
Seusai pembicaraan bersama Jastin dan juga Carmon semakin membuat Letta mengerang marah, mengepalkan tangannya tak mampu karena berhadapan dengan musuh. Letta kembali harus mempertimbangkan masalah langkah yang ia ambil kedepannya. Jika dengan memasukukan Jastin kedalam penjara tak memberi efek jera atau efek menyakitkan Letta harus mengambil langkah lain..
“ Hey.. kamu baik baik saja?” Carmon mengibas tangan di depan wajah Letta yang terlihat termenung sejak tadi. Carmon sudah melihat Letta dua puluh menit yang lalu tapi ia tetap saja diam memandnag kedepan kosong,.
Carmon mengusap kepala tak enak saat Letta menatapnya dingin.”Hehe kau terlihat melamun seusai bertemu kak Jastin.” Lanjut Cramon tak enak.
Letta diam memutar bola mata malas, memandang lain arah tanpa membalas ucapan Carmon. Carmon yang di abaikan menyipitkan matanya datar kepada Letta.”Hey kau ini kebiasaan mengabaikanku.”Ujarnya tak senang. Sangat kesal di abaikan.
Hidup Carmon adalah impian semua orang, lahir dari keturunan kaya raya, tampan dan juga menawan, semua itu menjadi aspek dirinya untuk di tatap dan di sorot orang-orang..
Ia tak pernah di abaikan, bahkan semua orang akan tunduk dihadapannya Karena apa yang ia miliki.
Iya sebab tampan saja tidak cukup!
Tapi sepertinya semua yang ia miliki juga tidak cukup menarik perhatian Letta.
Letta masih tak menjawab. Carmon ingin rasanya mencak mencak tak jelas dihadapan Letta. Tapi ia harus jaga image. Tapi sepertinya ia sudah tak punya image lagi dihaapan Letta carmon mendesis melipatkan tangan di depan dada menatap luar jendela. Melirik Letta yang tetap diam, mengepalkan tangan. “Wanita sialan, keparat. Mati saja kau, mati mati..!!!” Batinnya kesal. Menyumpah serapahi Letta dengan semua kata kata kotor yang ia ketahui,
...----------------...
“Jadi perusahaan percetakan tersebut menolak tekanan dan tawaran dari kita?”Samuel menatap tangan kanannya yang melaporkan hasil kerjanya. Orang suruh itu Samuel suruh untuk menghadap pemilik percetakan artikel, dan majalah yang menyebarkan rumor Jastin.
Tangan kanan Samuel bernama Ervin menggeleng. “Tidak tuan, dia tidak menerima penarawan atau tekanan dari kita. bahkan saya sudah memberikan ancaman sebagaimana yang tuan suruh, tapi mereka tetap menolak dengan tegas.” Ujarnya kepada Samuel.
Samuel mengepalkan tangan menatap datar Ervin. “ Mereka tidak takut bangkrut?”Tanya Samuel. Selama ini belum ada yang berani mencari masalah kepadanya, baru kali ini ada yang berani padahal sudah digertak atau diberi tekanan.
Ervin menggeleng. "Saya tidak tahu tuan, tapi dari saya dengar, dengan artikel artikel ini dimajalah mereka, majalah mereka mendapatkan untung besar, sebab disemua majalah dan berita tidak ada yang berani mengonfrmasi masalah ini. mungkin itu salah satu asalan mereka menolak tawaran kita."
“ Baik jika begitu.”Samuel mengangguk mengetuk meja miliknya menggumam kan penah datar.” Jual semua file dan dokumen penting perusahaan tersebut, buat mereka bangkrut.!!!!” Tegasnya Samuel dingin
.”Aku sudah berbaik hati memberikan penaran kepada meraka untuk menghentikan semua rumor, tetapi mereka masih menantang ku.”Bisiknya pelan tak senang,
Ervin mengangguk patuh.”Siap tuan, kabar akan kami beri dalam dua jam dari sekarang.”Ia meninggalkan tempat. Mulai melakukan tugas yang diberikan. Samuel? Ia diam menatap dingin laptop yang hidup, pikiran diinya akhir akhir ini cukup banyak, kasus anaknya memang bisa ia atasi tapi tidak dengan emosi masyarakat, terutama para wanita. Ini menyangkut asusila dan perselingkuhan. Bagaimanapun anaknya Jastin bersalah, melakukan kekerasan terhadap istrinya, dan melakukan perselingkuhhan padahal ia melarang hal tersebut
Samuel membenci pengkhianatan, tapi lagi lagi egonya harus diturunkan, mau bagaimanapun buruknya Jastin, ia tetap anak yang mengalirkan darah dari dirinya. Bagaimana sifat jastin yang ia tekuni tetapp saja Jastin adalah anaknya. dan ia adalah ayahnya..
__ADS_1
...----------------...
Pagi ini seperti biasa, dingin seperti dinginnya hati yang telah lama tak digamah akan kehangatan, malam suram selalu datang seakan candu yang tanpa di undang. Letta marah,, Letta ingin mengusir, Letta membenci, tapi tak tauu membenci siapa kecuali pembuat mimpi buruk itu terjadi. Tujuh belas tahun hidup dalam mimpi buruk, tak bisa tidur nyenyak adalah siksaan terberat baginya.
Oke tidur adalah nikmat yang paling di senangi oleh semua orang, tapi tidak dengan Letta.. Letta benci tidur, karena saat tudur orang tuanya meninggal, dan ketika tidur pula mimpi buruk itu kembali datang tanpa diminta. Jika bisa Letta memilih enggan tidur, tapi makhluk hiup butuh tidur.
Hahaha selucu itu hidup miliknya.
Haha lucunya, kebencian Letta adalah kebutuhan yang harus ia lakukan meksipun dibenci sekalipun, Harus memejamkan mata meski membenci sebagaimana bentuknya.
Letta mengeratkan mantel berwarna hitam miliknya, menatap kedepan, seperti biasa pagi hari jam 4 ini ia jogging untuk menguasai diri seusai mimpi buruk, Letta melangkah pelan menuju salah satu pemakaman diujung perkomplek seusai mengelilingi beberapa wilayah.
Ditangan miliknya ada bunga lili putih. Ia melangkah menuju pemakaman yang masih basah, penuh bunga diatasnya. Ia mengeratkan mantelnya merasa hawa sejuk dipagi buta, jam hampir menunjukan pukul 6 tapi ini masih sangat dingin.
Letta mengerjab sejenak berongkok menaruh bunga lili di atas makam, menatap nama yang tertera dingin. Ziko, itu makam Ziko yang beberapa hari lalu di makamkan, baru seminggu, letta tersenyum sejenak mengusap lisan memilik Ziko. “ Beri aku waktu sebentar lagi, aku akan membalas semuanya, aku berjanji.”Bibir Letta bergetar karena dingin yang mencuat menjadi hangat, dadanya menjadi panas padahal hawa membekukan dirinya.
“Kak Letta?” letta terdiam sejenak merasakan tangan dingin di pundaknya. Letta mendongak menatap sosok yang menegurnya, terlihat anak remaja laki-laki yang berusia 17tahun menggunakan seragam sekolah itu menatapnya sendu. “kak Letta ngapain di sini?”Tangannya pelan.
Letta bangkit menatapp anak tersebut dalam. Itu adik Ziko, ia bernama Zika, yah mreka tidak gembar tetapi memang namanya saja yang sama, ia adik lelaki Ziko yang pertama. Mereka saling kenal karena dulu Letta pernah beberapa kali menginap dirumah Ziko.
Zika menatap bibir Letta yang pucat, terlihat sudah lama jogging, bahkan keringatnya masih mengalir deras di pelipisnya. Letta mengernyitkan dahi menatap Zika yang diam saja.” Kenapa disini? Kau tidak sekolah?” Ia menatap baju yang dikenakan Zika.”Kua mau bolos?”Tanyanya lagi
Zika menggeleng cepat.”Tidak. aku tidak bolos kak.”Ia melirik nisan Ziko dengan mata redup.”Aku hanya ingin berpamita dengan kak Ziko hhehe, soalnya kan sekolah aku searah dengan makam kak Ziko.”Ujarnya pelan menatap makam kakak nya nanar.
Letta menatap Zika sendu, menindai semua yang ada pada remaja tersebut, bajunya tak lah rapi malah terlihat kusam dan juga berantakan menandakan jika ia tak baik baik saja, rambut yang acak acakan, tak menggunakan dasi, baju yang dikeluarkan. Wajar saja sebab Zika adalah anak broken Home, ia tidak ada yang merawat atau memperhatikannya. Biasanya ada Ziko, akhh salah.
Ziko juga laki-laki, ia juga tidak bisa mengurus adik-adik seperti seorang perempuan, menyetrika baju, memasukkan baju kedalam. Bahkan dulu Ziko lebih parah dari Zika.
Mata Letta tertuju pada tangan Zika yang memegang kotak bekal.” Kau mau makan di sini bersama kakakmu?”Tanyanya. Zika melebarkan matanya kaget. Dari mana Letta tau??
Zika menatap kotal bekal ditangannya. Ia tersenyum cengengesan kepada Letta, menggaruk-garuk tengkuknya tak gatal.”Heheh iya kak, aku ingin makan bersama kak Ziko.”Bisiknya. letta mengangguk pelan memberi uang untuk Zika duduk.
Zika yang pahampun duduk di ruang yang Letta berikan. Zika terdiam sejenak merasakan hangat dibahunya sata Letta ,lmemberikan jaket miliknya. Zika mendongak menatap Letta, Letta tersenyum sejenak.”Dingin.”
Zika tidak menjawab mengerjab sedikit terkejut, sebab setahu Zika Letta adalah sosok yang sangat dingin dam cuek, melihat sikap hangat Letta seperti ini ada sisi tak percaya menyentuk dirinya, kenpa Letta tiba tiba baik begini?
__ADS_1
Bahkan dulu saat Letta menginap dirumahnya Letta bak mengunci mulutnya. Ia terlihat seperti orang bisu.
Ziko mengeluarkan kotak bekal miliknya dari plastik dan mengeluarkan mawar putih, tersenyum sejenak, mawar hanya satu tangkai itu ia taruh di atas nisan kakaknya, lagi lagi ia tertegun melihat bung lili putih sangat cantik disana. mendongak melihat Letta.”Punya kakak??”Tanyanya. tanganya menyelipkan bunga itu di bagian kosong. Letta hanya berdehem menatap lisan Ziko.
Zika mengangguk paham, “Mengapa bunga lili putih?”Tanyanya pelan.
Letta melirik Zika dan tersenyum.”kakakmu suka lili putih, katanya terlihat tulus dan polos, wangi dan tidak mudah di dapatkan dan tidak tumbuh sembarangan kecuali dipelihara, begitulah cinta sesungguhnya, tidak murahan datang tanpa diundang. Kadang kita memang tidak butuh alasan ketika mencintai seseorang, tapi kita butuh alasan agar tetap bertahan terhadap orang yang kita cintai.”
Zaki mendnegar penuturan Letta kekaguman, “Aku baru tau kak Ziko seromantis itu dalam perasaan, biasanya dia selalu marah marah padaku.”Bisiknya pelan menatap nisan kakaknya kesal, tapi bercampur kesedihan yang mendamam mengingat kakaknya..
Letta terkekeh pelan.” biasanya orang yang selalu marah marah dan cerewet tentang suatu hal pada seseorang lainnya itu tandanya ia sayang melebihi menyayangi dirinya sendiri, ia akan bertindak agar orang yang ia cintai mendapatkan hal yang lebih baik dari dirinya. Ia hanya mau orang yang ia sayang memikir ulang langkah yang ia ambil atau apa yang ia lakukan.”
Zaki mengangguk paham meremas kotak bekalnya,, menatap nanar makam sang kakak.”Tapi sekarang kakak sudah pergi sebelum aku bilang, aku sayang kakak. dulu aku selalu bilang membencinya karena terus mengomel seperti nenek nenek, sekarang aku rindu, rindu Omelan nya yang seperti nenek nenek.” Bisiknya pelan. Suaranya terdengar bergetar pertanda hatinya sedang menguat untuk tak menangis.
Letta merasa sudut hatinya tersengat listrik begitu dahsyat. Dirinya adalah penyebab sang anak kehilangan sosok hebat menyamar sebagai kakak. karena dirinya banyak orang kehilangan sosok yang sangat baik.
Letta memalingkan wajahnya berdehem sejenak.” Semua mahluk dibumi dilahirkan dan dimatikan, baik itu diinginkan atau tidak diinginkan. Tapi aku dengar itu karena pada dasarnya dunia ini hanya tempat sementara manusia, selebihnya ada dunia yang lebih kekal kelak. Jadi berdoa agar kelak kau menemukan tempat kekal bersama kakakmu.” Letta bukan sosok yang bisa menenangkan orang lain, Letta tidak memiliki pengalaman semacam itu.
Tapi Letta merasa jika ini adalah tanggung jawabnya sebagai penyebab kakak sang a
remaja ini meninggal.
“Tapi jika yang mereka bilang hanya dongeng belaka atau tempat itu tidak ada bagaimana?” Zika menyelah cepat menatap manik mata Letta mendesak.”Jika itu hanya dongeng untuk penenang manusia??? Dongeng murahan yang di buat buat manusia saja.”Bisiknya kesal mengepalkan tangan.
Letta mengangguk.”Iya dongeng,” Jawab Letta pelan menunduk mengiyakan,”tapi dengan dongeng itu kita belajar agar menenangkan diri, jika tidak begitu kau ingin apa?? Menghidupkan lagi kakakmu??”Tanya Letta pelan. Zika diam menatap Letta tertampar kenyataan. Benar mau bagaimana lagi selain menerima andai ada dunia lain ketika kematian kelak?
Letta menggeleng.” Andai manusia boleh minta sedari awal, banyak orang yang meminta untuk tidak dilahirkan saja jika dunia dan perpisahan semenyakitkan ini. tidak ada yang sukarela dalam hidup ketika kepahitan yang ia telan begitu bulat dan secara mentah-mentah. Semua rasa sakit itu terasa terlalu raksasa untuk kita yang kerdil. “
.
.
.
Hay.... jangan lupa tinggalkan jejak yah!
__ADS_1