Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Sakit itu, masih sama


__ADS_3

Areta memuyar bola mata malas, menghela nafas melirik Rizal yang tetap kaku. “ Saya mau pipis gimana yah.” Gumam areta pelan. “ Boleh kamu kelua argh.” Areta kaget saat tubuhnya terangkat tanpa Breafing terlebih dahulu dilakukan oleh Rizal. Jantung Areta nyaris copot akibatnya, karena reflek sebagai manusia ingin terlindungi, areta melingkarkan tangan dileher Rizal.


Yah rizal menggendongnya alah bridal style. Arerta kehabisan kata kata, terlalu kaget karena kelakukan Rizal yang luar biasa mengagetkannya. Tiba tubuhnya sudah berada di dalam toilet. karena memang toilet nya ada di dalam kamar sendiri


Rizal membantunya berdiri disana. areta belum juga melepaskan pelukannya.” Nona... apakah pelukan saya sehangat itu sampai nona tidak ingin melepaskannya.” Rizal bertanya dengan suara menggoda. Tidak tidak, itu sunggu tidak cocok dengan wajahnya yang datar seram dan juga sadis itu .!


Bukannya geli atau salah tingkah Areta malah meremang mendengarnya ngeri-ngeri sedap.


Tak sadar Areta malah mendorong tubuh Rizal yang kekar dan menepuk bahu Rizal kuat. mata Areta melotot dengan wajah yang menahan diri agar tidak terlihat malu.” Kurang ajar. Aku bahkan belum selesai bernafas karena kaget. “ pekiknya. Tidak boleh, dirinya tidak boleh salah tingkah dihadapan rizal. Mau ditaro dimana wajahnya kelak.


Rizal terkekeh pelan, mengusap kepala areta dan pergi.” Aku tunggu di depan, jika butuh sesuatu panggil saja.” Melangkjah keluar tak melihat wajah areta yang memanas dan juga menatapnya nyaris memerah wajahnya. Baru kali ini Areta di abaikan dan diperlakukan begini. Areta melirik Rizal malas dan mulai melakukan ritualnya.


Tapi tunggu dulu, apa tadi? apa tadi dia terkekeh? mengapa wajahnya yang menyeramkan terlihat sangat manis?


Akh tidak tidak... Mengapa Areta harus memikirkan hal yang tidak berguna begini, Areta menepuk-nepuk pipinya, melotot melihat wajahnya di hadapan kaca.. siall Areta semakin melotot melihat wajahnya yang memerah.


Areta kehilangan kata-kata, apa tadi Rizal melihat wajahnya yang memerah begini?" Astaga... apa yang dia pikirkan? " Gumamnya pelan, menggeleng menenggelamkan wajahnya di dalam telapak tangan meringis.


" Yatuhan, rasanya ingin meninggoy salah lah.. hiks hiks." Ringisan Areta keluar, tulihnya lemas menatap pantulan dirinya sendiri di depan kaca.


berdecak kembali. " Mengapa pula dia terkekeh gitu, mana tampan lagi. " Gerutu Areta dan menghela nafas. menatap lagi dirinya dan tersenyum tipis. " tapi tangannya kekar banget, Peluk dan sandaran eable banget uwuuuu" Areta tersenyum mengingat tangan Rizal. Ahhhhkk tangan pria impiannya.


Areta kembali berdecak. " Otak sialan, bisa-bisanya memikirkan hal ini. Areta.... Enyahkan pikiran kotor nan jorokmu itu." Areta mengusap rambutnya kasar. Menggeleng dan meninggalkan kaca, dirinya ingin buang air kecil.


Sedangkan Rizal diluar kamar mandi bersandar di dinding dan tersenyum sinis dan gemas mendengar ucapan Areta yang ternyata terdengar olehnya di depan kamar mandi, iya ia mendengar nya sebab kamar mandi itu tidak kedap suara..!


Tok..tok.. tok..


“ Areta.. ini kakak, apa kamu di dalam?”


Pertanyaan dari luar membuat rizal melirik ke depan pintu kamar areta. Memang benar kamar Areta terkunci dan dirinyalah yang menguncinya. Areta di dalam kamar mandi dengan keran yang berbunyi. Pasti tidak mendengar. Rizal keluar membukakan pintu. Dan saat membuka pintu dirinya mendapatkan wajah Zaxi dan Letta yang berada dibelakang Zaci yang menatapnya bertanya.


” Kau yang menyelamatkan Areta semalam? Dimana Areta?”Tanya Zaxi pelan.menatap tajam Rizal .


Rizal mengangguk dan Letta yang tersenyum tipis menyapa Rizal. Rizal hanya berdehem mengangguk. " Aiya.. Areta di dalam."


Zaxi menepuk bahu Rizal dan memeluknya secara jantan.” Terimakasih. Jika kamu tidak ada aku tidak tau bagaimana keadaan adikku yang paling aku sayang. Adikku memang benar benar nekat.” Ujar Zaxi penuh penyesalan. Rizal berdehem lagi tak membalas pelukan. Melirik letta memelas.


Adikku yang paling ku sayang...


Padahal dia punya adik dua orang.


kata kata itu melayang di kepala Areta,


Letta membuang muka dan memasukan tangan di saku jaketnya.

__ADS_1


“Kakak..” suara pekikan itu membuat pelukan Zaxi dan Rizal terlepas. Areta mendekat dan memeluk kakaknya. Zaxi membalas dengan erat dan mengusap kepala bagian belakang areta lembut.


Kapan Aleta dipeluk sebegitu erat dan sebegitu di sayang yah???


Areta membenamkan wajahnya di dada sang kakak.”Kenapa lama sekali? Biasanya tidak selama ini.” bisik Areta pelan. biasanya Zaxi akan datang saat dirinya memiliki masalah dalam waktu cepat., tapi ini Zaxi bahkan datang saat sudah jam siang. Dari mana kakaknya ini?


Zaxi mencium kepala Areta dan menggeleng.” Maafkan kakak. kakak ada urusan dengan keluarga Samuel. Ayo kita masuk dulu.” Ujar Zaxi, ia membawa masuk Areta.


Ia melupakan Letta...


Lupa...


Areta benar benar tidak melihat ada Letta di bagian belakang Zaxi. Mereka masuk tanpa bicara apapun pada Letta seakan Letta adalah angin tak kasat mata. Tangan letta dibalik jaket terkepal kuat tapi matanya tak memancarkan apapun. tak bisa dipungkiri, mau mengelak bagaimanapun rasa tak nyaman itu tetap ada, hanya saja dirinya sudah terbiasa.


Kepalanya dielus. Letta melirik di sebelahnya. Dan Rizal membawa Letta dalam pelukannya. Letta diam dan berbisik.” Aku tidak semenyakitkan itu. Jadi buang jauh jauh wajah menjijikkan mu itu.” Rizal tidak mengapik ucapan Letta. Tetap mengusap rambut Letta dan tersneyum sendu. Bibir bisa berbohong. Tapi fakta tidak. Mau sekecil apapun rasa sakit itu, Letta pasti merasa tersakiti.


Letta menghela nafas.” Aku pulang saja.” Ujarnya pada Rizal.


Rizal mengernyitkan dahi.” Kau baru sampai.” Ujarnya.


Letta mengangguk.” Mereka tidak menawarkjanku masuk yang artinya aku tidak boleh masuk.” Bahu Rizal ditepuk pelan oleh Letta.” Terimakasih... aku akan transfer sisanya kelak.” Letta melangkah menjauh meninggalkannya Rizal yang menatapnya sendu.


Letta mengeluarkan mobil miliknya, menjauh dari rumah milik Zaxi. Rizal diam menghela nafas melihat Letta yang rak menoleh sedikitpun. Rizal tau jika letta sangat sedih tapi dirinya tidak lagi bisa mengekpresikan seperti apa. Jika dirinya menjadi Letta yang di acuhkan, tak dilihat tempatnya dirinya mungkin dirinya tak akan peduli pada kakak kakaknya ini. tapi Letta beda. Dirinya bertahan di atas kesakitan. Rizal mau bilang Letta bodoh.


“Lohh dimana Letta?” Zaxi keluar lagi menemui Rizal. Tadi saat dirinya dibawa sanga adik kedalam, dirinya terlampau khawatir, jadi tidak ingat ada Letta. Lagi pula dirinya pikir letta akan masuk tanpa di ajak.


Rizal menatap Zaxi dingin.” Dia pulang karena tidak ada sambutan, atau bahkan di ajak masuk. Jadi dirinya memilih pergi pulang.” Jawab Rizal dingin.


Zaxi terdiam mendengar jawaban Rizal. Tadi dirinya memang mengabaikan Letta, lebih tepatnya lupa, sungguh tak ada niatan tapi karena Areta yang manja saat sakit saja.


Zaxi menjadi merasa bersalah.”Tapikan ini rumahnya, kenapa harus disuruh masuk baru masuk? Dia bukan orang asing.,” bisik Zaxi pelan. suaranya serak dengan dada yang menyempit.


Rizal terkekeh pelan.” dia memang bukan orang asing, tapi perlakukan kalian yang asing kepadanya. keadaan juga membuat dirinya di asingkan. Kadang kita asing bukan karena kita orang asing, tapi keadaan mengubah kita menjadi merasa asing. Prilaku kalian yang membuatnya lebih dari kata asing." Tegur Rizal kepada Zaxi.


" Apa maksud mu? dia itu adalah adikku, jadi masuk tidak meski harus ku ajak atau bahkan ditawarkan. Jika dia masih berfikir begitu berarti dia yang menganggap dirinya orang asing." Tegas Nya tak terima.


Rizal tersenyum miring." Percuma mau bicara apapun, saya duluan.. tugasku sudah selesai.” Ujar Rizal dingin lepada Zaxi.


Zaxi mengepalkan tanganya. Areta keluar melihat kakaknya yang keluar lagi tadi agak kaget.” Loh kenapa kak? Ada yang tinggal? Dan kamu mau kemana?”Tanya Areta bingung melihat Rizal dan Zaxi bingung.


Mereka seperti perang dingin karena aura sama dari keduanya. Sama sama mengintimidasi satu sama lain. Areta sedikit ngeri.


Zaxi menghela nafas. Rizal melirik saja.” Kau tidak tau apa apa di keluargaku. Jadi bicaralah di batasanmu. “ tegas Zaxi kesal.


Rizal terllu banyak bicara yang tidak seharusnya ia bicarakan. Zaxi tidak suka hal itu. tapi Rizal malah terkekeh.” Kata siapa aku tidak tau? Aku bahkan jauh lebih tau dari apa uyang kamu tidak ketahui Zaxi.” Ujar Rizal dingin.

__ADS_1


“Memangnya apa yang tidak aku ketahui?”Tanya Zaxi maju, menatap Rizal yang lima Senti di atasnya sedikit mendongak.


Rizal malah terkekeh menatap zaxi yang menatapnya menantang.” Apa kau sudah mengakui dirimu banyak tidak taunya?” Tanya Rizal remeh.


Zaxi mengepalkan tangan, mencengram kera baju rizal. Areta mundur menatap kakaknya hendka menyerang dan mengintimidasi Rizal.” Siapa kau?? Bicaralah yang benar atau mulutmu akan ku buat babak belur.” Tekan Zxai dingin.


Rizal menyeringai keji dihadapan Zaxi. Zaxi sedikit takut tapi amarahnya melarut menyatukan kalbunya dengan keingin tahuannya. Rizal melepaskan tangan Zaxi satu kali sentakan dan Zaxi mundur merasa sakit dipergelangan tangannya.,” Bahkan kau masih tidak mau mengakuhinya. Zaxi Zaxi. Mari buka matamu dan lihat kebenarannya. Jika tidak, kedepannya kau akan hidup dalam penyesalan, jauh dari saat ini. sebelum terlambat, mari buat otak dangkalmu berfungsi.” Rizal melangkah keluar dari rumah dengan langkah berani dan tegasnya.


Zaxi tertinggal menatap Rizal menjauh dingin, apa yang tidak dirinya ketahui? Apa dirinya terlalu jauh sampai tidak tau menahu tentang hal yang bahkan orang asing tau?? Dan yang asing itu siapa? Dirinya atau Aletta adiknya?? Dirinya yang mengasingkan adiknya atau memang benar adiknya yang mengasingkan diri? Pertanyan itu baru berputar di otak sang Zaxi. Karena pada dasarnya sebelum sebelum ini dirinya tidak pernah memikirkan hal hal ini.,


Areta linglling. Zaxi terdiam mengepalkan tangan seusai Rizal pergi.”Kaka apa yang terjadi? Mengapa kalian berkelahi??” Tanya Areta penasaran kepada kakaknya. Tapi zaxi sama sekali tidak menjawab dan hanya diam saja. Zaxi diam memandang lantai membuat areya semakin penasaran.


Areta Menarik kera baju sang Zaxi pelan.” kak... aku bertanya.” Tanya areta merengek.


Zaxi mengeleng memijit pelipiusnya.” kakak masuk kamar dulu. Kakak lelah.” Ujar Zaxi memilih pergi sebelum mendengar jawaban adiknya. Areta diam menatap kakaknya menjauh nanar. Ada apa dengan kakaknya? Mengapa dia terlihat berbeda? Dan mengapa Rizal pergi tak pamit padanya? Ahk sial Areta menjadi penasaran.


...----------------...


Di sisi lain Letta mengendarai mobilnya santai, tidak ngebut. Tanganya juga sudah biasa saja seusai di urut oleh tukang urut beberapa hari lalu., sudha membaik dan dia sudah bisa menyetir mobil asal tidak ngebut. Tatapan Letta dingin menuju suatu tempat. Letta berhenti di salah satu penjual bunga di seberang jalan. Disana ia membelikan dua bunga, sata dirinya turun, dirinya menatap bunga bunga yang berjejeran.” Mau beli bunga apa mbak?”Tanya pegawia tokoh mendekati letta.


“ Bunga mawar putih dan merah ada?” Tanya Letta santai.


Pegawai tokoh mengangguk tersenyum.” Ada kok mbak, mau beberapa tangkai? Di campur atau bagaimana?”Tanyanya kepada Letta.


Letta memasuki ruangan dan melihat bunga yang di arahkan.” pisahkan, dan buat buketnya dengan masing masing sepuluh tangkai.” Ujarnya pelan.


Sosok pegawai mengangguk.” Tunggu sebentar yah mbak. Mbak bisa duduk dulu di sofa sana. Kami akan buatkan dulu,” ujarnya menyuruh letta duduk di kursi yang di sediakan. Letta berdehem mengangguk duduk di sofa. Dirinya diberi minuman botol dan letta meneruma dengan santai. Saat melihat lihat bunga yang ada di sini, tatapanya tertuju pada skulen kecil yang ada di dekat jendela.”apa ini di jual?”tanyanya pada pegawai.


Pegawai melirik yang ditanya konsumen.” Iya mbak.”


Letta mengangguk.” pisahkan satu, tambahkan ke list belanjaanku,” pegawai mengangguk, mengambil skulen yang diminta. Seusai dua puluh menit pesananya sudah jadi. Letta pergi ke pemakaman yang ia tujuh.


Berjalan pelan menuju makam milik Ziko dan duduk di pinggiran makam. Letta mengusap pelan lisan yang terbuat dari keramik, tertulis nama Ziko, tanggal lair dan tanggal kematian. Letta diam diam menitihkan air mata pelan.” Ziko maaf kan gue yang baru datang...” Gumam Letta menggela nafas. memeluk nisan pelan dan mengusapnya.,” Ziko apa loe dengar gue disini?? Ziko gue capek, rasanya gue mau nyusul loe..” bisiknya pelan. Memejamkan mata pelan dan tersneyum damai.


Ziko lelaki yang paling mengerti dirinya. Baik hujan bada sekalipun akan tetap di sisinya, selalu bersamanya dan selalu memberikan dirinya kehangatan. Tapi dia pergi karena dirinya sendiri. Siapa yang bilang letta tidak sedih? Letta kehilangan sebelah hatinya. Ziko rumahnya dan Letta kehilangan rumahnya, tak lagi ada tempat untuk dirinya pulang.


Tak ada lagi orang yang memahami dirinya sebaik Ziko.


Letta tidak tau jika diacuhkan oleh kedua kakaknya masih meninggalkan luka. Letta membuka matanya, menatap makan Ziko. Mencabut beberapa rumut yang seidkit merusak pemandangannya.” Gue rindu sama loe,, maafin gue karena gue loe pergi., maafin gue.” Letta bicara dengan suara bergetar.


Letta tidak lagi pula orang yang tetap stay di sisinya, sudah tidak ada lagi yang akan memarahinya jika dirinya tidak jujur, tidak ada lagi sosok yang memeluknya meksipun dirinya mendorongnya menjauh. Letta menutupi matanya yang menangis. Dirinya masih sama, sama sama hancurnya sedari peristiwa kehancuran.


Letta menghela nafas, mengusap air matanya. menaruh bunga mawar putih di atas makamnya Ziko.” Ini.. nanti jika disana kamu ketemu Jesika. Bilang aku juga minta maaf.” Bisiknya pelan. Letta menatap lagi bunga itu nanar. Lalu mengambil skuten yang ia beli tadi, ia taro di atas makam Ziko. Tersneyum sayu. “ itu bunga bisa hidup tanpa disiram, aku harap bisa menemani kamu di sini, cukup aku yang kesepian. Kamu jangan. Kamu orang baik, tidak seharusnya kamu pergi secepat ini. harusnya aku.” Bicaranya Letta sudah berubah karena terlalu larut dalam kerinduan.


Letta lagi lagi memeluk nisan milik Ziko erat.” Maafim aku Ziko. Sudah menyakiti teman teman kita. ini yang terbaik.” Bisik Letta pelan. Letta menggela nafas, menaruh pipinya di atas nisan Ziko. Menangis, membiarkan air matanya mengalir di atas nisan milik Ziko. Letta mengusap-usap pelan nisan itu.

__ADS_1


Biarkan kali ini Aletta lemah, bicara kepada rumahnya meksipun sudah tiada, biarpun Ziko sudah pergi maka malam Ziko adalah tempat untuk nya bersandar...


__ADS_2