Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Mimpi buruk


__ADS_3

Jesika mengintup dari dinding menjadi diam mengepalkan tangan, merasa sesak dan tak enak. Jesika masih kecil dan tidak ada anak kecil yang ingin orang tuanya berpisah. Jesika ingin memiliki keluarga utuh yang saling menyayangi dan mencurahkan kash sayang padanya. Ahhh Jesika bisa memilih lahir di siapa saja tidak si? Semisal dilahirkan oleh Letta kan?


Namun sosok yang Jeska ingatkan saat ini diam merasakan tubuhnya terasa sangat tidak nyaman, panas dingin, kepala yang terasa sakit. Bara yang melihat Letta bangun tidur dengan keringat memenuhi wajah dan tubuh yang bergetar menjadi sangat heran dan khawatir.


Bara setiap malam selalu terganggu akan Letta yang menangis, berteriak memanggil ibu dan ayahnya. Bara tidak tau apa yang dilalui oleh Letta sampai setiap malam mengalami hal semenyedihkan ini.


Malam ini, Letta lebih parah disbanding malam lain,. Letta terlihat sangat gelisah. Keringat bercucuran diwajahnya, nafas yang terengah-engah.


” Ma.. pa.... jangan hiks hiks. Kakak... kakak tolong.. jangan tinggalkan Ale.. kakak..”


Suara Letta terdengar sangat jelas..


Bara yang tadinya tidur sekarang duduk menatap wajah Letta yang sudah basah dengan keringat itu bingung. Mendekati Letta memegang lengan Letta lembut, merasa khawatir pada Letta.” Moms.. bangun moms.. moms..!!!!” Bangun Bara pada Letta. Bara tidak ingin melihat Letta seperti ini.


Bara terdiam sesaat merasakan tubuh Letta terasa cukup hangat. Bara kembali menggoyangkan lengan Letta lebih kencang dari sebelumnya,” Moms bangun.. moms kenapa? Jangan bikin Bara takut.. moms bangun..!” Bara mengguncang tubuh Letta lebih kuat dari sebelumnya.


Ha..”MAMA...!!!” Letta berteriak keras saat terbangun. Bara mundur menatap Letta kaget.


Letta terengah-engah merasakan nafasnya naik turun. Letta mengusap kepalanya yang terasa basah. Menghela nafas mengusap wajahnya nanar. “Mimpi sialan itu lagi.”Lirih Letta tak senang. Mengepalkan tangan, terasa sangat kesal akan mimpi buruk yang selalu menghantuinya


Bara menatap Letta nanar, mengambil minum di sisi nakas, ,mendekati Letta. Letta tak sadar Bara bangun. Bara mendekati Letta mengamit lengan Letta. Letta kaget menatap Bara. Bara ikutan kaget karena tubuh letta terlihat bergetar. Letta menghela nafas saat tau itu Bara. Letta menghela nafas beberapa kali, mengusap rambutnya lagi.


” Maaf bikin kaget, miminum dulu moms. “ Bara menjulurkan air putih pada Letta.

__ADS_1


Letta menerimanya dengan cepat, meminum air putih tersebut hingga kandas. Letta meneguknya dalam beberapa kali tegukan saja sampai beberapa tetes menetes dibaju nya. Bara diam menatap Letta yang sudah minum memberikan gelas kosong padanya. Bara cepat-cepat menaruhnya lagi dinakas. Letta menghela nafas menatap Bara.


Bara menunduk meremas jari-jarinya, memilih duduk di tempat tidurnya sopan dan nyaman. Letta mengusap kepala Bara dan menarik Bara untuk kembali tidur. " Moms demam kah ?" Tanya Bara lirih melirik Letta dengan ekor matanya.


Letta menggeleng ." Kamu pasti terganggu karena moms yah,??" Tanya Letta.


" Mana ada..!!" mata Bara membesar membuat Letta terkekeh Gemas, emm itu terlihat menggemaskan Dinata Letta. seketika Letta merasa lebih baik.


" Tidur lagi yaah.”Bisik Letta. Bara menatap Letta penuh engan pertanyaan. Tapi rasanya bara sangat takut untuk bertanya, hanya sekedar ingin tau saja rasanya Bara tidak berhak.


Letta menyelimuti Bara dan berbaring juga.. menatap jam diatas nakas yang menunjukan jam tiga pagi. Bara terdiam melirik Letta lagi.


“Moms mimpi apa tadi? Mimpi buruk?” Bara sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya yang sudah meledak, Bara tidak akan bisa tidur lagi jika apa yang ia tanyakan tidak mendapatkan jawaban.


Bara melirik Letta dan bertanya.”Mimpi apa? Moms mimpi dimakan harimau atau dikejar hantu?”Tanya Bara pada Letta polos.


Letta tersenyum tipis.” Bara juga pernah loh, tapi anehnya Bara nggak bisa lagi karena kaki Bara tiba-tiba berat, dan malah kemarin Bara tu berasa udah bangun tidur tapi tubuh bara terasa ketindi gitu. Bara ngak bisa nafas, teriak teriak tapi nggak ada yang dengerin Bara moms, rasanya badan Bara di tindi sama raksasa. Apa moms juga gitu?”Tanya Bara pada Letta sekaligus menceritakan mimpinya.


Letta menggeleng.”Lebih..” Bisik Letta.


Letta tak bisa menjelaskan mimpi menyeramkan yang ia alami, lebih tepatnya peristiwa tujuh belas tahun silam, dimana semua keluarganya dib4ntai didepan mata, para kakaknya yang mati dan orang tua yang di siksa. Letta tidak tau dan tidak pernah tau bagaimana caranya melepaskan mimpi buruk itu untuk berhenti menghantui malamnya. Ini terlalu sulit untuk Letta kendalikan.


Bara menatap Letta dnegan bingung.” Terus mimpi apa dong? Moms mimpi jatuh dari tangga atau jembatan gitu sampek moms teriak? Atau moms dikejar anjing? Itu juga bikin Bara teriak loh.|" Ujar Bara polos lagi.

__ADS_1


Letta terkekeh mengawil hidung Bara."Iyakah? Tapi ini mimpinya sangat jelek, lebih jelek dari hantu atau anjing. Jadi Bara lebih baik tidur lagi, jika tidak mata Bara akan menampilkan kantung mata yang jelek dan moms tidak mau memiliki anak yang jelek. Moms tidak mau punya anak memiliki mata panda.” Bisik Letta.


Bara menjauh pelan berkata.”Moms bau mulut. Hehe..”Gumam Bara pelan jujur.


Letta kaget menatap Bara, Bara tercengir.” Bau obat, moms minum obat apa?”Tanya Bara lagi mengernytitkan dahi kembali mendekati tubuh Letta menghirup bau yang tertinggal.”Moms sakit?”Tanya Bara ptihatin memegang dahi Letta.”Mau bara panggilkan om diki dan lainnya nggak? Atau Bara ambilkan kompres dulu yah.” Ujar Bara segera keluar dari selimut dan turun dari ranjang.


“Bara moms baik-baik saja. Tidakl us----sah.”


Ucapan Letta tak diindahkan Bara. Bara sudah pergi dari kamar meninggalkan Lettya yang diam menghela nafas.. merasa hangat disekujur tubuhnya. Bara sangat memperhatikannya.


Tak berselang lama Bara sampai dengan air dingin dibaskom kecil, lalu ada juga baybay fafer milik Bara yang Letta beli.


Letta mengernyit menatap Bara. Bara mendekati Letta membuka baybay fafer, meletakkan ya dikening Letta. Letta hendak menolak mengatakan jika ini untuk anak-anak tapi melihat Bara yang mengecup pipinya dan berkata.”Cepat sembuh moms. Bara tidak suka Moms sakit. Bara sayang moms banyak bannyak.”Letta menjadi urung dan memilih diam menatap Bara yang sibuk mengompres lehernya yang baginya bau obat.


Letta bisa merasakan tangan mungil itu mengusap tubuhnya hangat dan tulus, sampai pipinya juga ia lap. Sosok mungil itu pergi mengambil kotak obat dan juga teh hangat, lettta merasa seperti memiliki babysister jika begini.


Bara memberikan kotak obat dan berkata.”Bara tidak tau obat apa yang aa disini, tapi bisanya bara kalo sakit, sakit apa aja itu dikasih parasetamol.,”Ujar Bara polo.


Letta mengernyitkan.”Sakia apa aja? Semua sakt obatnya paracetamol?”Tanya Letta bingung.


Bara mengangguk pelan.”Iya. kalo demam, panas, sakit paracetamil obatnya.” Jawan Bara polos.


“Termasuk sakit perut dan luka? Obat apa itu?”Tanya Letta heran.

__ADS_1


Bara menggeleng.”Entah bara selalu dikasih itu dari ibu panti ketika Bara sakit jadi Bara tidak tau. Sedangkan disini ada banyak obat. Bara tidak tau. Moms bisa pilih obat yang menurut moms untuk obat moms.”Ujar Bara pelan menatap Letta. Letta terkekeh mendengarnya. Bara sangat menggemaskan, Letta jadi ingin mengunyel san menjadikan ia bola.


__ADS_2