Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
wali


__ADS_3

Pagi ini Carmon bangun dalam keadaan jauh lebih baik, matanya mengerjab pelan menatap pelapon, terasa sangat lemas tubuhnya. suhu ruangan sangat dingin semakin membuat ia mengeratkan selimut. Ha? Ia mengerjab pelan mengingat selimut, ia menatap tubuhnya yang ternyata sudah menggunakan baju lengkap.


Baju?? carmon ingat semalam ia membuka baju miliknya karena kepanasan. Carmon membeku sejenak merasa kalut dalam benak.


Melirik di sisi kasur. Tidak ada letta. Dimana wanita itu? Apa dia yang memakaikan ia baju? Carmon merasa hatinya seperti di tusak akan masalah baru. Apalagi ada Virgo dan Baron yang menikmati dirinya yang tidak menggunakan baju kemarin kan? Sontak wajah Carmon memerah karena malu membayangkan dirinya harus berhadapan dengan mereka semua nanti. Sialan.!!


Berselang beberapa menit ia mendengar pintu terbuka, ia sontak menatap arah pintu gugup, ada letta disana yang memakai baju olahraga seperti biasa dengan penampilan yang juga berkeringat seperti biasa. Apa sesuka itu letta berlari pagi sampai tidak pernah absen???


Tangan letta menenteng bubur dan juga jus buah naga. Letta yang baru saja masuk kedalam kamar menatap Carmon sejenak, lalu tanpa suara mengambil piring dan juga tempat minum. Carmon menjadi gugup dan kikuk. Suasana canggumg dengan pikiran dirinya sendiri, apa kabar pikiran letta? Apa ia masih mengingat hal memalukan yang dilakukan Carmon semalam? Carmon kehilangan hidup.


Tolong selamatkan harga dirinya yang sudah mati ditangan Letta!


Letta menaruh makanan itu di dekat meja kasur Carmon, mengambil lagi minuman yang Carmon tidak tau namanya, carmion diam menatap letta yang berdiri di samping kasurnya. Letta menatap Carmon dalam, menyentuh kening Carmon, mengecek suhu tubuh Carmon. Carmon membeku akan sentuhan dan perhatian Letta. Ia menoleh kelain arah karena malu.


Letta berdehem kepada Carmon.”Makanlah. aku akan mandi dulu.” Ujar letta, barulah ia bergegas seusai merasa suhu tubuh Carmon jauh lebih baik. Akh iya tubuh Carmon jauh lebih baik dari sebelumnya. Tiak lagi sakit atau panas, hanya saja ia merasa tubuhnya sangat lemas. Mungkin karena rasa sakit kemarin menyita banyak tenaga miliknya.


Carmon menatapp Letta membuka sepatunya mulai bersiap hendak mandi. Ragu ragu Carmon mengambil bubur tersebut dan mulai memakannya pelan, rasa lapar dan haus menggerogoti perutnya, kemarin rasa lapar itu tidak ada, dikalahkan dengan rasa sakit yang diidap nya. Tapi pagi ini, tangan Carmon sampai berrgetar karena rasa lapar menyerangnya.


Apalagi minuman segar dari Letta berikan. itu sangat segar dan nikmat bersama coconut yang ada.. itu air kelapa dengan gila jawa.


“Terimakasih..” Carmon berumam saat letta mengambil handuk di dekatnya. Letta mengerjab pelan mendengarnya, melirik Carmon yang menunduk mengunyah makananya pelan. Letta mengangguk pelan membuat Carmon tertegun. lettta mendengarnya? Padahal ia menatakan itu sangat pelan, pendengaran Letta sangat bagus berarti? Tapi Carmon malu.


Letta berdehem. “ jika masih ada yang sakit katakan, biar aku kembali memanggil dokter untukmu.” Ujar Letta pelan. Carmon melirik lagi Letta yang memegang baju baru untuk ia kenakan. Ia tidak tau mau bicara apa, mau bicara makasih saja ia canggung.


Letta mengerjab menatap Carmon yang ingin bicara tapi gengsi. Letta menghela nafas” ini kedua kalinya kau terkena racun,. Lebih baik lain kali kau lebih berhati hati Carmon. Musuh kalian terlampau banyak sampai aku sendiri tidak tau musuh mana yang harus dicurigai.” Ujar Letta sebelum masuk kamar mandi.


...----------------...


Bara menghela nafas menatap sarapan miliknya. Terasa lemas dan juga tidak semangat. Sudah empat hari ibu angkatnya p[ergi, katanya hanya tiga hari tapi sekarang? lihatlah ia belum pulang, apalagi ibu angkatnya s[eerti sednag menjaga interaksi antara mereka. Apa itu karena dirinya tidka membela saat ibunya disuditkan oleh teman temanya dulu??

__ADS_1


Samuel melihat Bara yang diam saja pun mengernyitkan dahi, jesika? Ia juga diam tapi mulutnya mengunyah makanan dengan pelan menatapp Samuel sang kakek.” Kakek... kami hari ini akan dibagikan raport. Apakah kakek bisa mengambil raportku??”


Orang tuanya masuk penjuara, jadi tidak ada yang bisa diandalkan selain kakek dan neneknya, hemm lagi pula jika ayah dan ibunya ada di sini maka mereka juga pasti akan menolak jesika.


" Pasti kau hanya memalukan saja seperti semester ganjil kemarin..!" Dengus Samuel mengingat semester sebelumnya Jesika malah dapat peringkat terakhir.


”Kakek tenang saja. Aku sudah belajar untuk semester ini. aku yakin nilaiku akan jauh lebih baik. Jika bukan kakek siapa yang mengambil raport ku? ayah dan ibu sedang tidak ada.” Bujuk Jesika, berharap kakeknya menemaninya.


Samuel melirik jesika berdehem.”jam berapa?” jesika yang direspon senang, melirik Bara bertanya tapi Bara diam memakan makananya dnegan tenang.” Jam Sembilan kek. “ Ujar jesika dengan yakin tak yakin. sebab ia takkut salah.


Samuel berdehem menginyakan permintaan jesika. Jesika semakin tersenyum tipis, melirik Bara yang makan lagi.”Kau siapa yang mengambil raport?”


Bara yang ditanya samuell mendongak, “pak Bambang mungkin.” Samuel mengangguk paham akan hal itu. ia juga tau Bambang adalah pengawal pribadi bara.


Hiruk piruk sekolah dasar ini lebih pengap dari biasanya,. Disana ada banyak anak sekolah yang membawa orang tua untuk mengambil raport, sebenarnya disini juga ada anak SMP da anak SMA Jadi tidak heran jika sekolah semkain padat dan juga semakin sesak. Sekolah ini mewajibkan agar ada wali pendukung bagi murid murid mengambil raport, entah itu ibu, ayah atau siapapun itu.


Sekolah yang dimasuki Bara juga bukan sekolah murah, di sini biaya spp perbulannya saja mampu menghidupi para karyawan gaji UMR selama selama lima bulan, itu pun belum termasuk uang esktrakulikuler atau kegiatan lain. SPP dan uang acara mereka disini terpisah.


Bara diam menatap kedepan, sekarang semua anak duduk dengan orang tua di samping mereka, kelas semkain pengap, tetapi kelas Bara terlihat sangat mencengangkan. Rata rata anak pejabat tinggi dan pengusaha kaya jadilah mereka sekarang hanya tersenyum formal membicarakan bisnis atau pekerjaan. Sedangkan bara? Ia hanya diam menatap kedepan berharap ibunya datang.


“Haloo,....”


Bara melirik ke sebelahnya, disana ada ibu ibu yang menggunakan banyak pernak pernik dikepala dan tangannya., bahkan kalungnya jika dihitung ada tiga. Bara mengerjab menatap dingin ibu tersebut. Terlihat yang menghajaknya bicara tersenyum masam berkata.” Anak sama ibu sama aja, sama sama serem.”Gumamnya.


Ia tak tau perkataannya memasukinya gendang telinga Bara jelas. Bara mengerjab pelan menatap ibu tersebut yang tiba tiba mengajaknya bicara.


Ibu tersebut kembaki tersenyum manis dengan bibirnya yang bergincu pinky cerah tersebut.” Ini bu Kiem, teman mbak Letta ibu mo itu loh. Kamu anaknya kan kemarin yang dapat juara satu. Pinter banget kamu loh..” Ujar Kiem pelan mengipasi kepalanya dnegan kipas miliknya.


“ juara apa ibu?”Tanya dari ibu di sampingnya, sepertinya ibu dari teman kelas Bara sendiri.

__ADS_1


Kiem menatap ibu tersbeut berbinar.” Itu dia juara satu olimpiade matematika, katanya kemarin dia ngalahin anak kelas enam loh buk.. pinter banget kan anaknya.” Kiem tersenyum malu mencunbit pipi Bara.


Bbara terdiam mau menepis tangan kiem, tapi itu hanya akan menambah masalah letta nantinya. Bara hanya diam menatap kiem yang memujinya.


Mereka menatap Bara dengan bangga dan kagum.”Oalah beneran? Dia kan masih kelas satu. Mana bisa dia ngalahin anak kelas enam buk??” Tanya dari salah satu ibu tak percaya. Kembali melirik Bara.


Kiem mengangguk yakin.”iya loh, dia ini anak temen saja namanya mbak Letta, dia tu mamanya aja pinter, saya aja kaget kemarin, kalo masalah dia masih kelas satu tapi udah pintir yo ndak tau saya. Tanya aja resep sama emaknya kalo mau punya anak yang pinter wiku. Aku aja mau.”Ujarnya dengan malu malu, ada logat bahasa daerah di pelayanannya.


Ibu ibu disana terkekeh mengangguk.” Oalah resepnya satu toh kalo mau anak pinter. Yo mamak nya, kalo maknya pinter anaknya biasanya pinter, kan maknya biasanya nurunin kepintaran kalo uka yo bapak e. bara mamaknya pinter mendadak?”: Tanya salah satu ibu ibu menatap Bara.


Bara yang ditanya tersenyum ragu.”Mommy pinter banget.”Bangganya.


“Nah kan. iya toh kalo anaknya pinter biasanya emaknya pinter juga. Jangan jangan dia anak konglomerat juga tioh katyak jesika itu. cucunya Samuel, tapi sayang banget dia ndak pinter, mungkin karena ibunya bodoh mangkane anaknya juga bodoh.” Sahut salah satu ibu lain yang berbaju tak kalah glamor.


“cucu Samuel yang itu toh?” kiem menunjuk arah Jesika menggunakan dagu runcing miliknya membuat mereka berpaling menatap Jesika dengan wajah cemooh dan juga ada yang heran, penasaran. Jesika yang dipangkuan Samuel gugup ditatap oleh banyak ibu ibu tersebut.


Mereka mengangguk mengiyakan.”:Iya itu toh. Katane ibunya itu malah maki maki sampek janbak jambake kepala ne sekretaris bojone. Aduh apalagi katanya si sekretarisnya itu sampek masuk rumah sakit seminggu tok, dia trauma jeng,. Gila banget ibunya, wajar aja anaknya bodoh. Katanya juga dia itu peringkat terakhir dikelas ini, dia nggak bisa baca dan nulis yang bener.”


“ Iyaaa saya denger bener buk. “ sahur dari Kiem menepuk bahu anaknya yang bertubuh gempal di samping bara.”anakku sering cerita kalo pulang kerumah kalo dikelasnya ada namanya jes?”Tanya Kiem kuat. tak sadar suaranya sangat keras.


“Hus.. jangan kenceng kenceng suarane. Nanti kita kena kasus sama pak Samuel, mereka lebih kaya dari suami kita.” ujar ibu ibu lain. Mereka yang bersiklus berempat dan satunya lagi yang mengangguk ngangguk sedari tadi angkat bicara Gerang.


“ Ndakk popo jeng. Suami saya jendral, tak apa lah kan kita ngomongin kebenarannya. Dia kan memang rengking terbawah dan buta warna. Ngapain juga nuntut kita toh anaknya memang bigal.” Ujar salah satu ibu yang berpakaian paling modis. Bara mendengarnya diam melirik ujung ruangan.


Wajah Samuel memerah akibat cervcahan dan gossip dari ibu ibu di tengah ruangan, suara mereka sangat keras saat bergosip. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan bagi pendengar. Rasa panas menyahur nyabut dirongga dada Samuel, hendak memaki dan memukul semua orang disana. tapi kemarannya lebih berpusat pada jesika saat ini. mengapa cucunya terkenal sangat bodoh dan memiliki kekurangan begitu? Samuel sama sekali tidak tau jika Jesika memiliki penyakit buta warna.


Itu penyakitkan??? Samuel mengepalkan tangan marah.


Samuel malu!

__ADS_1


__ADS_2