
. “ Apakah kamu tidak lelah? Apa kah harimu baik baik saja saat mengandung?? Itu terlihat sedikit membatasi seorang perempuan.” Tanya letta. Lagi lagi Bulan ditanyakan hal yang diluar dari pertanyaan orang lain. Dirinya sampai bingung harus menjawab apa.
Bulan terkekeh. “sebenarnya bukankah kita memang harus terjatuh dulu tidak si biar bisa menaiki sepeda? atau lebih tepatnya semua orang yang bisa mengendarai sepeda pasti akan jatuh.”Tanya Bulan lembut pelan, tanganya mengelus perut yang sudah membuncit, bagi Bulan ini tak ada bandingannya dengan dengan rasa bahagia nya kela. letta mengangguk paham.
Bulan membasahi bibir bawahnya. “sebenarnya sulit atau tidak, lelah atau tidak, merepotkan atau tidak, itu jawabanya tergantung dari yang mengandung, jika saya sendiri mengatakan sedikit. Tapi lebih banyak bersyukurnya sih, soalnya kan nggak semua orang bisa merasakan mengandung anak, saya salah satu manusia beruntung dititipkan karunia terindah ini. semuanya saya nikmati dan saya sukai, bahkan saya sangat bahagia.” Lanjut Bulan lagi jujur.
Letta mengangguk paham, mereka sudah berdiri dibawha pohon apel. Pohonya tidak tinggi seperti yang dirinya bayangkan, bahkan jika dirinya naiki akan patah. Letta mengangguk lagi.” Benar, tapi faktanya tetap saja membatasi kan. bedanya hanya rasa dari sang penikmat ada yang terganggu da nada yang bersyukur.” Jawab Letta nyaris bergumam lagi.
" Ngomong ngomong. Memangnya kamu nanti tidak mau memiliki anak apa membenci anak anak?" Pertanyaan Letta sedikit menganggu otaknya. Pertanyaan Lettaa seakan berkata jika dirinya adalah tidak menyukai anak anak, membenci mengandung dan menganggap jika hamil adalah beban
Aletta menaikan satu alisnya. " Bisa iya bisa tidak." Jawab Aletta acuh.
Bulan semakin bingung. " maksudnya maksudnya gimana sih???" tanyanya pelan pada Letta. Letta sangat membingungkan.
" Mengapa ingin tahu sekali?? Itu bukan arena kamu bertanya. " Balas Letta lagi dingin. Bulan mendengarnya terdiam dan tertegun, sedikit kaget mendengar jawaban Letta yang sedikit tidak sopan Mata Bukan seperti ingin mengisi. Letta selidiki tidak enak.
Letta menghela nafas" Saya tidak pernah berfikir untuk tidak memiliki anak atau bahkan mengandung, tapi juga tidak pernah berfikir untuk mengandung atau memiliki anak sendiri. Saya juga bukan membenci atau tidak menyukai anak anak, hanya saja beberapa anak anak membuat saya tidak nyaman " Entah dari mana angin yang datang menerpa diri Letta sehingga menjawab begitu transparan dirinya kepada Bulan bahkan pertanyaan yang tak harus dirinya jawab.
Bulan orang baik.
Letta melirik lagi bulan yang tadinya ingin menangis sekarang menatap dirinya sendu.
Bulan merasa bersalah sudah berfikir yang tidak tidak." "Maaf..."
" Bukan hal yang salah."
Bulan mengangguk kaku. Bicara kepada letta sangat beda rasanya, Letta menatap buah buah apel yang belum terlalu matang. “kamu boleh memetiknya jika kamu penasaran rasanya. Ini rasanya manis kok meskipun belum terlalu matang, aku sering makan kok.” Ujar Bulan kepada letta. Letta dimatanya terlihat penasaran melihat buah buah itu.
Letta menatap bulan tersenyum sedikit lebih bersinar dari tadi.”Bolehkah?”tanyanya pelan.
__ADS_1
Bulan mengangguk agak kaku. Letta tersenyum lebih lebar mengusap kepala Bulan.”Kamu baik, terimakasih.” Ujar Letta terkekeh.
Bulan membeo menatap letta kaget. Imnio calon mennatunya kok seperti dirinya yang bukan calon mertua malah seperti adik dibuatnya. Bulan tidak tau berekspresi seperti apa., ,mau marah? Tapi rasa takut dan segan mendominasi.
Letta bergerak mengambil buah yang paling merah dan juga paling besar, tersenyum mengambil satu, ternyata belum terlalu merah, tapi masih ada hijau nya. Tak apa. Letta mengambilnya dan segera melahapnya.
“Emm kalo mau cuci dulu disana.” bulan menunjukkan satu keran di sana. Letta mengangguk tetap makan tanpa di cuci,
Bulan diam diam memerhatikan Letta. Letta santai dan menikmati buah yang dirinya makan, terlihat bahagia meksipun tak terlihat banyak senyumnya. “Ini manis, dimana kamu membeli bibitnya?”Tanya Letta.
“apa kamu juga ingin tanam? jika iya kamu bisa ambil kepadaku, aku punya beberapa pohon yang masih kecil tapi suda berbuah. Mungklin satu tahun lagi sudah besar.” Ujar bulan mengangguk semangat.
“apakah tidak merepotkan?”Tanya Letta.
Bulan menggeleng cepat,.”tidak tidak, kamu bisa bawa sebab aku punya banyak pohon lainnya. Kamu bisa mengelilingi kebun ini jika mau, tapi aku akan ke tempat duduk kita duluan yah, oalnya hamil bukin cepat lelah dan kaki mudah bengkak.”ujar bulan pelan dan tak enak hati pada letta.,
Letta menghentikan kunyahannya, menatap Bulan sedikit tak enak.”mau ku gendong?” bulan mendengar ucapan Letta gak kaget.
Hingga kakinya oleng karena memijak batu yang cukup besar sebagai pemisa sayur. Letta dengan sigap menahan tubuh Bulan dari belakang. Bulan tertegun merasakan tubuhnya ditahan. Bulan mengerjab pelan merasa jantungnya mencelos. Letta membantu buklan cepat berdiri.
’' Apa kakimu baik baik saja??” Tanya Letta perhatian. Bulan shok diam tak lagi menjawab. Letta menghela nafas memeriksa kakinya bulan ternyata tak ada masalah apapun.
“ sini saya bantu., saya takut kamu jatuh lagi.” ujar letta. Letta menggedong Bulan dalam keadaan kaki yang sakit dan bahu yang masih nyeri. Bulan shok diam mengamati Letta. Letta mendudukinya dikursi dan berdehem. Melangkah pergi meninggalkan Bulan.
Bulan menggigit bibir bawahnya pelan.” ahh wajar saja jika Putra menyukainya, aku saja hampir belok.” Gumamnya. Sial Bulan menggeleng kepala terkekeh. Tidak buruk, letta tidak buruk, perhatian, baik, pintar. Hanya saja umur keduanya sangat jauh. Apakah Putra atau Letta tidak akan di hujat nantinya?
Usia antara laki-laki dan perempuan kerap kali menjadi hal Tabu untuk orang orang. Jika laki laki yang lebih tua 2 sampai bahkan puluhan tahun orang akan berfikir " Yah memang harusnya laki-laki lebih tua dan perempuan lebih muda biar bisa mengayomi keluarga.'
tapi beda lagi jika kebalikannya. wanita yang menikahi pria yang masih muda akan di bilang 'itu suami atau adik ?' atau ' masa istrinya lebih tua.'
__ADS_1
Letta sendiri mengammbil apel lagi, letta tidak suka apel, tapi impiannya sedari kecil adalah memetik buah sendiri. Letta menyusuri buah buah yang ada disini. Jambu Kristal, letta tidak suka jambu jadi skip saja, letta hanya menatap kagum buah buah yang dibungkus dengan plastic biru itu, semua buah sangat bagus pasti sangat dirawat.
Sampai di pohon kelengkeng, ia tersenyum, ini buah yang dirinya sukai, letta memetik beberpa yang sudah natang mungkin, tapi saat dirinya buka ternyata isinya masih tipis. Manis sih tapi agak merugi saja sepertinya sebab buah nya belum matang sempurna, masih harus menunggu beberapa waktu lagi. Letta bergegas memilih yang pohon lain, ketemu. Disana ada banyak buah yang hammpior matang sempurna semua., Letta jadi kalap dan juga menikmati disini. Memilih duduk dibawah pohon dan makan buah kelengkeng. Sial ini rasanya nyaman sekali.
Letta menatap buah diujung sana,. Jeruk... letta berdecak., apa kata bulan nanti jika dirinya serakah? Letta menghela nafas menghabisi buah kelengkengnya, kembali berjalan dan memerik jeruk. Letta mengelap bibirnya dan makan di sana. Terkekeh pelan membuka mulutnya kaget.,” asem..” gumamnya lirih. Letta mengernyit menatap buah jeruk.
“hahaha itu buah jeruk mnipis ayang haha. Ngapain kamu makan sihz itu emang nggak dibuat makan secara langsung. Jeruk yang buat dimakan itu yang itu,” letta melirik ke belakang, ada Putra. Letta mengusap bibirnya mengerjab pelan. tidak tau letta tidak tau ini jeruk nipis, ia pikir ini sama saja dengan jeruk yang ia makan. Pantas saja saat mengupas kulitnya sangat susah.
“sejak kapan kamu disana?”Tanya Letta. Jika putra melihat ulahnya yang makan dibawah pohon seperti anak kecil sedang mencuci dan takut kena marah atau kena amuk sang pemiliknya kan akan membuat imagenya rusak., mau ditaruh dimana wajahnya nanti? Sial sekali Letta ingin menangis rasanya jika begini. Ah tidak selebai itu juga tapi letta malu.
Tolong tunjukan dimana harus Letta bersembunyi.
Putra terkekeh memberi nampan ebsar.”Sejak ada yang joinglok sambil makan buah tadi tu,. “ Jawab Putra melirik letta menggoda.
Letta mendengarnya pun menghela pasrah, menahan pipinya yang berkedut.” Buahnya manis. Jadi gue suka.,” jawab letta.
Putra menganggik sok paham, melirik Letta lagi dna terkekeh. “Ini nampan yang di kasih Buna. Katanya ayang nggak bawa ini buat metik buah. Sini aku bawa ayang buat milih buah yang manis manis. Aku udah bisa loh.” Ujat Putra mengajak Letta mengabil buah jeruk yang ditunjukinya tadi. Letta melirik buah berbinar. Buah jeruk, letta suka rasa jeruk yang sedikit asam dan manis bersatu.
Letta seperti ingin menitihkan air liurnya sekarang. hentikan letta. Itu memalukan..!!
Letta meraih buah yang paling besar idi depannya. Pohon yang tak terlalu tinggi cukup memudahkanya untuk memunguti buah.
Puk. Tanganya di tepis. Letta melirik Putra yang menggeleng.”Itu belum mateng dan pasti belum manis. Kalo milih biuah tu yang agak ada item itemnya dikit dan ada baretnya dikit. Pasti manis. Ih kayak gini. Kalo yang besar,. Mulus dan glowing agak asam soalnya belum magang banget.,” ujarr Putra memberikan buah yang ia bilang tadi.
Letta mengambil jeruk dari Putra, mengangguk membukanyua. Putra gemas merebut buah itangan Letta. Letta menatap Putra dingin dikarena mengangguk kesukaannya.” Buka jeruk aja ngak bisa. Kalo cara kamu buka jeruk gitu bakal habis airnya. Rugi lah. Gini nih,.” Ajar Putra menujukan cara membuka jeruk baik dan benar.
Bagaimana tidak? Tadi letta membuka jeruk dengan menekan bagian atas dan membela dua semakin menggepeng jeruk. Jeruknya rusak jika dibegitukan.
Letta mengangguk meneriuma buah yang sudha dikupas bersih. Memakanya dan membulatkan mata. “Manis banget.,” ujar Letta jujur, mengambil satu keping buah jeruk.” Cobain deh.” Letta reflek menyuapi Putra yang berada di sampingnya. Matanya menatap Putra berbinar.
__ADS_1
Putra agak kaget, menerima gugup dan gelagapan. Menatap Letta dalam sebab baru kali ini melihat wajah berbinar letta. “manis banget kn?”Tanya Letta Lagi pada Putra yang sedikit melamun.