
Tapi hp milik jastin menggunakan kata sandi, mereka secara paksa menarik ujung jari Jastin untuk mengambil sidik jarinya.
" Kalian ngapain sih...! Saya mau minum lagi cepat!!!" Jastin memberontak tak mau menurut
" Iya pak. nanti Kami kasih tapi kasih jarinya bapak dulu sini." Ujar pelayan geregetan.
Jastin menggeleng" Kalian mau potong jari saya??" Tanyanya polos.
pelayan menggeleng " Minjem bentar saja pak sini." Masih memaksa kepada Jastin.
Jastin menggeleng polos " Nggak mau. "
" nanti kami kasih minum lagi deh janji. " Ujar pelayan lain membujuk.
Jastin mengerjab polos, drinya sudah dipengaruhi alkohol dan tak sadar lagi. dirinya linglung. " Beneran? kalian nggak bohong kan?" tanyanya pelan.
Mereka menggeleng bersama. " Beneran kok pak. jadi sini yah pinjem telunjuknya." Bujuk lagi pelayan lelaki.
Jastin mengerjab pelan. " Nanti balikin tapim janji. " Ujar Jastin memberikan telunjuknya. mereka menghela nafas pasrah dan bersyukur.
" Minum lagi..." teriak Jastin.
mereka saling pandang" kasih minuman non alkohol dulu." mereka.mengagguk lalu memberikan Jastin minuman lain.
Mencari dan mencari. Mereka menelpon beberapa nomor acak tapi tidak di sahut. Sampai di satu nomor yang terlihat asing.
Hey ini sudah pukul 2 pagi. manusia waras manas mana yang masih tidur jam segini?
Bodyguard Carmon. Ini saja kali yah batin mereka.”Udah belom?”Tanya temannya yang menahan jastin yang tidak mengamuk.
Pelayan berdecap menjulit kepada temannya.” Sabar dong. Ga liat loe gue lagi usaha ini,.”ketusnya. temanya menatap datar sang teman.
Sambungan terhubung beberapa saat, sampai sambungan tersambung. Pelayan segera bergerak semangat.”Halo halo.. ini temannya tuan Jastin?” Tanyanya pelan.
Ada yang Gilak...
Di seberang berdehem.”Bukan.. Tut..”
pelayan menjulit melihat HP miliknya. "Gilak sombong banget.” Ketusnya tak senang.
Masih mencari nomor lain untuk dihubungi, satu nomor yang ada love merah dengan nama. My Love. Sedikit lebay tapi pelayan melihat Foto profil. Waw cantik dan seksi. Mengerjab menelpon sosok tersebut. Tak sampai beberapa detik telepon sudah diangkat.
__ADS_1
“Halo Jastin?” suara di seberang sangat halus dan lembut. Jika telinga orang pekak atau sedikit bermasalah dipendengaran pasti mereka tak akan bisa mendengar jelas.
Ehem.. pelayan berdehem pelan mengelap air liur yang hendak turun. “Ini anu aduh anu apa yah.” gumamnya linglung.
Lupa tujuannya. “: Boleh kenalan Eh?”tanyanya pelan mengerjab melihat ponselnya yang maish tersambung.
“Lintang beg0. “ teriak temannya di sana.
Menyadarkan pelayan bernama Lintang, lintang menutup mulut horror. “ Yaampun hehe. Lupa astaga naga. Oke ini mbak cantik pakek banget. Ini ada mas mas namanya mas.”Ia menatap lebih lama dan dalam kearah KTP sang jastin.”Jastin.. Hotman, dia tepar mbak, udah mabuk berat udah nggak ada temennya juga., bisa jemput nggak soalnya dia ngambuk mau minum lagi padahal dia udah limit batas mbak.” Ujarnya lembut.
Diseberang terdengar suara nafas yang biasa saja sejenak. Lintang sedikit degdegan.” Oke. Kirim alamatnya yah.”
pelayan Lintang mengangguk.”Baik mbak. Terimakasih.” Ujarnya lalu seberang menutup telepon.
“Gimana Lin? “ Tanya rekan Lintang.
“ Lan Lin Lan, Tolong yah nama gue Lintang. “ ketus Lintang malas. Tak suka dipanggil dengan nama itu. seperti nama perempuan.
“Woy mending gue manggil Lin dibanding Tang,?. Tinggal gue nambah Ku Tang jadi arti lain tu.” Ketus temannya.
Lintang menatap temannya gemas. Tapi benar juga. “ Ku Tang.. Ku tang. Oh asu.." ujarnya melempar temannya dengan kain lap.
Temannya terbahak melihat wajah Lintang yang menatapnya marah dan sebal. Mereka sampai lupa jika Jastin masih mengamuk dan meminum alcohol lebih banyak. Dibanding mereka harus menganti kerugian. Mending orang ini saja yang mati karena overdosis minuman. Batin mereka.
Areta melihat kearah bartender, disana mereka menahan tubuh seorang lelaki yang mengamuk,. Langkah kaki jenjangnya memasuki Bar lebih dalam, mendekat kearah lelaki. Kaki mulus dan lentik ditatap lapar banyak lelaki mata keranjang. Tapi areta tidak peduli., Areta terus saja berjalan tampa banyak bicara atau menanggapi. Saat dekat ia menatap lebih jelas tubuh yang ia kenal tadi. “ dengan Jastin bukan?”Tanya Areta mengerjab pelan.
Pelayan disana mengangguk menatapo areta kagum dan memuja. Sangat cantik dan elegan, bahkan menggunakan pakaian tidur pendek saja dia sangat cantik. Rambut yang berantakan menatap mereka sayu,, bak telur yang mudah pecah.
“ Mbak maaf. Liurnya jatuh.” Areta meringis seusai memperingati salah satu pelayan perempuan yang meneteskan liur melihatnya.,
Pelayan gelagapan mengusap pipi dan bibirnya. Benar saja, sekarang wajahnya sangat malu, entah bagaimana ia menyembunyikan lagi dirinya.” Iya mbak.. ini pas Jastin, dari tadi dia ngak bisa diem, teriak dan mau minum terus padahalkan peraturannya nggak boleh lebih dari sepuluh botol perorang mbak. Soalnya ini alkohol kadar tinggi, bisa merusak organ dalam kalo berlebihan. Akibatnya kami nggak nanggung. ” Ujar Lintang ditengah tengah menahan jastin. Ingin rasanya sedikit modus pada areta tapi keadaan jauh lebih memecah konsentrasinya.
Jastin yang melihat adanya kekasih hati menatap Areta mengabur. Tangannya bergetar memeluk areta.” Sayang hiks hiks,. Putriku pergi hiks hiks. Putri kita pergi sayang.”tangisannya berderai bak air mancur siap melaju ditengah musim hujan. Sangat deras dan tak terkendali.
Keadaan Jastin Dimata Areta sangat kacau, Areta menatap Jastin prihatin dan juga sedih. Rambut yang acak acakan, baru yang terbuka sana sini, bagian depan basah akibat minuman yang dia minum, mata sayu dan bengkak akibat menangis terlalu lama. sungguh menyedihkan.
Pelukan jatsin sangat erat kepada Areta. Bahkan Areta merasa sesak mendapatkan pelukan tersebut., Letta berdehem mengangguk pelan menetralkan wajahnya yang hendak menyeringai. menepuk pundak pundak sang jastin,” iya sayang. Ayo pulang dulu, kita istirahat.” Ujar areta halus. Mengusap kepala jastin.
Jastin menggeleng menangis lirih.” Mau jesika sayang hiks hiks., putri kecilku yang malang.” Lirihannya sangat pe;an dna tak waras. Areta menghela nafas menenangkan jastin. Menatap pelayan yang menatap mereka penuh kepedihan.
Areta berdehem menatap dua pelayan lelaki yang menatapnya dari tadi dengan tatapan penuh binar, dan satu perempuan yang menatapnya kagun. Areta membasahi bibirnya sejenak.”maaf. bisa bantu saya angkat dia ke mobil milik saya?”Tanya areta pelan.
__ADS_1
Pelayan mengangguk pelan.” yah.” bak dihipnotis mereka mengangkat tubuh Jastin.”Tapi mbak. Minuman milik pak jastin belum dibayar.” Ujar pelayan pria satunya lagi selain Lintang ragu ragu. Wajahnya tersirat tak enak melihat areta
Areta mengangguk.”Berapa?”Tanya areta pelan. pelayan menatap sken di layar monitornya computer, menjumlah yang akan di bayar.” 7,900 ribu mbak mbak, dipotong pajak itu sebesar 10 persen. Jadi menjadi 8,800ribu.” Tegasnya. Areta berdehem mengambil dompet jastin, mengeluarkannya dan mulai membayar. Mereka mulai menyeken dan menyelesaikan pembayaran.
Areta memasuki mobil yang sudah di isi oleh jastin. Areta memijit pelipisnya. Jastin masih memeluknya sembari menangis tersedu sedu. “ Merepotkan sekali.”Gumamnya pelan. menghela nafas mulai melajukan mobil,
Sebenarnya Areta tadi lagi enak enak bersama penjaganya tapi karena pesan dari Jastin membuat moodnya menurun dan harus ke sini., Masih ada yang harus ia urus.
sialan. Areta lagi lagi harus mengurusi lelaki ini. tapi sabar areta maish dalam keinginannya menjatuhkan Jastin, keinginannya untuk menghancurkan Jastin lebih besar sekarang ada peluang, iya itu kan lebih baik.
...----------------...
Letta mendelik melihat HP miliknya, telepon dari seseorang dari nomor Jastin. Siapa sih? Letta enggan berurusan dengan jastin. Sebab jastin adalah mangsa saudaranya. Lagi pula ada banyak kerja lain dibanding mengurusi Jastin yang tidak memberikan apapun kepadanya.
Letta menghela nafas. jam sudah menunjukan pukul 3 pagi dan dirinya sudah bangun dengan mimpi buruk seperti biasa. Letta tak lagi olahraga karena keadananya. Letta memilih tidur diatas kasur dan membuka beberapa aplkasi untuk menghibur. Sembari berusaha untuk kembali tidur,.
Tok.tok.. “Letta apa kamu masih tidur?
Letta menatap kearah pintu. Berdehem pelan malas menjawab. Tapi gedoran semakin kencang membuat dirinya mau tak mau menjawab.
”ada apa” Letta berjalan menuju pintu. Disana terlihat Carmon yang berantakan,. Mata yang memerah dan juga wajah kunyu.
Carmon menatap kedalam kamar Letta.” Kenapa diluar sangat panas? Apakah ac-nya mati?”Tanya Carmon kesal. Carmon tidak bisa tidur tanpa AC, panas itu sangat menyiksa pemiliki kulit putih seperti dirinya.
Letta menatap Carmon dingin.,”aku sudah lama tidak di sini jadi aku tidak tahu.” Ujar lketta.
Carmon menghela nafas mendongak karena kesal, berdecak pinggang.,”Letta aku sangat lelah dan mengantuk, bagaimana bisa aku istirahat jika begini. Bisakah kamu memberikan aku ruang lain?"
“Tidak.” Tegas letta tak berpikir lagi atau bahkan berperasaan. Carmon menatap letta datar., menjulak letta.
Letta sedikit terhentak mundur karena laget.”Yaudah aku tidur di sini saja.” Tegas Carmon menaiki ranjang letta Tanpa sopan santun.
Letta menatap Carmon garang.”KELUAR..!!” ; Letta bersuara sangat besar hingga suaranya menggema di dalam sana. Untunglah apartemen miliknya ini kedap suara jika tidak pasti sudah dimarah habis habis oleh tetangganya.
Vacarmon menatap Letta kaget. Suara Letta sangat besar terdengar sangat marah. Tatapan letta juga lebih dingin dari biasanya. “Aku tidak bisa tidur jika panas letta. Aku hanya menumpang tidur di kamar lain kamu tidak beri izin dan aku tidur dikamar kamu saja jika begitu..”
“Keluar sekarang. Gue nggak pernah nyuruh loe buat nginep di sini. Keluar.” Tegas Letta kepada Carmon.
“Kalo gue nggak mau?”Tanya Carmon mengejek. Letta mengambil pistol dibagian celananya dan mengarahkan kepada Carmon. Carmon terbelalak melihat letta yang nekat ingin membunuh nya karena tidur di atas kasur nya. Tatapan letta lebih lebih datar dari biasanya,.
Carmon langsung beridiri kaget. Mengangkat tangan gugup.. ekspresi Letta sangat berlebihan, “Fine. Nggak usah gitu amat lah, mainannya mau bunuh anak orang aja. “ Tegur Carmon kesal., ia melangkah meninggalkan kamar Letta dengan tatapan Letta bak leser memindahnya.
__ADS_1
Letta melempar kunci kepada carmon.” Sebelah kamar Bara,. Jangan sampai kau melakukan hal buruk, sebab saya akan tau.”Tegas Letta.
Carmon menangkap gelagapan, mengangguk dengan cepat melangkah menjauh. Memasuki kamar yang di samping kamar letta. Letta memutar pistol miliknya dan menyimpan nya didalam saku. Malas jika harus berurusan dengan Carmon. Letta sangat marah, sedari awal sudah dikatakan jika letta sangat tidak suka jika kamarnya di sentuh oleh siapapun. Tapi Carmon dengan sangat tidak tahu malunya menaiki kamarnya. Rasa marah sangat bergejolak. Letta benci hidupnya diikut campurkan. Benci jika ada yang mengusik miliknya.