
Halo semua. terimakasih karena masih setia menunggu Up aku. hehehe
kalo ada yang nanya kenapa yang sebelah ga up lagi kak?
Jawabnya adalah karena author sibuk, semenjak nenek sakit aku harus jagain beliau, belum lagi harus kerja rumah. jadi nggak sempet. Nanti aku secepatnya akan tamatkan Novel ini supaya tidak bertele tele dan melanjutkan novel yang lain oke.
.
.
.
Jangan lupa Tinggalkan jejak yah.
.
.
Letta menatap Carmon yang tertidur di sofa, sedari tadi pagi ia ribut dengan Putra berakhir Putra yang pergi ke sekolah Carmon disini tidur dengan damai. Letta sampai menatapnya heran, mengapa dia malah istirahat disini? Jika ia ingin istirahat lebih baiklah ia istirahat dirumahnya saja, lebih nyaman. Sofa itu bahkan tak menampung keseluruhan tubuh milik Carmon.
Carmon sendiri terlihat tak terganggu, terlelap sembari menutupi matanya dengan lengan miliknya. Carmon tidak bisa tidur sudah tiga hari ini. awalnya juga ia tak mau tidur hanya ingin menjenguk letta. Entah mengappa ia menjadi mengantuk saat disini tadi, berakirlah ia tidur.
“ Permisi nona, ini sarapan milik nona.” Letta mengangguk melihat suster datang memberilkan dirinya makanan ditaro di atas nakas, lalu salah satu yang dibelakang tadipun menyusul dibelakang Letta mendekat. Pengantar nasi sudah mundur dan keluar.
“Kita ganti infusnya dulu yah mbak.” Ujarnya ramah mendekati Letta.
Letta menggeleng cepat.”Tidak usah, saya akan pulang sore ini.” Tegas Letta dingin.
Letta tidak betah lama lama disini, ia ingin pulang cepat saja.
Suster menatap letta mengernyitkan dahinya.” Apakah dokter sudah mengizinkan nona?”Tanyanmya menghentikan pergerakannya kepada infus yang ingin ia ganti, memang sudah habis dalam hitungan menit.
Letta mengangguk.” Iya.” Ia kemarin sudah bertanya kepada dokter. Kata dokter ia boleh pulang, tapi disarankan untuk masih dirawat selama tiga hari. Tapi Letta tidak ingin lagipula disini juga dirinya hanya diberi infus dan dirinya hanya duduk terus kan?
Suster mengangguk pelan.”Baik jika begitu. Saya akan melapor pada petugas yah nona. Dan saya bantu lepas infusnya yah.” suster membantu letta melepaskan infus miliknya.
Secara pelan dan juga hati hati. Letta hanya diam menatap infus yang dilepas dari tangannya. Suster mengambil alatnya dan menyiapkannya.” Nanti sebelum pergi, dilihat lagi yah nona barangnya,. Sebab jika ada barang ketingalan yang hilang kami tidak bertanggung jawab.”ujarnya. Letta hanya diam mengangguk singkat.
“Letta.. kenapa infusnya dicabut?”
__ADS_1
Carmon menggusap matanya linglung. Mendengar suara bising membangunkan dirinya. Carmon menegakkan punggungnya disandaram sofa menatap suster yang membantu letta menutupi bekas infus ditangannya.
Letta malas menjawab. Suster yang nelihat letta tak angkat bicara pun menatap Carmon ramah.”nona Letta ingin pulang sore ini tuan. Jadi infusnya kami lepas.” Jawabnya lugas.
Carmon mendengarnya menatap Letta tak senang.”mau pulang gimana? Kamukan masih sakit loh.” Ujarnya tegas klepada Letta
Letta memutar bola mata malas.” Gue nggak separah itu.” tegasnya.
“Gilak kamu? Tangan kamu bahkan belum bisa digerakkan. “ tegas Carmon tak senang
Letta menatap Carmon tak senang. Carmon yang tak dijawab menatap letta gemas.” Besok aja pulang biar di rawat sama dokter sampai benar benar baik keadaan kamu.”ujarnya mendekati Letta.
Letta hanya diam menatap tangannya yang sudah dilepas infusnya. Suster yang melihat itu menjadi agak kikuk, bergeser , memberikannya Carmon ruang. Carmon sangat kesal.”letta kamu dengar saya bicara tidka sih?” Tanya Carmon tegas.
Rasa ingin membelikan letta pita suara membumbung tinggi.
Letta berdecap.” Kamu udah lihatkan aku udah baik baik aja. Udah “ tegas Letta malas Carmon mendengus menatap letta.
“Baik nona, tuan. Saya permisi duluan, soal administrasi dan surat keluar tolong diuurus yah.” sustert memilih undur diri dari keduanya. Tidak nyaman berada ditengah-tengah pasangan yang sedang ribut. Suster merasa seperti menjadi pengganggu
Suster menatap Carmon sejenak.” Nonanya sudah jauh lebih baik kok tuan, dia sudah bisa Pulang. Nanti masnya cukup jagain pacarnya lebih ketat lagi agar kejadian ini tidak terulang lagi.” ujarnya tegas. Entah mengapa dirinya agak kesal melihat Carmon yang menatapnya dingin.
Seusai suster pergi Letta duduk, dan Carmon mengurus administrasi yang harus di selesaikan, berselang beberapa jam Letta istirahat tidur di sana Carmon kembali membawa surat surat milik Letta. Carmon melihat letta tertidur segera membersikan pakaian milik letta yang sudah kotor atau beberapa oakaiannya yang lain disana. usainya Carmon membangunkan Letta, membawanya pulang.
Letta duduk dikursi roda, secara Carmon tidak menginginkan letta kesakitan, kaki letta masih sangat bengkak, ternyata kaki Letta bukan hanya retak, tapi juga infeksi retak tulang. Sehingga kakinya belum bisa dibawa berjalan, dipapah pun tangannya belum siap. Jadilah ia harus nailk ktsi roda.
Letta diam menatap kedepan, dimana jalanan membawanya, “ke apartemen saya saja.”ujar letta kepada Carmon menyetir.
Carmon mendengarnya tak setuju.”saya belum bisa ke mansion kamu sebab bisa jadi kecelakaan saya berhubungan dengan musuh kalian yang membuat keluarga kalian hancur, jika saya kembali itu artinya menambah masalah. “lanjut Letta.
“Kamu yakin?” Tanya Carmon.
Letta mengangguk.” Yah, mobil saya tidak pernah absen servis setiap tiga bulan sekali, sangat minim alasan jika kerusakan rem disaat tidak bagus. Saya harus banyak istirahat, dan untuk yang menjaga saya jangan khawatir. Saya akan menyewa seseorang untuk menjaga saya.” Jelas Ltta tegas. Enggan berdebat lebih jauh.
Carmon melirik letta sekilas lalu melihat jalanan.” Putra? Dia yang jagain kamu? Kalo iya saya tidak setuju.”tegas Carmon malas.
Mengingat wajah tengil milik Putra amarah Carmon meningkat secara pesat sekaligus kesal. Bak putra adalah bensin yang menyirami dirinya dari kobaran api.
Leta melirik Carmon dingin.” Kalo kamu lupa saya bukan siapa siapa kamu untuk kamu atur mau dekat dengan siapapun.”Tegas Letta,.
__ADS_1
“Tapi saya bos kamu. Saya berhak buat kamu untuk kembali kerumah aku bukan ke apartemen..”
“tapi di dalam perjanjian saya juga berhak mendapatkan cuti sakit. Jangan biicara kamu bos dan saya. Kamu bahkan punya hutang tapi belum saya tagih.” Tegas Letta.
Carmon menggerlingkan mata tak senang. Tapi tetap ia turuti letta. Letta mengepalkan tangan, kesal hidupnya diatur. Keduanya diam sampai tujuan yang di tuju. Seusainya Carmon diam tak bicara apapun memgeluarkan kurs roda, tapi saat itu pula Letta keluar dari mobil berjalan pelan meksipun terlatih latih. Carmon menatap Letta sangat kesal.
Braj.. ia melempar kursi roda itu keras,
Letta diam menatap kursi roda yamng tergeletak tak layak dihadapannya dingin. Carmon mengepalkan tangan, melangkah memasuki mobil, meninggalkan letta yang menatapo dingin arah dirinya. Meninggalkan parkiran menjauh meremas stir mobil.
Merasa tidak di hargai oleh Letta, Letta tidak peka. Ia sudah sangat berhati hati menekan amarahnya yang meledak tapi Letta menambah kadar rasa tak senangnya. Sangat ingin membunuh rasanya.
Rasa lelah, letih, khawatir, cemas membuat Carmon sensitif. entah mengapa rasanya ia ingin marah marah saja hari ini. Ditambah sikap Letta yang tidak mengenakkan. Carmon tidak senang diacuhkan.
Sedangkan letta hanya diam mengangkat bahu acuh, melangkah meski sangat sakit. Letta memejamkan mata,, sangat perih. Berselang beberapa menit seusainya ia merasakan lenggangnya ditarik dan bahu bagian yang tak sakit disandang. Letta melirik pelaku ternyata Dipta. Ia mengernyitkan dahi melihat lelaki itu yang tiba tiba ada di sini. “Kalo mau bantuan itu bilang jangan di paksa.” Tegas dipta melirik Letta tak senang, tak segan ia mendenggus.
Letta mengerjab pelan, sedikit tak nyaman dibantu. Letta diam melepaskan tangan Dipta.”tidak usah, aku bisa.” Letta bukan tidak senang dibantu, tapi Letta diajarkan jika sakit harus bisa berjalan sendiri, nikmati sendiri dan lewati sendiri, jika tiba tiba ada yang membantu, itu sangat tidak nyaman di hati letta,
Dipta mendengus. Tetap menarik tangan letta. Membantu Letta meskipun letta menolak. “Jangan keras kepala Letta. Kamar kita lantai dua puluh, kau mau sampai kapan berjalan seperti siput? Kakimu bahkan akan bertambah bengkak jika kamu sangat ngeyel.” Tegas Dipta malas.
Benar, jarak dari lantai bawah dengan lift cukup jauh, lalu akan mencar kamar itu cukup menambah kaki Letta menjadi lebih bengkak. Letta tak menolak kali ini, tapi ia memberi jarak antara dirinya dan Dipta agar tubuh keduanya tidak menempel. Dipta pahampun tak melaklukan pendekatan lebih Selain menggandeng letta untuk menuju Lift.
‘"Tadi kamu bilang apa? Lantai kamar kita?” letta bertanya pelan melirik Dipta seusai masuk lift., saat ini lift kosong. Hanya beridi mereka berdua. Dipta melirik letta masih merangkul, jarak wajah sangat-sangat dekat hingga Dipta bisa melihat warna kebiru biruan dan gores di wajah letta. “ iya. Saya sudah pindah kemarin ke sini hehe.”ujarnya terkekeh pelan.
Letta mendengarnya mengernyit.”kenapa?”Tanya letta. Bukankah Dipta punya rumah sendiri yang megah? Jika membeli apartemen lai dna tinggal, itu sangat boros, letta yang kaya raya pun harus berfikir dua kali. ralat letta tidak kaya raya tapi cukup kaya dibandingkan para pembaca.
Dipta menatap lain arah cepat.”hmm,. itu kantor baru yang aku pimpin ada tak jauh dari sini, jika berangkat dari rumah itu akan menambah kadar rasa lelah saja. Lebih baik di sini.” Jawabnya. Letta mencium bau bau kebohongan
Letta tidak mau ingin ambil pusing, dirinya hanya mengangguk sampai lift terbuka. “tapi kamu tau dari mana jika kita satu lantai?” Tanya Letta lagi, sebab mereka belum pernah melakukan transasi di apartemen miliknya, mereka selalu bertemu di café atau ditempat janjian.
Dipta menjadi gelagapan sendiri.” Ta- tau lah. Kan kamu dulu pernah bilang.”jawab Dipta. Wajahnya sangat merah melirik letta. Letta menatap dipta memicing membuat Dipta kalang kabut,.” Aku tidak suka kamu yah, aku tiak modus jadi hentikan pikirann mu tentang diriku seperti aku lelaki mesum dan penjahat kelamin,”tegas Dipta tak senang ditatap seperti itu oleh Letta.
Letta tersenyum miring. “ aku tidak menatapmu begitu, memang apa yang aku pikirkan tentangmu?”Tanya letta pelan pada dipta.
Dipta menjadi tambah gelagapan menggeleng.”kau pikir aku kesini sengaja dan mengikutimu kan?”Tanya Dipta jujur menatap Letta berani.
Letta tersenyum miring.” Tidak. Kamu terlalu percaya diri.”ujar Letta menatap lain arah.
Dipta mendengarnya menganga menatap letta tak senang. “aku,. Aku hanya berfikir.” Gumamnya gugup. Agak malu mengakuhi jika yang diucapkan letta benar, sial memang.
__ADS_1