak nasi gorengnya.


” Yang punya ayang nggak pedes karena masih dalam masa penyembuhan, jadi maafin yah.”Putra kembali bicara. Takut jika letta tidak menyukai nasi goreng miliknya yang tidak pedas. Apalagi saat ia sadar Letta membandingkan nasi goreng mereka.


Letta agak kagum dengan Putra yang terus bicara meski ia sama sekali tidak menanggapinya, seakan cenayang yang paham apa yang dipikirkannya, ia juga peka akan sekitarnya. Semacam dirinya punya kemampuan bicara dalam batin... Haha


Puutra tipe lelaki yang soft dan gatel. Putra mneghelay nafas karena melihat wajah letta yang tetap datar menatap makananya, sedari tadi ia bicara tak ada ditanggapi, kenapa letta sangat pendiam?


“ enak kan?” Putra masih memaksa diri dan bertanya lagi pada Letta.


Letta menatap Putra lalu mengangguk pelan. Putra tersenyum lebar.


.


.


.


.


Halooo. jangan lupa tinggalkan jejak yah.

__ADS_1


__ADS_2