
Areta menangis menatap jastin,. Areta menggeleng pelan. “ kamu begitu jahat, bahkan seusai kehilangan putrimu, kau bicara menggugurkan anak seolah hal yang bukan apa apa bagimu jastin. Ternyata pilihanku sudah paling tepat. Kita akan berpisah, cukup sampai disini saja hubungan kita.” Areta mengambil tas miliknya dan berlari keluar.
Jastin mendengar dan melihat Areta yang kabur menggeleng cepat, hati jastin terkoyak. Jastin mengejar areta sangat cepat.” Ai tolong ai, jangan begini Ai, aku tidak bisa hidup tanpa kamu Ai. Tolong hiks hiks. “ Jastin menangis terus terusan, menahan Areta yang hendak membuka pintu. Jastin menahan pintu dan melihat areta nanar,
Areta terdiam menatap Jastin terluka.
Areta diam diam menatap Jastin tersenyum miring, ini yang dirinya tunggu. Melihat Jastin memohon dan bersujud di kakinya. Areta menunggu hari hari ini.
Membuat Jastin mencintai nya, dan melakukan kesalahan. Jastin mencintainya setengah mati lalu dirinya tinggalkan. Areta ingin Jastin dalam titik terendah saat dirinya tinggalkan.
Bohong besar jika dicerita orang lain jika terlalu benci bisa membuat kita tidak bisa membedakan mana cinta dan mana benci.
Kedua hal yang beda tak bisa di satukan jika benci tak akan ada yang berubah menjadi cinta, dan jika cinta bisa menjadi benci tapi cinta tetap abadi...
Dan kebencian dirinya kepada Jastin tidak akan berubah meskipun sepuluh tahun menjalani hubungan sekalipun.
Kemarin kabar putrinya meninggal, dan itu kesempatan untuk Areta dan Zaxi menghancurkan Jastin lebih dalam.
Iya kehilangan anaknya, putrinya, hartanya, istrinya, hartanya, ibunya, adiknya dan harus kehilangan wanita yang ia cintai. Bukankah itu nilai tambah yang menyakiti Jastin? Areta berharap jika Jastin menjadi gila.
Tunggu tunggu. lalu siapa sekretaris yang di bicarakan? apakah Jastin benar benar melakukan perselingkuhan diatas perselingkuhan.
Jawabannya benar, namun itu sudah di atur olehnya dan Zaxi, sehingga bisa menjadi alasan dirinya lepas dari Jastin, melanjutkan rencana mereka.
Gadis itu adalah wanita bayaran yang ditugaskan menggoda Jastin. Tapi ternyata semudah itu, diluar dari pikiran Areta sekalipun Jastin mudah sekali digoda. dengan digoda sedikit saja Jastin mau dan menerima suka hati.
Haha semua lelaki sama saja tidak bisa di goda dan tidak bisa menjaga diri sendiri.. Bak kucing dikasih ikan tak mungkin menolak sekalipun memiliki wiskes.
menjijikan
tamak
Serakah...
Bodoh...
Otak kotor...
Tidak semua pria... tidak tapi beberapa saja yang tidak begitu...
__ADS_1
Langkah Jastin dia kali lebih lebar dari Areta, sudah pastilah Jastin lebih cepat dibanding dirinya. Jastin melihat areta yang diam saja dan menangis mengepalkan tangga. Demi apapun Jastin katakan jika dirinya tidak berdusta. Jastin benar benar sakit mendengarnya Areta akan meninggalkan dirinya. Jastin katakana jika demi apapun jastin tidak sanggup ditinggalkan oleh Areta.
Jastin mengelus pipi Areta dan berbicara serak.” Aku tidka pernah main main Airin., aku cinta kamu dan apapun yang menjadi milikku, aku tidka akan melepaskan mu Ai. “ bisik Jastin. Berusaha membungkam bibir Airin dengan bibirnya. Menekan pipi Areta kuat dengan nekat yang entah dari mana.
Tapi Areta lebih cepat. Areta mengelak dan mendorong tubuh jastin, jastin mundur hanya sedikit.”Jastin, aku tidak mau lagi. kau bisa dengar tidak. Aku tidak sudi, kau lelaki br3ngsek..” Teriak areta menampar wajah Jastin.
Jastin mendengar ujaran areta terdiam, ucapan areta sangat menusuk hatinya. Dirinya brengsek? Jahat? Tak punya hati.
Jastin terkekeh merasakan kebas dibagian pipinya, sakit dan perih. tamparan dari Areta cukup menyadarkan dirinya tapi hanya sedikit.. “ Airin kamu menamparku Ai? Kamu mau pergi Ai?” Tanya Jastin nanar dan tersenyum lirih.
Tapi Areta semakin merasa jika Jastin semakin menakutkan, senyum miliknya memiliki arti lain. Areta sedikit mundur karena takut.
”jika begitu kamu pergi bersama anakku saja, benar hhe aku mati, kamu mati. Dan kita bertemu Jesika. Kita akan menjadi keluarga bahagia di neraka. Oke kita akan membuat malaikat iri melihat kita.. hehe kita kita harus mati.” Bisik jastin bergetar.
Neraka?
Hidup bahagia?
Malaikat iri?
Kegilaan apa yang Jastin katakan?
Jastin semakin terbahak menghentak tubuh Areta sangat kuat di pintu. Areta meringis memegang kepalanya yang terasa pening dan sakit. Jastin menjambak rambut Areta dan menatapnya tajam.” Oke kita mati saja. Iya mari ke neraka bersama dan kau tak akan terlepas dari tanganku areta.” Ujar jastin marah. Jastin menarik rambut Areta sangat kiuat. Areta terpekik sangat sakit. Dirinya trauma mendapatkan perlakuan kasar. Areta benar benar tidak mendapatkan perlakuan buruk.
Jastin mengambil guci kamar, jastin memukul kepala Areta kuat. Areta terdiam merasa ngilu, kepalanya pening bersamaan dengan cairan yang mengalir di pelipisnya. Jastin terbahak mengambil serpihan tajam. Menodongnya di leher Areta areta merasakan perih disana, menangis menatap jastin takut. semua diluar rencananya.
Semua tidak begini seharusnya, seharusnya dirinya meninggalkan jastin, jastin menangis histerius dan akan menjadi gila. Tapi ini diluar dari pikiran Areta. Areta tidak berfikir jika Jastin menjadi lebih gila dari apa yang dirinya bayangkan. Areta menangis histeris menggeleng. Tubuhnya bergetar takut. Rasa trauma sangat mendalam di tubuhnya tidak dibuat buat tapi seperti ini bayangan dimasa kecil itu menyita semua bagian kepalanya. Areta sama sekali tidak bisa berfikir regional.
“jastin.. tolong jangan begini.” Areta menahan tangan jastin kuat. darah dipelipsinya sudah keluar banyak. Areta sudah memejamkan mata merasakan perih dibagian lehernya yang di sayat oleh jastin. Jatsin semakin menekan pecahan kaca menatap areta lirih.
“aku tidak akan begini jika kamu tidak bicara ingin pergi dariku Ai. Kamu satu satunya wanita yang aku cintai. Kamu satu satunya yang aku inginkan di dunia ini. dan, dan kau bilang ingin pergi dari hidupku Ai. Lebih baik kita sama sama pergi dan hidup bersama dibandingkan aku harus hidup sendiri. “ lirih Jastin kepada areta,.
Areta menggeleng.’”baik.. baik.. aku akan bersama kamu dna tidak akan pergi, tapi jangan beguine hiks hiks, aku tidak mau, aku takut.. tolong jastin.”yang dikatakan areta diluar drai pikirannya. Pikiran kalut karena situasi ini membuat dirinya tidak berfikir apapun selain selamat.
Tiba tiba Jastin tertawa terbahak bahak. Menggeleng pelan dna berkata.” No.. No.. kamu pasti bohong, kamu berkata supaya kamu aku lepaskan dan kamu tetap pergi. aku sendiri dan kehilangan kamu. Areta aku tidak bodoh. Aku tau.. aku tidak akan melepaskan kamu. TIDAK AKAN..!!!” Teriak jastin menekan kaca. Tangan Jastin bahkan ikut terluka karena ulahnya.” Setelah kau mati, aku akan menyusul, kamu tenang saja, aku tidak akan berbohong.”lirih Jastin pelan,
Areta merasa perih bagian lehernya bertambah perih. Luka dikepalanya sudah sangat pening. Brak. Areta tidak membuka mata terlalu takut. tapi kaca yang menyentuh lehernya sudah tidak ada. Samar samar areta membuka mata melihat siapa yang membantunya. Sosok itu lagi, areta terdiam dan terduduk. Tubuhnya semakin bergetar dan takut.
Rizal, ia menatap areta datar dan menatap Jastin yang sudah terkapar jauh dingin, Rizal yang menendang pintu sangat keras hingga engsel pintu rusak. Rizzal kembali mendekati Jastin dan menendangnya kuat sampai jastin terkapar tak berdaya di ujung sana.
__ADS_1
Jastin yang tadinya hendak membunuh Areta terkaget dan terpelanting entah seperti apa, tapi tukang punggungnya seperti patah dua. Jastin menatap siapa yang menendangnya secara kasar. Lelaki berwajah yang sangat seram, Jastin meringis hendak berdiri tapi tubuhnya sangat sakit.,
Rizal menduduki tubuh jastin. Tubuh keduanya jauh berbeda, jika jastin bersih, putih dan sedikit kurus maka dirinya bertubuh kecoklatan, berotot, keras. Bahkan besar tubuhnya dua kali lebih besar dibanding Jastin, tingginya jauh di atas jastin.
Jastin memang tampan tapi rizal sangat seksi.
Jastin tidak bisa bergerak atau bahkan melawan. Jangan lupakan jika dirinya pembunuh bayaran.
bUgh... suara pukulan sangat kuat mengenai wajah Jastin. Jastin kaget, merasakan perih bagian hidungnya. Tak bisa bernafas dan sakit yang mematikan. Jastin memegang wajahnya dan memberontak. Rizal semakin menjadi dan memukul wajah Jastin berkali kali hingga babak belur. Suara Areta menangis bergetar mengalihkan perhatiannya. Tangan rizal terkepal mendekati Areta. Melirik Jastin yang terkapar penuh luka dan darah. Lebam dan tak sadarkan diri di lantai.
Rizal berdecih mengangkat tubuh areta ringan. Areta diam menangis histeris di pelukan Rizal, Rizal mengusap kepala Areta dan menggantikan posisi pelukannya. Ia membuat pelukan ala koala, Rizal membawa cepat menuju parkiran dan memasuki mobil, tanpa menaruh areta dikursi kemudi dirinya membawa mobil secara cepat. Tubuh Areta bergetar sangat hebat. Menangis terisak isak dan nanar.
Areta diam diam melirik Rizal. Ingat jika ini lelaki yang berkali kali menolongnya dari bahaya. Areta sadar dan Areta tau. Areta merasa ini malaikat penolongnya mangkanya tak akan ia lepaskan dari pelukannya. Areta dibawa kerumah sakit dalam keadaan menyedihkan.
Mengambil klinik terdekat dan itu bukan kilik biasa klinik ini adalah milik salah satu dokter ternama. Hanya sepuluh menit Rizal menaruhnya di brangkar seorang dokter yang maish menangani nenek nenek. Dokter terlihat kaget melihat sosok badan kekar dan wajah menyeramkan itu memasuki ruangan tanpa salam, mengabaikan pasien yang sedang ia tangani dan mengantri.
Terlihat wajah Rizal datar berkata.” Tangani dia..” ujarnya cepat
Dokter menatap linglung, menatap nenek yang melotot menatap rizal tak terima.”he saya duluan---"
“TANGANI SEKARANG ATAU KALIAN KU PATAHKAN TUKANG MENJADI TIGA BAGIAN, Aku tidak main main.,”tegas Rizal. Nenek nenek melotot sedikit menciut. Dokter mendengar menggeleng segera mendekati areta dan mengabaikan pasiennya. Pasien yang mengantri mendengar hanya diam pasrah. Tak ada yang berani., tubuh Rizal sangat hangat membuat mereka takut.
Oke tubuh rizal tingginya 189cm, berat badan 90kg, otot ototnya sangat terlihat dibaju kemeja miliknya hingga sangat terlihat. Mata tajam dan jika dibagian wajahnya semakin menambah kadar wajahnya seram, tangan miliknya juga ada luka cukup besar, telinga yang ditindik hitam da nada tato yang muncul dibagian lehernya, mereka jadi tau jika bagian lengan atau dadanya pasti ada tato. Mereka menciut.
Dokter menangani Areta tak mempedulikan semua orang yang memintanya cepat. nyawanya lebih penting. Rizal diam menjauh, tapi areta memegang tangannya lirih. Menggeleng lemas. Rizal tau Areta tidak ingin dirinya menjauh. Kepala Areta di bersihkan dan diberi antiseptik, lehernya juga. “ sepertinya luka bagian lehernya cukup dalam, dan bagian kepalanya harus kita gunting Opak, soalnya ada beberapa serpihan yang menyangkut. Takut membuatnya terinfeksi atau semakin lama sehat,” ujar dokter.
Rizal mengangguk plan.”lakukan yang terbaik.” Dokter mengangguk kaku mendengar siara tanpa ekpresi itu. dokter pikir hal ini hanya terjadi di dunia novel atau drakor saja, tapi sekarang dirinya bisa lihat nyata. Bahkan mendengar nyata. Oke dokter lakukan kerjaanmu secara professional agar kau tidak dipatahkan tulangnya menjadi tiga bagian. Perawat mencukur secara telaten, memberanikan juga. Dokter mengambil beberapa bius dan mulai membius areta, mereka melakukan tugas dengan baik. Bagian leher Areta terapat 9jahitan luar dalam, bagian kepala ternyata luka sangat dalam ada juga, kepala areta dijahit 17 jahitan luar dalam, cukup panjang dan lebar. Rizal sama sekali tidak jauh, melihat mereka menjahit dengan telaten dan rapi, seakan menekan dan berkata, jika tidak rapi kalian habis ditangan ku..!
Semua selesai sekitar satu jam. Areta dipindahkan ke ruang lain yang sudah di sediakan untuk menginapan, disana Rizal duduk di smaping areta dingin. Masih memegang tangan areta yang bahkan masih menggenggam tangannya erat meski dalam keadaan yang sangat buruk. Dokter juga mengatakan jika Areta akan lama bangun.
Rizal menghela nafas, dirinya hari ini sedikit teledor, tadi ia meninggalkan Areta di kamar bersama jatsin berdua, ia pikir tidak akan terjadi hals eperti ini, mungkin mereka akan melakukan hal yang tak layak sebagai orang bukan suami istri, tapi mendengar areta berteriak samar samar mangkanya dirinya berani masuk. Rizal selalu mengawasi Areta, selalu dan sekarang ia kecolongan. Tidak tau apa yang Letta beri nanti kepadanya. jangan sampai dirinya akan dihukum.
“Maaf pak..” Rizal menoleh kea rah pintu. Disana ada perawat perempouan yang terlihat gugup dan cemas rizal berdehem menayap sang perawat dingin. Perawat gelagapan dan gugup.” Anuh pak. Kita mau tutup kliniknya, dan klinik kita juga tidak membuat ruang inap, dokter Rendi menyarankan untuk Bawak membawa nona Areta untuk kerumah sakit saja.” Ujarnya gugup.
Rizal menghela nafas mendengarnya. Menatap Areta dingin. Mengangguk pelan.” bantu aku bertemu dengan dokter kalian itu.” ujarnya bangkit, tapi tangannya masih digenggam erat oleh areta, tega tak tega Rizal melepaskan pegangan mereka dan melangkah pergi. Perawat gelagapan, melotot berdoa kepada Tuhan supaya dokter nya tidak patah tulang hari ini.
Areta menatap Carmon malas, Carmon sudah dua hari dirumah ini, makan tidur dan makan tidur, tidak ada ulah orang lain selain membuat kebutuhannya semakin banyak. Areta sangat kesal tapi dirinya tidak banyak bicara, membiarklan Carmon damai disini.
Ting.... suara telepon Carmon bergetar. Carmon acuh nggan melihat, sudha dua hari hpnya berkali kali di hubungi. Carmon sering mematikan saja hpnya agar tidak di ganggu. Tapi kali ini areta melihat notifikasi di layat kunci.
__ADS_1