Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
satu kamar


__ADS_3

Letta mendengarnya melirik resepsionis.”Saya pesan satu kamar lain.” Tak ingin meladeni Carmon yang sibuk mencari masalah. Buang buang waktu.


Resepsionis yang dari tadi diam tersenyum canggung.”Tidak usah di kasih. Atau hotel ini aku robohkan..!!!” Tekan Carmon melangkah meninggalkan Letta kesal,


Letta melirik Carmon pergi datar, menatap resepsionis dingin. Resepsionis merasa jika hidupnya hanya tinggal hitungam menit, berhadapan dengan dua monster mengerikan ini. “Maaf nona, tap tapi kami tidak ada kamar kosong.”Ia berbohong dengan alibi tersebut.


Letta mengangguk pelan menatap resepsionis. '’Baik, jika besok kau mendapatkan kepala monyet di ruangan mu. Itu tandanya kado dariku oke.”Ujar Letta dingin melangkah meningalkan resepsionis. Percuma rasanya bicara dengan anjing Carmon. Di sisi lain resepsionis, wajahnya mendadak pucat dan pias. Apakah ia barus aja dii ancam?


Kamar yang bernuansa putih gold klasiknya hotel biasa, bedanya ini ruangan sangat luas, berisi dua springbad yang ukuran sedang, pas untuk satu orang bahkan dua orang. Letta meletakkan tasnya di atas kasur miliknya, sebab di kasur sebelahnya sudah ada Carmon yang tertidur dengan kaki menjeluntai di lantai, ditanganya ada HP yang ia tatap, baju miliknya belum ia lepas,


Letta melangkah menuju jendela, disana terlihat sudah hampir menguning pertanda hari ini sudah petang, mereka siang tadi makan di stasiun, tadi ada penundaan landas pesawat, jadilah mereka sore baru sampai disini, belum lagi tadi mereka sempat naik miobil dulu kesini kn,


Langkah kaki Letta mendekati jendela, menyibak tirai yang tipis, diluar menampilkan banyak hutan, beberapa rumah warga tapi tidak banyak yang bertingkat tingkat rata rata satu tingkat, tak jauh dari sana juga ada pantai, pantai yang jaraknya hanya sekitar satu kilo meter, Letta kembali melihat kebawah, disana aia bisa melihat ada kolam renang, ada banyak pengunjung disana sedang mandi. Tak ada yang menggunakan bikini atau pakaian tak sopan, bahkan ada banyak yang menggunakan hijab dan pakaian tertutup.


Letta sedikit heran, ini jauh dari ekpetasi pantai pandai ia kunjungi. Pantai disini terlihat tidak ada bule atau semacam turis dan lain lain, “ Apa mereka tidak kesulitan berenang menggunakan baju panjang ?”Gumam Letta bingung.


“Disini memang begitu.”Letta melirik Cramon yang sudah berada di belakangnya. Letta menggeserkkan tubuhnya memberi ruang untuk Letta melihat ke bawah.


Carmon terseyum tipis.” Ini bisa dikatakan kota yang tercatat adalah kota termiskin, tapi lihatlah. Disini tidak banyak pengemis atau bahkan gelandangan loh.”Ujarnya pada Letta.


Letta menaikan satu alisnya.”Memangnya miskin itu bersangkut paut dengan gelandangan atau pengamen saja apa?”Tanya Letta tak setuju pada yang dikatakan oleh Carmon. Kan tidak semua harus bersangkutan dengan mereka.


Carmon menatap Letta menggeleng.”Aku nggak menyangkutkan sama mereka, tapi faktanya memang begitu, di sini memang ada pengemis atau juga pengamen, tapi nggak ada yang jadi gelandangan, tidur dijalanan, lagi pula kan mereka miskin mangkanya jadi gelandangan, kalo mereka kaya mereka nggak mungkin jadi pengemis atau mengelandang.” Tegas Cramon.


Letta diam tak menyahut, carrmon melirik lagi kebawah tempat orang yang mandi.”Di sini tu Cuma salah satu pulau kecil di Indonesia, nggakk banyak yang tau si, Cuma cukup terkenal. Disini punya pantai yang di sebut pantai panjang, orang orangnya juga sopan. Jarang ada yang makek bikini atau pakaian yang kurang bahan, kebanyakan disini orang pakek baju sopan. Baju yang terbuka kayak kamu kenakan ini. itu cukup tabu.” Carmon melirkk Letta negan sinis.


Letta menatap bajunya. Crob tob yang menutupi sampai pusar bawahnya bersambung dengan celana miliknya. Memang tidka tertutup bangett si, tapi cukup sampai mata kaki., ia juga menggunakan jaket tadi ia buka. Carmon menghela nafas.”Jadi bukannya aneh nggak ada pakek bikini kalo disini, tapi anehnya kalo ada yang pakek bikini. Di sini enggak ada yang berani makek begituan.” Ujar Carmon.


Letta mengangguk paham, jadi disini culyturnya cukup berbeda meksipun daerahnya dekat dengan pantai, beda dengan daerah lainnya. Jika ditempat lain ke pantai orang pakai bikini disini tidak, di sini malah yang aneh itu pakai bikininya. Letta jadi tau ada tempat yang begini,


Carmmon menatap jam ditangannya.”Kau jika perlu sesuatu bilang saja yah, aku akan menuruti semuanya.”Carmon melirik perut Letta sejenak lalu menatap wajah Letta lagi. “ Mandilah sejenak, disana ada air hangat jika ingin air hangat, nanti seusai sore kita ke pantai melihat senja, di sini ada benteng yang cukup bagus untuk melihat sunset atau pantai tahu disana akan lebih bagus..” Ujarnya cepat tersenyum.

__ADS_1


Letta mengangguk melangkah menjauhi Carmon. Carmon melirik Letta menjauh. Ia memegang jantungnya, menepuknya sejenak.”Pelankan lajumu. Atau kau akan kehilangan kontrol.!!!” Ia menghela nafas mengusap wajahnya. Setiap melihat Letta rasanya ia ingin meledak.


Lima belas menit Letta keliuar menggunakan baju kebesaran, dengan celana jins sobek sobek panjang menutupi kakinya. Ia mengusap rambutnya pelan. Carmon yang sedari tadi tidur diatas kasur melirik Letta yang selesai mandi tertegun, bau sabun yang Letta kenakan sangat menyeruak menadakan dirinya sudah mandi. Apalagi Carmon bisa melihat wajah polos Letta tanpa make up menyeramkan diwajahnya. Sumpah demi apapun Carmon rasanya ingin meledak beneran. Letta jauh lebih cantik tanpa menggunakan make up biasanya.


Lihatlah,, wajahnya yang tak putih itu menampilkan wajah tegas dengan rahang yang tegas, bibir tebal yang merah mereka tanpa pemoles warna. Carmon jadi tau mengapa Letta selalu menggunakan lipstick warnanya menyalah ternyata memang bibirnya warnanya semerah ini aslinya. Lalu apa lagi? hemmm alisnya. Bedanya wajah Letta masih agak antagois meksipun tanpa make up...


Bugh. Carmon kaget saat kain basah menempeli wajahnya. Carmon merasa harum sabun menempeli kain tersebut, kain? Itu handuk putih. Carmon menyekahnya dan menatap handuk tersebut, melirik Letta yang sudah berdecak pinggang. Carmon meneguk saliva kering dibuatnya.


Letta mendesis melirik Carmon.”Dasar otak cabul..!!!”


Carmon melotot mengeleng. “Kau... aku hanya lihat kau, tidak melakukan apapun., kenapa bilang aku otak cabul?”Tanya Carmon tidak terima.


Letta melipatkan kedua tanganya diatas dada menatap Carmon.”Apa yang kau lihat memangnya hemm?”Tanyanya datar.


Carmon jadi gelagapan, meremas handuk ditangannya menatap Letta.” Yah.. yah”


Letta tergelak sinis melihat Carmon yang terlihat gugup, wajahnya hampir pucat karena gugup. Letta melangkah menjauh berkata.” Mandilah, aku tunggu lima belas menit jika tidak kita akan ketingggalan sunsat.” Ujarnya meotong Carmon yang bicara gugup. Carmon mengangguk langsung bangkit dan pergi. Takut dan gugup jika Letta bertanya lagi ia harus bisa jawab apa lagi?


BBugh.. letta tertegun melihat pintu yang di tutup keras oleh Carmon. Letta mengeleng pelan menuju kasur miliknya untuk menggunakan make up dan juga lipstick miliknya. LEtta selalu menggunakan bedak yang menutupi kulitnya supaya lebih gelap dan tegas. Menggunakan lipstick yang berwarna gelap, counselor agar rahangnya lebih tegas. Siapa bilang ia tidak bisa make up? Ia bisa tetapi memang ia menggunakan make up untuk mempertegas wajahnya. Letta suka melihat orang lain takut kepadanya.


”Hey Carmon... kau itu harusnya menjadi pemain bukan yang dimainkan. Gila gila..!!!!” Teriaknya memukul kepalanya sendiri. Carmon mengutuk dirinya sendiri yang mendadak menjadi pecundang.


Tiga puluh menit mereka sudah berada dijalan. Carmon dan Letta melewati pantai yang berisihkan banyak sekali pondok pondok yang jualan makanan, letta bisa melihat disini terlihat kondusif dan bersih. Mereka memasuki salah satu tempat parkiran. Barulah Letta Dan Carmon keluarr menatap sekeliling. Letta mengernyit menatap kedepan, sangat ramai beda dengan yang tadi. Ia melirik ke lain arah.


Carmon melirik Lretta tersenyum.”Disana pantai tahu namanya jika kau mau kesana, disana ada benteng, tak terlalu ramai tapi cukup., jika kau mau kita kesana saja.”Ujatt Carmon pada Letta menunjuk dua arah..


Letta menunjuk arah benteng.”Aku mau kesana saja.” Benteng terlihat hijau dan asri, tak banyak sampah,. Ada beberapa anak muda tapi di sana jauh lebih baik dari pantai tahu yanhg di sisi nya. Disana terlihat sangat padat. letta tidak suka.


Cramon mengangguk menarik tangan Letta. Letta kaget menarik tangannya. Carmon menatap Letta berkata.” Ini.. itu.. hemm disini kan kita cuma berdua, jika kau atau aku tersesatkan tidka bagus. Jadi kita harus bergandengan yah.”Carmon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Letta mendengus. Carmon tersenyum menggandeng etat tangan Letta lagi. letta terlihat ingin menolak tapi Carmon abaikan. Mereka menuju stan minuman untuk beli minum, lalu kearah tangga untuk naik. Mereka memasuki area dengan bayar lima ribu rupiah perorang saja.

__ADS_1


Letta cukup kagum.”Cuma lima ribu rupiah bisa masuk? Bahkan jika dikota lima ribu hanya untuk buang air kecil.”Batinnya pelan.


Keduanya memasuki benteng, disana ada beberapa meriam dan peninggalan zaman belanda dulu dimana tempat penjajahan, tapi jika mereka diatas. Mereka bisa lihat arah pantai, di area disinila letta dan Cramon pilih, duduk dan menatap arah pantai dan matahari yang beberapa menit lagi tenggelam. Carmon tersenyum melihat dari jauh.”Huu kau tidak mau ke pantai tahu, padahal disana lebih bagus loh, disana kita bisa bermain pasir atau duduk di atas pasir.”Gumam Carmon sedikit menyesal dengan pilihan Letta untuk disini saja.


Letta menatap langit dan pemandangan yang indah. “ Hemmm, tidak semua yang indah harus dilihat secara dekat. Dari jauh saja sudah cukup asalkan kita menikmatinya. Disana terlalu banyak orang, aku cukup kurang nyaman.”Gumam Letta pelan.


Carmon melirik Letta heran.”kau tidak suka keramaian?”Tanya Carmon.


Letta menggeleng.”Bukan tidak suka, tetapi kadang terlalu lama dikeramaian membuatku mual.”


Carmon mengangguk paham. Mungkin hormon orang hamil. Carmon berdehem tak enak sejenak.”Wah lihat mataharinya sudah ingin jatuh. Itu sangat indah.”Carmon menarik Letta lebih dekat.


Letta melihatnya mengeluarkan hpnya dan memfotokan beberapa bidik. Carmon tertegun lalu reflek merebut HP Letta.


Letta tertegun sejenak melirik Carmon yang Lanang.”Biar aku fotokan. Berdirilah disana., ayo ayo.”Carmon menjauh memfotokan Letta.


Letta diam tak bereskpresi membuat Carmon kesal. “senyum sedikit ayo. Atau kau lihat kearah kanan agar aku fotokan. Itu sangat cantik.. yah iya dikit lagi.. ayo berbalik.. wah keren..!”


Carmon mendapatkan beberapa fto Letta dengan sunset. Letta tak tersenyum atau bahkan bersusah paya untuk bergaya. Apa yang di suruh Carmon Letta abai membuat Carmon sedikit kesal. Untunglah Letta memang orang cantik Jadi mudah bagi Cramon mendapatkan foto yang estetik atau cantik. Carmon mendekati Letta memberikan HPnya.


Letta mengambilnya dan menatap Carmon tajam.”Lian kali jangan begitu. Tidak sopan..!!!” tegasnya.


Carmon menatap Letta tak senang, tapi juga merasa bersalah.”Tapikan niatku baik.”Gumamnya.


Letta tak membalas tapi menyembunyikan senyum tipis dalam bibirnya, ia menatap senja. Hemm Letta bukan anak senja, tetapi ia cukup senang melihat sunset. Dulu saat ia berlari di pantai ia selalu di siang hari, berharap sampai malam di sana untuk memandang keindahan alam. Tapi tidak pernah dapat, saat dapat sekalipun ia tak pernah menikmatinya. Ia harus terus berusaha agar tetap kuat dan tak berpengaruh dengan alam. Kali ini ia bisa melihat sunset tanpa berlari dipinggir pantai.


.


.


.

__ADS_1


.


Hay... jangan lupa tinggalkan jejak yah...!


__ADS_2