
Carmon yang di abaikan terpaksa menahan senyum miliknya agar tetap stay ditempatnya. Meremas kecil sebuket mawar yang ia bawa. Ini cukup menggores luka batin miliknya, akh tepatnya harga diri yang menyambung ke batin.
Hey hey. Dia bos loh saat ini, dan bisa bisanya diabaikan oleh bawahannya?
Apa wajahnya saat ini sudah tidak lagi semenawan sebelumnya? Apakah ada kotoran diwajahnya sampai Letta hanya meliriknya seperti itu?
Ini cukup menggores harga diri sebagai playboy kelas kakap miliknya, jika biasanya ia hanya perlu tunjuk saja wanita mana yang ia mau, maka wanita itu akan tersenyum lebar menyambutnya dengan suka cita
Bahkan tak jarang wanita wanita melemparkan tubuh miliknya di atas ranjang seakan tubuh mereka sama sekali tidak memiliki harga dirinya.
dan sekarang, lihat tatapan Letta yang menatapnya geli, Seakan cacing atau parasit yang menggelitik, hemm semacam kecoa? ulat? tikus..m
stop Carmon, jangan semakin menambah kadar turunnya harga diri lagi. Jangan berfikir hal itu lagi. itu memalukan' Batin Carmon
“ Sudah lama menunggu saya Nona Letta?”
Carmon kembali bertanya karena pertanyaan sebelumnya di abaikan oleh sang empu.
Letta berdecih sejenak mendengar pertanyaan yang terdengar lembut nan sangtun tersebut, tetapi sangat tau jika batin Carmon sedang memakinya, terlihat sangat jelas dengan tangan miliknya yang meremas bagian bawahan bucket miliknya sampai bentuknya sedikit kunyu dan kusut.
Munafik memang.
“ Mukamu, sangat memuakkan, tidak perlu sok baik, dan aku sudah menunggumu dua jam.” Tegas Letta pelan, tetapi sangat tegas bagi yang mendengarnya.
Carmon menipiskan bibirnya, tersenyum masam dalam batin, ingin sekali memaki Letta dihadapannya saat ini, tetapi lihatlah? Betapa tidak tahu dirinya wanita di hadapannya ini, padaha sudah dibaiki kan tetapi apa katanya tadi? Ia memuakkan? Itu terdengar sangat-sangat menjengkelkan. Bolehkah Carmon mencekik Letta sampai mati saat ini?
Carmon masih mempertahankan senyum terpaksa miliknya.” Kamu bicara apa si??? Maaf sudah membuatmu menunggu lama, tadi ada rapat para petinggi perusahaan sejenak.” Carmon masih mempertahankan suara lembut miliknya, sangat memuakkan memang. Ia memilih duduk di sofa dihadapan Letta duduk.
Memberikan bunga mawar yang ia pegang.”Ini untukmu. Aku memberikan nya untukmu untuk permintaan maaf ku karena kamu sudah menunggu lama.” Mendekatkan bunga tersebut kehadapan Letta.
Letta menatap Carmon sangat datar, melirik bunga yang ada dihadapannya, sangat dekat hampir satu jengkal, tercium aroma mawar yang menguar harun. Letta menjauhkan bunga tersebut dari hadapannya.”Aku tidak suka bunga mawar. Tidak usah bisa basi.” Tegas Letta pelan.
__ADS_1
Carmon mendengarnya menganga tak percaya, ia ditolak....
Carmon mengeraskan rahang miliknya.”kenapa tidak suka? bukankah bunga mawar nya cantik? Wangi lagi. aku membelinya yang fress loh, baru dipetik satu jam yang lalu dihadapan ku sendiri.” Ujar Carmon mendekatkan lagi bunga tersebut dihadapan Letta.
Letta tersenyum miring.”Kamu idak tau jika bunga mawar melambangkan arti kematian?” Tanya Letta. Carmon mendengarnya terdiam termenung. Letta menyeringai melipatkan kedua tanganya diatas dada.”Banyak yang mengatakan jika bunga mawar merah pertanda cinta, tetapi bunga putih pertanda ketulusan dan kesucian cinta. Tapi jika dalam arti sesungguhnya bunga mawar dibuat oleh orang orang terdahulu sebagai tanda kesedihan, cinta yang ditolak artinya akan memberi bunga mawar, dan kematian menandakan bunga mawar yang ditabur. “ Jelas Letta mengangguk pelan menatap milik wajah Carmon yang berubah drastis, tidak ada lagi uka sok baik dan lembut.
Carmon mnlirik Letta menyelidik tak percaya.”Aku baru dengar, biasanya wanita yang aku kasih bunga mawar suka suka saja... malah mereka akan bahagia, menawarkan ranjang yang untuk dihangatkan.” Gumamnya pelan pada dirinya sendili.
“Itu karena wanita mu bodoh dan juga murahan.” Ujar Letta sinis. Carmon menatap Letta kaget, suuaranya sangat pelan mungkin hanya bisa didengar dirinya sendiri rasanya, tetapi Letta masih bisa mendengarkan nya. Rasanya Carmon sangat gugup.
“Ya... setidaknya anggap saja ini bunga tanda baik jangan tanda buruknya. Bunga yah tetap bunga, yang pentingkan canttik bentuknya.,” Ujar Carmon memberikan lagi bunga tersbeut pada Letta..
Letta disana tersenyum sinis dibuatnya.”Itu artinya jika aku membunuhmu karena aku mencintaimu, tak ingin kau dimiliki siapapun, ditatap oleh siapapun dan hanya aku yang mengimpan dan memilikimu itu boleh?” Tanya Letta berbisik. Carmon tercengang mendengar nya menatap Letta.” Kamu cinta padaku?? tapi yang kamu katakana terdengar sangat gelap, itu sangat mengerihkan.” Jawab Carmon gugup merasa pipinya memanas dan malu.
Jadi Letta mencintai nya kan?
Letta memutar bola mata miliknya. “Bodoh..” Gumamnya. Carmon mendengarnya semakin malu mengusap leher miliknya pelan. Letta berdecih sejenak melirik Carmon yang memutar bola mata memikirkan perkataan Letta dan jawaban supaya tidak dibilang bodoh.
Letta mengangguk.” Sama, hanya orang gila yang mengapik kebenaran demi suatu hal yang lain dengan dalih memikirkan kebaikan dari kejahatan.” Jawab Letta tenang.
Carmon mengernyitkan dahi miliknya tak paham, memikirkan sejenak ucapan Letta.
Letta berdecap melihat Cramon ” Bodoh.” Ujar Letta lagi sinis.
Cramon menatap Letta tajam. “ Dua kali kau mengatakan aku bodoh, hey kau sangat kasar.” Tekan Carmon. Letta berdecih menatap lain arah. Paling tidak senang bicara dengan orang bodoh.
Car,on mendelik menatap Letta yang mengabaikannya, memikirkan lagi ucapan Letta, baru kali ini dibilang bodoh karena tak paham pembicaraan si, salah Letta juga, bagaimana bisa Letta membiarakn satu hal yang berat. Tapi ngomong-ngomong itu bukan dari perkataannya yang awal tadi kan? yang ini “Ya... setidaknya anggap saja ini bunga tanda baik jangan tanda buruknya. Bunga yah tetap bunga, yang pentingkan cantik bentuknya.,” dan tadi apa katanya Letta? .” Sama, hanya orang gila yang mengapik kebenaran demi suatu hal yang lain dengan dalih memikirkan kebaikan dari kejahatan”
Carmon menganga memikirkan apa yang baru ia pikirkan. Mengerjab pelan, jadi yang dikatakan Letta adalah dirinya bodoh itu?? Tapi bukankah itu artinya Letta juga mengatakan dirinya orang gila??? Tapi ia duluan yang mengatakan dirinya gila kan??? siall... di bukan hanya dibilang bodoh tapi juga gila oleh dirinya sendiri. Carmon mengutuk dirinya sendiri yang mendadak bodoh seperti ini. ia merasa lebih dari kata bodoh dihadapan Letta saat ini.
Oke Saat ini Carmon akui dirinya bodoh...
__ADS_1
Letta melihat milik wajah Carmon yang masam dengan tatapan yang kosong seakan berfikir tersenyum miring. Letta yakin jika saat ini Carmon paham apa yang ia bicarakan, baru paham apa yang mereka bicarakan. Biarkan saja, Letta suka melihat orang lain menghina dirinya sendiri setelah menolak sadar, lalu berfikir hingga sadar jika dirinya memang benar benar bodoh, mengutuk diri yang semkain terlihat bodoh dihadapam orang lain karena menolak sadar,
Carmon menggeleng kepalanya pelan menatap bunga mawar yang masih belum di sentuh oleh Letta, melirik Letta yang juga menatap matanya tajam. Jika noleh jujur Carmon sedikit salting jika di tatap oleh Letta, sejuah ini belum ada yang bisa mengalahkan tatapan dirinya sekarang malah ia yang kalah. Ia tidak boleh kalah, ia jarus menatap Letta balik sampai ia memalingkan wajah.
“ Jadi kau tidak mau menerima bunga ini? “
Bodoh, mengapa bertanya hal bodoh semacam itu? sudah ditolak tapi masih bertanya, apalagi tatapan Letta yang membuat ia menunduk menatap bunga, sial ia kalah lagi.
Letta mengeleng.” Buang saja.” Tegas Letta.
Cramon menatap Letta tak terima.” Ini beli loh, mahal.” Tegas Carmon. Hey hey... ia sudah susah susah loh memesan bunganya ini dibeli menggunakan Uang bukan daun...!' Ingin sekali rasanya Carmon berteriak dihadapan Letta mengatakan hal ini. Tadi setelah pulang dari rapat ia sempat kan diri membeli bunga, tapi ditolak.
Letta menaikan satu alisnya.” Bahkan lebih bahal waktuku yang menunggumu sia sia selama dua jam disini. “ Tegasnya.
Carmon berdecap mendengar suara Letta semakin dingin. Carmon mengimas ngibaskan tanganya.” Biak baik, tapi jangan marah, jangan menampilkan wajah seram seperti itu, .”Ujarnya pelan berdehem sejenak melirkk lagi bunga yang ia bawa, melangkah kearah tong sampah.
Caron melirik Letta yang masih menatap pergerakanya. “Ini wangi loih.”Ujat Carmon masih tetap menggoda Aleta sebelum membuangnya, tersneyum melas.
Letta menatapnya tak bergeming. Carmon menipiskan bibirnya mengambil bunga tersebut menaruhnya diatas meja kesal.
”Tidak jadi dibuang, untukku saja, lumayan buat wanita wanitaku nanti malam.”Gumamnya pelan membuat Letta berdecih malas. Memang benar, laku laki murahan.
.
.
.
.
Duh jangan lupa jejak yah...
__ADS_1